Karin tidak pergi menemui Altar malam itu. Ia sempat membuka jendela dan membayangkan turun melalui balkon seperti tokoh drama, tetapi kamar berada di lantai dua dan ia masih cukup waras untuk tidak mematahkan kaki. Sebagai gantinya, ia menelepon Altar setelah lama menatap namanya.
'Halo?' Suara Altar terdengar hati-hati.
Karin membuka mulut, tetapi tangis lebih dulu keluar. Ia buru-buru menutup mikrofon agar tidak memperdengarkan isakannya. Altar tidak bertanya bertubi-tubi. Ia menunggu sampai Karin mampu bernapas lebih teratur.
'Aku gak tahu harus cerita dari mana,' ucap Karin.
'Tidak harus dari awal.'
'Papa sama Mama ternyata sudah cerai dari aku masih kecil. Papa menikah lagi dua tahun lalu. Semua orang tahu kecuali aku.'
Di seberang sana tidak ada seruan terkejut atau kalimat yang menyalahkan siapa pun. Altar hanya berkata, 'Pasti sakit mengetahui itu dengan cara seperti tadi.'
'Aku kelihatan bodoh, ya?'
'Kamu dibohongi. Itu berbeda dengan bodoh.'
Karin memejamkan mata. Kalimat sederhana tersebut membuka tangis yang sejak tadi ia tahan. Ia menceritakan ulang tahun yang dilewatkan Adrian, panggilan yang selalu terburu-buru, dan bagaimana Kevin berkali-kali menggantikan peran ayah tanpa pernah menjelaskan alasannya.
'Aku marah sama Kak Kevin,' katanya. 'Tapi dia selalu ada buat aku. Jadi aku tambah marah karena masih sayang.'
'Dua hal itu bisa ada bersamaan.'
'Kamu dapat kata-kata begitu dari buku apa?'
'Entahlah. Mungkin dari terlalu sering sendirian.'
Karin diam. Ia baru sadar Altar tidak pernah menceritakan banyak hal tentang dirinya sendiri. Cowok itu pandai mendengarkan, tetapi selalu berhenti sebelum pembicaraan berbalik kepadanya.
'Al, kamu pernah dibohongi orang yang kamu percaya?'
Altar menarik napas pelan. 'Pernah. Tapi malam ini tentang kamu.'
'Berarti lain kali kamu harus cerita.'
'Lihat nanti.'
'Itu bukan jawaban.'
'Kamu juga tidak harus mendapat semua jawaban malam ini, Rin.'
Mereka berbicara hampir satu jam. Altar menyarankan Karin tidur dan membuat daftar pertanyaan untuk keluarganya ketika emosi sudah tidak meledak-ledak. Ia tidak menyuruh Karin langsung memaafkan. Menurutnya, memaafkan tanpa memahami hanya akan menimbun kemarahan.
Sebelum menutup telepon, Karin bertanya, 'Besok kamu masih jadi temanku, kan?'
'Kalau kamu tidak berteriak tepat di telingaku.'
Karin tertawa kecil di antara sisa tangis. 'Janji.'
Pagi berikutnya, Karin tidak berangkat sekolah. Matanya bengkak dan kepalanya berat. Sandra mengizinkannya tinggal di rumah, lalu meletakkan sarapan di depan kamar tanpa memaksa masuk. Kevin juga tidak pergi. Ia duduk di lorong sejak pagi sampai Karin akhirnya membuka pintu.
'Kakak gak sekolah?'
'Aku izin.'
'Ketua kelas bolos. Contoh buruk.'
Kevin hampir tersenyum, tetapi mengurungkan niat. 'Boleh Kakak masuk?'
Karin mundur tanpa menjawab. Kevin menganggapnya izin. Mereka duduk berjauhan di karpet, dikelilingi poster dan album yang selama ini menjadi dunia Karin.
'Kenapa Kakak gak pernah kasih tahu?'
Kevin memandang tangannya. 'Waktu mereka berpisah, kamu masih kecil dan sering sakit. Mama takut kamu menyalahkan diri sendiri. Setelah kamu besar, setiap kali kami mau bicara selalu ada alasan untuk menunda. Aku ikut menjaga kebohongan itu karena kupikir melindungimu.'
