Sejak percakapan singkat di taman, Ana beberapa kali memikirkan wajah Bagas ketika ia melihat tanda tangan Eidelweiss. Bagas terkejut, tetapi ia tidak menertawakan atau menyalahkannya. Hal itu membuat Ana ingin berbicara lebih jujur, setidaknya tentang rahasia yang sudah terlanjur terlihat.
Ia menunggu sampai kuliah selesai sebelum menerima ajakan Bagas untuk bicara. Sepanjang kelas, ia menyiapkan kalimat-kalimat di kepala, lalu membatalkannya karena terdengar seperti alasan. Ana tidak ingin menyusun cerita untuk membuat dirinya terlihat benar. Ia hanya ingin menjelaskan apa yang sanggup ia katakan dan meminta Bagas menjaga hal yang belum siap ia bagikan.
Setelah berpisah dari taman, Bagas membawa pikiran yang bercampur aduk sepanjang kelas. Ia mencoba mengikuti penjelasan dosen dan menyalin poin penting, tetapi kata Eidelweiss terus kembali ke benaknya. Ia sudah lama tahu Ana menyimpan perasaan pada seseorang. Kini ia tahu orang itu Dean, dan Ana menulis puisi-puisi yang diam-diam dikagumi Dean.
Bagas tidak ingin menjadikan rahasia itu alasan untuk menjauh. Ia juga tidak ingin berpura-pura bahwa ia sama sekali tidak terluka. Keduanya bisa benar pada saat bersamaan: ia menyayangi Ana, dan ia tetap harus menghormati pilihannya. Ia mengingatkan diri bahwa persahabatan mereka tidak berarti Ana berutang perasaan yang sama.
Ketika kelas berakhir, ia mengirim pesan singkat agar Ana tahu ia menunggu di taman. Ia tidak menuliskan pertanyaan apa pun. Ana berhak datang atau menolak. Saat Ana muncul, Bagas melihat map yang dibawanya dan menyadari bahwa pembicaraan tadi masih membuat gadis itu tegang.
Setelah berpisah dari taman, Bagas membawa pikiran yang bercampur aduk sepanjang kelas. Ia mencoba mengikuti penjelasan dosen dan menyalin poin penting, tetapi kata Eidelweiss terus kembali ke benaknya. Ia sudah lama tahu Ana menyimpan perasaan pada seseorang. Kini ia tahu orang itu Dean, dan Ana menulis puisi-puisi yang diam-diam dikagumi Dean.
Bagas tidak ingin menjadikan rahasia itu alasan untuk menjauh. Ia juga tidak ingin berpura-pura bahwa ia sama sekali tidak terluka. Keduanya bisa benar pada saat bersamaan: ia menyayangi Ana, dan ia tetap harus menghormati pilihannya. Ia mengingatkan diri bahwa persahabatan mereka tidak berarti Ana berutang perasaan yang sama.
Ketika kelas berakhir, ia mengirim pesan singkat agar Ana tahu ia menunggu di taman. Ia tidak menuliskan pertanyaan apa pun. Ana berhak datang atau menolak. Saat Ana muncul, Bagas melihat map yang dibawanya dan menyadari bahwa pembicaraan tadi masih membuat gadis itu tegang.
Setelah kelas berakhir, Bagas menunggu Ana di taman yang sama. Ia tidak mengirim banyak pesan, hanya memberi tahu bahwa ia ingin berbicara sebentar sebelum mereka pulang. Ana datang dengan map di dalam tas dan duduk di ujung bangku.
‘Kamu mau tanya soal puisi?’ katanya.
‘Kalau lo siap cerita.’ Bagas menatapnya. ‘Kalau belum, gue juga enggak akan maksa.’
Ana mengangguk, lega sekaligus gelisah. Ia mengeluarkan map dan meletakkannya di antara mereka, tetapi belum membukanya.
‘Aku mulai menulis sejak masih di kampung,’ ujarnya. ‘Awalnya cuma untuk diriku sendiri. Setelah pindah ke Jakarta, aku terus menulis. Lalu suatu hari aku membawa satu puisi ke kampus Dean dan menempelkannya di mading.’
