Otakku berpikir keras untuk menuliskan judul episode yang paling tepat dan tentunya menarik. Ini pertama kalinya aku memberanikan diri menyalurkan kehidupanku melalui tulisan. Belasan tahun seperti beban di pundakku, memikul semua bayangan dan kenangan yang sangat ingin kuhilangkan, namun begitu banyak pelajaran berharga.
Senyumku tersungging lebar melihat ke sisi kiriku. Kulitnya yang putih bening, pipi chubby, mulut merah, hidung mancung dan jidat pintarnya cukup menggambarkan malaikat kecil ini yang Allah SWT berikan di waktu yang sangat tepat, penuh air mata kebahagiaan dan air mata kenangan. Arkha, itulah kami memanggilnya. Arkha Fathul Alim Wijayakusuma, nama yang panjang bukan. Terkadang aku kasihan padanya di kemudian hari, pasti dia membutuhkan waktu lebih untuk melingkari lembar jawaban hanya untuk melengkapi namanya. Namun nama itu penuh makna karena kenangan akan Ayah, yang telah pergi selamanya tepat di usia kandunganku 4 bulan.
-
"BERISIK!" ucapku ketus kepada suamiku setelah membuka pintu perlahan khawatir Arkha terbangun dari tidurnya.
Dia menghampiriku nyengir kuda sambil membawa bor-nya yang selalu ia gunakan di waktu senggang sembari meminta maaf.
"Iyaa maaf mom, hehehehe." Menyombongkan gigi rapinya.
Suamiku, yang lebih tepat dibilang teman gelut (berantem dalam sunda) dibandingkan teman ranjangku. Pria yang sangat kucintai ini menyadarkanku bahwa cinta itu begitu indah, perasaan yang tumbuh sangat tak bisa diungkapkan oleh kata apapun selain syukur.
Walaupun sangat banyak kepribadian dan kebiasaan yang harus kami sesuaikan satu sama lain yang tak sering berjalan mulus, bahkan bukan kerikil saja yang menjadi hiasan rumah tangga ini, namun batu karang lebih tepat menggambarkan rintangan-rintangan yang harus kita lalui, namun tidak mengurangi rasa ingin terus bersama hingga akhirat kelak. Kesabaran pun diuji tiada henti. Khususnya aku, yang hingga saat ini jika aku teringat ada malaikat kecil lain yang menyebutnya "Papa" namun bukan darah dagingku, membuatku meneteskan air mata...
Seketika suara pintu memanggil lamunanku,
"Mommy lagi apa?"
"Hm.." Melihat ke arah laptop, "Browsing." Jawabku, agak bingung karena aku belum ada rencana menceritakan apa yang sedang dan akan kukerjakan.
"Kirain main game." Ucapnya sambil senyum. "Papi sebentar lagi kesini".
Aku hanya mengangguk tanpa melihat ke arahnya, menandakan tulisanku cukup sampai disini dahulu dan aku harus memikirkan ending apa yang tidak membuntukan ide ku selanjutnya. Warning low battery pun muncul disaat yang tepat pada laptop kantorku. Dengan segera ku pilih shut down untuk mengakhiri malam ini, sebagai bocoran.. malam ini tentu akan menjadi malam yang erotis!
Pada kisah awal ini, kusisipkan pesan teruntuk suamiku tercinta.
Dear Mr. D, walau kamu seringkali menjadi musuhku, dari lubuk hati terdalam aku sangat mencintaimu.
Semoga suatu saat nanti kamu bisa membaca tulisanku,
Regards,
Istrimu, Emma.