**author POV**
.
.
.
Ada satu hal yang tak akan ditemukan di buku panduan wisata mana pun. Bahwa cara tercepat mengenal sebuah keluarga di Indonesia bukan lewat perkenalan sopan di ruang tamu. Melainkan di meja makan. Di sanalah semua topeng dilepas. Tawa, ledekan, juga piring yang terus diisi tanpa pernah ditanya lebih dulu.
Mama menambahkan satu sendok nasi lagi ke piring Yunki. Pria itu menatap piringnya panik. Sejujurnya, ia sudah ingin berhenti sejak beberapa suap yang lalu.
"Ma, dia udah kenyang," protes Reya.
"Lah, masih muda kok makannya dikit," sahut mama santai. "Bilangin, jangan sungkan."
Reya menoleh pada kekasihnya. "Mama bilang jangan sungkan. Makan yang banyak."
"Nde." Yunki mengangguk, meski dalam hati ia mulai menghitung berapa lama lagi perutnya sanggup bertahan.
Papa mendorong mangkuk kecil berisi sambal tomat ke hadapan Yunki. "Cobain Mas, ini bikinan mamanya. Enak."
Reya hendak melarang, tapi terlambat. Yunki sudah menyendok sambal itu, lalu mengoleskannya ke ayam goreng serundeng miliknya. Bukan sedikit. Satu sendok penuh. Sepertinya, di kepala pria pucat itu, sambal tomat dan gochujang adalah keluarga yang sama.
Suapan pertama Yunki masih tenang.
Suapan kedua ia berhenti mengunyah.
Suapan ketiga tak pernah terjadi.
"Haa— haaa—" Wajah pucat itu memerah sampai ke telinga. Matanya berair, ujung hidungnya ikut memerah, dan ia mengibas-ngibaskan telapak tangan di depan mulut.
Reya buru-buru menuang es teh ke gelas kekasihnya. "Minum, minum!"
Papa tertawa sampai bahunya berguncang. Mama menepuk-nepuk punggung Yunki sambil ikut terkekeh.
"Yaa, kenapa kau membiarkanku?" protes Yunki di sela napasnya yang tersengal.
"Aku sudah mau melarang. Kau yang terlalu cepat." Reya menahan tawa. Sungguh, ia tak pernah melihat kekasihnya sekacau ini. Bahkan ketika berdiri di atas panggung sekalipun, wajah itu selalu terkendali.
"Ini—" Yunki menunjuk mangkuk sambal dengan tatapan berdosa. "Ini bukan makanan. Ini senjata."
Reya mengartikan ucapan itu pada kedua orang tuanya. Papa kembali tertawa terbahak.
"Walah, orang Korea nggak kuat pedes tho?"
"Kuat Pah, tapi pedesnya beda," jelas Reya.
Nasi di piring Yunki akhirnya tak habis. Bukan karena tak enak, hanya saja lidahnya sudah menyerah lebih dulu. Ia menutup acara makan siang itu dengan tiga gelas es teh dan sepotong semangka.
***
Selesai makan, semua berpindah ke ruang tamu. Papa duduk di kursi kayu kesayangannya, sementara manager Shin memilih sofa panjang di sisi jendela. Mama menyusul membawa nampan berisi teh hangat dan sepiring pisang goreng yang entah kapan sempat ia goreng.
"Di sana lagi musim apa Nduk?" tanya papa.
Reya meneruskan pertanyaan itu, lalu menerjemahkan jawaban kekasihnya. "Katanya lagi dingin Pah. Sebentar lagi salju."
"Salju." Papa mengangguk-angguk, seolah baru saja mendengar kabar penting. "Enak dong nggak keringetan."
"Enak apanya, bibirnya pecah-pecah semua."
Papa terkekeh, lalu menyeruput tehnya. Yunki menatap Reya, meminta gadis itu menerjemahkan lagi. Setelah mengerti, pria pucat itu ikut tertawa dan mengangguk membenarkan.
"Kerjanya apa Mas?" tanya papa. Pertanyaan itu diarahkan pada Yunki, tapi mata papa justru menatap Reya. Sudah pasti anak gadisnya itu yang akan menjawab.
Reya menelan ludah. Ini bagian yang paling tak ia sukai. "Musik Pah. Dia bikin lagu."
"Bikin lagu?"
"Iya, aransemen."
Mama mengangguk-angguk dari kursi sebelah, mengulang apa yang sudah ia dengar beberapa hari lalu. Reya memilih tak menambahkan apa pun. Ada bagian yang belum ia ceritakan, dan ia sendiri belum tau kapan waktu yang tepat untuk menceritakannya.
Yunki menatap Reya, ia tau namanya baru saja disebut. "Apa yang kalian bicarakan?"
"Papa bertanya pekerjaanmu."
"Kau menjawab apa?"
Reya diam sejenak. "Yang biasa."
Yunki mengangguk pelan. Ia mengerti. Mereka pernah membicarakan hal ini, dan keduanya sepakat untuk tak terburu-buru. Namun, tetap saja ada yang mengganjal di dadanya setiap kali hal itu disinggung. Ia tak suka disembunyikan, tapi ia juga belum punya pilihan yang lebih baik untuk saat ini.
Pintu depan terbuka. Seorang pemuda bertubuh tinggi kurus masuk dengan ransel tergantung di satu bahu.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Nah, itu adiknya," ucap mama pada Yunki, yang tentu saja tak mengerti.
