Setelah perdebatan yang cukup alot tadi siang, Anna dan Virzha masuk ke dalam Mall dengan wajah dan gerakan kaku satu sama lain. Anna menghela nafasnya panjang. Padahal niatnya hari ini adalah untuk menaikkan mood yang sudah sedikit hancur dan menginginkan hubungan yang baik antara dirinya dan Virzha. Namun, kenyataan yang diterima sekarang ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi yang sesungguhnya. Kini, mereka hanya diam bahkan di sepanjang jalan dengan muter ke sana ke mari tanpa tujuan yang pas. Keduanya seperti orang kaku yang baru saja kenal satu sama lain beberapa saat lalu dan kini harus jalan berdua dengan ke duanya yang canggung.
Anna menarik Virzha untuk duduk di salah satu tempat makanan. Perutnya terasa lapar sekarang. Ia ingin makan sesuatu yang bisa mengenyangkan perutnya bukan hanya untuk snack saja. Ia meminta pada pedagang yang ada di mall untuk memberikan roti. Karena ternyata uangnya hanya untuk cukup membeli roti. Tidak apa, belakangan ini memang dia sudah berusaha hemat karena keadaan finansialnya benar-benar sudah buruk. Dan kebetulan baiknya adalah dia baru saja diterima di salah satu coffee shop yang terbesar di Bandung. Itu sudah lebih dari cukup untuk dia bertahan hidup selama beberapa bulan karena sebentar lagi juga akan ada pengumuman untuk ujian nasional. Ia akan kuliah sambil bekerja supaya Gama tidak terlalu pusing mencari uang lagi dan mereka akan cepat cepat membalaskan dendamnya kepada Noel.
"Kenyang kamu makan roti aja?" tanya Virzha dengan wajah yang masih sinis dan datar. Anna tersenyum kemudian menyebabkan roti ke dalam mulut Virzha. Pemuda itu masih menatapnya datar namun mulutnya mengunyah dengan gaya yang sangat lucu.
"Lucu banget sih," Anna mencubit pipi Virzha kemudian menciumnya berkali-kali. Anna sangat benar dengan perilaku yang ditampilkan oleh Virzha. "Anaknya siapa sih ini? Pacarnya siapa sih ini? Kenapa sih cowok ini susah banget baikkan dari ngambeknya. Kenapa ngambekkan aja tihhh, sayangnya aku," ucap Anna lagi dengan gaya yang di imut-imut kan. Sebenarnya dia sama sekali tidak terbiasa dengan perilaku seperti ini. Namun, jika ingin membuat kekasihnya itu tidak ngambekkan lagi, ia tidak apa-apa melakukan hal ini. Ia tidak masalah melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan.
"Kamu pasti suka banget ya sama Noel sampai-sampai pacar kamu sendiri aja kamu anggurin kayak tadi. Sayang, apa yang ada di Noel dan gak ada di aku? Aku udah berusaha semaksimal mungkin supaya kamu sama aku. Aku bener-bener gak mau kehilangan kamu. Pas kamu menatap dia dengan tatapan yang kayak gitu tadi, rasanya hati aku berdenyut. Aku seperti merasakan dikhianati. Tatapan itu seperti tatapan di mana Papa yang melihat mama melakukan tindakan selingkuh di depan Papa sama aku. Aku sama sekali nggak mau merasakan itu. Aku nggak mau terjebak dengan perasaan yang kacau kayak gitu." Virzha mengatakan hal itu dengan suara yang lirih. Ia menangis kala melihat Anna mendengus sebal. Pasti Anna marah padanya.
Anna kemudian menghela nafasnya panjang. Ia tau kalau Virzha ini tipekal cemburu. Dan trauma yang di alaminya dari pertengkaran antara Papa dan Mama nya pasti membuatnya selalu takut dalam berhubungan. "Virzha, listen to me. Aku nggak pernah mau menghianati kamu semenjak aku nerima kamu jadi pacar aku. Keliatannya iya, aku cuek. Tapi di satu sisi aku nggak mau kehilangan kamu. Aku pengen sama kamu terus. Aku pengen berdua sama kamu untuk berubah jadi lebih baik. Keliatannya aku seperti menyepelekan apa yang aku rasakan sama kamu dalam hubungan kita. Tapi, aku jujur tentang gimana perasaan kamu sama aku."
