"KANKER STADIUM DUA."
Kata-kata dokter menghantam Sari seperti pukulan telak. Ponsel di tangannya hampir terlepas.
"Apa masih bisa disembuhkan, Dok?" Suaranya pecah.
"Bisa, tapi butuh kemoterapi segera. Biayanya …"
Sari tersentak saat mendengar jumlahnya. Terlalu besar untuk kantongnya. Terlalu berat bagi seorang cleaning service baru.
"Saya usahakan, Dok. Besok saya dapat gaji pertama."
Sari menutup telepon, dadanya sesak. Bu Ratna—wanita yang membesarkannya di panti, kini terbaring lemah di rumah sakit. Tanpa keluarga lain. Tanpa tabungan.
"SARI! BREAK SELESAI! LANTAI 15!" Teriakan Pak Joko menggema di lorong.
***
Sari membuka lokernya dengan tangan gemetar. Di dalamnya tersimpan foto usang—potret dirinya saat wisuda SMA, dengan Bu Ratna yang berdiri bangga di sampingnya. Hari itu, Bu Ratna mengenakan kebaya terbaiknya, satu-satunya pakaian bagus yang ia miliki, yang hanya dikenakan untuk acara-acara istimewa.
"Ini hari besarmu, Nak," kata Bu Ratna saat itu. "Ibu mungkin tidak bisa memberimu banyak, tapi pendidikan adalah harta yang tak bisa diambil siapapun."
Sari mengusap foto itu dengan jarinya. Kini, wanita yang rela makan seadanya agar anak-anak panti bisa sekolah itu sedang berjuang melawan sel-sel kanker yang menggerogoti tubuhnya.
"Ibu akan sembuh," bisik Sari, seolah mengucapkan mantra. "Harus sembuh …."
Ia menyimpan kembali foto itu dan mengambil alat pelnya. Lantai 15 menunggu.
***
"Kamu tidak makan siang lagi?" Dewi, rekan cleaning service yang bekerja di lantai 14, bertanya saat melihat Sari hanya minum air dari botol plastik bekasnya.
Sari tersenyum tipis. "Lagi diet."
"Diet apanya? Kamu sudah sekurus ini." Dewi mendorong kotak bekalnya ke arah Sari. "Nih, suamiku masak kebanyakan. Ambil separuh."
Sari ragu-ragu. Sudah tiga hari ia hanya makan sekali sehari untuk menghemat. Setiap rupiah berharga untuk pengobatan Bu Ratna.
"AMBIL," Dewi memaksa. "Besok gajian, kan? Kamu bisa traktir aku es teh manis."
Dengan malu-malu, Sari mengambil separuh nasi dan lauk dari kotak Dewi. "Makasih ya, Wi. Nanti kuganti."
"Sudahlah. Kita ini sama-sama perantau, harus saling bantu." Dewi menatap Sari lekat. "Tapi serius deh, kamu pucat banget. Ada masalah? Cerita dong."
Sari hampir memberitahu Dewi tentang kondisi Bu Ratna, tapi urung. Ia tidak ingin terlihat mencari belas kasihan. "Cuma kecapekan. Semalam tidak bisa tidur."
Dewi mengangguk paham, meski tatapannya menunjukkan ia tidak sepenuhnya percaya.
***
Lorong lantai 15 sudah sepi. Para karyawan divisi pemasaran telah pulang, meninggalkan bekas kehadiran mereka: gelas kopi setengah kosong, remah roti, dan kertas-kertas yang tercecer.
Sari memunguti sampah dengan teliti. Di lantai ini bekerja Pak Reza, manajer pemasaran yang dikenal perfeksionis. Sedikit saja ada debu tersisa, Pak Reza tidak segan melapor ke supervisor.
Sari menunduk untuk mengambil penjepit kertas yang terjatuh di bawah meja, saat sebuah percakapan tertangkap telinganya.
"Kamu sudah dengar tentang program beasiswa karyawan?" Suara seorang wanita terdengar dari ruang meeting kecil di ujung lorong.