‘Kenapa di FK?’
Ana menatap ujung sepatu. ‘Karena aku ingin dia membacanya.’
Bagas terdiam. Ia sudah lama mengetahui bahwa Ana menyukai seseorang, tetapi mendengar bahwa orang itu Dean tetap membuat dadanya terasa berat. Ia menjaga suaranya tetap tenang.
‘Dean sudah tahu lo suka sama dia?’
‘Belum.’
‘Dia bahkan belum tahu lo Eidelweiss.’
‘Iya.’
‘Lo pernah bilang kalau ada seseorang yang lo tunggu. Gue kira orang itu masih orang yang sama dari cerita-cerita lama.’
Ana menggeleng pelan. ‘Aku enggak pernah bilang siapa orangnya.’
‘Benar.’ Bagas mengusap tengkuk. ‘Gue cuma salah berharap.’
Ana menoleh kepadanya. ‘Gas…’
‘Enggak apa-apa, An. Gue enggak mau bikin lo merasa bersalah.’ Ia tersenyum tipis, meski matanya tidak sepenuhnya ikut tersenyum. ‘Perasaan gue tanggung jawab gue sendiri.’
Ana memegang mapnya. ‘Aku belum siap Dean tahu. Ada banyak hal yang belum bisa aku ceritakan. Aku takut kalau dia tahu aku sudah menyukainya selama ini, dia cuma merasa kasihan.’
Bagas mengangguk. Ia tidak meminta penjelasan tentang masa lalu Ana. ‘Gue paham. Tapi lo juga jangan terus menyiksa diri dengan menebak apa yang Dean pikirkan.’
‘Aku tahu.’
‘Dan kalau suatu hari lo memutuskan cerita, pastikan itu karena lo memang siap, bukan karena ada orang yang memaksa.’
Ana menatapnya, lalu mengangguk. Ia tidak tahu apakah ia sanggup menceritakan semuanya kepada Dean kelak, tetapi ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membiarkan rasa takut membuatnya terus berbohong.
‘Kamu janji enggak akan bilang ke Dean?’ tanyanya.
Bagas menatap map itu lama. Ia tahu janji tersebut akan membuatnya menyimpan rahasia yang mungkin menyakitkan. Namun ia juga tahu Ana mempercayainya.
‘Gue janji. Gue enggak akan bilang ke Dean atau siapa pun.’
‘Terima kasih.’
‘Tapi jangan minta gue pura-pura enggak peduli sama lo.’
Ana mengerutkan kening. Bagas segera menggeleng.
‘Maksud gue, gue tetap teman lo. Gue bakal tetap ada kalau lo butuh. Itu enggak berubah.’
Ana mengembuskan napas yang sejak tadi ditahannya. ‘Aku juga enggak mau kehilangan kamu sebagai teman.’
‘Lo enggak akan kehilangan gue.’ Bagas menggeser map itu kembali ke arah Ana. ‘Simpan baik-baik. Jangan sampai kertasnya kusut.’
Ana tertawa kecil. Ketegangan di antara mereka sedikit mencair, meski Bagas tetap memendam rasa kecewa yang tidak ingin ia bebankan kepadanya. Ia berdiri dan mengajak Ana menuju gerbang kampus. Sepanjang jalan, mereka membicarakan tugas kuliah, bukan Dean atau Eidelweiss.
Sebelum berpisah, Bagas mengingatkan Ana untuk mengabari kalau sudah sampai kos. Ana mengangguk dan naik angkot setelah berpamitan. Bagas menunggu sampai kendaraan itu bergerak, lalu berjalan ke arah berlawanan menuju rumahnya.
Di dalam angkot, Ana memandang map di pangkuannya. Rahasianya kini berada di tangan Bagas, tetapi ia tidak merasa dikhianati. Bagas telah berjanji. Ia berharap suatu hari nanti ia bisa memberi tahu Dean sendiri, dengan alasan dan waktu yang tepat.