Pengumuman kelulusan dilakukan sebulan kemudian. Karin berdiri di depan layar laptop bersama Sandra dan Kevin, terlalu gugup untuk menekan tombol. Akhirnya Kevin mengambil alih dan memasukkan nomor peserta.
Tulisan LULUS muncul dalam huruf besar. Karin berteriak, memeluk Kevin, lalu berlari mengelilingi ruang tengah. Sandra menangis sambil tertawa. Nilai Karin tidak istimewa, tetapi matematika yang selama ini menjadi musuhnya berhasil melewati batas kelulusan dengan selisih aman.
'Aku resmi manusia berpendidikan!' serunya.
'Baru lulus SMA, jangan pidato seperti dapat gelar doktor,' kata Kevin.
Karin menghubungi Altar. Cowok itu sudah mengetahui hasilnya dan tentu lulus dengan nilai tertinggi. Namun ia merayakan keberhasilan Karin seolah nilainya sendiri yang baru diumumkan.
'Kartu rumusku berhasil,' katanya.
'Itu karena otakku yang mengolah.'
'Baiklah. Kerja sama kartu dan otak.'
Acara perpisahan sekolah digelar sederhana di aula. Panitia menyediakan ruang tenang di belakang panggung atas saran tim Altar. Ia dapat mengikuti bagian utama tanpa berdiri terlalu dekat pengeras suara. Ketika namanya diumumkan sebagai lulusan terbaik, seluruh siswa bertepuk tangan dengan gerakan tangan terangkat sebagai pengganti tepuk keras. Ide itu berasal dari Karin dan disetujui sekolah.
Altar terdiam di panggung melihat ratusan tangan bergerak tanpa suara. Selama hampir tiga tahun ia mengira sekolah hanya tempat bising yang harus dilewati. Pada hari terakhir, orang-orang justru bersedia mengubah cara merayakan agar ia dapat berdiri bersama mereka.
Dalam pidato singkat, Altar berterima kasih kepada guru, Mama Hanna, serta teman-teman yang mengajarinya bahwa keterlibatan tidak memiliki satu bentuk.
'Saya dulu berpikir meminta penyesuaian berarti mengakui kelemahan,' katanya. 'Ternyata mengatakan apa yang kita butuhkan adalah cara memberi orang lain kesempatan untuk berjalan bersama.'
Karin menangis dari kursinya. Dion menyerahkan tisu sambil mengejek, tetapi matanya sendiri merah.
Setelah acara, mereka berfoto di taman sekolah. Dika keluar dari perpustakaan membawa buku tua yang sampulnya telah diperbaiki. Itu buku pertama yang sering dibaca Altar di sudut dekat jendela.
'Buku ini sudah dihapus dari inventaris karena rusak,' kata Dika. 'Daripada dibuang, buat kenang-kenangan penghuni paling setia.'
Altar menerima dengan hati-hati. 'Kalau aku pergi, siapa yang akan Kak Dika ganggu?'
'Tenang, masih banyak siswa pendiam yang bisa kunasihati soal pertemanan.'
'Nasihati diri sendiri soal pacar dulu,' balas Altar.
Dika mengusirnya sambil tertawa. Karin menyaksikan percakapan itu dan menyadari Altar tidak pernah benar-benar tanpa teman. Ia hanya membutuhkan jenis kedekatan yang tidak memaksanya menjadi orang lain.
Adrian tidak hadir pada kelulusan. Ia mengirim buket besar dan kartu permintaan maaf. Karin menerima bunganya, tetapi tidak menganggapnya pengganti kehadiran. Buket itu kemudian dibagi menjadi bunga-bunga kecil untuk guru.
Nadine datang bersama Maya setelah acara utama selesai. Anak itu memberikan gambar keluarga yang pernah dibuat di rumah sakit, kini dengan tambahan Sandra dan Mama Hanna di sisi berbeda. Karin tidak membetulkan susunannya. Dunia Nadine memang terbentuk dari orang-orang yang hubungannya rumit.
'Kak Karin pakai topi lucu,' kata Nadine sambil menunjuk toga.
