Sari berusia dua puluh empat tahun ketika melamar pekerjaan di Ruang Baca Kota. Ia baru lulus jurusan kebijakan sosial dan memiliki pengalaman dua tahun mendampingi keluarga dalam proses reunifikasi. Karin mengetahui lamaran itu dari Mila, bukan dari Sari.
'Kenapa gak bilang?' tanya Karin saat mereka bertemu.
'Karena aku melamar sebagai pelamar, bukan anak yang pernah tinggal di rumah Tante.'
Karin tersentuh sekaligus khawatir. Hubungan mereka dapat menimbulkan konflik kepentingan. Ia menyatakan kepada komite bahwa dirinya pernah menjadi pengasuh Sari dan keluar dari seluruh proses seleksi.
Beberapa anggota tetap menganggap Sari mendapat keuntungan karena dikenal pendiri. Komite memakai panel eksternal dan skor tertulis. Sari diterima untuk kontrak satu tahun sebagai peneliti junior, bukan posisi pimpinan.
Sari meminta akses terhadap catatan skor setelah seleksi. Komite memberikan versi yang melindungi data pelamar lain. Nilainya kuat pada pengalaman lapangan dan penulisan kebijakan, tetapi lemah pada pengelolaan anggaran.
Ia menyusun rencana belajar, bukan meminta kekurangan diabaikan. Mila menunjuk mentor dari organisasi lain agar Karin tidak menjadi pembimbing langsung. Pertemuan keluarga dan evaluasi kerja dipisahkan; mereka tidak membahas penilaian di meja makan.
Saat Sari melakukan kesalahan mengirim survei tanpa opsi bahasa sederhana, komite memberi teguran seperti pekerja lain. Karin mengetahui seminggu kemudian dan menahan dorongan menelepon Mila. Sari memperbaiki survei serta meminta maaf kepada peserta sendiri.
'Tante gak usah merasa harus melindungi aku dari kritik,' kata Sari.
'Aku juga gak boleh melindungi organisasi dari kamu kalau kritikmu benar.'
Proyek pertama Sari menilai desain layanan pengasuhan sementara. Ia menemukan materi koperasi terlalu berfokus pada rumah pengasuh dan kurang menampilkan hak keluarga asal. Beberapa ilustrasi bahkan menggambarkan keluarga asal dengan warna kusam, sementara pengasuh memakai warna cerah.
Karin merasa tertampar karena ikut menyetujui kampanye lama tersebut.
'Kami ingin menunjukkan perubahan dari tidak aman menjadi aman,' jelasnya.
'Tapi visualnya membuat kemiskinan terlihat seperti kegagalan moral,' jawab Sari. 'Ibuku melihat materi ini dan merasa orang seperti dia selalu digambar sebagai masalah.'
Rapat menjadi tegang. Karin hampir memakai pengalaman pernah merawat Sari sebagai pembelaan. Ia berhenti sebelum mengucapkan.
'Kamu benar. Niatku gak menghapus dampaknya.'
Koperasi menarik materi dan mengundang keluarga asal untuk merancang versi baru dengan honor. Bu Wulan bergabung sebagai konsultan setelah bertahun-tahun menolak keterlibatan publik. Ia menetapkan batas bahwa sejarah kesehatannya tidak boleh digunakan.
Sesi pertama menunjukkan keluarga asal memiliki kebutuhan berbeda. Ada yang meminta istilah pemulihan diganti karena seolah keluarga rusak, ada yang ingin informasi hak banding lebih jelas, dan ada yang menolak foto rumah sebelum-sesudah.
Tim menghasilkan materi dengan jalur proses, kontak bantuan hukum, dan penjelasan bahwa reunifikasi, perwalian kerabat, atau pengaturan lain diputuskan berdasarkan keselamatan, bukan kelas ekonomi. Ilustrasi memakai warna setara.
Bu Wulan meninjau versi akhir dan menemukan kalimat keluarga harus membuktikan kelayakan. Ia mengubah menjadi lembaga wajib menjelaskan standar dan bukti. Pergeseran subjek kecil itu memindahkan tanggung jawab dari keluarga kepada sistem.