"..."
"Kamu tau, Noel memiliki masa lalu yang begitu buruk sama aku. Rasa untuk menghilangkan dia di muka bumi ini aja aku pengen. Aku pengen dia pergi dari dunia ini dan gak akan aku melihat dia lagi di sini. Tapi, asal kamu tau, karena masa lalu aku itulah aku gak mau kehilangan dia secepat itu. Aku harus menuntaskan apa yang harus aku tuntaskan. Di samping itu juga aku mikirin kamu. Aku gak pernah menyepelekan hubungan kita karena kamu juga berharga buat aku. Jadi, aku harap kamu percaya sama aku supaya aku tenang menjalankan semuanya."
Virzha menarik Anna di dekat pilar. Salah satu pilar di sana sepi sehingga tidak banyak orang yang melihat mereka. Virzha langsung mencium Anna tepat di bibir. Perlahan hanya kecupan namun lumatan-lumatan semakin mereka lakukan. Anna yang baru saja tersadar langsung ingin melepaskan namun Virzha menahannya. Pemuda itu mengeratkan pinggang Anna hingga menempel tepat padanya. Ia bahkan tak segan melumat kasar bibir kekasihnya itu. Bibir Anna terasa sangat candu. Ia menyukainya.
Anna yang daritadi hanya diam kini mencoba membalas ciuman itu. Ia mencium dengan perasaan asing di dadanya. Ingatan tentang di mana Noel mencium wanita lain di depannya mampu membuatnya merasa marah. Rasanya ia ingin menghancurkan seluruh tubuh wanita yang berani mencium Noel. Namun, ia juga tidak mungkin melakukan hal itu karena itu hanyalah sebuah kebodohan yang benar-benar bodoh. Jika ia melakukannya, itu sama saja seperti dia mau hubungannya berakhir buruk. Tidak, ia tidak akan melakukan hal itu. Ini bahkan sudah sangat parah kalau misalnya Virzha tau bahwa sekarang Noel mengikuti mereka.
Virzha menarik wajahnya dari Anna. Ia melihat tatapan sendu Anna. Sial, kenapa dia b*******h? Tidak, mereka masih memiliki masa depan yang panjang. Dia tidak akan membiarkan Anna di rusak olehnya. Anna menggigit bibirnya kala Virzha menatapnya dengan tatapan khas cinta. Anna yang kesal karena di tatap terus langsung mengalihkan wajahnya ke arah Noel yang menatapnya marah. Anna tidak peduli. Ia tidak akan peduli lagi dengan pemuda itu. Sudah cukup ia rasakan. Ia akan mencari kebahagiaan miliknya sendiri. Namun, di sisi lain ia akan belajar menembak dan apapun itu agar dia bisa menjalankan misi kakaknya.
"Sayang," panggil Virzha dengan mengecup leher Anna. Anna kaget kemudian menatap mata Virzha. Benar, di sana banyak sekali cinta untuknya. Lalu, kenapa dia berpaling dengan orang yang bahkan hanya menginginkan kebahagiaan dan keuntungan miliknya sendiri? Persetan dengan reinkarnasi ataupun takdir Tuhan. Noel harus mati. Itu yang ada di pikirannya. Ia tidak akan membiarkan pemuda itu mengambil seluruh hidupnya untuk di permainkan lagi. Sudah cukup rasa sakit yang ia derita selama ini. Ia sekarang hanya mau hidup dengan nama Anna. Bukan siapa-siapa di masa lalu. Setelah semua beres, ia akan segera pergi dalam hidup Noel dan menyisakan bangkai pria itu saja kelak.