Obrolan malam yang seharusnya bersahabat dengan cuaca dingin justru menghangat. Tapi aku terbatasi oleh waktu, jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Aku pun pamit menuju rumah Pak Darmin. Seiring aku pamit dari pos jaga para warga, beberapa orang pun pergi, meninggalkan sekitar tujuh orang di pos tersebut. Sesekali aku menoleh ke arah mereka sembari menaiki motorku, gurat harapan terpancar dari wajah mereka kepadaku. Aku tahu benar apa yang ada di dalam benak mereka, mereka butuh perlindungan, mereka butuh perhatian, mereka butuh kepastian tentang hidup yang akan mereka jalani di masa mendatang.
Aku menyalakan motorku kemudian dan melaju tak seberapa jauh dari pos jaga menuju rumah Mang Darmin, begitu ia akrab dipanggil olehku. Hanya oleh orang-orang sekitar, ia dipanggil pak, merujuk pa