ALZIO AEZAR ELVER
Alzio adalah seorang pemimpin dari Elver Corp. Lelaki berusia 25 tahun ini merupakan pengusaha yang sangat tegas dan ditakuti oleh pengusaha lainnya. Sifatnya yang tegas dan dingin membuat semua orang takut padanya.
Setelah beberapa tahun ditinggalkan oleh sang kekasih Alzio memiliki karakter yang berbeda. Ia sering pergi ke club untuk sekadar minum.
AZALEA BELVA BELLAMY
Gadis berusia 23 tahun ini tumbuh menjadi gadis yang lebih dewasa dan mempunyai sifat keibuan. Ia merupakan dokter anak di sebuah rumah sakit terbesar di Jakarta. Setelah menempuh pendidikan di Singapura, ia kembali ke Indonesia untuk bekerja sebagai seorang dokter.
RAFAEL ANSEL HAIDAR
Lelaki berusia 26 tahun, berprofesi sebagai dokter anak di rumah sakit yang sama dengan Azalea. Ia memiliki sifat penuh tanggung jawab dan penyayang. Di usia yang telah matang itu ia masih sendiri belum mempunyai istri maupun kekasih
sudah matang itu ia masih sendiri, belum mempunyai istri maupun kekasih. Bukan karena tidak ada yang mau, melainkan karena ada satu nama yang ia simpan diam-diam sejak lama. Rafa bukan lelaki yang pandai merayu. Ia hanya bisa menunggu dengan cara yang paling sabar.
Setiap pagi ia datang ke rumah sakit lebih awal dari siapapun. Jas putihnya selalu rapi, stetoskop tergantung di lehernya, dan senyumnya tidak pernah hilang walaupun pasiennya menangis sekencang apapun.
"Dokter Rafa, anak di ruang tiga nangis terus dari tadi. Ngga mau disuntik." Ucap seorang perawat.
"Biar saya yang masuk." Ucap Rafa sambil menggulung lengan jasnya.
Lelaki itu berjongkok di depan ranjang pasien kecilnya, mengeluarkan permen dari saku, lalu bercerita tentang mobil balap sampai anak itu lupa pada jarum suntik yang menempel di lengannya.
"Nah, selesai. Ngga sakit kan?" Ucap Rafa.
"Ngga dok." Ucap anak itu sambil terisak kecil.
Begitulah Rafa. Ia menyembuhkan bukan hanya dengan obat.
ALVINO
Kakak kandung Azalea. Lelaki yang bekerja di sebuah kantor ini mempunyai wajah yang tidak kalah rupawan dari Alzio. Bedanya, Alvino tidak pernah bisa diam. Mulutnya selalu punya bahan untuk menggoda adiknya, tetapi tangannya selalu paling depan ketika adiknya membutuhkan.
Ia mengenal Alzio jauh sebelum adiknya mengenal lelaki itu. Mereka pernah sangat dekat. Dan justru karena itu Alvino menjadi orang yang paling keras kepada Alzio sekarang.
"Dek, lo mau gue beliin apa?" Tanya Alvino sambil menyandarkan bahunya di pintu kamar Azalea.
"Ngga usah, gue capek." Ucap Azalea.
"Seblak mang Iwan?" Ucap Alvino.
Azalea langsung menoleh dengan mata yang berbinar. Alvino tertawa penuh kemenangan karena tebakannya tidak pernah meleset.
"Ayo cepetan, nanti keburu tutup." Ucap Alvino sambil melempar kunci mobilnya ke atas.
Bagi Alvino, tidak ada yang lebih penting daripada memastikan adiknya tetap bisa tertawa. Ia sudah pernah melihat Azalea hancur sekali, dan ia bersumpah tidak akan membiarkannya terjadi untuk kedua kalinya.
HADRIAN GALEN & NADIA
Ayah dan bunda dari Alvino dan Azalea. Hadrian adalah lelaki yang tenang, tegas, dan jarang mengeluarkan suara keras. Pekerjaannya sering membawanya ke luar kota, tetapi ia tidak pernah lupa menanyakan kabar kedua anaknya setiap malam.
Nadia adalah kebalikannya. Wanita itu hangat, cerewet, dan selalu menjadi penengah ketika kedua anaknya bertengkar di meja makan.
"Ayah pulang kapan bun?" Tanya Azalea.
"Lusa katanya. Kamu kangen ya sama ayah?" Ucap Nadia sambil menata piring.
"Kangen dong. Azalea kan anak ayah." Ucap Azalea.
"Terus bunda?" Tanya Nadia sambil pura-pura cemberut.
"Bunda juga dong. Bunda yang paling Azalea sayang." Ucap Azalea sambil memeluk bundanya dari belakang.
Hanya satu hal yang membuat wajah Hadrian berubah keras sampai hari ini, yaitu ketika nama Alzio disebut di rumah itu. Ada kekecewaan lama yang belum selesai ia maafkan, dan tidak ada satu orang pun yang berani membahasnya di depan lelaki itu.
