Ethan mengikuti Alaric melalui jalan-jalan Kota Luminara yang dipenuhi dengan lampu-lampu berwarna-warni dan toko-toko yang menampilkan barang-barang ajaib di etalase mereka. Setiap langkah membawa mereka lebih dekat ke pusat kota, di mana sebuah pasar malam yang ramai sedang berlangsung.
"Di pasar ini, kita akan menemukan seorang pedagang yang memiliki peta ke tempat persembunyian Pedang Dimensi. Namun, berhati-hatilah, banyak mata yang mengawasi."
Ethan merasakan detak jantungnya meningkat saat mereka mendekati sebuah tenda yang dihiasi dengan simbol-simbol misterius. Seorang pedagang tua dengan mata yang tajam menyambut mereka.
"Ah, penyihir dari Akademi Tinggi. Apa yang membawa Anda ke sini pada malam yang gelap ini?," Tanya si pedagang tersebut.
"Kami mencari peta ke Pedang Dimensi. Kami tahu Anda memilikinya."
Pedagang itu tersenyum licik dan mengeluarkan gulungan peta kuno dari balik meja. "Peta ini bisa menjadi milikmu, tetapi segalanya di Luminara memiliki harga," Ujar si pedagang.
Ethan merogoh kantongnya, mencari sesuatu yang berharga untuk ditukar. Dia menemukan sebuah batu permata yang diberikan oleh ibunya sebelum dia meninggalkan rumah. Batu itu berkilauan dengan cahaya internal yang misterius.
"Apakah ini cukup?," Jelas Ethan sambil memperlihatkan permata kepada si pedagang. Pedagang itu mengambil batu permata, memeriksanya dengan seksama, dan mengangguk. "Ini lebih dari cukup. Peta itu milikmu."
Dengan peta di tangan, Ethan dan Alaric segera meninggalkan pasar malam, menyadari bahwa mata-mata Zardon mungkin sudah mengikuti mereka. Mereka harus bergerak cepat jika mereka ingin menemukan Pedang Dimensi sebelum terlambat.
"Kita harus berhati-hati. Mata-mata Zardon bisa berada di mana saja, dan mereka tidak akan ragu untuk menghentikan kita."
Ethan mengangguk, memahami risiko yang mereka hadapi. Dia merasa berat tanggung jawab di pundaknya, tetapi juga semangat petualangan yang membara di hatinya.
Mereka melintasi hutan lebat, mengikuti petunjuk dari peta yang tampaknya berbicara kepada mereka, memandu mereka melalui jalur yang paling aman. Setiap saat, mereka waspada terhadap suara atau gerakan yang mencurigakan.
Tiba-tiba, sebuah bayangan hitam melintas di depan mereka, cepat dan hampir tidak terlihat. Ethan meraih pedangnya, siap untuk pertempuran.
"Tenang, Ethan. Itu hanya salah satu pengawal hutan. Mereka adalah sekutu kita."
Pengawal hutan itu muncul dari balik pohon, sosoknya tinggi dan anggun. Matanya yang tajam memancarkan kebijaksanaan dan kekuatan.
"Saya telah mengikuti perjalanan kalian. Zardon tahu kalian mencari Pedang Dimensi, dan dia telah mengirim pasukan terbaiknya untuk menghentikan kalian," Ucap si pengawal hutan dengan suaranya yang menggelegar.
"Kami membutuhkan bantuanmu. Bisakah kamu membimbing kami melalui hutan ini?,"Besar harapan Alaric kepada si Penjaga hutan.
"Tentu saja. Ikuti saya, dan saya akan membawa kalian ke tempat yang aman."
Mereka mengikuti Pengawal Hutan melalui jalur yang rumit, melewati pohon-pohon raksasa dan sungai-sungai yang berkilauan. Setelah beberapa jam, mereka tiba di sebuah lembah tersembunyi, di mana air terjun yang megah mengalir ke danau yang tenang.
Di tengah danau, terdapat sebuah pulau kecil dengan sebuah altar batu kuno. Di atas altar itu, terlihat cahaya yang berkilauan - Pedang Dimensi.
"Kita telah menemukannya. Sekarang, kita harus berhati-hati. Zardon pasti telah menyiapkan perangkap," Jelas Alaric kepada Ethan.
Ethan mengambil napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian. Dia tahu bahwa saat-saat berikutnya akan menentukan nasib Altheria dan mungkin seluruh dunia.
Mereka mendekati altar dengan hati-hati, setiap langkah mereka dipenuhi dengan antisipasi dan ketegangan. Saat Ethan mengulurkan tangan untuk mengambil Pedang Dimensi, sebuah suara gemuruh terdengar, dan tanah di bawah mereka berguncang dengan keras..
.
.
.
Bersambung