Minggu pertama pensiun membuat Karin menyusun daftar kegiatan di papan dapur. Museum hari Selasa, kelas memasak hari Rabu, membersihkan lemari hari Kamis, dan mengunjungi pusat pada Jumat. Altar membaca daftar itu sambil mengunyah roti.
'Ini pensiun atau hukuman sosial?' isyaratnya.
Karin mencoret kunjungan ke pusat. 'Baik. Kita mulai dengan tidak mengganggu orang yang baru bebas dari kita.'
Mereka akhirnya tidak pergi ke mana-mana pada hari Selasa. Hujan turun sejak pagi. Karin membaca novel di sofa, sedangkan Altar membongkar ketel listrik yang tombolnya macet. Menjelang siang, ketel itu tetap rusak dan meja dipenuhi sekrup.
Dahulu kegagalan kecil membuat Altar bertahan sampai alat kembali bekerja. Kali ini ia memotret susunan komponen, memasukkannya ke kotak, lalu memesan ketel yang memiliki indikator cahaya serta tombol besar.
'Kamu berubah,' kata Karin.
'Tanganku sakit.'
'Kejujuran yang sangat romantis.'
Tubuh mereka mulai menyusun aturan baru. Lutut Karin memerlukan waktu sebelum berjalan jauh. Altar memeriksa tekanan darah tiap pagi dan menggunakan gelang getar ketika tidur. Ia hampir tidak lagi menangkap suara tanpa alat, tetapi tidak menganggap setiap penurunan sebagai musuh yang harus dikalahkan.
Bahasa isyarat memenuhi rumah mereka. Karin tetap cerewet dengan tangan, wajah, dan seluruh bahunya. Ia sering menjatuhkan sendok karena berusaha mengisyaratkan sesuatu sambil memasak. Altar masih mengoreksi bentuk tangannya jika satu isyarat dapat berarti berbeda.
'Setelah puluhan tahun, kamu masih paham maksudku,' protes Karin.
'Aku paham karena menikah denganmu. Orang lain berhak mendapat tata bahasa.'
Apartemen baru membuat mereka lebih sering bertemu tetangga. Pak Yusuf di seberang tinggal sendiri dan menggunakan tongkat. Remaja bernama Nara di lantai bawah belajar bahasa isyarat karena bekerja paruh waktu di kafe. Karin mengundang keduanya minum teh, lalu sadar meja mereka hanya memiliki tiga kursi.
Ia hendak membeli satu set baru. Altar menyarankan kursi lipat. Mereka tertawa mengingat berapa banyak ruangan publik yang pernah mereka kritik karena menganggap akses sebagai benda tambahan yang disimpan di gudang.
Kursi keempat akhirnya selalu terbuka.
Sari datang beberapa minggu sekali, tidak dengan jadwal wajib. Ia kini memimpin tim desain layanan di koperasi, tetapi bukan ketua. Pacarnya, Dimas, bekerja sebagai perawat dan pertama kali bertemu Karin serta Altar saat makan malam sederhana.
Karin menahan diri untuk tidak menanyakan rencana pernikahan. Ia berhasil selama empat puluh menit.
'Kalian mau pencuci mulut?' tanyanya. 'Atau menikah? Maksudku, menambah es krim?'
Sari menutup wajah. Altar tertawa tanpa suara hingga bahunya berguncang.
Dimas menjawab tenang, 'Es krim dulu. Keputusan lain nanti.'
Sepulang tamu, Sari mengirim pesan bahwa ia tidak marah, tetapi tidak ingin hubungannya menjadi proyek keluarga. Karin meminta maaf tanpa menjelaskan niat baiknya. Pada kunjungan berikutnya, ia tidak mengulang pertanyaan.
Kehidupan tanpa anak permanen dulu sering dianggap membuat masa tua mereka sepi. Kenyataannya, hubungan di sekitar mereka tidak tersusun seperti pohon keluarga yang rapi. Sari adalah bekas anak asuh yang kini memilih tetap dekat. Bu Wulan menjadi teman yang sesekali mengirim makanan. Nara membantu mengatur telepon Altar, lalu meminta bantuan Karin memperbaiki portofolio. Pak Yusuf mengetuk pintu jika membutuhkan teman ke klinik, dan sebaliknya memberi makan tanaman ketika mereka bepergian.
Tidak ada satu orang yang ditunjuk menanggung seluruh masa tua mereka. Karin serta Altar mendaftarkan layanan pendamping profesional, memperbarui surat kuasa medis, dan mencatat preferensi pemakaman. Sari menerima salinan bukan sebagai pewaris tunggal, melainkan salah satu kontak dalam jaringan.
'Kalian ngomong soal mati seperti membahas tagihan listrik,' katanya.
'Tagihan listrik juga lebih aman kalau dibahas sebelum mati lampu,' jawab Karin.
Mereka tetap bertengkar. Karin membeli karpet indah yang membuat roda troli belanja tersangkut. Altar memindahkannya tanpa memberi tahu. Karin menemukan karpet itu terlipat di lemari dan menuduh rumah berubah menjadi laboratorium.
Altar mengisyaratkan bahwa keselamatan bukan selera. Karin membalas bahwa keputusan bersama juga bagian dari keselamatan hubungan. Mereka berhenti sebelum pertengkaran berubah menjadi daftar kesalahan lama.
Keesokan hari, mereka memasang pita antiselip dan mencoba troli melintasinya. Karpet tetap tinggal setelah uji berhasil. Tidak ada pihak yang menang seluruhnya.
Pada bulan berikutnya, Altar menerima undangan memberi pidato utama di konferensi luar negeri. Panitia menawarkan tiket kelas bisnis, tetapi belum menganggarkan juru bahasa isyarat. Ia menolak. Ketika panitia kemudian memperbaiki akses, ia tetap menolak karena tidak ingin kembali ke jadwal perjalanan lama.
Sebagai gantinya ia merekomendasikan Ayu dan dua peneliti muda. Salah seorang panitia bertanya apakah nama mereka cukup dikenal. Altar meneruskan pertanyaan itu kepada dewan konferensi dengan salinan terbuka. Ayu akhirnya diundang tanpa perlu memakai Altar sebagai pengantar di panggung.
Karin pun menolak permintaan menulis memoar tentang kisah cinta inspiratif. Penerbit ingin menonjolkan bagaimana ia bertahan mendampingi suami yang kehilangan pendengaran. Karin bertanya apakah mereka juga tertarik pada kesalahan, konseling, jarak, dan pekerjaan Altar sendiri. Tawaran menghilang setelah itu.
'Mungkin kita kehilangan banyak uang,' katanya.
'Kita juga kehilangan judul buruk,' isyarat Altar.
Pada suatu Minggu, mereka pergi ke toko bahan makanan. Tidak ada peristiwa penting. Karin membandingkan harga cabai terlalu lama. Altar salah mengambil susu manis. Mereka pulang naik bus, berhenti membeli bunga murah, lalu memasak sup yang terlalu asin.
Malamnya, listrik padam selama dua puluh menit. Lampu darurat menyala dan gelang Altar bergetar sesuai rancangan gedung. Mereka duduk di balkon bersama tetangga lain sampai aliran kembali.
Karin menatap wajah suaminya diterangi lampu baterai. Masa muda mereka penuh ledakan, rahasia, perjalanan, serta keputusan yang terasa menentukan seluruh dunia. Kini sebagian besar hari tidak besar.
Ia menyentuh tangan Altar dan mengisyaratkan, 'Aku suka ini.'
Altar melihat sup di mangkuk. 'Yang asin?'
'Bukan. Hari biasa.'
Ia mengangguk. Hari biasa tidak meminta mereka menjadi lambang apa pun. Hari itu hanya perlu dijalani, diperbaiki sedikit jika rusak, lalu dilepaskan ketika selesai.
Dan itu cukup bagi mereka.