Pagi pagi sekali ruangan OSIS telah dipenuhi oleh beberapa anggota OSIS yang tengah sibuk merapikan data-data yang diisi di dalam komputer untuk penyeleksian murid baru yang ingin bergabung dalam ekstrakurikuler. Jeffry dan Anna juga dari tadi sibuk untuk memasukkan data bagi para murid-murid yang sudah bergabung ekstrakurikuler. Namun ada beberapa murid yang tiba-tiba mengcancel keikutsertaan mereka dalam perlombaan. Entah dengan berbagai alasan yang sebenarnya terlalu muak untuk di dengar. Namun, baik Jeffry maupun Anna tidak bisa memaksa murid tersebut untuk melakukan apa yang tidak ingin dia lakukan. Daripada nanti ketika perlombaan ia setengah ingin ikut karena terpaksa, lebih baik tidak ikut sama sekali supaya kemenangan jika berada di pihak mereka akan bisa mereka dapatkan.
Jeffry dan Anna selalu saja tegas memberikan arahan terhadap beberapa murid yang ingin mengikuti lomba di ekstrakurikuler. Bukan ajang menunjukkan bakat atau pesona, namun di perlombaan tersebut banyak harapan dari pihak sekolah maupun pihak pihak murid yang ingin mereka menang. Jika yang dipakai adalah murid yang terpaksa ikut, yang ada kemenangan tidak akan menjadi di pihak mereka. Mereka akan mengalami kegagalan karena murid yang tidak mau bertanggung jawab terhadap sekolah juga tidak mau bertanggung jawab atas apa yang mereka emban. Dan dalam kasus itu sejujurnya banyak yang melakukannya. Namun, Anna maupun Jeffry akan memberikan seleksi dan waktu untuk para siswa yang ingin mengikuti perlombaan. Jadi, jika ingin ikut ya boleh jika tidak ya tidak apa-apa.
"Beberapa dari kelas XII 5 IPA bisa lo hapus namanya karena ada beberapa tadi yang laporan kalau mereka tidak jadi ikut. Ada simulasi di hari mereka akan kita ikut tanding kan."
"Bukannya simulasi lima bulan lagi ya? Ini masih awal semester loh. Kita juga kelas XII kali, Jef."
"Gue tadi sarkas. Bukan lagi laporan sama lo," ucap Jeffry dengan datar. Ia hanya ingin memberitahu kepada Anna bahwa ada beberapa murid yang mengatakan mereka akan melakukan simulasi. Terlalu bodoh sebenarnya karena mereka tidak tahu bahwa pengurus OSIS kebanyakan juga yang kelas XII masih berada di dalam pengurusan organisasi sekolah. Banyak alasan adalah jalan ninja mereka.
"Yaudah nanti biarin aja mereka bakalan dikasih ganjaran lebih lagi kalau mereka ikut dan tiba-tiba mengundurkan diri," ucap Anna dengan nada datar hingga membuat Jeffry terkekeh dengan suara gadis itu. Jeffry pernah menyukai Anna karena gadis itu sangat berbeda dengan garis lainnya. Ia mempunyai energi yang kuat hingga orang-orang yang di sekitarnya tidak semudah itu untuk menjatuhkannya. Tatapannya yang tajam namun wajahnya yang lembut membuat orang-orang pasti langsung suka dengan dirinya. Bahkan Anna sangat cantik, masih banyak lelaki yang belum berani untuk mengungkapkan perasaannya pada gadis itu. Wajar saja jika mereka tidak berani memaksa Anna, karena gadis itu saja jago bela diri. Yang ada kalau mereka memaksakan Anna berpacaran dengan mereka, kepala mereka bisa aja lepas dari tempatnya.
Anna membuka beberapa dokumen yang baru saja dikirim oleh rekannya. Namun ia mendengar suara desas-desus temannya juga yang duduknya tidak jauh darinya.
"Eh, katanya bakalan ada guru baru loh. Gurunya cakep bener. Mukanya ganteng bahkan yang punya sekolah," kata gadis dengan wajah oriental.
"Ha? Masa pemilik sekolah bisa ngajar di sekolah ini?"
"Ya namanya juga pemilik suka-suka mereka dong," ungkap gadis oriental tadi, "Percaya nggak percaya sih. Tuh orang katanya ganteng banget. Trus kaya dan juga punya banyak perusahaan di seluruh dunia. Kebayang enggak lo kalau misalnya kita jadi istrinya gitu. Behh bisa aja tiap hari gue bakalan beli apapun yang branded. Ya kali punya suami atau pacar yang kayak gitu disia-siain kan uangnya."
