"Anna," panggil Noel saat Anna baru saja memasuki gudang untuk mengambil bangku yang masih bagus karena bangkunya tadi agak sedikit bergoyang. Anna sebenarnya kaget dengan kedatangan pria yang memakai kemeja hitam dan celana yang hitam juga. Menampakkan wajah yang tegas dan dingin namun tatapan mata yang sendu seakan mengantarkan dirinya kembali kepada malam yang pernah ia lalui dengan menatap mata yang membuatnya merasakan kenyamanan untuk beberapa saat sebelum dihancurkan oleh realita yang benar-benar menyakitkan.
"Pak, kenapa Bapak bisa ada di sini lagi? Bukannya tadi udah pergi?" tanya Anna dengan wajah yang masih menampakan rasa sopan dan memiliki karakter yang tidak terlalu gegabah. Ia sebenarnya sedikit gugup karena apa yang mereka lakukan tadi.
Noel memandang gadis yang selalu saja datang ke dalam pikirannya dengan segala hal yang memporak-porandakan seluruh pemikirannya. Anna sangat tahu dari tatapan itu mengisyaratkan seakan dirinya harus kembali pada Noel. Tidak, dia tidak akan melakukan hal itu karena itu sama saja dia memasukkan dirinya ke dalam orang-orang yang egois yang mementingkan kepentingan mereka sendiri tanpa memperhatikan orang lain hanya untuk kepuasan mereka.
"Anna, apa kamu tahu kalau aku udah nungguin kamu untuk bersama aku mencari masa lalu kita?" kata Noel dengan nada yang sendu. Anna bisa melihat wajah itu sangat menyakitkan dan terlihat sedih. Tidak, Anna tidak boleh luluh. Anna mungkin akan bersama Noel jika dia luluh. Lebih baik pergi dari kehidupan pria itu daripada menghadapi banyak masalah nantinya.
"Noel, aku berusaha untuk mengerti kamu dan memahami semua apapun yang kamu katakan sama aku walaupun sama sekali aku nggak pernah terpikirkan untuk hal itu. Pertama, sebenarnya aku mencoba untuk memahami juga sih, tapi disatu sisi aku merasakan kalau kamu juga masih menyembunyikan banyak hal dan itu menjadi masalah kedua untukku. Noel, bagaimana aku bisa percaya sama kamu kalau kamu sendiri aja masih menyembunyikan banyak hal seakan kamu takut dosa kamu terlihat dan kamu merasa bersalah kembali seperti terdahulu," tekan Anna membuat Noel melotot kaget karena apa yang dikatakan oleh gadis itu adalah sesuatu yang benar adanya.
"Diam kamu! Kamu nggak akan pernah tahu apapun yang terjadi dalam hidup aku dan kamu jangan coba macam-macam mengatakan kalau kamu adalah orang baik dan aku adalah orang yang berdosa."
"Aku nggak bilang kalau aku adalah orang yang baik dan kamu adalah orang yang berdosa. Tapi, pada kenyataannya kamu menutupi semua hal sehingga aku sendiri nggak pernah tahu inti dari permasalahan itu apa karena kamu menyembunyikannya. Kenapa? Karena mungkin saja ketika aku tahu masa lalu aku seperti apa, aku akan meninggalkan kamu karena pasti kamu menyembunyikan sifat buruk kamu dan kamu tidak menerima hal tersebut sehingga kamu memaksa aku untuk mengerti kamu."
"Diam! Diam kamu! Jangan bicara lagi atau aku akan membuat kamu merasa menyesal karena melanjutkan perkataan kamu itu," kata Noel dengan nada yang penuh penekanan dan tatapan yang begitu tajam sehingga membuat Anna sebenarnya merasa ketakutan karena hal itu tapi dia menutupi rasa takut itu dengan rapi karena dia tahu bahwa orang yang ia hadapi ini bukanlah orang yang biasa. Melainkan orang yang sangat pintar memanipulasi orang lain dengan ucapan yang mematikan dan bisa saja memutar balikan fakta yang sebenarnya.
Anna bergegas mengambil kursi yang akan ia pakai kemudian dengan cepat berlari menuju pintu. Namun, sebelum tangannya mengambil gagang pintu untuk ia buka, ternyata pria yang dari tadi dia ajak bicara atau lebih tepatnya berdebat itu mengambil tangannya dengan kasar dan mendorongnya ke dinding dengan gerakan yang membuat tubuh Anna merasakan sakit luar biasa akibat dorongan tersebut. Anna terpekik kaget saat dengan cepat Noel mengambil pisau kecil dan menusuk pelan di bagian ginjal Anna. Nafas Anna tercekat sehingga tangannya kini bergetar hebat. Ia tidak menyangka bahwa pria yang katanya mencintai nya sepenuh hati dan tidak akan meninggalkannya itu ternyata mampu menorehkan luka di tubuhnya.
