Anna berlari ke belakang gudang. Ia menangis dengan begitu keras di sana. Ia ingin melepaskan sesak yang membelenggu di dalam dadanya hingga rasanya ia di paksa untuk mati dan tidak bernafas. Seluruh kekuatannya hilang begitu saja seakan semuanya memang pantas untuk hilang. Anna sudah tidak bisa lagi melakukan hal apapun kecuali menangis. Perasannya tidak karuan. Everything was too messed up and she herself didn't know how to act. Bagaimana ia harus membuang rasa sesak ini saja ia tidak tau. Bagaimana ia bisa hidup sendirian di dunia ini? Bagaimana semua orang membebani dirinya? Bagaimana semua orang berlaku seenaknya dengan memberikan beban itu dan membiarkan Anna sendirian menanggung dengan begitu beratnya?
Tuhan, rasanya Anna ingin sekali menyerah dalam hidupnya. Tapi, dia takut di anggap tidak tau diri. Ia terlalu takut kalau ia dianggap tak bersyukur. Namun, jika ditanya apakah dia merasa lelah dengan semuanya? YA! SHE IS tiring AND WANT TO GIVE UP IN LIFE OR KILL HERSELF! Namun, dia harus bagaimana nantinya? Kenapa dunia sekejam ini padanya? Kenapa dunia tidak memberikan jeda atas semua masalah yang ia punya? Mamanya sekarang bahkan tetap menjadi seorang cyborg yang menurut Anna bukan Mamanya. Iya, walau wanita itu berusaha keras meyakinkan bahwa ingatan tentang Mama akan meningkat dengan seiring waktu, tetap saja dia bukan Mama! Dia hanya robot yang diaktifkan kembali tapi dengan ingatan tentang Mama. Dan itu semua juga agar bisa mengontrol dirinya atas Noel.
Kurang menyakitkan apalagi hidupnya?
Semuanya hanya mengambil keuntungan darinya. Semuanya tak paham kalau dia hanyalah seorang gadis yang bahkan belum beranjak dewasa. Ia tidak punya banyak mental untuk menghadapi seluruh masalah yang menghampiri dirinya dengan bertubi-tubi. Ia lelah. Benar-benar lelah sekali.
Anna rindu Mama dan Papa. Anna rindu dengan segala celotehan di pagi hari tentang hal random yang dibicarakan mereka. Anna rindu dengan sarapan, dan makan malam bersama. Anna rindu dengan masakan Mama disaat hujan mendera bumi. Anna rindu saat Papa mengomel karena ia ingin diet padahal sudah kurus, padahal itu akal-akalan Anna agar Papa marah. Papa tipekal yang sangat jarang marah. Ia akan memilih tersenyum kemudian mengajak anaknya bercerita. Anna juga rindu di mana Papa tidak akan pernah absen memanggilnya Princess bahkan mencium pipinya sehabis ia pulang dari kantor.
For God's sake! Anna really miss those days
Semuanya berubah 360° dan dalam semalam semua hal itu menjadi sebuah bencana yang jika ia bisa menghindarinya ia akan memilih menghindar. Semuanya tidak mudah bagi Anna. Anna sangat lelah sekali. Gadis itu bahkan sudah menjambak rambutnya tapi tangan sebelahnya menahan bibirnya agar tidak mengeluarkan suara isakan tangis. Sial, The suffocating feeling was getting to her and ravaged her whole mind. Anna menghentakkan kakinya dan memukul dadanya dengan begitu keras. Oh, Tuhan, sesaknya bahkan tidak hilang walau sudah dipukul beberapa kali. Anna merasakan sakit luar biasa sekarang.
Anna memerosotkan tubuhnya. Ia menahan kepalanya dengan menutup wajahnya dan meletakkan kepalanya di lututnya. Ia memukul dadanya untuk menghilangkan rasa sesak yang ia rasakan. Pikirannya kini hanya kosong. Sudah tidak ada lagi yang bisa ia harapkan, kan? Apa lagi yang bisa menjadi alasan ia bertahan di dunia ini? Sudah tidak ada lagi hal yang membuatnya bahagia. Semuanya sudah sirna dan tidak ada lagi yang bisa ia lakukan kecuali menangis. Ia terlalu lemah. Di sakiti berkali-kali juga dia akan tetap harus merasakan baik-baik saja.
"Kak Anna?!" pekik seseorang dari arah kanan. Ia bisa melihat Maraka dan Ayana berdiri di sana. Menatap dirinya yang kacau. Maraka dan Ayana berjalan menghampiri Anna. Mereka berdua langsung duduk di samping gadis itu. Mereka bisa melihat Anna yang terlihat berwajah sembab dan tangan gadis itu gemetaran. Sepertinya dia baru saja mengalami hal yang buruk sehingga wajah yang biasanya menampilkan tegas itu menjadi tatapan yang sedikit sendu. Ah, tidak sedikit tapi banyak.
"Kak Anna kenapa?" tanya Maraka. Keduanya hanya mendapat gelengan pelan dari Anna.
"Kak, Ann. Kalau lo punya masalah yang gak bisa selesaikan dengan cepat atau dengan baik, lo bisa cerita sama gue. Lo nggak usah sungkan sama gue Kak. Gue tahu kalau lo sendiri enggak bisa menceritakan apa yang kau rasakan karena lo terlalu sering menyimpan masa lalu dan luka lo sendirian. Jadi, ketika lo terlibat suatu masalah, Lo jadi nggak bisa ngomong sama orang lain hei gue tahu itu masalah buat lo. Tapi, menyimpannya semua sendiri dalam jangka waktu yang lama itu sama aja dengan lo menyiksa diri lo." Ayana berbicara dengan nada lembut. Gadis itu memang kalau bicara jarang dengan nada kalimat yang menohok.
Anna tersenyum senang ketika melihat kedua adik kelasnya itu terlihat peduli padanya. Belakangan ia memang membutuhkan support system karena dirinya juga sering merasakan hilang arah. