Dua tahun setelah Sari pulang, Karin dan Altar kembali mengevaluasi keputusan tentang anak. Mereka sudah menjalani satu penempatan lain yang lebih singkat dan memilih beristirahat dari pengasuhan sementara karena beban emosional serta pekerjaan.
Karin berusia awal tiga puluhan. Pertanyaan keluarga tentang anak biologis semakin sering. Ia dan Altar tidak lagi menjawab dengan jadwal evaluasi. Mereka sudah mencapai keputusan.
'Kami gak merencanakan anak biologis atau adopsi permanen,' kata Karin dalam makan keluarga. 'Kami mungkin mengasuh sementara lagi kalau siap, tapi itu bukan jalan menuju adopsi.'
Sandra terlihat sedih, namun tidak membujuk. Mama Hanna mengangguk karena sudah mengetahui lebih dulu. Adrian bertanya sekali apakah keputusan pasti, lalu menerima ketika Karin menjawab iya untuk masa yang dapat mereka lihat.
Seorang bibi berkata hidup mereka akan kosong saat tua. Karin menatap Altar, kemudian menjawab tenang.
'Anak bukan jaminan perawat hari tua. Kami sedang membangun hidup, bukan mengisi kekosongan.'
Keputusan itu tidak datang dari ketidaksukaan pada anak. Pengalaman bersama Sari justru menunjukkan keduanya mampu mencintai dan merawat. Namun mereka tidak ingin menjalani pengasuhan permanen sambil mempertahankan ritme kerja lintas negara dan jaringan perawatan orang tua.
Karin tetap kadang berduka atas kehidupan yang tidak dipilih. Ia menyimpan satu kotak berisi daftar nama bayi lama dan gambar kamar. Altar tidak menyuruh membuang.
'Aku yakin dengan keputusan kita dan tetap sedih,' kata Karin.
'Kepastian gak menghapus semua kemungkinan yang kita tinggalkan.'
Mereka membicarakan masa tua secara konkret. Asuransi jangka panjang diperbarui, apartemen dievaluasi aksesnya, dan dana perawatan dibuat terpisah. Mereka tidak memasukkan Nadine, Jules, atau Sari sebagai calon pengasuh wajib.
Notaris membantu menyusun surat kuasa, wasiat, dan pilihan perawatan. Sebagian aset kelak diberikan kepada keluarga, sebagian kepada dana akses publik. Sari tidak diberi warisan besar yang dapat mengganggu hubungan dengan Bu Wulan; dukungan pendidikan hanya dibuat jika disepakati keluarga.
Mereka menunjuk pelaksana wasiat profesional agar keponakan tidak terbebani. Keputusan tersebut terasa dingin bagi kerabat, tetapi bagi Karin justru bentuk kasih: tidak meninggalkan kekacauan yang harus dibereskan orang lain.
Hubungan dengan Sari berlanjut sesuai keinginan Bu Wulan dan Sari sendiri. Saat remaja, Sari mulai jarang berkunjung karena teman serta sekolah. Karin sempat tersinggung ketika pesan tidak dibalas, lalu mengingat dirinya bukan pusat hidup anak tersebut.
Pada ulang tahun keenam belas, Sari mengundang Karin dan Altar. Ia memperkenalkan mereka sebagai Tante Karin dan Om Altar, orang yang dulu menemaninya. Sebutan itu cukup.
Ruang Baca Kota kini dipimpin Mila untuk periode kedua. Karin bekerja sebagai direktur kreatif tanpa kewenangan operasional tunggal. Proyek peta akses telah diterapkan di beberapa kota dan datanya tersedia publik.
Laboratorium Altar juga berdiri tanpa kehadirannya setiap hari. Ia mengajar, meneliti, dan melakukan perjalanan dua bulan setahun. Sinta menjadi direktur. Altar memilih posisi peneliti utama agar dapat fokus pada desain serta komunitas.
Pengunduran diri dari jabatan tidak membuat mereka kurang berhasil. Keduanya memperoleh waktu kembali untuk teman, keluarga, dan kegiatan yang tidak menghasilkan laporan.
