Anna kaget saat keluar ia melihat Virzha tengah bersedekap d**a di depan kamar mandi. Gadis itu meneguk ludahnya kasar kemudian berusaha tersenyum dan tampil apa adanya.
"Virzha," panggil Anna menginterupsi Virzha saat pemuda itu tengah bermain ponselnya. Virzha menatapnya dengan tatapan yang biasanya namun sedikit dipaksa dengan senyuman.
"Kamu lama banget di kamar mandi. Aku pikir kamu pingsan di dalam," ucapnya.
"Nggak, tadi perut aku sakit banget. Trus, yaudah aku sekalian aja. Kamu kelamaan banget ya nunggunya?"
Virzha menggeleng pelan sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. "Nggak, kok, aku juga terbiasa menunggu kamu dalam jangka waktu yang lama. Hal kayak gini seharusnya udah jadi biasa buat aku."
Anna meringis pelan kemudian tersenyum. Gadis itu melangkahkan kakinya mengikuti Virzha. Ia berusaha meredam perasaan kesal yang ia rasakan saat tadi ia melakukan tindakan yang membuat siapa pun akan merasa sakit hati ketika kekasihnya dicium oleh orang lain. Anna sebenarnya sudah ingin mengatakan pada Virzha saat tangan pemuda itu ingin mengambil tangannya. Namun, perasaan takut untuk ditinggalkan itu menggelayuti hatinya. Ia terlalu takut untuk menerima kenyataan di mana nantinya seseorang yang sudah ia percayai untuk selalu bersamanya akan tiba-tiba pergi dari hidupnya. Ia tidak bisa menerima kenyataan tersebut dan itu hanya menjadi siksaannya karena dia akan terus-terusan merasa tidak ada siapapun yang mendukungnya di dunia ini.
Keduanya berjalan untuk memasuki gedung bioskop. Anna duduk menunggu di salah satu bangku di bagian antrian. Virzha tengah memesan tiket nonton. Gadis itu melihat Virzha yang sedikit gugup dan tangannya yang sedikit gemetaran membuat Anna menjadi heran. Pemuda itu sebenarnya belakangan ini terlalu banyak menghantui pikirannya. Sebab, beberapa hari ini Virzha terlihat kebanyakan gugup dan selalu saja memiliki raut wajah yang sedikit aneh dari biasanya. Pemuda itu jarang sekali menampakan aura yang ceria dan menghibur untuk beberapa hari belakangan ini. Sepertinya pemuda itu memiliki masalah dengan keluarganya. Anna sebenarnya ingin sekali bertanya kepada Virzha. Namun, di sisi lain dia tidak merasa bahwa hal itu adalah tindakan yang baik karena jika dia mau, pasti pemuda itu akan mengatakannya padanya.
"Udah selesai pesan tiket. Ayo kita tunggu di depan teaternya." Virzha menarik tangan Anna kemudian membawa gadis itu ke depan pintu teater. Selama mereka menunggu, keduanya hanya di temani dengan sunyi tanpa ada percakapan. Yang ada hanya suara orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar koridor. Anna sendiri sebenarnya merasa aneh dengan Virzha yang sedari tadi diam dan tidak mau berceloteh panjang seperti biasanya. Ia menarik nafasnya kemudian menghembuskan pelan. Itu semua terlihat oleh Virzha.
"Kamu gugup?" tanya Virzha.
"Hm? Gugup kenapa? Emang kita mau nampil?" tanya Anna dengan senyuman manisnya.
"Ya kamu abisnya tarik napas sampai sebegitunya. Aku kira kamu kenapa-napa."
"Nggak, emm btw, dari tadi kamu diam aja. Kamu ada masalah ya?"
"Nggak ada. Dari tadi aku diam kan karena ke sama kamu. Lagian aku harus ngapain sekarang? Jungkir balik?"
Anna terkekeh pelan. Ia membuka ponselnya dan melihat ada pesan dari kakaknya.
Mas Gama
Ann, ada beberapa formulir obat yang disimpan oleh Noel di apartemen milik dia. Kamu kalau bisa deketin dia dan ambil beberapa formula tersebut supaya masalah ini cepat selesai.
