“Kakak baik-baik saja?”
Ariana membuka matanya. Posisinya masih tengkurap di atas tanah halaman belakang sekolah. Ia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang menahan pergelangan kakinya. Ia juga berkali-kali mengedip hanya untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Kedua bola matanya bergulir, mengedarkan pandangan ke sekitar yang bisa dijangkau oleh retinanya. Sosok mengerikan itu sudah tidak ada.
“Mari aku bantu.”
Ariana benar-benar seperti orang linglung. Ia hanya menurut ketika seorang pemuda yang sepertinya adik kelas membantunya untuk bangun. Ariana masih tidak berkonsentrasi setelah kejadian mengerikan sebelumnya. Bahkan seluruh tubuhnya masih menggigil karena ketakutan.
“Kak, ini aku bawa minum.”
Ariana menerima botol air mineral yang disodorkan oleh pemuda itu d