Pada hari kelima, Karin dan Altar mulai berhenti bersikap seperti tamu dan tuan rumah. Karin tidak lagi memuji setiap sudut kota, sedangkan Altar tidak merasa perlu menyiapkan kegiatan sepanjang waktu. Mereka menghabiskan pagi di penatu umum, membeli kebutuhan, dan memasak di dapur bersama asrama dengan izin pengelola.
Karin mengetahui Altar meninggalkan handuk basah di kursi. Altar mengetahui Karin memasang lima alarm lalu mematikan semuanya. Kebiasaan kecil itu lebih menguji kesabaran daripada jarak enam jam.
'Kalau nanti kita tinggal bersama, handuk gak boleh di kursi,' kata Karin.
'Kalau nanti kita tinggal bersama, alarm kelima harus dilarang.'
Mereka sama-sama berhenti pada kata nanti. Selama ini masa depan hanya dibicarakan sebagai jadwal panggilan dan kunjungan. Tinggal bersama terdengar jauh lebih nyata.
'Kamu mau tinggal di Prancis setelah lulus?' tanya Karin.
'Aku belum tahu. Bidang penelitianku banyak berkembang di sini.'
'Aku kira kamu pulang.'
'Aku gak pernah janji pulang langsung.'
Karin menaruh sayuran sedikit terlalu keras. 'Aku juga gak bisa pindah begitu saja. Karierku baru mulai di Indonesia.'
'Aku tidak meminta kamu pindah.'
'Tapi kalau kamu tinggal di sini, kita mau jarak jauh sampai kapan?'
Percakapan itu berubah tegang. Altar merasa Karin meminta keputusan bertahun-tahun sebelum waktunya. Karin merasa dirinya hanya catatan kecil dalam rencana Altar. Mereka berhenti memasak dan duduk berhadapan.
'Aku takut kita terus menunda pertanyaan sampai suatu hari sadar tujuan kita berbeda,' kata Karin.
'Aku takut menjanjikan sesuatu cuma supaya dua minggu ini nyaman.'
Karin mengakui belum tahu apakah ingin selalu tinggal di Indonesia. Ia menyukai studio kecil bersama teman, proyek komunitas, dan kedekatan dengan Nadine. Altar juga belum tahu apakah kesempatan kerjanya kelak hanya ada di Prancis.
'Berarti jawaban kita sama-sama belum tahu,' ujar Altar.
'Aku benci belum tahu.'
'Aku tahu.'
Mereka sepakat mengevaluasi setiap akhir tahun akademik. Tidak ada pihak yang diam-diam menganggap yang lain pasti mengalah. Jika suatu hari tujuan mereka tidak dapat dipertemukan, cinta tidak boleh dipakai untuk menuduh salah satu kurang berkorban.
Masakan mereka hampir gosong. Farid masuk ke dapur dan mengeluh bau asap, lalu membantu menyelamatkan sayuran. Pertengkaran serius berakhir dengan makan malam yang terlalu asin.
Keesokan hari, Karin mengikuti diskusi studio desain tanpa Altar. Ia mempresentasikan proyek peta suara dan mendapat tawaran pertukaran mahasiswa selama satu semester. Programnya belum tentu dibiayai penuh, tetapi membuka kemungkinan belajar di kota lain di Eropa.
Ia tidak langsung menerima demi mendekati Altar. Karin meminta rincian kurikulum, biaya, dan kesesuaian dengan studinya. Altar bangga melihatnya menilai kesempatan sebagai miliknya sendiri.
Koordinator program menjelaskan pertukaran baru berlangsung tahun berikutnya dan peserta harus memiliki portofolio, kemampuan bahasa, serta proposal proyek. Karin mencatat semua syarat. Ia memilih mengembangkan peta akses suara sebagai proposal, tetapi berjanji melibatkan komunitas pengguna sejak tahap awal.
'Kalau aku gagal seleksi, setidaknya portofolioku jadi lebih baik,' katanya.
'Dan kalau lolos, kita tetap harus membahas kota serta biaya,' jawab Altar.
