Altar berangkat ke Kanada dua bulan setelah pertemuan. Program riset berlangsung enam bulan di pusat studi bangunan inklusif. Ia tinggal di apartemen mahasiswa bersama dua peneliti lain dan menghadapi perbedaan waktu baru dengan Indonesia serta Eropa.
Karin masih berada di Belanda selama satu bulan pertama. Mereka tidak meningkatkan frekuensi panggilan hanya karena baru kembali bersama. Jadwal mingguan ditentukan berdasarkan laboratorium dan magang. Jika salah satu terlalu lelah, pesan video menggantikan percakapan langsung.
Di Kanada, Altar memimpin pengujian panel pada pusat komunitas multibahasa. Tantangannya berbeda. Transkripsi otomatis kesulitan mengenali berbagai aksen, sementara tanda visual harus dipahami pengguna yang tidak membaca bahasa Inggris atau Prancis.
Pusat itu digunakan anak, lansia, dan pendatang baru. Tim awalnya menjadwalkan pengujian pada jam kerja, sehingga banyak pengguna tidak dapat hadir. Altar mengubah sesi ke malam dan akhir pekan serta menyediakan honor transportasi.
Seorang ibu mengatakan sudut tenang terlalu jauh dari ruang kegiatan sehingga anaknya terpisah dari keluarga. Tim memindahkan panel portabel agar pengguna dapat mengurangi suara tanpa diasingkan. Kritik itu mengubah cara Altar melihat ketenangan: akses seharusnya memberi partisipasi, bukan hanya jalan keluar.
Setiap perubahan diterjemahkan dan dilaporkan kembali kepada komunitas, bukan hanya pemberi dana.
Seorang peneliti bernama Noah menyarankan memakai kecerdasan buatan komersial yang mengumpulkan rekaman suara untuk pelatihan. Altar bertanya di mana data disimpan dan apakah pengguna dapat menolak. Ternyata persetujuan hanya tercantum dalam tulisan panjang.
'Kalau orang harus menyerahkan percakapan pribadi untuk mendapat akses, itu bukan pilihan adil,' kata Altar.
Tim merancang mode lokal yang tidak mengirim rekaman ke server. Akurasinya lebih rendah, tetapi data dapat dihapus langsung. Mereka menampilkan kedua pilihan dengan penjelasan sederhana.
Altar sendiri menjadi peserta uji, tetapi menolak pengalaman pribadinya dianggap lebih penting dari pengguna lain. Ia belajar memisahkan peran peneliti dan pengguna dengan menyatakan kapan berbicara dari data dan kapan dari pengalaman.
Pada bulan kedua, Karin pulang ke Indonesia. Studio mahasiswa mereka resmi berubah menjadi koperasi kecil bernama Ruang Baca Kota. Nama itu bukan tentang buku, melainkan gagasan bahwa kota harus dapat dibaca semua orang.
Raka mengurus ilustrasi, Mila memimpin riset, dan Karin menjadi direktur desain untuk tahun pertama. Mereka membagi kepemilikan berdasarkan kontribusi, bukan modal keluarga. Karin memasukkan sebagian tabungan, tetapi membatasi sahamnya agar keputusan tidak dapat dikuasai satu orang.
Koperasi membuat aturan bahwa keuntungan pendiri baru dibagikan setelah honor pekerja lepas dan komunitas dibayar. Karin terkejut penghasilannya lebih kecil daripada saat magang, tetapi menerima lembaga sosial bukan jalan cepat menjadi kaya.
Mereka menyewa akuntan independen dan menerbitkan ringkasan keuangan. Ketika Raka dan Karin berbeda pendapat tentang kampanye terminal, keputusan dibawa ke rapat. Usulan Raka menang. Karin kecewa, tetapi tidak memakai saham atau hubungan dengan pemilik gedung untuk membatalkan.
'Ternyata jadi direktur bukan berarti semua ikut aku,' katanya kepada Kevin.
'Syukurlah kamu sadar sebelum jadi diktator desain.'
