Ruang Baca Kota mendapat undangan mengajukan desain akses untuk konser grup Korea yang akan digelar di Jakarta. Ketika Karin membaca nama grupnya, ia menjerit begitu keras sampai Altar yang berada di kamar tenang mengirim pesan menanyakan apakah ada darurat.
Karin masuk setelah mengetuk, wajahnya merah karena senang.
'BTS mau konser dan penyelenggara mengundang koperasi kita!'
Altar tersenyum. 'Selamat.'
'Kamu gak ngerti. Ini lingkaran hidupku selesai!'
'Kamu dulu mau menikahi salah satu dari mereka.'
'Sekarang aku perempuan profesional dan sudah menikah. Tapi tetap saja ini BTS.'
Undangan bukan jaminan proyek. Koperasi harus bersaing dengan agensi besar. Karin meminta Mila menunjuk tim seleksi tanpa menjadikannya ketua otomatis karena konflik emosionalnya jelas.
'Aku tetap mau terlibat sebagai desainer,' kata Karin.
'Boleh, tapi semua keputusan klien lewat aku,' jawab Mila. 'Kamu gak boleh kasih diskon demi tiket.'
'Aku tersinggung karena kamu menganggapku begitu.'
Raka mengangkat alis. Karin akhirnya mengaku aturan tersebut masuk akal.
Proposal mereka mencakup peta visual, ruang tenang, penerjemah bahasa isyarat, teks langsung, jalur evakuasi, area berbagai tingkat suara, dan prosedur tiket pendamping. Mereka melibatkan penggemar Tuli serta neurodivergen dalam penyusunan.
Uji coba dilakukan ketika stadion kosong dan saat simulasi penuh. Dalam kondisi kosong, tanda terlihat jelas. Ketika ribuan orang bergerak, beberapa tanda tertutup antrean barang dagangan. Tim memindahkan papan ke atas dan menambah penanda lantai.
Petugas keamanan dilatih agar tidak menganggap orang yang bergerak menjauh dari kerumunan sebagai pembuat masalah. Mereka juga belajar menggunakan kartu komunikasi sederhana. Ruang tenang dijaga petugas yang memahami tempat itu bukan ruang hukuman atau ruang medis darurat.
Panitia awalnya membatasi waktu penggunaan lima belas menit. Komunitas menolak karena kebutuhan sensorik tidak mengikuti jam. Aturan diubah menjadi prioritas berdasarkan kapasitas tanpa mengusir orang yang belum siap kembali.
Seorang penggemar mengkritik ruang akses yang terlalu jauh dari panggung. Penyelenggara beralasan area depan mahal. Karin menolak akses dijadikan tempat terburuk yang diberi label khusus.
'Pengguna disabilitas juga membeli pengalaman konser, bukan hanya izin masuk gedung,' katanya.
Negosiasi tiket berlangsung keras. Akhirnya sejumlah kursi di berbagai harga dan posisi dialokasikan, bukan satu blok belakang. Informasi akses dipublikasikan sebelum penjualan.
Koperasi memenangkan proyek. Karin mendapat kartu kerja yang memberinya akses belakang panggung pada waktu terbatas. Hany hampir pingsan mendengar kabar dan menawarkan menjadi asisten tanpa bayaran.
'Kita gak pakai pekerja gratis,' kata Karin. 'Kalau kamu punya keahlian yang dibutuhkan, daftar resmi.'
Hany akhirnya bergabung sebagai penguji pengalaman penggemar dengan honor. Dion mengeluh ditinggal, lalu ditugaskan menjaga barang saat sesi uji coba.
Persiapan konser menguji profesionalisme Karin. Seorang manajer artis meminta teks langsung dimatikan pada lagu tertentu karena takut rekaman lirik bocor. Tim menjelaskan teks dapat dikendalikan dan dilarang disimpan, tetapi akses tidak boleh hilang saat pertunjukan.
Mereka mencapai solusi dengan sistem tertutup serta perjanjian kerahasiaan penerjemah. Penggemar pengguna ikut menguji sinkronisasi.
Pada hari gladi, Karin bertemu salah satu anggota grup di lorong. Masa remajanya seolah muncul kembali: kamar penuh poster, teriakan di sekolah, dan mimpi menikahi idol. Ia memegang map terlalu erat.