Sari memimpin riset, tetapi tidak menceritakan kisah pribadi tanpa persetujuan ibunya. Ketika media mengetahui hubungan mereka dan ingin profil mantan anak asuh kembali ke lembaga pendiri, Sari menolak.
'Saya bekerja di sini karena keahlian. Masa kecil saya bukan portofolio publik.'
Karin mendukung pernyataan itu, tetapi tidak berdiri di samping kamera. Ia membiarkan Sari memiliki suara sendiri.
Konflik berikutnya muncul saat masa kontrak hampir selesai. Mila ingin memperpanjang dan mempromosikan Sari menjadi koordinator kebijakan. Seorang anggota menuduh koperasi sedang menyiapkan pewaris Karin.
Sari marah dan ingin mengundurkan diri. Bu Wulan memintanya tidak membuat keputusan saat emosi.
'Kamu gak berutang tinggal karena mereka pernah membantu,' kata ibunya. 'Tapi jangan pergi hanya supaya orang lain gak bisa menuduh.'
Komite melakukan evaluasi terbuka. Kinerja Sari dinilai baik, tetapi pengalaman manajerial belum cukup untuk koordinator. Ia ditawari kontrak lanjutan dengan tanggung jawab proyek, bukan promosi penuh.
Sari menerima setelah menegosiasikan pelatihan serta evaluasi enam bulan. Karin tidak ikut menandatangani.
'Tante kecewa aku gak langsung jadi koordinator?' tanya Sari.
'Bagian diriku ingin dunia mengakui kamu hebat. Tapi organisasi gak boleh memenuhi keinginanku sebagai keluarga.'
'Bagus. Aku juga gak mau jabatan hadiah.'
Hubungan mereka berubah. Sari bukan lagi anak yang membutuhkan kartu komunikasi di kamar. Ia menjadi rekan profesional yang kadang mengkritik Karin di depan rapat dan tetap datang makan malam sesudahnya.
Pada satu makan malam, Karin mulai memberi saran tentang hubungan Sari tanpa diminta. Sari mengingatkan dirinya datang sebagai tamu, bukan sesi bimbingan. Karin meminta maaf dan mengganti topik.
Bu Wulan tertawa melihat dinamika mereka. Ia tidak merasa terancam oleh kedekatan itu karena batas telah dibangun bertahun-tahun. Sari dapat memiliki banyak orang dewasa penting tanpa mengurangi posisi ibunya.
Ketika Sari akhirnya menjadi koordinator dua tahun kemudian, Karin sudah tidak duduk pada dewan seleksi. Promosi tersebut terasa biasa dan justru itu yang diinginkan semua pihak.
Altar juga belajar menyesuaikan. Ia pernah memperkenalkan Sari sebagai anak yang dulu mereka asuh. Sari membetulkan, 'Saya Sari, peneliti kebijakan. Riwayat itu boleh disebut kalau relevan dan saya setuju.'
Altar meminta maaf. Kebanggaan dapat menjadi bentuk kepemilikan jika cerita seseorang dibagikan untuk membuat diri sendiri terlihat baik.
Pada ulang tahun koperasi, Karin diumumkan menerima penghargaan pendiri. Ia meminta Sari menyerahkan plakat, tetapi Sari menolak karena hal itu memperkuat narasi pewaris. Mila yang menyerahkan.
Dalam pidato, Karin tidak mengatakan Sari adalah bukti keberhasilan pengasuhan. Ia membahas kesalahan visual lama dan bagaimana kritik membuat koperasi berubah.
Sari bertepuk dari baris biasa.
Sepulang acara, mereka makan mi bersama Bu Wulan dan Altar. Tidak ada kursi kehormatan. Karin memberikan salinan foto lama Sari hanya setelah bertanya.
'Aku mau simpan,' kata Sari. 'Tapi jangan unggah.'
'Tentu.'
Sari tidak datang untuk mewarisi nama, jabatan, atau kisah Karin. Ia datang membawa keahlian, batas, dan hak untuk memilih hubungan dalam bentuk baru. Bagi Karin, itu justru bukti paling jujur bahwa cinta sementara mereka dahulu tidak pernah sia-sia.