Sandra bangga sekaligus khawatir. Ia menawarkan kantor di salah satu gedung miliknya. Karin menolak penggunaan gratis, tetapi menyewa ruang kecil dengan harga wajar setelah membandingkan lokasi lain. Kontrak dibuat melalui pengelola profesional agar hubungan ibu-anak tidak menggantikan aturan bisnis.
Proyek pertama setelah kepulangan adalah pemasangan peta akses di terminal. Pada hari peluncuran, pemerintah kota ingin menaruh nama Karin sebagai putri pengusaha terkenal. Karin meminta seluruh tim dan komunitas pengguna dicantumkan tanpa gelar keluarga.
Adrian menghadiri acara sebagai pengunjung biasa. Ia berdiri di belakang, tidak memberi sambutan atau membawa wartawan. Setelah acara, ia meminta izin mengucapkan selamat.
'Karyamu bagus,' katanya.
'Terima kasih.'
'Papa senang kamu membangun sesuatu tanpa memakai jalan pintas dari Papa.'
Karin menatapnya. 'Aku tetap mendapat banyak bantuan dari Mama, guru, dan teman. Yang penting bantuannya jelas dan gak mengambil pilihan.'
Adrian mengangguk. Ia tidak mencoba mengubah kalimat itu menjadi pujian bagi dirinya.
Karin bersedia minum kopi selama tiga puluh menit di tempat umum. Itu pertemuan pribadi pertama sejak hukuman. Mereka membicarakan pekerjaan Adrian, kunjungan Nadine, dan konseling. Karin tidak memanggil pertemuan tersebut sebagai rekonsiliasi.
'Aku masih sering marah kalau ingat sidang,' katanya.
'Papa mengerti.'
'Jangan jawab mengerti kalau sebenarnya ingin aku cepat memaafkan.'
'Papa ingin dimaafkan. Tapi keinginan itu bukan kewajibanmu.'
Kejujuran tersebut membuat Karin bersedia menjadwalkan kopi lain bulan depan.
Hubungan dengan Altar tetap memiliki tantangan. Ketika koperasi mendapatkan proyek kedua, Karin bekerja sampai malam dan melewatkan dua panggilan. Altar merasa pola lama kembali, tetapi bertanya sebelum menuduh.
'Apa jadwal kita masih realistis?' tanyanya.
'Enggak untuk bulan ini. Aku butuh kurangi panggilan jadi sekali seminggu.'
'Aku setuju, asal kita tetap kirim kabar aman.'
Mereka menyesuaikan. Kualitas percakapan membaik karena tidak lagi dilakukan dalam keadaan setengah sadar.
Pada bulan ketiga di Kanada, Altar mendapat tawaran memperpanjang riset satu tahun. Dulu ia mungkin langsung melihatnya sebagai kesempatan yang tidak boleh ditolak. Sekarang ia meminta rincian: tugas, akses, dampak pada kelulusan, serta kemungkinan melakukan sebagian pekerjaan dari Indonesia.
Pusat riset menawarkan model hibrida setelah enam bulan pertama. Altar dapat kembali ke Prancis untuk menyelesaikan tesis, lalu menguji sistem di Indonesia selama empat bulan dengan dana proyek.
Ia belum memberi jawaban sebelum berbicara dengan kelompok Prancis, mitra Jakarta, dan Karin. Namun ia juga menegaskan keputusan akhir harus baik bagi risetnya, bukan hanya hubungan.
'Aku senang ada kemungkinan kamu di Indonesia lebih lama,' kata Karin. 'Tapi aku gak mau pura-pura netral. Tentu aku berharap kamu ambil model itu.'
'Kamu boleh punya harapan. Aku cuma gak mau harapan menjadi ancaman.'
'Kalau hasil analisismu berbeda, kita bahas.'
Altar akhirnya menerima model hibrida karena memberi akses data lintas negara dan mendukung tujuan proyek, bukan semata karena dekat dengan Karin.
Kanada bukan pelarian dari keputusan sulit. Tempat itu menjadi ruang Altar membuktikan ia dapat memperluas dunia tanpa terus menjauh dari kemungkinan pulang.