"ANNAAAAA. GUE DAPAT NILAI BAGUS BANGET BUAT OLIMPIADE SELANJUTNYA," teriak Anggun keras saat membuka pintu kelas. Membuat semua orang kaget dan hanya diam juga di saat bersamaan. Gadis imut itu tak bisa di marahi. Bukan karena imutnya, tapi mulutnya sangat pedas. Anna hanya mengangguk saat Ina mendusel duselkan kepalanya pada leher Anna. Anna mengeratkan penanya. Hanya diam dan menghela nafas saat mata berbinar milik Anggun sangat cerah. Ia tak bisa marah ataupun senang. Semuanya terlalu membingungkan buat dia. Semalam dia hanya diam merenungkan kembali perkataan sang kakak. Tapi, dia memang belum sanggup untuk kembali membuka hati.
Tok tok tok
Suara pintu disusul dengan suara sepatu yang berderap membuat semua orang menolehkan kepalanya pada anak badung sekolah itu.
Virzha Wicaksana
Pemuda berahang tajam dan tegas. Namun memiliki mata yang sangat imut itu membuat orang lain tertegun. Mata mereka bahkan tak berpindah sedikitpun saat Virzha duduk di hadapan Anna. Gadis dengan sejuta misteri.
"Hai pacar, mau makan bareng?" ucap Virzha manis membuat sekitarnya heboh. Virzha hanya tersenyum dan membuat Anna kembali mendengus.
"Ohhh secret admirer lo Anna," ucap Anggun sambil mendongakkan kepalanya sombong pada Anna. Virzha melotot kecil lalu menodong jari tengah pada Anggun. Tepat di depan mata gadis itu. Anggun hanya mendengus lalu menatap Virzha remeh. Rasanya Virzha ingin membuat semur mata feat jengkol. Ya, mata Anggun sepertinya enak kalau di masak.
"Lo mau nanya gue tau darimana? Ada orang main tik tok fotonya Anna semua. Dan itu gak mungkin Anna. Trus, nama akunnya Mari bakar lemak bahkan nama Instagramnya juga itu. Trus gue liat followers dia cuman satu yaitu lo. Dan lo juga follow dia. Otak di pake t***l!"
Kini wajah Virzha memerah. Ia menatap miris dirinya yang sekarang menjadi bahan tertawaan orang orang. Bahkan Bian si cowok receh selangit itu terjungkal saat kata kata itu keluar dari mulut Ina.
Bian mendekat lalu menepuk pundak Virzha, "Lo hahaha.... Lo hahahaha,"
Bian belum ngomong loh. Tapi ketawanya duluan yang mulai. Membuat semua orang ikut tertawa. Bukan karena ucapan Anggun. Tapi karena kelakuan Bian.
"HAHAHAHAHAHA,"
Bian tertawa di depan wajah Virzha. Dia memegang pundak Virzha lalu tertawa lagi, "HAHAHAHA,"
Anna yang melihatnya sangat miris. Bian si cowok yang terkenal sangat sopan dan keren itu mempunyai sisi gelap.
Selera humor mengerikan.
Virzha menampol kepala Bian. Tetap saja dia masih tertawa, "Kesurupan nih anak paok,"
Kemudian Virzha mengambil tangan Anna. Membawa gadis itu pergi daripada mendengarkan tertawa Bian yang mungkin sampai adzan Maghrib tak akan berhenti.
-/-
Kini, Virzha dan Anna makan nasi goreng buatan Gama di pinggir danau. Menatap tenang pada danau indah yang selalu di rawat oleh penjaga sekolah. Mata Virzha tak lepas dari gadis yang memiliki sorot mata tajam itu. Bibirnya yang mungil. Tangannya yang kecil. Membuat Virzha ingin memeluk gadis itu. Mengatakan bersyukur Tuhan akhirnya memberi ia waktu untuk melihat gadisnya itu.
Gadis yang ia kagumi dari dulu.
"Siapa yang masak?" Tanya Virzha yang memakan nasi itu. Anna mendengus keras lalu menutup bekal makannya. Ia berjalan berbalik ingin ke kelas. Namun tangannya di tahan lalu di tarik di belakang. Membuat gadis itu terkejut saat Virzha memeluknya dari belakang. Menumpu dagu pemuda itu di pundaknya dengan lembut.
"Kamu.... lupa aku?" tanya Virzha dengan suara parau. Pemuda jangkung itu masih memeluk Anna yang hanya sebatas dadanya saja.
"Aku Virzha. Yang waktu kamu kecil nangis di ruang UGD. Aku... Yang meluk kamu saat Abang kamu pergi sama paman kamu buat nanya kabar orangtuamu. Aku... Yang peluk kamu, Anna "
Anna membelalakkan matanya. Menatap tangan pemuda itu yang masih setia bertengger di pinggangnya. Matanya menyayu lalu diam menunduk.