"Sayang, aku nggak suka ada gadis pembangkang. Aku mau kamu menjadi gadis yang baik hati dan menuruti apapun yang aku katakan karena kamu jauh levelnya di bawahku," kata Noel dengan nada yang ditekan begitu kuat seakan orang yang dia ajak bicara harus mendengarkan semua perkataannya. Noel adalah orang yang dominan dan tidak suka dilawan oleh siapapun. Dia merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling benar di satu sisi dia merasa dia adalah orang yang paling tersakiti sehingga ia harus membalas dendam kepada orang-orang yang menyakiti dirinya. Padahal, dia adalah seseorang yang selalu saja menyakiti hati orang lain dengan mudahnya.
"Aku nggak akan pernah mau sama kamu bahkan sampai aku mati sekalipun. Aku nggak akan berakhir dengan kamu karena apa yang terjadi selanjutnya aku seakan udah bisa nebak apapun itu. Berakhir sama kamu adalah suatu penyiksaan yang bakalan pernah ku sesali dalam hidupku. Kamu ada seseorang yang membuat hatiku hancur, membuat aku merasakan sakit berkali-kali semenjak bertemu dengan kamu yang bahkan aku gak akan pernah berharap kalau kamu bakalan ada di sini kembali bersama aku," kata Anna. Dia merasakan sakit di tangannya begitu erat saat pria itu memegang tangannya dan di naikkan ke atas.
Nafas Noel seakan memburu mendengarkan perkataan dari seseorang yang sangat ia cintai itu. Pria itu kemudian menyeringai dan memberikan ciuman begitu panas dan kasar pada Anna. Anna yang belum siap sama sekali langsung berusaha mendorong pria itu dengan begitu kencang. Namun, usahanya tetap saja sia-sia. Noel mendorong gadis itu hingga terlentang bagian sofa yang tidak pernah dipakai oleh siapapun karena sofa tersebut adalah sofa dari kantor. Anna di letakkan dengan kasar kemudian Noel mencium bibir itu dengan brutal bahkan terkesan kurang ajar. Anna menangis saat tangan itu menjelajah dengan gerakan cepat ke dalam bajunya.
"Ahh, Noel jangan!" isak tangis Anna menghiasi ruangan tersebut. Anna merasakan sakit begitu parah hingga sekarang yang ada di pikirannya adalah bagaiman menyingkirkan pria kurang ajar yang melalukan tindakan pelecehan terhadapnya. Anna rasanya ingin bunuh diri saja saat dengan kasar pemuda itu kembali menekan bagian dadanya dengan keras dan mengantar rasa sakit pada d**a Anna. Ciuman ini tidak seperti tadi. Tidak halus dan menyenangkan. Ini menyakitkan sekali.
Anna sudah di lecehkan begitu parah. Tangannya diikat dengan dasi lalu di letakkan di penyangga besi sofa tersebut. Anna menggelengkan kepalanya. Ia langsung kaget saat dengan cepat Noel memasukkan jarinya ke dalam inti Anna. Anna kaget luar biasa bahkan bisa saja kepalanya akan pecah karena ini. Anna dengan cepat menggoyangkan pinggulnya bermaksud mengeluarkan jari sialan itu. Namun, hal yang terjadi selanjutnya adalah ia mendesah. Suara yang tidak ingin ia hasilkan malahan terjadi tanpa ia sengaja. Anna sudah kotor.
"Anna, follow my rules. You will also benefit later," kata Noel namun Anna dengan cepat memukul kepala Noel dengan menggunakan ujung botol yang tepat di dekatnya. Anna ketakutan. Ia merasa bahwa dirinya sebentar lagi akan gila saat tatapan Noel kini menyeringai begitu mengerikan di hadapannya.
"Anna, ayo, kita sama-sama berbagi perasaan." Noel tertawa keras kemudian menarik Anna mendekat lagi. Pria itu mencium Anna lebih kasar dan tangannya menangkup d**a Anna. Ia menarik seragam baju Anna ke atas kemudian mengecup d**a gadis itu. Anna menjerit meminta tolong namun dengan cepat dasi itu berpindah ke mulut Anna.
"Ahh, sayang kamu gak usah takut. Aku sayang sama kamu," ucap Noel yang semakin membuat Anna kehilangan akalnya. Ia menarik kembali bangku dan memukul ke Noel dengan keras. Ia sangat ketakutan bahkan tangannya lebih gemetaran sekarang. Bagaimana pria itu melakukan tindakan pelecehan padanya? Bagaimana pria itu bahkan tidak peduli dengan Isak tangisnya dan memilih menulikan dirinya sendiri dari teriakan Anna. Anna kemudian melihat Noel yang akan bangun.