“Harus gede sih, buat ngedekor sama sewa tenda aja lumayan harganya,” sahut Dino berharap.
“Yeah, kalian atur saja sisanya. Bapak tunggu hasilnya,” pamit pak Desta keluar dari ruangan OSIS.
“Kita obrolin sekarang nih?" tanya Amel setelah pak Desta keluar dari ruangan OSIS.
“Pulang sekolah aja, atau kita share digrup biar yang lain tau, sekarang kita harus belajar dulu,” jawab Enzo sambil berdiri dari duduknya.
***
“Des,” panggil Amel, membuat gadis itu tersentak kaget mendongkak melihat Amel yang sudah siap untuk pulang, Dini langsung memasukkan buku dan penanya ke dalam tas.
“Lo kenapa dari tadi bengong mulu?” tanya Amel sambil matanya mengikuti gerak-gerik Dini yang mengambil buku paket dari meja, Amel berjalan membantu Desi membawa buku paket itu,Desi sama sekali tidak menjawab pertanyaannya, Amel merasakan ada yang lain dari sahabatnya ini.
Amel tahu ada yang sedang disembunyikan oleh Desi,dari tingkah laku dan kebiasaannya sangat berubah dari biasanya Amel lihat, sekarang dia tampak lebih pendiam.
Mereka berdua pergi ke perpustakaan mengembalikan buku yang sudah diambil Desi ,setelah itu Amel dan Desi berjalan di koridor menuju parkiran. Tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Wanda. Desi dan Wanda saling bertatapan mereka beradu mata.
Amel yang ada disampingnya hanya diam dan memperhatikan. Amel tidak tau apa yang sedang terjadi diantara mereka berdua.
“Apa lo?!” Wanda yang mendengar kata itu ingin menarik kerah baju Desi,tapi untungnya siswi-siswi yang lain menghalangi Wanda, Amel yang melihat itu langsung menarik tangan Desi pergi dari situ agar tidak terjadi keributan lagi.
“Awas aja lo!” teriak Wanda.
Tapi mereka berdua tidak menghiraukan,Amel dan Desi terus berjalan. Sesampainya di parkiran, Desi terlihat mencari sesuatu sambil melihat sekeliling mencari keberadaan Roy ,biasanya laki-laki itu ada di sini, tapi kemana dia?
“Lo nyari, Roy?” tanya Amel sambil menatap Desi, sedangkan Desi hanya menggangguk.
“Lo pelupa atau apa sih? Roy kan tadi bilang sama kita dia ada urusan keluarga mendadak jadi pas bel tadi dia langsung pulang,” jelasnya tak habis pikir, padahal Roy berpamitan dengan mereka tadi.
“Hah, iyakah? Gue gak ingat deh,” kata Desi cengengesan menggaruk kepalanya yang berbalut kerudung.
Amel menggeleng tak habis pikir, kenapa Desi menjadi seperti orang pikun? Apa kepalanya sempat terbentur? Terlihat Desi asik dengan ponselnya sesekali tersenyum, Amel yang merasakan ada yang aneh, langsung menyenggol lengan nya ,Desi melihatnya seakan bertanya 'kenapa?'
Amel yakin pasti terjadi apa apa dengan Desi, dia tak seperti ini sebelumnya, apalagi tadi waktu berpapasan dengan Wanda, Amel yakin Desi akan menghajarnya,tapi tadi tidak ada perlawanan sama sekali dari Desi,dan sekarang dia bertingkah aneh lagi, bener bener bukan Desi yang Amel kenal.
“Jadi gimana, lo pulang sama siapa dong?” tanya Amel sedikit khawatir, biasanya Desi diantar oleh Roy atau Dimas walaupun hanya sampai depan gang. Tapi itu sudah cukup buat Desi dari pada naik angkot, atau ojek. Tapi melihat Desi seperti ini, Amel jadi kawatir terjadi apa apa dengan Desi dijalan nanti kalau tidak ada yang mengantarkan dia pulang.
“Sama sepupu gue, kebetulan dia bisa jemput hari ini,” jawab Desi.
Dari jauh Amel melihat Enzo berjalan dari kejauhan sepertinya dia mencarinya.
“Sepupu lo yang sekolah di SMA swasta itu, yang cowo itu 'kan?” tanya Amel memastikan, karena Amel pernah dikenalkan sama sepupunya yang bernama Budi,Desi hanya mengangguk.
“Yaudah deh, nanti kalo udah sampe kabarin gue ya, gue mau rapat osis dulu.” setelah memastikan Desi ada yang menjemput, Amel melambaikan tangan lalu berlari menghampiri Enzo yang sedang berjalan menuju ke arahnya.
