Orang-orang yang memukuli Mang Darmin sudah tidak terlihat di mataku, aku mengalihkan perhatianku pada Mang Darmin dan kedua temannya yang lain. Mereka terkapar dengan wajah membiru dan sedikit mengeluarkan darah pada beberapa bagian. Aku sempat sedikit panik menghadapi kondisi seperti ini. Teror ini sudah menyangkut fisik, dan ini sangat tidak sehat. Aku membangunkan mereka satu persatu, menyandarkan pada papan kayu pendopo agar tubuh mereka tegak. Aku sangat hati-hati sekali untuk membangunkan mereka, khawatir ada luka dalam atau patah tulang rusuk, karena aku melihat ada orang-orang yang menginjak tubuh Mang Darmin.
“Mang! Mang Darmin! Mamang nggak kenapa-kenapa? Gimana mang? Apa yang sakit?” tanyaku sedikit terdengar mendesak untuk mendapatkan jawaban Mang Darmin sekaligus memeriksa