Virzha membawakan bubur yang sudah ia beli dari kantin tadi untuk kekasihnya yang sedang terbaring di ranjang UKS. Virzha cukup khawatir melihat bagaimana wajah Anna sangat pucat dan terlihat wajah itu memiliki banyak pikiran. Wajar saja, bagaimana tidak banyak pikiran jika kakaknya saja pergi meninggalkannya bahkan orang tuanya meninggalkan dirinya juga dengan cara yang sadis. Anna pasti memiliki banyak kesulitan dan pasti memiliki banyak pikiran sehingga gadis itu menjadi lebih tidak kelihatan sehat dan berakhir seperti orang yang kehilangan arah. Virzha paham bagaimana sakitnya tidak memiliki orang tua atau tidak diperhatikan oleh orang tua. Orang tua memiliki peran penting terhadap kehidupan sehingga ketika mereka berdua tidak hadir dalam hidup kita, semuanya seakan menjadi rancu dan tidak ada kesempatan untuk bahagia setelahnya.
Tangan Virzha mengayun untuk melihat dari jendela sedang apa gadisnya sekarang. Ia bisa melihat bahwa gadis yang sedang duduk sambil melamun dengan kaki yang digoyangkan dengan pelan. Namun, tatapan mata kosong itu kembali menggelayuti hatinya membuat dirinya merasakan kesedihan yang dirasakan oleh kekasihnya juga. Ia bisa melihat dengan jelas kesepian itu pasti terasa. Anna tidak memiliki banyak kesempatan untuk bahagia. Dia seharusnya bersyukur bagaimana kedua orang tuanya masih terlihat di hadapannya dan dirinya masih bisa memeluk kedua orang tuanya tersebut walau mereka selalu saja bertengkar dan membuat dirinya merasa stres terhadap itu. Namun, dia bersyukur masih memiliki keduanya masih bisa membalas budi pada kedua orang tuanya.
"Sayang," panggil Virzha membuat Anna menoleh kepada pemuda itu. Ia melihat senyuman yang terpatri di wajah itu membuat dirinya merasakan kebahagiaan dan juga merasakan kedamaian saat pemuda itu berdekatan dengannya. Sebenarnya Anna belum bisa mencintai pemuda itu dengan baik dan sepenuhnya seperti pasangan pada umumnya. Ia hanya memanfaatkan pemuda itu di atas segala kesepian yang ia rasakan dan ia nyaman saat bisa merasakan pelukan dari Virzha yang bisa mengobati segala kesepian yang melanda di hatinya. Tapi, di sisi lain untuk mencintai pemuda itu membutuhkan waktu yang begitu lama. Ia hanya takut kehilangan Virzha dan ia takut sendirian ketika ditinggalkan nantinya maka dari itu ia memilih untuk egois terhadap segala apapun yang terjadi antara dirinya dan Virzha. Ia tidak bisa merasakan kesepian itu lagi dan dia begitu ketakutan jika merasakannya. Hingga pilihan terakhirnya adalah membuat pemuda yang tidak tahu-menahu tentang hidupnya malah harus ada di hidupnya dan menyenangkan dirinya.
"Kamu dari mana aja dari tadi kok belum datang? Padahal kamu enggak denger tadi udah bel? Kelamaan tau datang ke sini." Anna menggembungkan pipinya karena sebal. Virzha tersenyum kemudian mengigit bibir bawahnya menahan kegemasan yang di tunjukkan oleh Anna.
"Aaaa sayang! Jangan gemesin gitu bisa gak sih? Aku gak kuat," sebal Virzha dan membuat Anna tertawa karenanya. Ia tidak bisa menahan tawanya hingga suara itu keluar dengan kuat tanpa di kontrol. Padahal hanya kata kata itu namun ia tertawa begitu hebatnya. Sebenarnya, Anna hanya sedang beralibi pada hatinya. Ia menyembunyikan rasa sakit yang ia rasakan dengan menyembunyikannya di balik tawa dan senyum tersebut.
