Alisyah meletakkan bungkus makanan itu kembali di atas tempat tidur. Ia tidak tertawa. Ucapan Azka tentang membuatnya hamil sungguhan membuat semua kalimat yang sejak tadi disusunnya berubah menjadi satu keinginan: keluar dari kamar ini dan didengar.
“Jangan bicara begitu lagi.”
Azka masih mempunyai sisa senyum ketika ia mengangkat wajah. Senyum itu menghilang setelah melihat Alisyah berdiri.
“Aku tidak hamil. Aku tidak mau menikah dua minggu lagi. Dan aku tidak mau ditarik supaya duduk lagi. Kalau Bapak ingin bicara, kita bicara di luar kamar.”
“Syah, aku—”
“Bukan aku yang sekarang perlu diberi penjelasan soal bayi yang tidak ada.”
Ia mengambil makanan dan membuka pintu sendiri. Azka bergerak, kemudian berhenti ketika Alisyah menoleh. Ia membiarkan gadis itu mendahului. Di ruang keluarga, Mama mengangkat kepala dari daftar persiapan yang sedang dibacanya. Alisyah menaruh bungkusan di meja, menarik kursi, lalu duduk.
“Ma, jangan suruh aku istirahat dulu. Aku ingin Mama mendengar sesuatu.”
“Kamu belum makan dari tadi?”
“Aku akan makan. Tapi dengarkan aku sampai selesai.”
Mama meletakkan daftar itu. Azka muncul di pintu, tidak langsung duduk di samping Alisyah. Kali ini Alisyah memilih kursi di seberang ibunya. Ia ingin melihat wajah Mama ketika mengatakan sesuatu yang sudah berkali-kali ditolak.
“Aku berbohong waktu mengaku hamil. Aku marah karena Pak Azka merusak barangku dan terus memerintahku. Aku melihatnya dengan perempuan yang kupikir pacarnya, lalu sengaja membuat cerita supaya mereka salah paham. Perempuan itu ternyata kakaknya.”
Mama menghela napas. “Kamu sudah mengatakan itu. Tapi alat tesnya—”
“Tanyakan kepada Azka.”
Azka menatapnya. Alisyah tidak membantu mencari kalimat yang terdengar ringan. Ia sudah cukup sering dipotong ketika mencoba mengatakan kebenaran.
“Alisyah tidak hamil, Bu,” kata Azka akhirnya.
Mama diam. Tangannya berhenti tepat di tepi kertas.
“Apa maksudmu?”
“Saya membuat alat tes itu tampak positif. Cerita bahwa kami sudah menemui dokter juga bohong. Tidak ada pemeriksaan kandungan yang menyatakan Alisyah sedang hamil.”
Alisyah merasakan panas naik ke wajahnya. Ia telah mengetahui apa yang dilakukan Azka, tetapi mendengar pengakuannya di depan Mama membuat kemarahannya mempunyai bentuk yang lebih jelas. Ini bukan kecelakaan kecil yang tumbuh karena orang salah mendengar.
“Kenapa?” tanya Mama.
Azka menarik kursi, menunggu Mama mengangguk, lalu duduk. “Saya ingin pernikahan dipercepat. Saya tahu kalau keluarga percaya ada kehamilan, keberatan Alisyah akan lebih mudah diabaikan.”
“Jadi kamu tahu dia keberatan?”
“Saya tahu.”
Mama memandang putrinya. Alisyah menahan keinginan menangis. Ia tidak mau kehilangan kesempatan berbicara setelah selama seminggu merasa suaranya hanya dianggap penyangkalan seorang anak yang ketakutan.
“Aku salah mengaku hamil,” katanya. “Aku akan memperbaiki kabar yang kubuat. Tapi aku tidak akan menikah untuk membuat kebohongan kami kelihatan benar.”
Untuk beberapa saat Mama tidak menjawab. Dari dapur terdengar air mengalir, lalu berhenti. Azka menunduk, sementara Alisyah menatap daftar yang terbuka di antara mereka. Nama gedung, penata rias, cincin. Begitu banyak keputusan sudah dibuat sebelum ia diberi kesempatan memilih.
“Panggil orang tuamu,” ujar Mama kepada Azka. “Mereka harus mendengar ini dari kamu.”
Azka mengangguk. Ia menelepon ayahnya dari ruang yang sama dan meminta kedua orang tuanya datang malam itu. Ia tidak menyebut Alisyah sedang mengamuk atau membutuhkan bujukan. Ia mengatakan telah berbohong dan perlu menghentikan persiapan.
Alisyah menghubungi Manda. Ia meminta temannya datang bersama Gea jika mereka mempunyai waktu. Tidak ada cerita panjang dalam pesannya; ia hanya mengatakan ia ingin ditemani ketika kedua keluarga berbicara. Manda menjawab bahwa mereka akan datang. Sesudah itu Alisyah membuka makanannya.
