Setelah para pelayat pulang dan rumah Sukabumi kembali sunyi, muncul pertanyaan yang tak terhindarkan.
"Ibu harus ikut aku ke Jakarta," kata Sasi, suatu pagi, di meja makan yang kini terasa terlalu besar untuk dua orang. "Aku tak bisa membiarkan Ibu sendirian di sini. Rumah ini terlalu sepi sekarang. Terlalu banyak kenangan."
Maya menyeruput tehnya pelan, memandang ke kebun melalui jendela—kebun yang ditanam Damar, pohon-pohon yang ia rawat. "Justru karena itu, sayang," katanya lembut. "Justru karena terlalu banyak kenangan, aku tidak bisa pergi."
Sasi membuka mulut hendak membantah, tapi Maya mengangkat tangannya.
"Dengar dulu, Nak. Lima puluh tahun lalu, aku dan ayahmu membangun rumah ini batu demi batu. Di kamar itu Sasi lahir. Di teras itu Bayu belajar berjalan. Di bawah pohon itu ayahmu melamarku untuk kedua kalinya saat kami hampir berpisah karena pertikaian kawanan. Setiap sudut rumah ini menyimpan ayahmu. Jika aku pergi, aku meninggalkannya. Dan aku belum siap untuk itu. Mungkin tak akan pernah siap." Ia tersenyum, matanya basah tapi tegar. "Aku akan tetap di sini. Bersamanya."
Sasi menggenggam tangan ibunya. Ia mengerti. Tentu saja ia mengerti. "Tapi aku khawatir Ibu kesepian."
"Itu," kata Maya, dan tiba-tiba ada kilau dalam matanya—kilau yang sama yang Sasi lihat saat ibunya mendapat ide untuk novel baru, "itu yang sudah kupikirkan."
Maya membuka rencananya. Rumah Sukabumi yang besar dan sepi tidak akan menjadi makam kenangan. Ia akan mengubahnya menjadi sesuatu yang hidup: sebuah perpustakaan rumah. Bukan sekadar rak buku, tapi pusat pembelajaran. Tempat di mana anak-cucu kawanan bisa datang dan belajar—bukan hanya tentang dunia luar, tapi tentang diri mereka sendiri.
"Aku telah hidup lima puluh tahun di antara kalian," kata Maya. "Aku satu-satunya manusia yang melihat kawanan dari dalam dan dari luar sekaligus. Aku menulis kisah-kisah kalian, tapi banyak yang tak pernah kutulis. Sejarah kawanan. Bagaimana rasanya mencintai seekor serigala. Bagaimana dua dunia bisa bertemu." Ia menatap Sasi. "Reformasimu mengintegrasikan kawanan dengan dunia manusia. Tapi integrasi membutuhkan ingatan. Membutuhkan jembatan. Aku akan menjadi penjaga jembatan itu."
Sasi merasakan dadanya menghangat. Reformasinya selalu tentang masa depan—teknologi, kemitraan, transparansi. Ibunya menawarkan sesuatu yang sama pentingnya: akar. Memori. Hati.
Dalam minggu-minggu berikutnya, perpustakaan rumah Maya mulai mengambil bentuk. Ruang-ruang dipenuhi buku, manuskrip, foto-foto lama, rekaman cerita lisan para tetua. Aria, sebelum kembali ke Belanda, menghabiskan berjam-jam membantu neneknya menata. Kirana, dari Divisi Preservasi Tradisi, sering datang dengan dokumen-dokumen kuno kawanan. Anak-anak kawanan muda mulai berdatangan di akhir pekan, duduk di kaki Maya, mendengarkan kisah-kisah yang tak ada dalam buku mana pun.
Rumah yang sepi itu kembali ramai. Berbeda dari sebelumnya, tapi hidup.
Suatu sore, Sasi menelepon dan mendengar tawa di latar belakang. "Ibu sedang apa?"
"Mengajar anak-anak tentang purnama pertama kakek mereka," jawab Maya, suaranya cerah. "Sasi, ternyata Damar tidak pergi. Ia ada di setiap cerita yang kuceritakan. Aku menjaganya hidup."
Sasi menutup telepon dengan senyum. Ibunya, sang penulis, telah menemukan kisah terakhirnya: bukan untuk ditulis, tapi untuk diwariskan.
(bersambung...)