Bulan madu mereka hanya lima hari di kota pantai yang tenang. Karin sengaja memilih penginapan tanpa agenda tur padat. Mereka berjalan, makan, tidur, dan sesekali bekerja karena keduanya buruk dalam benar-benar mengambil cuti.
Pada hari kedua, Altar menutup laptop Karin dan menyimpan miliknya sendiri.
'Kita sepakat dua jam kerja darurat, bukan sepanjang pagi.'
'Klien bertanya warna.'
'Warna bisa menunggu.'
Karin mengirim pesan bahwa balasan diberikan setelah cuti. Dunia tidak runtuh.
Kembali ke Jakarta, tidak ada musik penutup. Tagihan apartemen datang, cucian menumpuk, dan dua keluarga ingin mengundang makan. Karin serta Altar menetapkan minggu pertama tanpa kunjungan agar dapat menata rutinitas.
Hadiah pernikahan menimbulkan masalah ruang. Mereka mengembalikan tiga alat dapur ganda dan menyumbangkan barang yang tidak dibutuhkan setelah menghubungi pemberi. Uang hadiah masuk rekening bersama, bukan dianggap milik Karin karena tamu keluarganya lebih banyak.
Sebagian disimpan untuk darurat, sebagian biaya rumah, dan sebagian masuk dana akses sekolah sesuai daftar hadiah. Laporan sumbangan dikirim tanpa menampilkan nominal pribadi.
Sebagian kerabat mulai memanggil Karin dengan nama keluarga Altar. Ia tetap menggunakan Karina Maheswati secara profesional. Altar tidak tersinggung. Pernikahan tidak menghapus identitas kerja yang dibangun Karin.
Mereka memperbarui kontak darurat, asuransi, dan surat kuasa medis terbatas. Dokumen itu memungkinkan pasangan menerima informasi saat darurat, tetapi keputusan Altar tetap mengikuti kehendak medis yang telah ditulis. Karin juga mencatat siapa yang mengelola koperasi jika dirinya tidak mampu bekerja sementara.
Masalah pertama muncul tentang pekerjaan rumah. Setelah pesta, semua orang menganggap Karin akan mengurus hadiah dan ucapan terima kasih. Altar melihat daftar tersebut dan mengambil separuh.
'Keluarga mengirimnya ke aku,' kata Karin.
'Hadiahnya untuk kita.'
Mereka menulis kartu bersama. Tugas emosional—mengingat ulang tahun, menjadwalkan keluarga, dan menjaga hubungan—dimasukkan ke pembagian rumah, bukan otomatis menjadi pekerjaan istri.
Dua bulan kemudian Altar harus pergi ke Prancis selama empat bulan. Status suami-istri tidak membuat perpisahan lebih mudah. Karin sempat berharap kontrak dapat diubah, tetapi tahu jadwal itu sudah dibahas sebelum pernikahan.
Minggu pertama di Prancis, Altar lupa memperbarui kontak darurat lokal. Karin mengetahui dari formulir klinik dan kesal karena kesepakatan keamanan belum dijalankan. Altar memperbaikinya hari itu dan mengakui kelalaian.
Mereka membuat daftar perpindahan internasional agar dokumen, obat, alamat, dan asuransi diperiksa setiap kali. Pernikahan menambah hak hukum, tetapi tidak otomatis membuat sistem bekerja tanpa usaha.
'Orang akan bilang aneh baru menikah langsung pisah negara,' katanya.
'Orang gak menjalani kontrak atau rumah kita.'
Mereka kembali ke aturan jarak jauh dengan beberapa perubahan hukum. Karin memiliki akses kontak darurat di Prancis; Altar memiliki salinan laporan koperasi hanya jika diminta, bukan hak ikut mengelola.
Di bandara, tidak ada tangisan dramatis sebesar dulu. Karin mengantar sampai pemeriksaan lalu pulang untuk rapat. Kesedihan tetap ada, tetapi tidak lagi terasa sebagai ancaman pada status hubungan.