Mereka menggunakan sebagian waktu menjadi mentor tanpa memilih penerus pribadi. Karin mengajar desainer muda menetapkan harga dan kontrak. Altar membimbing peneliti Tuli serta dengar tanpa meminta mereka meniru jalur hidupnya.
Program pengasuhan sementara juga mendapat dukungan desain dari koperasi, tetapi Karin tidak duduk dalam komite penempatan. Ia menjaga agar pengalaman pribadi tidak berubah menjadi kuasa atas keluarga lain.
Setiap tahun, mereka menilai apakah siap menerima penempatan baru. Beberapa tahun jawabannya tidak karena kesehatan Hanna atau perjalanan Altar. Mengatakan tidak sebelum anak datang dianggap lebih bertanggung jawab daripada menerima lalu berharap semua orang menyesuaikan.
Karin kembali aktif sebagai fangirl. Ia menonton konser bersama Hany, memakai pelindung telinga, dan membeli album dari anggaran hiburan. Altar kadang ikut jika tempatnya aksesibel, tetapi tidak berpura-pura menyukai semua lagu.
'Setelah bertahun-tahun kamu masih gak hafal nama anggota?' protes Karin.
'Aku tahu tujuh orang.'
'Itu jumlah, bukan nama.'
Dion, yang kini sudah menikah dengan Hany setelah hubungan penuh pertengkaran lucu, tetap mengejek mereka. Pertemanan masa sekolah bertahan bukan karena selalu dekat, melainkan karena mereka menerima jeda dan perubahan.
Kevin membangun keluarganya sendiri dan memiliki seorang putra. Karin menikmati menjadi tante tanpa menjadikan keponakan sebagai pengganti anak. Ia membantu ketika diminta, lalu mengembalikan anak kepada orang tuanya saat lelah.
Adrian telah bekerja tetap dan menjalani hubungan lebih stabil dengan Nadine. Ia tidak kembali menjadi pengusaha besar. Pada pertemuan keluarga, ia kadang berbicara tentang masa lalu tanpa menjadikannya pusat setiap acara.
Étienne serta Jules berkunjung ke Indonesia. Mama Hanna bersedia makan bersama sekali dan kemudian kembali ke kebun. Jules, yang sudah remaja, berkomunikasi lancar melalui bahasa isyarat dengan Altar. Hubungan kakak-adik mereka tumbuh tanpa memerlukan kedekatan ayah-anak yang sama.
Pada ulang tahun pernikahan kesepuluh, Karin dan Altar tidak mengadakan pesta. Mereka kembali ke perpustakaan sekolah yang kini memiliki ruang akses lengkap. Sudut dekat jendela dijadikan meja belajar bersama, bukan tempat Altar bersembunyi seorang diri.
Karin membawa album foto perjalanan mereka. Ada gambar pernikahan, proyek, Sari, keluarga, teman, dan rumah. Tidak ada satu garis keturunan yang menyatukan semuanya.
'Menurutmu hidup kita kosong?' tanya Karin.
Altar melihat rak, foto, dan tangannya yang bertaut dengan Karin. 'Kadang sepi. Itu berbeda dengan kosong.'
Karin tersenyum. Ia tidak lagi takut pada kesunyian. Ia tahu suara dapat hadir dalam tangan, gambar, pesan, dan orang-orang yang datang tanpa harus dimiliki.
Pilihan mereka tidak menghasilkan akhir yang paling mudah dijelaskan kepada kerabat. Tidak ada anak sebagai penutup kisah, tidak ada kerajaan bisnis, dan tidak ada kesembuhan ajaib.
Yang ada adalah kehidupan yang dipilih dengan sadar, termasuk ruang bagi kesedihan atas jalan yang tidak diambil. Pilihan itu bukan kekurangan. Ia penuh oleh pekerjaan, persahabatan, keluarga dalam banyak bentuk, dan cinta yang tidak membutuhkan pewaris untuk menjadi nyata.