Artis itu mengucapkan terima kasih atas kerja tim melalui penerjemah. Karin menjawab sopan dan menjelaskan fitur utama tanpa meminta foto. Pertemuan berlangsung kurang dari dua menit.
Setelah artis pergi, Karin masuk ruang staf dan menjerit ke bantal. Hany ikut menangis. Mereka lalu kembali bekerja.
'Kamu gak minta foto?' tanya Hany.
'Aku ada di sini sebagai desainer. Kalau ada sesi resmi nanti baru minta.'
Sesi resmi memang diadakan setelah gladi. Seluruh tim mendapat foto kelompok. Karin berdiri di baris kedua, tidak memotong anggota lain. Foto itu tetap menjadi salah satu barang paling berharga, tetapi bukan bukti dirinya lebih penting.
Altar menghadiri konser di ruang dengan tingkat suara terkontrol. Ia memakai perlindungan dan memilih keluar setelah setengah acara ketika lelah. Karin tidak ikut pulang karena masih bertugas. Mereka sudah menyepakati hal tersebut.
Konser berjalan tanpa insiden besar. Teks sempat terlambat pada satu lagu, dan jalur ruang tenang padat. Tim mencatat masalah alih-alih mengumumkan acara sempurna.
Setelah acara, semua pekerja dibayar termasuk penguji penggemar. Karin menolak tawaran mengganti honor dengan album bertanda tangan. Hadiah boleh diberikan sebagai tambahan, bukan mata uang yang mengeksploitasi antusiasme.
Laporan mencatat tiga orang meninggalkan stadion karena tanda evakuasi membingungkan. Tim menghubungi mereka melalui survei sukarela dan mengganti simbol. Penyelenggara menyetujui audit ulang sebelum konser berikutnya.
Karin juga meminta hak desain dasar dapat digunakan acara lain dengan biaya terjangkau. Penyelenggara mempertahankan materi merek, tetapi peta akses generik dirilis terbuka.
Seusai konser, seorang penggemar Tuli mengirim pesan bahwa untuk pertama kalinya ia dapat mengikuti komentar panggung. Penggemar lain mengkritik penerjemah sulit terlihat dari sisi kanan. Keduanya dimasukkan ke laporan.
Penyelenggara ingin membuat video tentang Karin dari fangirl gila menjadi desainer sukses. Karin menolak kata gila dan meminta video berfokus pada penggemar serta tim. Ia bersedia menceritakan sedikit masa remaja jika tidak digunakan merendahkan fangirl.
'Menjadi penggemar mengajariku tentang komunitas dan kegembiraan,' katanya dalam wawancara. 'Masalahnya dulu bukan aku menyukai mereka. Aku hanya belum belajar menyeimbangkan kesukaan dengan hidupku.'
Setelah semua pekerjaan selesai, Karin pulang membawa kartu akses, poster bertanda tangan untuk tim, dan kelelahan luar biasa. Altar menunggunya dengan makanan.
Ia tidur hampir sehari, lalu menghadiri rapat evaluasi tanpa mengenakan atribut penggemar agar fokus. Mila memimpin rapat dan mengkritik satu keputusan Karin yang terlambat meminta penguji pengguna. Karin menerima catatan, meski merasa pencapaian pribadinya sedang dirusak.
Malamnya ia mengakui kepada Altar bahwa dirinya ingin satu hari saja dipuji tanpa koreksi. Altar menjawab ia boleh merayakan dan tetap bertanggung jawab. Mereka membeli kue kecil sebelum Karin kembali menyelesaikan revisi laporan.
'Jadi kamu masih mau menikahi idolamu?' tanyanya.
Karin melihat cincin pernikahan lalu poster.
'Enggak. Aku cukup punya foto dan suami yang bikin mi.'
'Pilihan yang bijak.'
Karin menempelkan foto tim di kamar koleksi. Tiket baris pertama yang dahulu menjadi puncak mimpinya kini bukan akhir. Kebahagiaan terbesar justru datang karena ia membantu lebih banyak orang menikmati panggung yang sama.
Fangirl di dalam dirinya tidak sembuh karena memang tidak pernah menjadi penyakit. Ia hanya tumbuh bersama perempuan yang belajar bahwa mencintai sesuatu dari jauh dan membangun kehidupan nyata dapat berjalan berdampingan.