Lima hari tambahan hampir habis ketika dokter mengizinkan Altar pulang ke asrama dengan pengawasan. Pendengaran kirinya membaik sebagian; ia dapat menangkap percakapan pelan menggunakan alat baru. Telinga kanan masih kehilangan banyak frekuensi.
Karin harus memilih antara memperpanjang perjalanan lagi atau kembali kuliah. Mama Hanna sudah berada di sana dan berniat tinggal satu bulan. Altar juga memiliki dukungan kampus.
'Aku merasa jahat kalau pulang,' kata Karin melalui teks dan suara pelan.
'Kalau kamu tinggal hanya karena merasa jahat, itu bukan pilihan yang baik,' jawab Altar dengan mengetik.
Mereka duduk di kamar asrama. Karin membantu menempelkan lampu kecil pada pintu yang akan berkedip jika alarm berbunyi. Farid memasang aplikasi transkripsi di komputer, sedangkan Luc mengatur jadwal catatan kuliah.
Altar tidak sendirian. Kesadaran itu menenangkan Karin sekaligus menyinggung bagian dirinya yang ingin menjadi orang paling dibutuhkan.
'Aku ingin kamu butuh aku,' akunya.
'Aku butuh kamu sebagai Karin. Bukan satu-satunya jalan keluar.'
Karin menangis. Ia sadar keinginan menjadi penyelamat dapat terlihat romantis, tetapi akhirnya mengurung keduanya. Ia memutuskan pulang sesuai tiket baru.
Sebelum keberangkatan, mereka menemui konselor bersama. Konselor membantu menyusun rencana komunikasi. Panggilan suara mungkin melelahkan, jadi mereka akan menggunakan video dengan pencahayaan baik, teks, dan bahasa isyarat dasar. Altar tidak diwajibkan memberi laporan medis setiap hari. Karin boleh bertanya, tetapi harus menerima jika Altar belum ingin membahas.
Mereka juga membicarakan kemungkinan hubungan berubah karena krisis. Konselor mengingatkan tidak ada keputusan besar yang harus dibuat saat keduanya masih syok.
'Aku gak mau putus,' kata Karin.
'Aku juga enggak,' jawab Altar. 'Tapi aku takut kamu nanti melihatku berbeda.'
'Aku pasti melihat perubahan. Berpura-pura semuanya sama juga bohong. Yang belum berubah adalah aku masih mau bersama kamu.'
Altar mengangguk. Jawaban itu lebih jujur daripada janji bahwa kondisi tidak akan memengaruhi apa pun.
Étienne meminta bertemu sebelum Karin pulang. Altar mengizinkan pertemuan singkat di asrama. Ayahnya membawa informasi klinik swasta mahal dan menawarkan membayar seluruh perawatan.
'Aku sudah punya dokter,' kata Altar melalui aplikasi transkripsi. 'Kalau ingin membantu, tanyakan kebutuhan, jangan datang membawa keputusan.'
Étienne meminta maaf. Ia kemudian menawarkan membayar kelas bahasa isyarat bagi Jules dan dirinya sendiri. Altar mempertimbangkan, lalu mengizinkan selama bantuan tersebut tidak memberinya kuasa atas keputusan medis.
Jules melakukan panggilan video dan menunjukkan tiga gerakan yang sudah dipelajari: halo, kakak, dan sampai jumpa. Altar tersenyum untuk pertama kali hari itu.
Di bandara, suasana jauh berbeda dari kedatangan Karin. Tidak ada papan lucu atau rencana wisata. Mama Hanna ikut mengantar. Ia berjanji memberi kabar dalam keadaan darurat, tetapi tidak mengirim pembaruan tanpa persetujuan putranya.
Karin memeluk Altar. 'Aku pulang, bukan meninggalkan.'
'Aku tahu.'
'Kalau kamu marah, bilang. Jangan menghilang.'
'Kamu juga jangan memantau Mama setiap jam.'
'Aku akan berusaha.'
Mereka berciuman singkat. Altar tidak mendengar pengumuman keberangkatan, tetapi melihat layar dan menunjuk waktu. Karin melepaskan pelukan lalu berjalan menuju pemeriksaan.
