Surat itu datang dari Utrecht dengan kop universitas yang berkilau.
Bayu membacanya tiga kali di teras rumah Sukabumi—ia belum kembali ke Belanda sejak pemakaman ayahnya. Universitas menawarinya posisi profesor penuh. Kursi tetap di departemen sastra. Puncak karier akademik yang ia kejar selama dua puluh tahun. Gaji yang besar, rumah yang nyaman di kota tua Eropa, prestise yang ia dambakan sejak muda.
Dulu, ia akan menerima tanpa ragu. Dulu, Belanda adalah pelariannya—jauh dari ayahnya yang sang alpha, jauh dari kawanan, jauh dari rahasia gelap yang ia pikul. Belanda adalah tempat ia bisa menjadi siapa pun selain "putra Damar Pradipta."
Tapi sesuatu telah berubah.
Anke, istrinya, menemukannya di teras dengan surat di tangan. "Itu tawaran yang kau impikan," kata perempuan Belanda itu, duduk di sampingnya. Bahasa Indonesianya kini lancar setelah berbulan-bulan di Sukabumi. "Mengapa wajahmu tidak bahagia?"
Bayu menatap kebun ayahnya. "Karena aku tidak mau pergi."
Ia menjelaskan, perlahan, menemukan kata-katanya saat ia berbicara. Aria. Putrinya baru saja mulai memahami sisi kawanannya—warisan yang ia warisi dari darah Pradipta, yang selama ini terkubur saat ia tumbuh sebagai gadis Eropa. Ia tidak bisa menyeret Aria kembali ke Belanda sekarang, jauh dari satu-satunya tempat yang bisa membantunya memahami dirinya sendiri. Maya, neneknya, ada di sini. Sasi, bibinya yang alpha, ada di sini. Kawanan ada di sini.
"Dan ada hal lain," kata Bayu lebih pelan. "Ayah, sebelum pergi, memintaku memaafkan diriku sendiri. Rahasia yang kubawa dari Belanda—sesuatu yang kulakukan dulu, sesuatu yang menghantuiku—aku tak bisa lari darinya selamanya. Aku harus menghadapinya di sini. Di rumah. Bukan bersembunyi di seberang lautan."
Anke menggenggam tangan suaminya. "Aku tahu kau menyimpan sesuatu. Bertahun-tahun aku merasakannya. Suatu hari kau akan menceritakannya padaku?"
"Suatu hari," janji Bayu. "Saat aku sudah cukup kuat."
Lalu Bayu mengatakan keputusannya. Ia tidak akan menerima kursi tetap di Utrecht. Bukan karena ia bisa langsung memutus semuanya hari itu—masih ada mahasiswa bimbingan yang harus ia tuntaskan, kewajiban mengajar yang terikat kontrak satu-dua tahun ke depan. Tapi arah hidupnya sudah jelas: rumahnya di sini, bukan di Eropa. Ia akan menggeser pelan-pelan—bolak-balik dulu, menyelesaikan tanggungannya di sana, sambil mulai berakar di Indonesia. Ada banyak yang bisa ia lakukan di sini—universitas-universitas Indonesia membutuhkan dosen sastra sekaliber dirinya, dan lebih dari itu, kawanan membutuhkan seorang sarjana, seseorang yang bisa menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan kawanan, persis seperti yang Sasi bangun dengan kemitraan USU.
Anke diam lama. Lalu ia tersenyum. "Kalau begitu," katanya, "pada akhirnya aku juga ke sini."
Bayu menoleh, terkejut. "Anke, kau yakin? Kau meninggalkan negaramu, kariermu, keluargamu—"
"Tidak sekaligus," kata Anke pelan. "Aku belum bisa melepas semua di Utrecht begitu saja, sama seperti kau. Tapi suamiku ada di sini. Putriku ada di sini. Mertuaku—Maya yang luar biasa itu—ada di sini." Anke memandang pegunungan Sukabumi yang membiru di kejauhan. "Aku menghabiskan dua puluh tahun mencintai seorang lelaki yang setengah hatinya selalu ada di tanah ini. Aku lelah berbagi dengan sebuah negara. Beri aku waktu membereskan hidupku di sana, lalu aku menyusulmu—dan akhirnya aku bisa memilikimu utuh." Ia tersenyum jenaka. "Lagipula, aku mulai jatuh cinta pada tempat ini. Pada keluarga ini."
Malam itu Bayu menelepon Sasi dan memberitahukan keputusannya. Di ujung telepon, kakaknya terdiam lama. Lalu Sasi berkata, suaranya bergetar, "Selamat datang pulang, Kak. Pelan-pelan tidak apa-apa. Yang penting arahmu sudah ke rumah."
Bayu menutup telepon dan menatap bintang-bintang Sukabumi—langit yang sama yang ia tatap saat kecil, sebelum ia lari. Untuk pertama kalinya dalam dua dekade, ia tidak merasa terbelah. Hatinya sudah memilih tanah ini, meski kakinya masih harus bolak-balik sebentar. Pulang yang sejati sudah dimulai.
(bersambung...)