Virzha mengenggam tangan Anna. Ia menatap kekasihnya itu dengan tatapan sendu namun senyuman terbit di wajahnya. "Anna, apa kamu tahu seberapa berharganya kamu di hidupku sampai-sampai aku nggak bisa hidup tanpa kamu dan berharap kamu adalah pilihan terakhir di hidup aku dan gak akan pernah pergi kapanpun itu. Aku bakalan selalu ada di sisi kamu dan menjadi tameng terkuat kamu di saat kamu nggak bisa lagi bertopang dengan siapapun. Anna, mungkin ini terdengar seperti sebuah kebohongan semata. Tapi, pada hakekatnya aku bersungguh-sungguh mengatakan aku sangat mencintai kamu dan ingin menjadikan kamu ratu di hidupku sampai kapanpun itu. Asal kamu tau Anna. Kamu adalah kado terindah dari Tuhan yang dikirimkan ke aku dan disuruh sama Tuhan untuk dijaga baik-baik. Maka dari itu kamu harus baik-baik aja percaya bahwa aku akan menjaga kamu kamu dimanapun kamu berada."
Kata-kata Virzha membuatnya merasakan debaran yang begitu kuat sehingga dirinya ingin sekali memeluk pemuda itu dengan erat. Dan, pada akhirnya dia memilih opsi tersebut dengan membentuk Virzha sebegitu eratnya. Anna bagaimana merasa bersyukur ketika dia diciptakan ada seorang Virzha di sampingnya. Dia merasa bersyukur di mana dirinya tidak lagi harus bersedih sendirian dan menangis sendirian ketika dia merasakan semua kegundahan itu. Anna bahkan ingin sekali mengulang waktu dan belajar untuk mencintai pria yang ada di hadapannya ini. Ia ingin melakukan yang terbaik untuk pemuda ini yang selalu saja mau menjadi tong sampah atas semua masalah yang ia hadapi.
"Sebenarnya aku itu rada bingung sama kamu karena kamu mau mencintai gadis yang gak sempurna kayak aku. Kamu mau mencintai seseorang yang bahkan nggak bisa membalas cinta kamu banding besarnya sama seperti kamu. Kamu seharusnya dapat yang lebih baik dari aku tapi kenapa kamu memilih aku? Kenapa kamu memilih seseorang yang bahkan nggak akan pernah untuk mencintai kamu sama seperti kamu yang besar mencintai aku."
"Bakalan ada waktunya kamu akan bilang kalau kamu tidak bisa hidup tanpa aku. Aku bakalan jamin suatu saat nanti kamu akan menangis saat melihat aku walau hanya dengan menutup mata aku aja mungkin kamu akan menangis dan merasakan begitu sangat sayang sama aku. Aku pastinya yakin untuk itu."
Anna menggeleng di leher pemuda itu. Ia menahan tangisnya jika mengingat suatu saat nanti Virzha bisa lari dari segala hal tentang hidupnya. Ia tidak bisa membayangkan jika pemuda itu tidak mau lagi dengannya dan memilih untuk pergi karena muak dengan segala hal yang terjadi di hidupnya. Anna tidak bisa memikirkan bagaimanapun caranya hidup sendirian jika pemuda itu benar-benar pergi. Ia hidup dengan normal seperti biasanya karena tidak ada lagi orang yang baik dan sangat sayang padanya berada di sampingnya dan selalu saja mendukungnya dengan segala hal dan perkataan yang selalu mendukungnya.
"Virzha, jika suatu saat nanti di antara kita berdua nggak bisa sama-sama lagi, aku harap kamu bisa menjaga diri kamu baik-baik aja karena aku gak bisa kalau melihat kamu kenapa-napa. Virzha, ketika aku mengatakan bahwa kamu adalah bagian dari hidup aku yang indah, aku nggak pernah bohong akan hal itu. Karena, kamu selalu saja menjadi kuping yang baik dan menjadi orang yang mau mendukung ku dalam hal apapun itu. Aku beneran gak bisa kehilangan kamu nantinya. Aku gak mau," rengek Anna dengan pelukan yang makin erat. Anna menangis dan kini ia menggeleng kuat saat tangannya di paksa lepas.
"Anna, kalau misalnya aku meninggal duluan gimana?"