ELVER & NIA
Papah dan mamah dari Alzio. Pemilik nama besar yang kini dipakai perusahaan yang dipimpin putranya. Elver adalah lelaki yang bijaksana dan pandai menenangkan, sedangkan Nia adalah wanita lembut yang menyimpan rasa bersalah paling dalam.
Nia adalah orang yang paling sering menangis diam-diam di rumah itu. Setiap kali ia melihat punggung putranya pergi tanpa sarapan, ia tahu bahwa lelaki dingin yang ditakuti banyak orang di luar sana adalah anaknya yang dulu paling suka tertawa.
"Zio ngga makan lagi pah." Ucap Nia dengan suara bergetar.
"Sabar mah. Dia cuma butuh waktu." Ucap Elver sambil mengusap punggung istrinya.
"Waktunya udah bertahun-tahun pah." Ucap Nia.
Elver tidak menjawab. Ia hanya mengeratkan pelukannya, karena ia pun tidak tahu harus menjawab apa.
Di meja makan rumah besar itu, kursi milik Alzio selalu disiapkan setiap pagi lengkap dengan piring dan gelasnya. Dan hampir setiap pagi pula kursi itu tetap kosong sampai makanannya dingin. Nia tetap menyiapkannya, karena baginya berhenti menyiapkan sama saja dengan berhenti berharap.
TASYA
Adik dari Alzio. Gadis yang ceria, banyak bicara, dan satu-satunya orang di rumah itu yang masih berani mengetuk pintu kamar kakaknya setelah tengah malam.
Ia tumbuh dengan melihat dua versi kakaknya. Versi yang dulu, yang menggendongnya di bahu dan membelikannya es krim setiap pulang sekolah. Dan versi sekarang, yang menjawab pertanyaannya dengan satu kata lalu menutup pintu.
Tok... Tok... Tok...
"Kak Zio, Tasya bawain susu." Ucap Tasya dari balik pintu.
Pintu terbuka sedikit. Alzio menerima gelas itu tanpa menatap adiknya.
"Makasih." Ucap Alzio.
"Kak, kapan kita jalan-jalan lagi?" Tanya Tasya.
Alzio terdiam sebentar, lalu menutup pintunya pelan. Tasya menghela napas panjang dan berjalan menjauh sambil berbisik pada dirinya sendiri.
"Tasya kangen kakak yang dulu." Ucap Tasya lirih.
RENATA
Sekretaris Alzio yang sudah bertahun-tahun bekerja di Elver Corp. Ia adalah satu-satunya karyawan yang bisa bertahan paling lama di samping bos sedingin Alzio. Bukan karena ia tidak takut, melainkan karena ia sudah hafal kapan harus bicara dan kapan harus diam.
Setiap pagi ia berdiri di depan lift dengan map berkas di tangan, menghitung berapa banyak orang yang akan dibentak hari itu.
"Pagi pak, ini berkas yang kemarin." Ucap Renata sambil menundukkan kepala.
"Taruh di meja." Ucap Alzio tanpa menoleh.
"Baik pak." Ucap Renata.
Pintu ruangan tertutup. Renata menghembuskan napasnya panjang lalu mengelus dadanya sendiri.
"Ya Tuhan, kuatkan hamba." Ucap Renata pelan.
ADILLA
Dokter di rumah sakit yang sama dengan Azalea sekaligus sahabat terdekatnya. Gadis ini mempunyai sifat yang sangat santai. Masalah sebesar apapun bisa ia tanggapi sambil mengunyah makanan.
Meskipun begitu, Adilla adalah tempat Azalea membuang semua isi kepalanya. Ia tidak pernah menghakimi, hanya kadang jawabannya membuat Azalea ingin melempar sendok.
"Le, muka lo kusut banget." Ucap Adilla sambil menarik kursi di depan Azalea.
"Gue lagi banyak pikiran dil." Ucap Azalea.
"Yaudah makan aja dulu. Semua masalah tuh lebih enak dipikir kalo perut kenyang." Ucap Adilla dengan santai.
"Ck, percuma gue cerita sama lo." Ucap Azalea kesal.
Adilla hanya tertawa memperlihatkan seluruh giginya, lalu mendorong piring nasi ke hadapan sahabatnya itu.
BELLA
Perawat yang bertugas di ruangan Azalea. Gadis ini paling rajin, paling cepat berlari di sepanjang koridor, dan paling hafal isi kepala dokternya. Ia tahu Azalea suka kopi tanpa gula, tahu kapan dokternya sedang tidak ingin diganggu, dan tahu bahwa senyum yang ditampilkan Azalea di depan pasien tidak selalu berarti hatinya baik-baik saja.
"Dok, ini data pasien yang tadi." Ucap Bella sambil menyerahkan map ke meja Azalea.
"Makasih Bella." Ucap Azalea tanpa mengangkat kepalanya.
"Dokter belum makan siang dari tadi loh." Ucap Bella.
"Nanti aja." Ucap Azalea.
"Nanti terus dok. Nanti dokter yang sakit, terus siapa yang ngobatin anak-anak di sini?" Ucap Bella.
Azalea akhirnya mengangkat kepalanya dan tersenyum. Perawat itu memang tidak pernah bisa dibantah.