Raya berhenti di tengah ruangan. Menatap Yunki dari ujung rambut sampai sepatu, lalu berpindah pada kakaknya. "Ini?"
"Iya, kenapa?"
"Nggak nyangka aja." Raya menyalami Yunki, lalu duduk bersila di lantai dekat meja. "Kirain Kakak bohong."
"Yaa!"
"Kakak dulu bilang punya pacar orang Korea. Aku pikir cuma halu."
Papa dan mama tertawa bersamaan. Reya melempar bantal kursi ke arah adiknya, meleset. Yunki menatap kakak beradik itu bergantian, tak mengerti sepatah kata pun, tapi ikut tersenyum. Ada sesuatu yang menyenangkan dari rumah ini. Ribut, tapi hangat. Ruang makan keluarganya di Korea tak pernah seberisik ini.
"Namanya siapa?" tanya Raya.
"Yunki."
Raya menoleh, lalu mengangkat ibu jari. "Nice to meet you."
"Nice to meet you too," jawab Yunki. Satu-satunya kalimat bahasa Inggris yang keluar siang itu, dan keduanya sama-sama merasa itu sudah cukup.
Raya tak lama. Ia hanya pulang untuk berganti baju dan mengambil map, katanya ada tugas kelompok di kampus sore ini. Pemuda itu berpamitan, mencium tangan mama dan papa, lalu berlalu secepat ia datang.
***
Reya membantu mama membereskan meja. Keduanya berdiri berdampingan di depan bak cuci piring.
"Sopan anaknya," ucap mama tiba-tiba.
"Iya dong, pilihan Reya."
"Mama cuma bilang sopan, nggak lebih." Mama menyerahkan piring basah untuk dibilas. "Yang mama omongin tadi masih sama, Nduk."
Reya diam. Suara air keran menutupi jeda yang tak ia isi. Ia tau persis apa yang mama maksud, dan ia tak punya jawabannya hari ini. Mungkin juga belum akan punya dalam waktu dekat.
"Iya Ma."
"Mama nggak ngelarang. Cuma, dipikir."
"Iya."
Di ruang tamu papa sudah menurunkan kotak catur dari atas lemari. Papan kayu tua yang catnya terkelupas di beberapa sudut itu ia bentangkan di lantai. Manager Shin menatap papan tersebut dengan alis terangkat, lalu duduk bersila tanpa perlu diajak dua kali. Rupanya, catur tak pernah membutuhkan penerjemah.
Reya menghampiri Yunki yang duduk di sofa. Rambut pria itu berantakan. Sisa perbuatan papa yang sejak tadi gemas dan berkali-kali mengusap kepala calon menantunya, seperti mengusap kepala anak kecil. Poninya naik ke satu sisi, sebagian lagi berdiri.
"Rambutmu," ucap Reya.
"Kenapa?"
"Berantakan sekali."
Yunki meraba kepalanya sendiri, lalu mendengus. "Ayahmu."
Gadis itu masuk ke kamar sebentar, keluar membawa sisir kecil. Ia berdiri di hadapan Yunki yang masih duduk, lalu mulai merapikan rambut sang kekasih. Perlahan, dari sisi kanan ke kiri, menurunkan poni yang tadi berdiri.
"Jangan gerak."
"Aku tak bergerak."
"Kau bergerak."
Sebenarnya yang bergerak adalah jantung pria itu. Reya terlalu dekat, dan Yunki bisa mencium aroma sabun bercampur sedikit bau bawang dari tangan gadis yang baru selesai mencuci piring itu. Anehnya, ia sama sekali tak keberatan. Ia bahkan berpikir, seandainya siang ini bisa dilipat lalu disimpan dalam saku, akan ia bawa pulang ke Korea nanti.
"Selesai." Reya mundur selangkah, menilai hasil kerjanya sendiri. "Sekarang jauh lebih baik."
"Kau merapikan rambutku seperti merapikan rambut anak TK."
"Kau memang seperti anak TK."
"Yak!"
Mama yang mengintip dari arah dapur hanya menggeleng sambil tersenyum.
"Yunki-ya," panggil Reya.
"Hmm?"
"Kau ingin melihat tempatku mengajar?"
Yunki mengangkat wajah, matanya berbinar. "Sekarang?"
"Sekarang. Dekat, jalan kaki juga sampai. Jam segini anak-anak sudah pulang, jadi sekolahnya kosong. Kita bisa duduk di taman belakang."
"Kajja."
Reya mengambil kunci pagar sekolah yang tergantung di balik pintu kamarnya. Kunci itu selalu ia bawa sejak Bu Tatik mempercayakannya. Setelah itu ia berpamitan.
"Ma, Pah, Reya keluar sebentar ya. Nunjukkin sekolah."
"Ya, hati-hati," sahut mama. Papa hanya mengangkat tangan, tak menoleh sedikit pun dari papan caturnya.
Manager Shin melirik Yunki sekilas, lalu kembali pada bidaknya. Sepertinya, pria berkacamata itu sudah menemukan lawan yang tepat dan sama sekali tak keberatan ditinggal.
Keduanya melangkah keluar. Matahari sedang tinggi-tingginya, dan Yunki menggenggam tangan gadis itu tanpa perlu diminta.
***