"Yang baru diumumkan minggu lalu? Iya, katanya terbuka untuk semua level, termasuk office boy dan cleaning service." Suara pria menjawab.
Sari menghentikan gerakannya, telinganya menajam.
"Bagus sih programnya. Bisa kuliah sambil kerja. Tapi ya syaratnya banyak. Harus sudah kerja minimal tiga bulan, dapat rekomendasi atasan, dan ikut tes."
"Deadline pendaftarannya kapan?"
"Kalau tidak salah bulan depan."
Percakapan mereka berlanjut ke topik lain, tapi pikiran Sari sudah berkelana.
Kuliah. Sesuatu yang selalu ia impikan tapi terasa mustahil. Jika ia bisa mendapat beasiswa, mungkin suatu hari ia bisa mendapat pekerjaan dengan gaji lebih baik, pekerjaan yang memungkinkannya merawat Bu Ratna dengan layak.
"Tiga bulan …, " gumamnya pada diri sendiri. Ia baru bekerja sebulan di perusahaan ini. Masih ada kesempatan.
Dengan semangat baru, Sari menyelesaikan lantai 15 lebih cepat dari biasanya. Besok, setelah menerima gaji dan mengunjungi Bu Ratna, ia akan mencari tahu lebih lanjut tentang program beasiswa itu.
***
Jam delapan malam. Sari mendorong trolinya menuju lantai 20—lantai eksekutif. Satu lantai lagi, lalu ia bisa mengunjungi Bu Ratna.
Koridor lantai 20 bernuansa elegan, dengan pencahayaan redup dan karpet tebal yang meredam suara.
Berbeda sekali dengan lantai-lantai bawah yang bising dan terang. Di sini, semua terasa eksklusif, termasuk udara yang harum oleh pengharum ruangan mahal.
Sari selalu merasa seperti penyusup setiap kali harus membersihkan lantai ini.
Terburu-buru, ia berbelok tajam di tikungan.
Akibatnya, tabrakan tak terhindarkan. Ember berisi air pel yang dibawanya menghantam sesuatu, isinya tumpah, membasahi sepatu mahal dan dokumen-dokumen yang berserakan di lantai.
Sari membeku. Pria di depannya—dengan jas sempurna dan raut wajah murka—adalah Dimas Pratama, CEO perusahaan.
"APA KAU BUTA?!" bentak Dimas. "Lihat apa yang kau lakukan pada dokumen presentasiku!"
"Ma-maaf, Pak …" Sari berlutut, mencoba membersihkan sepatu Dimas dengan lap. Tangannya gemetar hebat.
"Kau tahu berapa sepatu ini? LEBIH MAHAL DARI GAJIMU SETAHUN!" Dimas menarik kakinya menjauh. "Siapa supervisormu? Akan kupastikan kau DIPECAT malam ini juga!"
Darah Sari berdesir dingin. Gaji besok. Pengobatan Bu Ratna. Beasiswa. Semua terancam lenyap.
"Pak Joko, Pak … tapi—"
"Ada apa ini?"
Suara tenang namun tegas memotong ketegangan. Bu Kiara Wijaya, Manajer HRD, berdiri beberapa meter dari mereka dengan tatapan tajam menilai situasi.
"Cleaning service cerobohmu ini merusak dokumen presentasiku, Kiara." Dimas menunjuk lantai basah dengan dokumen yang berserakan.
Bu Kiara mendekati mereka dengan langkah tenang. "Saya yakin ini tidak disengaja, Pak. Ada soft copy dokumen itu di server, bisa saya cetak ulang dalam 15 menit."
"Ini soal DISIPLIN, bukan sekadar dokumen!" Dimas membentak.
"Tentu, Pak. Saya yang bertanggung jawab. Biar saya yang menangani Sari." Bu Kiara tersenyum profesional, posisinya berdiri sedikit di depan Sari, seperti perisai.