Selama Altar di Prancis, apartemen menjadi terlalu sunyi bagi Karin. Ia tergoda mengundang Hany menginap setiap malam, tetapi belajar tinggal sendiri beberapa hari. Ia memakai kamar tenang Altar hanya setelah meminta izin melalui pesan dan tidak mengubah susunannya.
Altar juga menemukan status menikah memicu anggapan rekan bahwa Karin akan segera pindah ke Prancis. Ia membetulkan setiap kali.
'Kariernya ada di Indonesia. Kami membagi waktu,' katanya.
Pada evaluasi kontrak, laboratorium menawarkan Altar posisi permanen di Jakarta setelah tahun kedua dengan perjalanan Prancis lebih singkat. Ia tidak langsung menerima. Ia membahas sumber dana, akses, dan kewenangan riset.
Koperasi Karin juga berubah. Raka ingin membuka cabang komersial, sementara Mila khawatir misi publik melemah. Mereka menguji model proyek komersial membayar penuh dan sebagian keuntungan mendanai komunitas.
Altar tidak duduk dalam dewan koperasi meski sering berkolaborasi. Konflik kepentingan dicatat pada proyek bersama. Pernikahan tidak melebur lembaga yang mereka pimpin.
Karin senang, tetapi mengingatkan keputusan bukan hadiah pernikahan. Mereka membandingkan dengan tawaran lain. Posisi Jakarta ternyata sesuai tujuan Altar dan memungkinkan kerja internasional dua bulan per tahun.
Ia menerima setelah dewan pengguna diberi status permanen.
Adrian menyelesaikan masa pembebasan bersyarat pada tahun yang sama. Ia meminta merayakan dengan makan keluarga. Karin hadir bersama Altar. Tidak ada pidato bahwa hutang telah lunas.
'Masa hukum selesai,' kata Adrian. 'Akibatnya tidak otomatis selesai. Papa akan tetap mengikuti batas yang sudah kalian buat.'
Karin menghargai kalimat itu. Ia mengizinkan Adrian berkunjung ke apartemen pada jadwal tertentu, tetapi tidak memberi kunci.
Mama Hanna lebih sering datang, juga tanpa kunci. Ia membawa makanan dan belajar pulang ketika pasangan membutuhkan istirahat. Sandra mengundang mereka makan tanpa bertanya soal cucu setelah Karin menegaskan keputusan anak dievaluasi lima tahun lagi.
Setahun setelah pernikahan, Karin dan Altar mengadakan rapat rumah tahunan. Mereka meninjau keuangan, pekerjaan, kesehatan, keluarga, dan kepuasan tinggal bersama. Beberapa aturan berubah: tamu cukup diberi tahu enam jam sebelumnya jika Altar tidak berada di rumah, dan kamar koleksi boleh dipakai sebagai ruang tidur tamu.
Mereka meninjau keputusan tentang anak. Jawabannya masih belum. Karier dan perjalanan belum memberi ruang pengasuhan yang mereka anggap adil. Evaluasi dijadwalkan dua tahun lagi.
Karin sedih melihat teman mengunggah foto bayi. Ia membicarakannya tanpa menuntut keputusan berubah. Altar mengakui kadang membayangkan mengajari anak bahasa isyarat. Bayangan boleh ada tanpa segera menjadi rencana.
Satu aturan tetap: kamar tenang tidak boleh diambil alih.
Mereka menutup rapat dengan makan mi instan karena terlalu malas memasak. Karin memutar satu lagu BTS melalui headphone dan memberikan satu sisi kepada Altar pada volume yang nyaman.
Sesudah para tamu pulang, pernikahan bukan kisah tentang dua orang yang akhirnya memiliki satu sama lain. Ia adalah praktik berbagi ruang tanpa menghapus pintu, berbagi hidup tanpa menelan identitas, dan terus memilih kapan mendekat serta kapan memberi jarak secara sadar bersama.
Pilihan itu mereka bawa dengan sadar ketika melangkah menuju hari berikutnya.