"Ah, gue sih nggak suka sama cowok yang kaya. Yang biasa aja tapi dia mengerti gue. Kalaupun dia kaya tapi nggak sayang bahkan setia sama gue atau sengaja dia nggak mendengarkan apa yang gue omongin bahkan hal random sekalipun, kayaknya gue nggak bakalan klop sih sama cowok yang kayak gitu"
"Lah lo kan emang orangnya kayak gitu. Selalu aja menutup diri dari segala hal," ungkap sahabatnya yang lain.
Anna yang mendengarkan percakapan dua orang itu hanya terdiam dan tertegun karena seharusnya jika sudah kelas XII mereka tidak di beri guru baru lagi karena akan mengganggu proses belajar mengajar. Namun kenapa tiba-tiba ada guru masuk? Dan lebih anehnya adalah ia adalah pemilik sekolah. Anna hanya menggelengkan kepalanya untuk tidak ikut campur urusan orang lain. Karena masalahnya sendiri saja sudah membuatnya pusing sekarang. Dia butuh hiburan namun dia tahu diri bahwa dia tidak mempunyai cukup banyak uang. Bahkan untuk sekedar membeli makanan saja dia kadang berpikir beberapa kali.
Anna hidup awalnya dengan bahagia. Harta berlimpah, keluarga yang bahagia, juga calon adik yang ada di dalam kandungan mamanya. Dia bisa merasakan itu semua namun sekarang sirna. Bukan karena dia menginginkan uangnya. Namun kebersamaan antara keluarganya dan dirinya sudah tidak bisa lagi untuk bersama. Suatu hal yang bahkan jika dibayar dengan seluruh dunia belum tentu bisa menjadikan hal itu menjadi nyata kembali. Seolah semua hal itu adalah suatu cermin yang sudah retak tidak bisa diperbaiki kembali.
"Kayaknya bel bakalan bunyi deh bentar lagi. Lo masukkan aja beberapa anak yang sudah selesai. Selebihnya nanti kita kasih aja sama anggota baru yang bakalan mencalon. Jangan semua lo garap. Yang ada pada manusia yang datang ke OSIS itu bakalan duduk aja nggak ada ngapa-ngapain selain tebar pesona." Jeffry menyusun kertas yang ada di hadapannya lalu memasukkannya ke dalam buku arsip.
Sekolah masih menyediakan alat buku dan tulis walau zaman sekarang sudah banyak teknologi yang bisa membuat berpikir diluar nalar. Atau buku tulis bisa di ganti dengan alat teknologi yang lebih ramah lingkungan. Namun sekolah tetap melakukan hal itu karena tidak ingin ada anak-anak yang merasa terbebani sebab tidak memiliki ponsel ataupun laptop untuk belajar.
Sekolah ini adalah sekolah yang paling elit bahkan masuk 5 besar dunia. Namun jika mereka memakai peralatan teknologi lainnya, pihak yang mempunyai sekolah langsung berpikir bahwa anak-anak itu pasti keberatan karena mereka ada yang dari kasta yang berbeda-beda. Jadi, akan ada bantuan berupa laptop namun hasilnya mungkin akan datang tergantung bagaimana anak murid berperilaku. Kalau baik dan bisa di nasehati, mereka bisa aman dari uang sekolah dan juga biaya membeli laptop.
"Ann, gue duluan ya. Cewek gue ternyata udah di depan nunggu gue nih," ucap salah satu teman Anna yang suka sekali mengganggu Anna karena menurutnya Anna adalah manusia yang suka sekali mengurung diri dan menjauhi orang-orang yang ingin mendekatinya.
"Okee, nanti kalau udah sampai di sekolah yang lo kirim undangan bilang ya," pesan Anna kepada temannya itu dan di beri acungan jempol oleh temannya. Anna kembali menatap laptop dan mulai memasukkan beberapa nama yang akan di seleksi. Banyak sekali pekerjaan dia, namun para anak baru belum bisa meng-handle semuanya. Jadi, Anna yang mesti turun tangan untuk ini.
Anna meletakkan beberapa nama seperti nama Nathan, Jeffry, Virzha, Nana, Bian, Artajuna dan Rafa dalam satu tempat khusus. Para pemuda itu yang akan tanding basket saat beberapa Minggu lagi. Anna yakin bahwa para pemuda ini akan menang nantinya. Mereka akan mendapatkan piala seperti tahun kemarin.
