Anna sepertinya ingin menarik kembali kata-katanya yang mengatakan bahwa dia sudah hilang kesalnya kepada guru barunya tersebut. Karena apa? Sekarang dirinya sedang di sidang oleh gurunya karena perbuatan yang sebenarnya bukan menjadi tanggung jawabnya. Anna dari tadi sudah menolak omongan dari gurunya tersebut namun dia seakan-akan tidak boleh melakukan pembelaan atas dirinya. Yang lagi-lagi membuat Anna ingin sekali menimpa kepala pria ini dengan timah panas. Karena sekesal itu dirinya pada pria ini.
"Jadi, kamu tidak memperhatikan bahwa teman-teman di kelas kamu banyak yang absen seperti ini?" tanya Noel dengan kakinya yang menyilang di bangku kebesarannya. Terlihat sekali aura intimidasi dari mata tersebut seakan bisa saja menghunus siapapun manusia yang melakukan tindakan yang tidak ia sukai. Anna bisa merasakan aura kuat yang terpancar dari pria ini. Aura penguasa yang seakan menyuruh semua orang harus tunduk padanya.
"Saya hanya bertanggung jawab untuk mengisi absensi jika ada yang hadir, sakit ataupun izin. Lebih dari itu saya tidak melakukan hal yang sepertinya bukan menjadi tugas saya," lugas Anna memberi tahu sanggahan dari Noel.
"Saya rasa kamu harus tahu bahwa setidaknya kamu bisa berkontribusi untuk membantu para guru menyelesaikan tugas mereka walaupun sedikit. Karena tugas perangkat kelas memang membantu para guru untuk mengatur kelasnya. Saya melihat bahwa beberapa murid sedikit takut dengan kamu." Noel tidak bohong tentang itu. Ia bisa melihat bahwa beberapa anak takut pada Anna walau hanya ditatap dengan obisidan hijau tersebut. Anna seakan dominan. Alpha women yang bisa memerintah orang lain dan membuat mereka takut hanya dengan tatapan saja.
"Tapi bukan tugas saya untuk memberitahu mereka Pak. Saya juga bersekolah dan seharusnya saya tahu saya lebih mementingkan diri saya. Saya punya tugas di OSIS dan saya juga punya tugas di kelas. Saya akan memberitahu jika mereka melakukan pelanggaran. Namun jika mereka turut menurut absen seperti ini, emang selalu ada saja yang melakukan tindakan Pak. Namun tentu saya selaku murid tidak punya wewenang besar untuk itu. Karena tetap pada tempatnya bahwa saya adalah murid dan saya tetap menghukum para muridnya yang memang tidak bisa dibilangin sekali dua kali. Bukankah tugas guru untuk membimbing dan memberitahu para muridnya bahwa tindakan yang muridnya lakukan itu salah? Sekali lagi saya mengatakan bahwa itu bukanlah tugas saya dan bukan wewenang saya untuk mengatur para murid agar lebih baik dan lebih disiplin."
Noel tersenyum menatap tatapan mata itu yang menyiratkan bahwa penegasan yang dilakukan yaitu sedikit tidaknya melindungi kelasnya. Melindungi dirinya juga yang tidak suka diatur oleh siapapun. Noel bisa melihat dengan jelas betapa gadis didepannya ini tidak suka dengan caranya menatap dirinya. Bahkan aura yang dikeluarkan dari mulutnya ini entah kenapa menjadi sesuatu yang menurut Noel adalah hal yang lucu karena terlihat jelas bahwa gadis ini tidak menyukainya.
Anna menghela nafasnya. Ia memperlihatkan nama salah satu murid yang absen, "Pada saat pertama kali saya menjabat sebagai sekretaris, saya pernah menegur salah satu siswa ini. Namun setelah pulang saya sampai di pukul bahkan hampir dikeroyok karena dia merasa saya tidak berhak untuk melakukan itu. Tugas saya sebagai murid. Mengabsensi di kelas adalah kewajiban saya. Namun terlepas dari itu semua guru adalah peran penting untuk memberikan pendukung agar para murid tetap mau sekolah atau memberikan hukuman yang pantas untuk para murid. Jika murid nakal di hukum oleh murid juga, maka murid yang menghukumnya akan diberi pukulan oleh murid yang tidak suka di atur."