'Kakak gak percaya aku bisa menghadapi kenyataan.'
'Iya,' jawab Kevin jujur. 'Dan itu salah.'
Karin tidak menyangka kakaknya akan mengaku tanpa mencari pembenaran. Amarahnya belum hilang, tetapi tidak lagi meluap tanpa bentuk.
'Papa punya anak lain?'
'Seorang anak perempuan. Namanya Nadine, umur empat tahun.'
Karin menelan ludah. Ia memiliki adik yang bahkan tidak pernah didengarnya.
'Papa sayang dia?'
'Aku tidak tahu.'
'Kakak pernah ketemu?'
'Sekali, tanpa sengaja.'
Karin ingin marah lagi karena Kevin menyimpan rahasia tambahan, tetapi ia teringat saran Altar. Ia mengambil buku catatan dan menulis pertanyaan berikutnya.
'Aku belum bisa maafin Kakak.'
'Kakak mengerti.'
'Tapi jangan pergi.'
Kevin mengangguk. 'Aku di sini.'
Siang hari, Sandra masuk setelah mendapat izin. Ia menjelaskan perceraian mereka terjadi karena pertengkaran berkepanjangan dan pilihan Adrian membangun hubungan lain. Sandra tidak menyalahkan anak-anak, juga tidak meminta Karin membenci ayahnya.
'Mama menerima uang dari Papa supaya diam?' tanya Karin terus terang.
'Tidak. Harta dan kewajiban terhadap kalian diatur lewat perceraian. Mama diam karena takut, bukan karena dibayar.'
'Takut apa?'
'Takut kehilangan caramu memandang keluarga. Ironisnya, dengan berbohong Mama justru merusaknya.'
Sandra menangis, tetapi Karin tidak langsung memeluk. Ia membutuhkan batas. Untuk pertama kalinya, ibunya menghormati jarak itu.
Menjelang sore, Karin memeriksa ponsel. Ada puluhan pesan dari Dion dan Hany yang mengira ia sakit parah. Di antara semuanya terdapat pesan singkat dari Altar.
Altar: 'Tidak perlu membalas. Aku hanya ingin memastikan kamu sudah makan.'
Karin memotret piring kosong di meja dan mengirimkannya.
Karin: 'Sudah. Aku juga sudah bicara sama Kak Kevin dan Mama.'
Altar: 'Bagaimana rasanya?'
Karin: 'Masih sakit. Tapi sekarang sakitnya punya nama.'
Altar membalas dengan gambar jempol. Karin mengerutkan kening lalu meneleponnya.
Sebelum panggilan tersambung, Karin menyadari dirinya tidak lagi merasa harus menyembunyikan mata bengkak atau membuat cerita lucu supaya orang lain betah bersamanya. Altar sudah mendengar tangisnya dan tidak pergi. Selama ini Karin selalu mengira ia harus menjadi orang paling ramai agar tidak dilupakan.
'Masa aku cerita sedalam itu dibalas jempol?'
'Aku takut salah bicara.'
'Ya bilang begitu.'
'Baik. Aku takut salah bicara.'
'Kalau begitu kita belajar bareng. Aku belajar gak langsung maksa orang menjawab, kamu belajar bilang kalau bingung.'
'Kesepakatan yang berat.'
'Makanya jangan menyerah pada hari pertama.'
Karin tertawa. Di ambang pintu, Kevin dan Sandra saling pandang mendengar suara itu. Mereka tahu tawa tidak berarti semuanya selesai. Namun setidaknya Karin tidak lagi mengunci seluruh dunia di luar kamarnya.
Malamnya, Karin menempelkan daftar pertanyaan di meja belajar. Pertanyaan paling akhir ia lingkari tiga kali: apakah Papa datang karena rindu, atau hanya karena membutuhkan tanda tanganku?
Ia belum siap mendengar jawabannya. Akan tetapi, kali ini ia tidak mau menjalani hidup dari jawaban palsu hanya karena kebenaran terasa menyakitkan.