'Nanti kamu juga pakai kalau sudah besar.'
Maya mengucapkan selamat tanpa mencoba membicarakan perkara. Sandra membalas singkat. Mereka memusatkan perhatian pada anak-anak, bukan memaksa perdamaian palsu demi sebuah foto.
Karin kemudian menemui wali kelasnya. Ia mengaku dulu menganggap teguran sebagai gangguan dan meminta maaf karena sering terlambat serta melupakan tugas. Sang guru hanya berharap Karin membawa kegigihan barunya ke jenjang berikutnya.
'Nilaimu naik bukan karena tiba-tiba pintar,' katanya. 'Kamu akhirnya menemukan alasan untuk bertanggung jawab.'
Karin menyimpan kalimat itu. Ia masih menyukai BTS, drama, dan perjalanan spontan. Menjadi dewasa tidak menuntutnya membuang kegembiraan, hanya berhenti memakai kegembiraan sebagai tempat bersembunyi dari kewajiban.
Sebelum meninggalkan sekolah, Karin masuk ke kelas lamanya dan duduk di bangku yang penuh coretan kecil. Dion serta Hany menyusul. Mereka berjanji pertemanan tidak akan bergantung pada satu gedung, lalu menertawakan betapa mudahnya janji itu diucapkan. Akhirnya mereka sepakat pada hal yang lebih masuk akal: saling menghubungi dan jujur jika kesibukan membuat mereka menjauh.
Pada sore hari, Ratna memberi kabar hasil pemeriksaan polisi. Adrian ditetapkan sebagai tersangka dugaan pemalsuan dan percobaan pengalihan aset. Ia tidak ditahan karena kooperatif dan dianggap tidak berisiko melarikan diri, tetapi dilarang melakukan transaksi tertentu. Staf administrasi mengaku menjalankan perintah langsung.
Karin membaca berita itu di dalam mobil setelah acara kelulusan. Toga masih berada di pangkuannya. Hari yang seharusnya hanya berisi kebahagiaan mendadak terasa berat.
'Apa aku jahat kalau tetap senang sudah lulus?' tanyanya.
Sandra menggeleng. 'Masalah Papa tidak berhak mengambil semua hari baikmu.'
'Apa Papa akan dipenjara?'
'Belum ada yang tahu. Prosesnya masih panjang.'
Kevin menawarkan pulang, tetapi Karin ingin tetap menghadiri makan bersama teman. Ia tidak mau kembali mengurung diri setiap kali Adrian membuat masalah.
Di restoran, Altar melihat kegelisahannya. Karin menceritakan kabar tersebut kepada teman-teman dekat. Hany menggenggam tangannya, Dion tidak membuat lelucon, dan Altar bertanya apa yang ia butuhkan.
'Hari ini aku mau tetap merayakan,' jawab Karin. 'Besok baru pikirkan perkara.'
Mereka menghormati pilihan itu. Karin memotong kue kelulusan, menyanyikan lagu bersama, dan mengambil puluhan foto. Kesedihan masih ada, tetapi tidak menelan seluruh ruang.
Menjelang pulang, Karin dan Altar kembali ke sekolah untuk mengambil barang yang tertinggal. Koridor sudah kosong. Mereka berhenti di depan perpustakaan yang terkunci.
'Di sini pertama kali aku benar-benar memaksamu berteman,' kata Karin.
'Kamu memaksaku sejak menabrak dan menindihku.'
'Itu kecelakaan.'
'Kecelakaan yang berulang.'
Karin tertawa, kemudian menatap pintu. 'Aku takut setelah ini semua berubah.'
'Pasti berubah.'
'Kamu gak bisa bilang hal romantis sedikit?'
Altar menggenggam tangannya. 'Yang berubah tidak selalu hilang. Aku akan tetap berusaha memilihmu selama pilihan itu baik untuk kita berdua.'
Karin menerima jawaban itu. Mereka meninggalkan sekolah tanpa janji selamanya, tetapi dengan kesediaan untuk menjalani hari berikutnya secara jujur.
Pilihan itu mereka bawa dengan sadar ketika melangkah menuju hari berikutnya.