"Adek lo masih sama Nathan?" tanya Anna tiba-tiba.
"Tumben, biasanya gak peduli sama kisah orang lain," ledek Jeffry.
Anna memutar bola matanya kemudian menatap sinis pada Jeffry ,"Gue tuh diam-diam peduli. Lo gak tau dan semestinya emang gak perlu tau urusan gue," ucap Anna. Jeffry terkekeh lalu mengusap wajah Anna dengan tangannya. Wajah itu kecil dan membuat Jeffry bisa dengan mudah mengusap wajah itu. "LO! PERGI GAK!" Anna mendorong Jeffry kemudian ia menatap kembali pada laptopnya.
Jeffry menghela nafasnya kasar, "Kadang gue tuh suka cemburu kalau adek gue sering main sama pacarnya daripada gue. Kayak, masa dia gak mau main sama gue yang jelas-jelas abangnya yang paling ganteng dan wow gitu loh. Kenapa dia memilih main sama Nathan? Sebel tau gak sih!" dengus Jeffry mengingat adiknya memang selalu saja seperti itu. Dekat dengan yang lain dan melupakannya. Nathan selalu saja bisa merebut seluruh atensi Valerie hingga adik kesayangannya itu hanya melihat ke arah Nathan. Bukan Jeffry.
"Adek lo udah gede. Ya wajarlah dia pengennya main sama pacarnya. Toh, dia udah punya pacar. Lain lagi kalau dia belum punya pacar trus maksa mau deket sama Nathan. Itu aneh namanya," ucap Anna yang hanya di balas dengan tatapan kesal dari pria di sampingnya. Anna tertawa kecil kemudian kembali fokus pada pekerjaannya.
"Lo sendiri, kapan tuh official sama Virzha? Apa diam-diam lo udah official sama tuh orang?" ledek pemuda itu pada Anna. Anna hanya mendengus saja tak peduli dengan omongan yang keluar dari mulut Jeffry. Malas sekali dirinya mendengar omongan manusia yang terkadang menguji kesabarannya itu.
"Dia baik sih. Cuman... ya gue gak bisa membuka hati dengan begitu mudah sama orang lain. Jujur aja sih, kadang gue merasa kalau gue tuh pengen banget buka hati sama orang lain. Tapi terkadang gue merasa ragu. Gue Rabu kalau orang itu akan nyaman sama gue. Gue takut kalau apa yang dia inginkan dari gue, gak bisa gue wujudkan," ungkap Anna. Jeffry menganggukkan kepalanya. Ia tau benar kalau betapa susah membuka hati pada orang lain sebab di sakiti saat di masa lalu.
"Jangan kebanyakan mikir! Lo mesti sehat dan jangan kecapekan. Jangan banyakkin beban pikiran di kepala lo. Udahlah, jalani aja semuanya dengan santai. Gue cuman berharap temen gue bisa mendapatkan kebahagiaan milik dia seperti yang dia inginkan. Gue tau kok masalah yang pernah kuhadapi itu bukan semudah itu juga untuk melupakannya. Tapi lo mesti pelan-pelan untuk tau kapan melangkah dan kapan untuk nostalgia atau lebih tepatnya lo mengingat kejadian di masa lalu. Karena nggak mungkin kan kalau lo enggak mengingat hal itu karena masalah yang lo hadapi itu benar-benar pernah singgah di dalam pikiran lo dan lo sendiri juga nggak pernah berusaha untuk melupakannya. Jadi, Anna, Lo mesti tahu kalau lo berharga dan lo bisa membuka hati lo secara perlahan seperti yang lo inginkan. Gue yakin banget kok kalau itu sebenarnya bisa sembuh dari masa lalu lo. Hanya aja coba berusaha sekuat tenaga lagi supaya lo bisa kuat dan nggak bakalan trauma seperti dulu lagi," ucap Jeffery yang kemudian diberi anggukan oleh Anna, si gadis yang diberi nasehat oleh pria playboy seperti Jeffry.
Anna tau kalau Jeffry memang sangat baik padanya. Maka dari itu ia tidak pernah merespon ucapan Jeffry yang mengatakan suka padanya. Ia hanya cukup tahu dan tidak merespon secara berlebihan karena dia tidak mau persahabatan antara dirinya dan Jeffry akan hilang karena cinta yang bahkan belum tentu menjadi sebuah kebahagiaan juga bagi yang merasakannya. Lagian, Anna memang tidak menyukai pria ini. Terlalu sempurna dan sangat di puja oleh banyak gadis. Anak tidak suka.