"Jadi menurut kamu murid tidak bisa mengatur murid lainnya?" Noel bertanya dengan alis dinaikkan sebelah hingga membuat Anna ingin menggeram dan melempar wajah sombong itu ke neraka.
"Bukan tidak bisa pak. Ketakutan para murid yang menghukum itu lebih besar karena apa? Karena banyak murid yang akan membalas dendamnya kepada murid yang menghukumnya. Apakah menurut bapak kami pantas mendapatkan itu padahal itu bukan juga pekerjaan kami? Anda mempunyai banyak robot yang bisa anda lakukan untuk menghukum para murid itu. Saya tidak mau kena imbasnya lagi," ungkap Anna. Tatapan matanya menampakkan bahwa ia tak gentar dengan percakapan mereka. Hal yang membuat Noel merasa takjub karena gadis itu bahkan tidak peduli bahwa ia adalah pemilik sekolah.
Noel tersenyum lalu mengembalikan tablet absensi itu ke Anna. Ia menatap Anna yang sedang merapikan beberapa nama yang sedikit berserak karena ulah Noel yang seenaknya memindahkan semuanya. Anna menggerutu dalam hati namun ia tak mau ketahuan. Walau bagaimanapun ia harus tetap mempertahankan prestasinya agar SPP nya bulan ini dan bulan lalu bisa lunas.
Anna mendapatkan beasiswa hanya setengah SPP saja karena sebelumnya ia gagal di semester dua di kelas dua belas. Hal yang langsung membuat Anna menangis namun Gama meyakinkan bahwa mereka bisa menyelesaikan perkara itu.
"Sehwa-ya"
"Hahhh" Nafas Anna tersengal saat suara itu kembali muncul. Ia menutup telinganya kuat kuat untuk mengusir suara tersebut. Pikirannya kacau bahkan saat tangannya gemetaran memegang kemeja Noel. Ia merasakan perutnya mual namun sangat sakit secara bersamaan. Ia mengatur nafasnya agar bisa normal kembali namun entah kenapa dia seperti mengkhayal. Matanya mendadak di serang dengan kegelapan hingga tubuhnya ambruk namun masih dalam keadaan sadar.
"Anna! Anna dengar saya?" panggil Noel yang secara tidak langsung gemetaran juga saat ia mendengar suara panggilan Noel. Ia tidak kuat hingga pada akhirnya jatuh pingsan.
-/-
Siang yang terik pada jam pulang sekolah membuat gadis yang terbaring di tempat tidur UKS itu mengernyitkan dahinya mengatur kontras cahaya yang masuk ke retinanya. Anna akhirnya terbangun. Kepalanya sedikit sakit seperti tertimpa buku-buku. Matanya mengedar kesana-kemari untuk mencari tau di mana dirinya sekarang. Hingga akhirnya matanya menangkap Virzha yang tengah menumpukan kepalanya di sisi ranjang sebelah kanan Anna. Anna tersenyum lalu mengusap pelan rambut kekasihnya itu. Virzha terbangun dengan mengucek matanya lalu menatap Anna yang sudah tersenyum menatapnya.
"Anna, udah bangun sayang?" tanya Virzha lembut dan penuh perhatian. Sesuatu yang selalu saja Anna senangi dari lelaki ini. Tulus adalah sesuatu yang jarang ditunjukkan oleh seseorang namun Anna menemukannya di Virzha. Anna bahkan tidak tau harus merasa bersyukur atau bagaimana karena dia di pertemukan oleh orang sebaik dan setulus Virzha. Lelaki yang tidak selalu saja menuntutnya untuk banyak bicara namun selalu saja memberikan perhatian lebih kepadanya.
"Kepala aku pusing banget masih nih," ungkap Anna dengan memegang kepalanya yang sepertinya masih sedikit berdenyut. Denyutannya tidak terlalu hebat namun membuat Anna merasa sakit juga. Bahkan deguban jantung Anna masih sangat terasa begitu kuat dan belum berganti normal menjadi biasanya. Anna menahan kembali getaran di tubuhnya saat ia seperti mengingat mimpinya kemarin.
"Kamu kenapa bisa pingsan sih? Tadi pagi kamu sarapan enggak?" tanya Virzha membangunkan lamunan Anna.