"Aku kangen kamu,"
-/-
"Anak cowok yang rambutnya cokelat itu?" Gama bertanya pada Anna yang penasaran dengan masa lalunya itu. Gadis itu tak mengingat tentang memori semua kejadian yang menimpanya. Bahkan tak mau mengingatnya.
Tapi.... Ia penasaran dengan Virzha
"Mas gak terlalu ingat sih," ucap Gama dengan tangan yang masih sibuk dengan panci berisi sayuran untuk makan malam. "Cuma ya Mas taunya anak cowok itu duduk dan kamu tidur di pundaknya. Setelah tau Mas balik, dia langsung izin pulang,"
Ternyata benar, Anna selalu bermimpi tentang sosok pemuda itu. Apa itu Virzha? Tapi buat apa memimpikannya?
"Kamu dulu mau di samping anak itu sampai gak bisa tidur sama Mas. Kamu pengen sama anak cowok itu,"
Anna membelalak lalu membuang mukanya. Masa dia seperti itu sih? Itu tidak mungkin. Mana ada ya dia mau tidur dengan anak cowok selain abangnya sendiri. Gama tertawa ringan sembari mengaduk sayurannya. Sepertinya mereka di pertemukan kembali sekarang. Melihat wajah memerah sang adik hati Gama meringan. Walau dia tidak rela, tapi tetap saja ia suka dengan ekspresi adiknya yang lain di hari sebelumnya. Gama sebenarnya masih belum rela adik kecilnya jatuh cinta. Namun, ia tak mungkin membiarkan adiknya dalam ruang lingkup yang sesak penuh duka. Sesekali Anna harus melewati zona nyaman yang ia garis keras.
÷×÷
Sepulang sekolah ini, Virzha mengajaknya jalan jalan. Mengajak Anna ke segala tempat. Dan membuat gadis itu terkesima saat melihat banyaknya bangunan dan pemandangan yang indah.
Virzha.... Gemas?
Mata gadis itu berbinar dengan indahnya. Tersenyum kecil dengan bibir mungilnya. Kakinya melangkah ringan dengan rambut terurai di terpa angin. Membuat gadis bersurai hitam itu sangat manis dan mengagumkan disaat bersamaan. Anna benar benar cantik. Virzha menyukai setiap hal yang di lakukan gadis itu. Menatap mata gadis itu membuat hatinya berdesir. Jantungnya juga berdegup kencang. Mata bulat hitam itu kali ini memancarkan kebahagiaan. Beda dari sebelumnya yang nampak putus asa.
"Kita mau kemana lagi habis ini?" Virzha menggandeng tangan Anna yang kecil itu. Berjalan sembari meminum Boba yang ada di tangannya. Matanya menerawang ke segala sudut kota yang indah. Anna melepaskan pegangan tangannya. Menarik Virzha dan menyuruhnya mengambil kucing yang tersangkut di atas pohon.
"Biarin aja. Dia itu punya 9 nyawa. Kamu gak per-" ucapan Virzha terhenti saat mata lembut itu kembali menyorot lebih tajam. Akhirnya setelah di tatap seperti itu, Virzha memanjat pohon. Dengan pelan pelan ia menaiki pohon yang tampaknya sudah sangat tua.
Dasar kucing rese!
Ganggu orang pacaran aja!
Kaki Virzha gemetar lalu mengambil kucing itu. Membawanya kedalam pelukannya lalu perlahan turun. Namun sang kucing meronta saat mereka hampir sampai. Kucing itu melompat membuat Virzha hilang keseimbangan.
Bruk
Mata Virzha dibuka secara perlahan. Terlihat jarak antar wajahnya dengan wajah Anna sangat dekat. Membuat jantungnya spontan berdegup lebih kencang. Virzha memajukan wajahnya. Ingin mengecup pipi tirus itu walau sebentar.
"Berat,"
Suara dingin itu membuat Virzha melotot. Ia berdiri dan membantu Gladys juga. Virzha menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal. Salah tingkah dengan wajah memerah padam.
Sial, sial, sial. Harga diri gue
Anna maju dan merapikan seragam Virzha yang compang camping. Menarik dasi tersebut dan membenarkannya. Merapikan rambut itu dengan tangan mungilnya. Lalu mundur secara perlahan.
Virzha menganga. Anna..... Perhatian padanya! Ahh Anna sudah men-
"Aku merapikannya biar kamu gak kayak gembel,"
Bruk
Jatuh sudah harapannya. Matanya menatap tanah lalu mengais tanah dengan kakinya. Menggembungkan pipinya dengan kesal. Gimana ya cara supaya Anna itu senang padanya?
"Anna ayo jadi pacar aku!!"