Banyak orang berpikir kuliah sambil bekerja adalah suatu hal yang mustahil untuk dilakukan. Memikul dua kegiatan yang berbeda dan harus bertanggung jawab akan keduanya adalah bagian tersulit dari kuliah sambil bekerja. Kesulitan ini sangat dirasakan olehku. Tapi, ini adalah satu-satunya pilihan yang ku punya jika aku ingin menjadi orang yang sukses. Waktu 6 hari dari seminggu tidak pernah aku bisa mempunyai waktu santai seperti teman-teman seusiaku. Namun, inilah kehidupanku. Kehidupan yang aku harus perjuangan dan tidak boleh terus menerus mengeluh akan hal yang kualami.
Hari Senin, tepat hari sibukku dimulai. Karena aku yang tidak terbiasa sarapan sebelum berangkat ke kampus, aku selalu membawa bekal setiap harinya.
“Shil, lo udah siap belum? Gua tunggu dibawah yaa..”
“Wait wil, gua udah siap kok. Tinggal sepatuan doang ini. Tunggu 2 menit ya.” Kataku pada Wilo. Dia adalah roommate ku. Namanya Wilona Anastasya, aku biasanya panggil dia Wilo. Walaupun dia beda prodi sama aku, tapi tetap dia kuliah di kampus yang sama denganku. Jadi kita always berangkat bareng ke kampus. Oke nanti lagi ya lanjut bahas Wilo nya, soalnya orang nya udah nungguin dibawah hehe.
“Astaga Shila, lo lama amat sih. Katanya cuman sepatuan doang tapi 15 menit gue nunggu lo dibawah.” Sahut Wilo ke Shila ketika tahu temannya itu ingin berlari ke arahnya. “Sorry Wil, tadi susah nih gue ngiket sepatunya jadi lama deh.” Jawab Shila yang merasa sedikit bersalah ke Wilo karena membuat Wilo menunggu cukup lama.
Setelah sedikit perdebatan pagi hari terjadi karena ngiket tali sepatu yang lama, mereka berangkat ke kampus dengan motor vario berwarna putih. Jarak gedung tempat kuliah Shila cukup dekat dengan gedung tempat kuliah Wilo, jadi mereka selalu memarkirkan motor terlebih dahulu kemudian jalan bersama menuju gedung masing-masing.
Aku dan Wilo yang biasanya berangkat ke kampus lebih awal, hari ini sedikit mepet dengan kelas jam pertama kami. Alhasil, bekal yang selama ini selalu ku makan di kampus sebelum jam pertama tidak bisa kumakan. Ketika kulihat jam di hpku ternyata sudah pukul 06.55, aku segera bergegas untuk pergi ke kelas. Karena kelasku dimulai pukul 07.00 dan dosen yang biasanya mengajar pada kelas ini sangat tidak suka apabila ada mahasiswa yang terlambat datang ke kelasnya. Dan akhirnya, aku sampai tepat waktu dikelas, yaitu pukul 07.00.
“OMG, takut banget rasanya kalo tiap hari Senin jam 7. Untung aku ngga telat dateng” Kataku dalam batin.
Baru saja aku duduk dibangkuku, ternyata dosenku sudah tiba. Pak Beno namanya, beliau adalah dosen ter-disiplin yang pernah aku temui selama ini. Tanpa banyak basi-basi Pak Beno langsung go to the topic dan kuliah pun dimulai. Aku yang belum sarapan ini, susah banget untuk fokus ke kuliah Pak Beno. Selain karena mata kuliah ini susah buat dipahami, Pak Beno jarang ngasih details explanation ke mahasiswa. Karena beliau berharap agar mahasiswa selalu aktif dan bertanya apabila merasa susah atau ngga paham sama materinya. Dan akhirnya kelas Pak Beno selesai, perutku yang terus-terusan bunyi ini sudah ngga sabar lagi untuk segera diisi hehe. But, ini bukan kelas terakhirku in this day. Tiba-tiba ketika aku sedang beres-beres barang dan mau meninggalkan kelas, ada seseorang dengan menggunakan masker hitam dan kemeja motif kotak-kotak hitam merahnya yang datang dari balik pintu menuju arah Pak Beno. Dalam hatiku bertanya-tanya,
“Siapa ya orang ini? Apakah mahasiswa juga sepertiku? Tapi aku tidak pernah tau dia sebelumnya?”
“Yaudah lah meski aku penasaran sama orang itu, tapi rasa laparku tetap nomor 1 wkw.”