Di pesawat, ia menangis hampir satu jam. Setelah itu Karin membuka laptop dan menyelesaikan laporan perjalanan. Bagian terakhir bukan tentang museum atau laboratorium, melainkan rancangan informasi darurat di transportasi umum. Ia mencatat bahwa peringatan suara harus selalu memiliki padanan visual yang jelas.
Sesampainya di Indonesia, Karin kembali ke kampus dua hari kemudian. Teman-temannya bertanya tentang liburan. Ia mengatakan terjadi insiden kesehatan tanpa membagikan detail yang bukan miliknya. Raka dan Mila membantu mengejar materi, tetapi tidak mengambil alih tugas.
Hubungan jarak jauh mereka berubah. Panggilan video membutuhkan posisi wajah yang jelas. Ketika transkripsi salah menerjemahkan ucapan Karin, mereka tertawa. Ketika Altar terlalu lelah membaca, mereka hanya menyalakan kamera sambil mengerjakan kegiatan masing-masing.
Beberapa minggu kemudian, hasil pemeriksaan menunjukkan pendengaran kiri stabil pada tingkat yang dapat dibantu perangkat. Telinga kanan kemungkinan mengalami kehilangan permanen cukup berat. Dokter menawarkan beberapa pilihan, tetapi Altar meminta waktu mempelajari manfaat dan risikonya.
Ia kembali kuliah secara bertahap. Ironisnya, mata kuliah tentang persepsi suara kini harus dipelajari melalui data visual dan catatan. Dosen tidak menurunkan standar, hanya mengubah aksesnya. Altar menemukan dirinya tetap mampu menganalisis gelombang dan merancang ruang.
Pada rapat pertama dengan kelompok, Altar menjelaskan bentuk komunikasi yang dibutuhkan. Elise membuat agenda tertulis, Farid mencatat keputusan, dan semua peserta berhenti menutupi mulut ketika berbicara. Mereka juga memasang layar tambahan untuk transkripsi.
Altar khawatir kelompok akan menganggapnya beban. Kekhawatiran itu sedikit berkurang ketika Elise mengkritik hitungannya seperti biasa dan Farid tetap menagih bagian laporan tepat waktu. Akses bukan pembebasan dari tanggung jawab; akses membuatnya mampu menjalankan tanggung jawab.
Operator kereta akhirnya mengakui kerusakan sistem dan menanggung sebagian biaya medis yang tidak dicakup asuransi. Mereka juga memasang pembatas volume serta prosedur inspeksi baru. Altar meminta ringkasan perubahan dipublikasikan, bukan hanya dikirim kepadanya.
Karin menggunakan kasus tersebut sebagai studi anonim untuk proyek informasi darurat setelah mendapat izin. Ia tidak menjadikan foto Altar bahan kampanye. Fokusnya pada kegagalan sistem dan cara memperbaikinya. Itulah pilihan Altar.
'Mungkin aku masih bisa jadi insinyur akustik,' katanya kepada Karin.
'Kamu memang masih calon insinyur akustik.'
'Aku sempat mengira pendengaranku adalah syarat utama.'
'Pengalamanmu malah memberi pertanyaan yang gak dipikirkan orang lain.'
Altar tidak ingin kondisinya dipuji sebagai anugerah. Karin segera menambahkan, 'Tapi kamu boleh tetap benci kehilangan ini. Kamu gak harus menjadikannya inspirasi setiap hari.'
'Terima kasih.'
Karin melanjutkan hidup di Indonesia, Altar melanjutkan pemulihan di Prancis. Tidak ada montase ajaib yang membuat semuanya mudah. Ada salah baca, jadwal dokter, tugas terlambat, dan hari ketika mereka terlalu lelah untuk romantis.
Namun setiap kali layar menyala, mereka kembali memilih bentuk komunikasi yang tersedia. Karin pulang tanpa meninggalkan, dan Altar belajar bahwa menerima dukungan tidak sama dengan kehilangan kendali atas hidupnya.
Pilihan itu mereka bawa dengan sadar ketika melangkah menuju hari berikutnya.