Dimas mendengus kasar sebelum berbalik pergi. "Pastikan dokumen itu ada di mejaku besok pagi. Dan sepatu ini—aku minta gantinya."
Setelah Dimas menghilang dari pandangan, Sari merosot ke lantai. Air matanya akhirnya jatuh.
"Terima kasih, Bu … saya—saya sangat membutuhkan pekerjaan ini."
Bu Kiara berlutut, membantu Sari membereskan kekacauan. "Kau baik-baik saja? Pak Dimas memang temperamental."
"Besok hari gajian pertama saya," Sari berbisik, tangannya masih gemetar. "Ibu panti yang membesarkan saya baru didiagnosis kanker. Dia … dia butuh operasi segera."
Bu Kiara terdiam, wajahnya berubah lembut. "Aku mengerti sekarang kenapa kau terlihat sangat tegang hari ini."
"Saya takut kehilangan dia, Bu. Bu Ratna satu-satunya keluarga yang saya punya."
"Dengar, Sari," Bu Kiara menyentuh pundak Sari. "Kau tidak akan dipecat. Aku janji. Dan jika kau butuh penghasilan tambahan, kebetulan aku mencari asisten rumah tangga paruh waktu di akhir pekan. Tertarik?"
Mata Sari melebar. "Sungguh, Bu?"
Bu Kiara mengangguk. "Mulai minggu depan. Bayarannya per jam, dan bisa langsung dibayar setiap selesai."
"Dan soal program beasiswa karyawan," lanjut Bu Kiara, membuat Sari terkejut karena ia belum menyebutkan hal itu. "Aku kebetulan salah satu panelisnya. Jika kau berminat, aku bisa membantumu dengan prosesnya."
Mata Sari berkaca-kaca. "Bagaimana Bu Kiara tahu saya tertarik dengan beasiswa itu?"
Bu Kiara tersenyum. "Aku melihatmu membaca poster pengumuman beasiswa di papan informasi saat makan siang tadi. Tatapanmu sangat intens."
Air mata Sari mengalir lagi, kali ini karena lega. "Terima kasih, Bu. Saya tidak tahu harus berkata apa …"
"Tidak perlu berkata apa-apa. Sekarang, selesaikan lantai 20, lalu pulanglah. Besok kau bisa ambil gajimu pagi-pagi dan langsung ke rumah sakit."
***
Pukul sepuluh malam. Sari berjalan gontai menuju halte bus. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya lebih lelah lagi.
Meski Bu Kiara sudah meyakinkannya bahwa posisinya aman, ketakutan masih menggerogoti hatinya. Bagaimana jika Pak Dimas tetap bersikeras memecatnya? Bagaimana jika Bu Kiara tidak bisa melindunginya?
Di halte yang sepi, Sari mengeluarkan ponselnya dan melihat foto Bu Ratna sekali lagi.
Wajah teduh itu selalu memberinya kekuatan.
Ia teringat nasihat Bu Ratna dulu: "Jika kamu melakukan kesalahan, akuilah dengan jantan.
Minta maaf dengan tulus. Orang yang punya hati nurani akan menghargai kejujuran."
Sari menghela napas panjang. Keputusannya sudah bulat.
Besok, setelah mengambil gaji dan mengirimkan sebagian untuk pengobatan Bu Ratna, ia akan mendatangi ruangan Pak Dimas secara langsung.
Ia akan meminta maaf dengan tulus, menawarkan untuk mengganti sepatu itu dengan mencicilnya dari gajinya, dan berjanji akan lebih berhati-hati.
Mungkin Pak Dimas akan tetap marah. Mungkin ia tetap akan dipecat. Tapi setidaknya ia sudah mencoba yang terbaik, dengan cara yang akan membuat Bu Ratna bangga.
"Besok …, " gumamnya pada diri sendiri sambil menaiki bus terakhir malam itu. "Besok aku akan menghadapinya."
Tekad itu memberinya keberanian. Apapun yang terjadi besok, ia akan menghadapi CEO itu.