Keesokan paginya, Dean datang ke ruang dekan membawa catatan dan salinan laporan yang disiapkan panitia. Ia memastikan tidak menyertakan foto yang tak perlu. Sebelum masuk, ia mengirim pesan kepada Ana bahwa pertemuan akan dimulai dan ia tidak akan menyebut namanya.
Deanova : Aku sudah sampai di ruang dekan. Aku akan fokus pada penyebaran foto dan privasi, tanpa menyebut identitasmu.
Ana : Terima kasih. Tolong sampaikan bahwa aku tidak setuju fotonya disebarkan.
Dean membalas bahwa ia akan menyampaikan itu, lalu masuk setelah dipersilakan. Dekan mempersilakannya duduk dan bertanya bagaimana foto itu pertama kali muncul di grup angkatan FK.
‘Saya belum tahu siapa pengirim pertamanya, Pak,’ jawab Dean sopan. ‘Saya tidak memeriksa ponsel siapa pun. Saya hanya menerima informasi bahwa foto itu beredar dan mencatat waktu serta grup tempat foto tersebut muncul.’
Dekan membaca laporan singkatnya. Ia bertanya apakah Dean mengenal mahasiswa perempuan dalam foto. Dean menjawab bahwa ia mengenalnya sebagai teman, tetapi tidak menyebut nama karena Ana meminta privasinya dijaga.
‘Saya tidak ingin foto itu disebarkan lagi atau dijadikan bahan gosip,’ ujar Dean. ‘Saat itu dia sedang ketakutan karena hujan. Saya menolongnya. Saya tidak setuju momen tersebut digunakan untuk menyerang atau mempermalukannya.’
‘Saya juga memohon pihak kampus menelusuri pengirim pertama melalui prosedur resmi, Pak. Saya tidak akan memeriksa ponsel siapa pun atau mencari orang yang saya curigai sendiri.’
Dekan mengangguk. Ia mengatakan bahwa sebagai Presiden BEM Dean harus bersikap profesional, namun ia juga berhak melaporkan penyebaran gambar tanpa izin. Kampus akan meminta admin grup menghapus unggahan dan mengingatkan mahasiswa agar tidak meneruskan foto tersebut. Jika penyebaran berlanjut, pihak kampus akan menelusuri melalui jalur resmi.
Dean mengucapkan terima kasih. Ia tidak meminta hukuman tertentu sebelum ada pemeriksaan. Ia hanya ingin penyebaran dihentikan dan pihak yang terdampak tidak disalahkan.
‘Apakah Anda bersedia memberi keterangan tambahan bila dibutuhkan?’ tanya dekan.
‘Saya bersedia, Pak. Saya juga akan meminta persetujuan teman saya sebelum memberikan detail pribadinya.’
Dekan menutup map. ‘Itu sikap yang tepat. Jangan menyelidiki sendiri. Biar pihak kampus menangani.’
Dean mengangguk. Ia keluar dari ruangan dengan perasaan masih tegang, tetapi setidaknya ada langkah yang jelas. Ia tidak menyentuh ponsel orang lain, tidak mengejar orang yang ia curigai, dan tidak menyebarkan foto itu lebih jauh.
Di koridor, Gus menunggu. Dean menyampaikan bahwa dekan akan meminta admin menghapus unggahan dan mengingatkan anggota grup. Mereka tidak membahas kemungkinan pelaku. Gus mengatakan hal yang sama: jangan membuat tuduhan sebelum ada bukti.
Dean mengirim kabar kepada Ana. Ia menjelaskan bahwa kampus akan meminta foto dihapus dan tidak menyebut namanya dalam pertemuan. Ana menjawab terima kasih, lalu mengatakan ia merasa malu karena banyak orang mungkin sudah melihat foto tersebut.
Deanova : Gue ngerti. Kalau ada yang mengganggu lo di kampus, bilang. Gue enggak akan mengambil tindakan tanpa tanya lo.
Ana : Aku akan bilang kalau memang perlu. Terima kasih sudah membiarkan aku ikut menentukan.
Dean membaca pesan itu dengan lega. Ia telah berjanji tidak memaksa Ana bercerita tentang masa lalunya; kini ia juga berusaha tidak mengambil alih urusan yang melibatkan dirinya. Ia tidak ingin perlindungan menjadi alasan untuk mengatur.