"Tunggu sebentar" ucap Amel setelah berada didepan Enzo.
Lalu Amel memandangi Desi yang sedang berjalan keluar gerbang sekolah.
"Emang kenapa" tanya Enzo sambil matanya melihat kearah Desi yang berada didepan gerbang sekolah.
"Aku gak tau,apa yang terjadi dengan Desi,tapi aku perhatikan dari tadi ada yang berubah dari Desi" jawabnya, pandangannya terus kedepan melihat Desi yang sedang sedang menunggu seseorang.
"Emang terjadi sesuatu sama Desi" tanya Enzo lagi.
" Gak tau,maka dari itu aku kawatir kalau dia pulang sendiri " jawabnya.
"Biasanya dia punya sama Roy kalau gak sama Dimas" itu biasanya,kalau gak sama Dimas sama Roy. Kalau ini lain.
"Iya,gak tau kenapa mereka berdua gak nongol batang hidungnya" jawabnya
“itu Desi pulang sama siapa?” tanya Enzo melihat Desi sedang naik sepeda motor dengan laki laki lain.
“Sama sepupunya, kata dia sih begitu,” jawab Amel sambil melihat Enzo yang hanya mengangguk sebagai jawaban.
Setelah memastikan Desi ada yang jemput mereka berdua berjalan ke ruang OSIS,disana mereka sudah ditunggu sama anggota OSIS lainnya.
“Ayo baris dengan rapi sesuai bidangnya masing-masing,” ucap Enzo sambil berdiri di depan karena anggota OSIS sedang berkerumun.
“ok, untuk menyingkat waktu,kita mulai rapat hari ini.Selamat siang semuanya, alasan kalian dikumpulkan hari ini adalah karena kita mendapat usulan dari kepala sekolah. Beliau ingin untuk program terakhir kita adalah mengadakan festival,” ucap Enzo menjelaskan dengan suara lantang.
“Kak, kalo boleh tau festival yang seperti apa?” tanya salah satu anggota OSIS.
“Festival yang akan diadakan seperti fashion show, cosplay, lalu ada bazar juga agar anak-anak yang menonton bisa sekalian kulineran,” jawab Enzo menjelaskan.
Mereka tersenyum bahagia, ada beberapa menghembuskan nafas kasar pasti mereka bakalan capek, dengan acara yang menurut kami cukup besar,dan melibatkan beberapa divisi lain.
“Jadi mulai besok setelah pulang sekolah jangan langsung pulang tetap di sini, kita akan membersihkan halaman ini, dan anak osis juga bisa ikut meramaikan fashion show, dan cosplay.” Mendengar itu mereka mulai sibuk berbicara satu sama lain membayangkan betapa meriahnya festival nanti.
Betapa tidak acara yang dipadukan menjadi satu dari fashion show, cosplay, dan bazar sudah dipastikan pasti sangat meriah.
“Harap diam teman-teman,” kata Dino selaku bendahara.
“untuk Dino dan Nita bakalan ngurus bagian yang mau ikut bazar catat nama-nama mereka jangan lupa suruh buat nama kelompok yang paling unik,” ujar Enzo sedangkan mereka berdua mengangguk paham.
“Soal persiapan tenda biar saya dan seketaris yang urus, nanti setelah tenda dan dekornya datang kalian harus bantu buat masang tenda khusus untuk cowok,” jelas Enzo para laki-laki mengangguk paham.
“Besok kita setelah apel pagi, kita akan buat pengumuman untuk seluruh siswa dan siswi, jadi jika teman kalian yang tidak hadir harap disuruh hadir besok ya,” ucap Enzo sambil menatap mereka semua.
“Iya!” seru mereka.
“Yang mau ikut fashion show dan cosplay, lapor sama sekertaris dan wakilnya. Ya sudah, cukup sekian terima kasih boleh bubar,” ujar Enzo membubarkan, mereka semua berlari kecil menuju parkiran motor dan pulang ke rumah masing-masing.
“Itu si Rendi gak datang hari ini dia ke mana?” tanya Nita, sebab dia tidak melihat batang hidung anak itu dari pagi.
Rendy adalah wakil ketua, hari ini dia tidak hadir entah apa alasannya.
“Iya dia gak hadir hari ini, soal dia gampang, gue bakalan bilang nanti ke dia,” jawab Enzo sedangkan Nita mengangguk mengerti.
“kita pulang sekarang, sayang?” tanya Enzo.
"Iyalah,masak nginep" jawab Amel sambil berjalan kearah parkiran motor dimana motor Enzo diparkirkan.