Setelah aku keluar dari kelas, taman adalah tempat yang sekilas terpikirkan olehku untuk menghabiskan bekal sarapanku. Setelah materi kuliah yang sangat menghabiskan energi ini, aku juga perlu asupan mood lagi dong hehe. Sambil berjalan ke taman, aku juga ingin menikmati hari dengan mendengarkan musik favoritku. Ghost by Justin Bieber is my favorite song. Tapi, tiba-tiba aku merasa aneh. Kepalaku terasa berat dan pandanganku juga mulai menghitam. Aku berusaha untuk tetap baik-baik saja dan stabil.
“Mbak, mbak,...” Hanya suara itu yang terdengar olehku.
“Brokkk..”
Ketika aku membuka mataku, aku terasa asing dengan tempat ini. Ada beberapa tempat tidur disampingku. Dan yang ku kagetkan adalah ternyata aku sudah terbaring disini selama beberapa menit dikarenakan pingsan. Setelah itu, ada seorang dokter cantik yang datang menghampiriku.
“Kamu udah sadar? Apa benar nama kamu Shila?” tanya dokter itu padaku.
“Benar, dok. Apa yang terjadi pada saya dok? Ini dimana? Kenapa saya tiba-tiba bisa ada disini?” Aku yang sangat penasaran kenapa bisa ada disini. Karena yang aku ingat sebelumnya aku sedang berjalan ke taman.
“Begini, mbak Shila ini sebenarnya kecapekan. Tubuhnya juga terlalu diforsir. Mbak Shila ini butuh lebih banyak istirahat dan juga asupan yang bergizi. Sekarang, mbak berada di poliklinik kampus, lebih baik untuk saat ini istirahat dulu aja ya. Biar infus yang saya berikan ini habis dulu. Baru mbak Shila boleh meninggalkan poliklinik.” Penjelasan dokter ini bisa ku mengerti dengan baik.
“Oiya dok, kalau boleh tau siapa ya yang tadi membawa saya kesini?”
“Saya juga kurang tau ya mbak, tadi seorang laki-laki muda, mungkin seumuran mbak juga. Dengan masker hitam dan kemeja kotak-kotak hitam merah yang saya tau.” Jawab dokter untuk rasa penasaranku yang tinggi.
“Baik dok kalau begitu terima kasih banyak.” Setelah aku mengucapkan terima kasih kepada dokter cantik, dia segera meninggalkanku sendiri. Aku semakin penasaran dengan siapa orang yang membawaku kesini? Apakah aku mengenalnya? Situasi yang kualami hari ini benar-benar membuatku bingung.
Setelah infus yang terpasang di tanganku habis, aku bergegas untuk pergi ke kelas selanjutnya. Dan yang membuatku tidak percaya adalah Pak Beno juga menjadi dosen untuk mata kuliahku ini. Bukannya aku tidak suka Pak Beno menjadi dosenku, tapi dalam ekspektasiku setiap mata kuliah aku bakal mempunyai dosen yang berbeda – Setibanya aku di kelas, aku terkejut karena ada seseorang yang duduk dikursi dosen dan itu bukan Pak Beno. Langsung kulihat jam di hpku, tapi masih ada waktu tersisa sebelum kelas dimulai. Aku juga mengecek kelasku lagi dijadwal dan apakah kelas yang kutempati ini benar atau tidak. Sejauh ini tidak ada yang salah dengan hal ini, lantas siapakah orang itu?
“Waitt, baju motif kotak-kotak warna hitam merah dan masker hitam. Bukankah ciri-ciri ini sama dengan apa yang dikatakan dokter cantik tentang orang yang menolongku tadi? Apa benar orang ini yang menolongku? Dan mengapa dia duduk dikursi yang seharusnya ditempati oleh Pak Beno?” Dalam seketika semua pertanyaan ini muncul di hatiku. Rasa penasaran yang kualami ini benar-benar ingin membuatku bertanya kepada orang itu siapakah dia? Apakah dia orang yang sama dengan orang yang menolongku tadi? Apakah dia mengenalku? Atau mungkin apakah dia mengingatku?
.
.
.
.
(Part 2 dilanjutin next week ya hehe. I’m sorry kalo mungkin ada sedikit atau banyak salah kata. Karena ini first novel aku dan aku juga mencoba untuk memberanikan diri untuk menulis. Semoga banyak orang akan menyukainya. Terima kasih)