“Masih bisa makan?” tanya Mama pelan.
“Bisa. Caca dan Cici tidak ikut berbohong, jadi mereka tetap minta makan.”
Mama hampir tersenyum, lalu kembali memandang Azka. Candaan itu tidak membuat suasana ringan. Namun Alisyah berhasil menelan beberapa suap sebelum tamu pertama tiba.
***
Manda dan Gea datang lebih dahulu. Mereka menyapa Mama, kemudian duduk di dekat Alisyah. Gea tidak langsung melontarkan pertanyaan; ia hanya menggeser tas supaya jalan keluar tidak tertutup. Tak lama kemudian orang tua Azka tiba bersama kakak perempuannya. Dion tidak ikut kembali.
Azka mengulang pengakuannya. Kali ini ia menyebut kebohongan di rumah orang tuanya, ketika ia mengatakan telah berhubungan dengan Alisyah dan ingin menikahinya. Ia juga menjelaskan bahwa pernyataan Alisyah di jalan telah dipakainya untuk mendorong rencana yang sebenarnya sudah ia inginkan.
Ibunya menatap lama sebelum bertanya, “Kamu membiarkan Mama memikirkan kesehatan cucu yang tidak ada?”
“Iya, Ma.”
“Dan kami membicarakan pernikahan dengan ibunya berdasarkan cerita itu.”
“Iya.”
Ayah Azka tidak segera berbicara. Kakaknya meletakkan ponsel di pangkuan, wajahnya lebih pucat daripada ketika masuk. Alisyah tidak merasa menang melihat mereka kecewa. Ia justru mulai memahami berapa banyak orang yang sudah masuk ke dalam cerita yang dibuatnya dan diteruskan Azka.
“Aku juga harus minta maaf kepada Kakak,” katanya kepada perempuan itu. “Waktu di jalan, aku sengaja ingin membuat Kakak salah paham. Aku tidak tahu kalian bersaudara, tapi itu tetap bukan alasan untuk menampar dan menuduh.”
Perempuan itu mengangguk pendek. “Aku dengar. Tapi jangan anggap ini perkara lucu lagi.”
“Tidak.”
Manda membuka buku setelah Alisyah meminta bantuan mencatat keputusan malam itu. Ia tidak mencatat cerita kesehatan atau mengubah pertemuan menjadi pemeriksaan. Mereka hanya membutuhkan satu kalimat yang tidak dapat diartikan lain besok pagi: persiapan pernikahan pada tanggal lama dihentikan, tanpa tanggal pengganti.
“Perjodohan kalian sudah dibicarakan dengan ayah Alisyah sejak lama,” kata ayah Azka. “Saya mengira itu akan menjadi sesuatu yang baik.”
“Ayah tidak bisa menjawab untukku sekarang, Om,” ujar Alisyah. “Aku juga baru tahu rencana itu. Aku tidak bisa diminta menyetujuinya hanya karena beliau sudah tidak ada untuk mendengar jawabanku.”
Lelaki itu menunduk pada daftar persiapan. Lalu ia menariknya ke tengah meja.
“Baik. Tidak ada tanggal baru. Pemesanan yang sudah dibuat akan kami urus.”
Mama menyentuh pinggir buku Manda. “Tulis juga bahwa Alisyah tidak diminta membayar pembatalan sebagai syarat agar dia boleh menolak.”
Alisyah menoleh. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak harus mengucapkan semua keberatannya sendirian.
Ibunda Azka mengatakan ia akan memeriksa pemesanan esok pagi. Mama akan menghubungi kerabat yang sudah menerima kabar darinya. Alisyah ingin menyampaikan sendiri kepada dua tante yang pernah dihubunginya, setelah ia beristirahat. Mereka sepakat tidak membuat pengumuman ke orang yang sebelumnya tidak tahu.
Azka menawarkan menanggung biaya yang timbul karena percepatan yang didorongnya. Ayahnya meminta semua bukti pembayaran dikumpulkan dahulu. Tidak seorang pun akan menghitungnya sebagai harga persetujuan Alisyah.
Ketika percakapan selesai, Azka tidak meminta pertunangan sebagai pengganti. Alisyah juga tidak menjanjikan akan mempertimbangkan setelah marahnya reda. Ia hanya membaca catatan Manda, membetulkan satu kata yang bisa berarti penundaan, lalu meminta Mama menyimpan salinannya.
Malam itu ia belum memaafkan. Ia masih harus menghadapi akibat kebohongannya sendiri dan mencari cara kembali ke kampus. Tetapi ketika Azka berpamitan bersama keluarganya, ia tidak lagi harus memikirkan bagaimana menghentikan pernikahan yang terus dianggap pasti terjadi. Tanggal itu telah dihentikan oleh orang-orang yang menyiapkannya. Langkah berikutnya tidak lagi harus diambil sambil menyangkal bayi yang tidak pernah ada.