MANG IWAN
Pemilik warung seblak kecil yang letaknya tidak jauh dari rumah keluarga Bellamy. Lelaki paruh baya ini sudah hafal dua wajah yang selalu datang setiap kali salah satu dari mereka sedang punya masalah.
"Eh, neng dokter sama akangnya. Yang pedes level berapa nih?" Tanya mang Iwan sambil mengipasi tungkunya.
"Yang paling pedes mang." Ucap Azalea.
"Waduh, berarti lagi ada masalah nih." Ucap mang Iwan sambil tertawa.
"Sok tau mang." Ucap Azalea.
"Udah mang, bikinin aja dua. Adek saya lagi butuh hiburan." Ucap Alvino sambil duduk di bangku panjang.
Warung sederhana itu menjadi tempat Azalea membuang banyak air mata tanpa ada yang tahu, karena di sana semua orang menganggap matanya berair gara-gara cabai.
RAINA
Perempuan dari masa lalu Alzio. Ia pernah menjadi bagian dari rencana besar yang disusun dua keluarga, sampai semuanya berhenti di tengah jalan dan meninggalkan luka bagi banyak orang.
Kini ia tinggal di sebuah rumah pribadi milik Alzio bersama putranya. Wanita itu masih menyimpan harapan yang tidak pernah ia ucapkan dengan lantang, harapan agar suatu hari lelaki yang menolongnya itu mau menoleh padanya dengan cara yang berbeda.
"Kamu mau makan dulu yo?" Tanya Raina.
"Ngga usah." Ucap Alzio singkat.
"Aku udah masak dari tadi loh." Ucap Raina.
"Gue kesini cuma buat Azka." Ucap Alzio.
Raina hanya tersenyum kecil sambil menundukkan kepalanya. Ia sudah terbiasa dengan jawaban seperti itu, dan ia tetap memilih bertahan di sana.
AZKA PRADIPTA
Anak laki-laki kecil dengan pipi gembil dan lidah yang masih cadel. Ia adalah satu-satunya orang di dunia ini yang bisa membuat Alzio Aezar Elver berlutut di lantai tanpa melawan sedikitpun.
Azka memanggil Alzio dengan sebutan daddy. Ia akan duduk di dekat jendela setiap sore, menempelkan pipinya di kaca, menunggu mobil hitam yang sudah ia hafal suaranya.
"Bunda, daddy kapan datang?" Tanya Azka.
"Nanti sayang, daddy masih kerja." Ucap Raina sambil merapikan rambut putranya.
"Azka mau gambal buat daddy." Ucap Azka sambil mengambil kertas dan pensil warnanya.
Ketika mobil itu benar-benar datang, Azka akan berlari sekencang mungkin dengan tangan terbuka, dan lelaki yang ditakuti seluruh pengusaha di Jakarta itu akan berjongkok menyambutnya.
"Daddyyy." Teriak Azka.
"Iya jagoan." Ucap Alzio sambil mengangkat tubuh kecil itu.
ALZIO & AZALEA
Dua nama yang dulu selalu disebut bersamaan. Sebelum semuanya berantakan, ada seorang lelaki yang datang ke rumah keluarga Bellamy dengan setelan rapi dan tangan yang berkeringat, lalu meminta seorang gadis kepada kedua orang tuanya.
Gadis itu berkata iya. Lelaki itu berjanji tidak akan melepaskannya.
Lalu jarak datang tanpa diundang. Gadis itu pergi ke Singapura untuk melanjutkan pendidikannya, dan lelaki itu ditinggal di kota ini bersama seluruh janji yang belum sempat ditepati. Keluarga yang tadinya saling mengunjungi berubah menjadi keluarga yang saling menghindari.
Beberapa tahun berlalu. Gadis itu pulang membawa gelar dokter dan hati yang ia paksa sembuh sendiri. Lelaki itu tetap tinggal di kota yang sama, membangun perusahaan besar, dan berubah menjadi orang yang tidak dikenali oleh ibunya sendiri.
"Aku ngga akan pernah lupa, Azalea." Ucap Alzio suatu malam, sendirian, di ruangan yang gelap.
Sementara di sisi lain kota, seorang dokter muda melepas jas putihnya, duduk di tepi ranjang, dan berbicara pada langit-langit kamarnya.
"Aku harus lupa. Aku harus bisa." Ucap Azalea.
Keduanya sama-sama berbohong pada diri sendiri, dan keduanya sama-sama tidak tahu bahwa kota ini terlalu kecil untuk dua orang yang masih saling mencari.
Inilah orang-orang yang akan mengisi perjalanan panjang ini. Ada yang saling merindukan tetapi memilih diam. Ada yang saling menyakiti tetapi tidak bisa saling melepaskan. Dan ada satu kota besar bernama Jakarta yang akan mempertemukan mereka kembali, di waktu yang paling tidak siap bagi siapapun.
Cerita ini dimulai dari sebuah pagi biasa, di sebuah gedung tinggi, ketika seorang lelaki berjalan melewati karyawannya dengan wajah yang tidak pernah tersenyum.