"Aku lupa sarapan," jawab Anna sembari tersenyum menenangkan Virzha. "Tadi malam juga aku lupa makan karena keasikan belajar. Tapi aku makan cemilan sedikit ditambah dibuatkan s**u sama Mas Gama. Mas Gama juga bolak-balik mengingatkan aku makan tapi aku emang lagi fokus buat belajar bahasa Prancis."
Virzha melotot pada Anna, "Kamu itu dikasih nafas supaya bisa hidup. Di kasih rezeki makanan supaya kamu makan dan supaya kamu sehat. Tapi kenapa sih cuman makan aja kamu susah banget? Apa perlu kamu sakit dulu sampai enggak bisa berdiri atau enggak bisa bangun baru kamu tahu betapa pentingnya kesehatan itu?"
"Mulai deh mode emak-emaknya lagi."
Virzha berdecak kesal, "Bukannya aku ngomelin kamu. Tapi aku kasih tahu kamu supaya kamu tahu betapa harus sehatnya kamu supaya kamu bisa beraktivitas dengan baik dan gak sakit kayak gini. Lagian kamu belajar nggak belajar juga bakalan pinter kok beda sama aku. Kamu bahkan udah di ajuin untuk mendapatkan beasiswa di luar negeri karena kemampuan kamu. Ngapain sih kamu berusaha sekeras itu padahal kamu juga manusia yang punya limited sendiri. Forsir diri kamu seperti ini juga bukan hal yang baik. Kamu bisa aja nantinya pingsan terus-terusan dan berakhir menderita suatu penyakit."
"Kamu mau aku mati?" celetuk Anna dengan polosnya hingga membuat Virzha menjitak pelan kepala kekasihnya itu.
"Nggak lah. Apaan deh. Aku hanya kasih tau kamu. Kamu tuh udah pinter. Udah jago bahkan udah banyak di akui orang-orang betapa hebatnya kamu bahkan dalam bidang sains sekalipun. Jangan takut begitu, Anna."
Anna menunduk pelan, "Tapi tahun lalu aku gagal bahkan aku disuruh bayar SPP setengah. Aku takut kalau misalnya aku gagal di olimpiade ini, 5 bulan lagi aku tetap bayar SPP itu. Walau setengah tapi SPP di sekolah kita kan mahal banget," ucapnya sendu. Ia hanya takut memberatkan kakaknya lagi. Ia tidak mau memberatkan dan memberikan segala tanggung jawab dirinya pada kakaknya. Dia ingin berusaha sendiri. Ia ingin meringankan beban kakaknya walau hanya sedikit.
Virzha memegang tangan kekasihnya, "Kamu tahu nggak kalau rezeki itu nggak bakalan kemana. Belum ada aja bukan nggak ada. Dan aku yakin kamu bisa menang di olimpiade itu."
"Kenapa kamu bisa yakin? Aku aja gak yakin"
Tangan Virzha mengerat dalam pegangannya, "Karena aku tahu pacar aku itu emang terhebat dan terkeren. Dia aja bisa ngalahin orang-orang yang olimpiade di beberapa provinsi waktu kamu ikutan olimpiade tingkat provinsi. Ini mah masih mudah buat pacar aku. Kamu tuh keren dan nggak usah di ragukan lagi deh. Aku aja udah yakin seyakin-yakinnya kalau kamu bakalan menang dan dapat medali juga uang yang banyak untuk bayar SPP. Aku mau bantuin kamu bayar SPP. Tapi aku takut nanti kalau aku bayarin kamu marah sama aku. Lebih takutnya nanti kalau aku udah bayarin kamu tiba-tiba minta putus sama aku. Aku gak mau hal itu terjadi," kata Virzha dengan ada yang sedih namun terkesan lucu bagi Anna. Pria yang sangat manja biasa saja menunjukkan sisi manjanya itu kepada Anna.
Anna mencium kening Virzha. Satu kebiasaan yang entah kenapa ingin ia lakukan pada lelaki itu. Hal yang mampu membuat Anna juga ikutan berdebar. Hingga akhirnya Virzha mendekat lalu memiringkan kepalanya menggapai bibir Anna. Anna tersenyum lalu mengusap bibir penuh pria itu ketika wajahnya semakin dekat.
"Anna, kamu harus tau bahwa aku sayang kamu. Sampai matipun aku sayang kamu"