Hari itu, admin grup menghapus foto dan mengirim pengumuman singkat agar anggota tidak mengunggah ulang. Sebagian mahasiswa tetap membicarakannya secara lisan, tetapi tidak ada gambar baru yang muncul. Dean tidak membalas komentar atau mencari orang yang pertama menyebarkannya.
Menjelang sore, Ana melewati koridor FK untuk menyerahkan formulir seminar. Beberapa mahasiswa menatapnya lebih lama dari biasa. Ia menahan rasa tidak nyaman dan tetap berjalan. Dean melihatnya dari kejauhan, tetapi tidak langsung mendekat. Ia menunggu sampai Ana menoleh. Ana memberi isyarat kecil bahwa ia baik-baik saja. Dean membalas dengan anggukan.
Mereka melanjutkan hari masing-masing. Foto itu telah ditangani melalui jalur kampus, tetapi bisik-bisik belum sepenuhnya hilang. Dean tahu keputusan berikutnya harus dibuat berdasarkan apa yang Ana perlukan, bukan apa yang membuat dirinya tampak heroik.
Setelah menyampaikan kabar kepada Ana, Dean bertemu Gus di kantin FK. Ia tidak menceritakan seluruh percakapan dengan dekan, hanya menyebut bahwa kampus akan meminta pengunggah menghapus foto dan menghentikan penyebarannya. Gus bertanya apakah Ana setuju dengan langkah itu. Dean menjawab bahwa ia sudah bertanya dan tidak menyebut namanya.
‘Bagus. Kalau dia berubah pikiran, dengar juga,’ kata Gus.
Dean mengangguk. Ia tahu satu persetujuan tidak berarti ia bisa memutuskan semua hal berikutnya. Jika Ana ingin membuat laporan sendiri atau tidak ingin terlibat lebih jauh, keputusan itu harus dihormati.
Di perpustakaan, Dean menghabiskan satu jam memperbaiki susunan materi seminar. Ia membuka catatan lama bersama Ana dan memastikan tugas mereka tetap terbagi adil. Ia tidak menyingkirkan Ana dari kegiatan demi melindunginya dari gosip. Ia akan membiarkan Ana menentukan apakah ia tetap ingin terlibat.
Ia mengirim pesan menanyakan apakah Ana masih nyaman ikut latihan minggu depan. Ana menjawab iya, selama jadwal tidak berubah. Dean menerima jawabannya tanpa menawarkan pengawalan atau tumpangan. Hal itu membuatnya sadar bahwa dukungan sering kali berarti membiarkan seseorang melanjutkan rutinitasnya.
Menjelang malam, pengumuman admin grup muncul bahwa foto telah dihapus. Dean tidak mengirim komentar kemenangan atau menyebut siapa pun. Ia hanya menyimpan pengumuman itu untuk catatan laporan. Besok, ia akan kembali menjadi mahasiswa dan panitia seperti biasa, sambil menunggu jika Ana membutuhkan sesuatu.
Ia tidak tahu kapan rumor benar-benar berhenti, tetapi setidaknya unggahan itu tidak lagi tersedia.
Bagas mengirim pesan kepada Ana bahwa unggahan telah dihapus. Ana membalas bahwa ia melihat pengumuman admin. Ia meminta Bagas tidak perlu mengecek grup lain atau mengumpulkan komentar. Bagas setuju; mereka tidak ingin memperbesar penyebaran dengan mencari-cari semua versi foto.
Dean menyimpan map laporan di laci sekretariat. Ia tidak membicarakan hasilnya di depan mahasiswa lain. Jika dekan membutuhkan keterangan tambahan, ia akan datang lagi. Sampai saat itu, ia akan menjalankan tugas BEM tanpa menjadikan urusan pribadi Ana bahan rapat.
Gus menyarankan mereka kembali mengurus perlengkapan seminar. Dean menyetujui. Mereka memeriksa daftar mikrofon, kursi, dan papan nama. Pekerjaan itu terasa biasa, dan Dean sengaja membiarkan dirinya kembali pada hal-hal yang bisa diselesaikan hari itu.