Karin menyukai cara Altar tidak menganggap peluang itu otomatis menjadi jalan mereka tinggal dekat. Kesempatan akademik harus tetap baik bagi Karin bahkan jika hubungan berubah.
Hari lain mereka berbelanja bahan makanan dan berselisih tentang anggaran. Karin ingin membeli bahan mahal untuk memasak hidangan Indonesia, sementara Altar menghitung biaya mingguannya. Karin sempat menawarkan membayar semua, lalu sadar hal itu dapat mengubah rumah Altar menjadi tempat liburan versinya sendiri.
Mereka memilih menu lebih sederhana dan membagi biaya sesuai penggunaan. Karin belajar bahwa kemurahan hati tidak selalu berarti mengambil seluruh tagihan; kadang menghormati anggaran orang lain jauh lebih penting.
'Kalau kotanya jauh dariku?' tanya Altar.
'Aku tetap pertimbangkan kualitas program.'
'Jawaban benar.'
'Tapi kalau kualitasnya sama, aku pilih yang keretanya paling dekat.'
Malam berikutnya mereka makan bersama Étienne, Jules, dan istri Étienne bernama Claire. Pertemuan dilakukan di restoran tenang atas pilihan Altar. Claire tidak mencoba berperan sebagai ibu. Ia meminta maaf karena selama bertahun-tahun mengetahui keberadaan Altar tetapi tidak mendorong suaminya menghubungi.
'Tanggung jawab utama tetap milik Étienne,' katanya. 'Namun diam saya juga sebuah pilihan.'
Altar menghargai pengakuan itu tanpa perlu menenangkannya. Jules menunjukkan tugas sekolah dan bertanya kapan dapat berkunjung ke Indonesia. Étienne mengatakan keputusan tersebut membutuhkan persetujuan semua orang, termasuk Mama Hanna.
Tidak ada foto keluarga besar. Mereka mengambil satu foto Jules bersama Altar setelah keduanya setuju. Karin menjadi pemotret.
Claire bertanya apakah foto boleh dikirim kepada kerabat. Altar menolak untuk sementara. Ia belum ingin pertemuan pertama berubah menjadi pengumuman rekonsiliasi. Étienne menerima dan hanya menyimpan foto di ponselnya sendiri.
Sikap itu membuat Altar sedikit percaya bahwa batasnya didengar. Namun ia tetap meminta hubungan bergerak lambat. Satu makan malam yang baik tidak menghapus bertahun-tahun ketidakhadiran.
Setelah makan, Karin bertanya apakah Altar ingin membahas pertemuan atau mengalihkan perhatian. Altar memilih berjalan sebentar tanpa bicara. Karin menerima. Kedekatan tidak mengharuskan setiap keheningan segera diisi analisis. Beberapa pengalaman membutuhkan waktu tenang sebelum dapat diberi nama dengan jujur.
Di perjalanan pulang, Altar terlihat lega sekaligus sedih.
'Aku melihat Jules punya ayah yang hadir,' katanya. 'Aku senang buat dia, tapi juga iri.'
'Perasaan itu gak membuatmu jadi kakak buruk.'
'Aku tahu. Tetap sakit.'
Karin menggenggam tangannya. Mereka berjalan tanpa mencoba menyelesaikan rasa tersebut.
Menjelang akhir minggu pertama, perjalanan tidak lagi terasa seperti liburan romantis. Ada cucian, tugas kuliah, perbedaan kebiasaan, keluarga rumit, dan pertanyaan masa depan. Anehnya, Karin justru merasa lebih dekat.
Dua minggu memang tidak cukup membuktikan mereka sanggup hidup bersama selamanya. Namun dua minggu cukup untuk menunjukkan cinta nyata tidak hanya muncul ketika keduanya berdandan dan berdiri di tempat indah. Cinta juga hadir saat meminta maaf, membagi pekerjaan, dan berani mengatakan belum tahu.
Pilihan itu mereka bawa dengan sadar ketika melangkah menuju hari berikutnya.