Anna memandang datar pesan tersebut. Ia juga kebingungan harus menanggapi hal ini seperti apa. Ia berusaha menjauhi Noel, tapi, di sisi lain dia juga berpikiran kalau dirinya menjauhi Noel, itu sama saja dia membiarkan kakaknya pergi menjauh dari hidupnya. Tapi, memikirkan perasaan Virzha sendiri juga menjadi masalah di pikirannya. Ia takut kalau Virzha menjauh dari dirinya sedangkan dirinya sendiri juga belum ada orang yang bisa membantunya dan menopang segala kesedihan yang ia punya. Anna benar-benar merasakan kebingungan yang teramat dalam. Ia berpikir keras agar dirinya tidak merasakan hal ini. Ia sedang berpikir untuk mendapatkan pikiran lainnya untuk pemecahan masalah ini.
"Sayang, kan, melamun lagi kamu," tegur Virzha hingga Anna melihat Virzha menatapnya dengan khawatir. Anna menggelengkan kepalanya kemudian melepaskan tangan Virzha dari pipinya.
"Aku kangen Mas Gama. Udah lama gak denger ocehan dia," ungkap Anna. Benar, dia sangat merindukan segala ucapan dari kakaknya itu. Sudah lama sekali dirinya tidak mendengarkan panggilan untuk sarapan ataupun makan siang dan malam dari Gama. Dia sudah lama tidak dengar bagaimana pria itu banyak mengoceh hanya untuk menanyakan bagaimana kabarnya. Anna bahkan sangat kesal jika Gama sudah mode rusuh dengan mengganggunya yang sedang diam saja. Ia merindukan semua itu. Semua hal yang entah kenapa jadi sesuatu yang sangat langka untuk ia dapatkan.
"Padahal Mas Gama kamu tau kan dia di mana," ucap Virzha membuat Anna tersedak ludahnya sendiri. Ia menatap Virzha yang memandangnya dengan tatapan yang sukar untuk Anna mengerti.
"Kenapa bisa bilang begitu?" tanya Anna yang penasaran.
"Yaa, karena aku pikir gimana bisa kamu gak tau. Cuman itu aja sih pikiran aku. Emang kamu beneran gak tau di mana Mas Gama?"
"Kalau aku tau, aku gak mungkin rindu sama dia. Aku gak mungkin bilang kalau aku kangen sama kelakuan dia. Ya karena aku gak tau."
"Oke, aku minta maaf. Mungkin aku salah bicara," kata Virzha kemudian mereka saling diam kembali. Anna merasa sesak sekarang. Ia ingin pulang saja rasanya. Semenjak keluar dari kamar mandi dan menjumpai pemuda ini di depan kamar mandi, ia bisa melihat banyak keanehan dari sifat Virzha. Pemuda itu jadi seperti rajin sekali untuk marah atau menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa. Ini jauh sekali dari perkiraan dirinya yang sering melihat wajah ceria itu.
Pintu teater 5 telah di buka
Kedua pasangan itu masuk tanpa memegang tangan seperti awal. Mereka hanya saling diam bahkan sampai masuk ke dalam studio bioskop. Bagaimana bisa keduanya hanya diam di antara banyaknya manusia yang berpacaran di dalam ruangan ini. Dan, pas sekali ada adegan romantis yang di sajikan dari film yang mereka tonton. Anna tetap memandang datar film tersebut. Dia sedang malas untuk banyak bicara. Sial, pikirannya benar-benar kacau sekarang.
Adegan yang di tampilkan di layar tancap sangatlah biasa. Hanya penampilan dari salah satu aktris pendatang baru yang tampan hingga langsung mencuri perhatian. Aktingnya biasa saja dan hanya bisa ia ikuti dengan wajah yang tidak terlalu b*******h. Totalitas akting pendatang baru memang masih sekaku itu bukan? Namun, di tengah kemelut pikirannya itu, ia merasakan ada tangan yang tiba-tiba memegangnya. Ia melihat kesamping dan terkejut dengan seseorang itu.
"I got you no matter what."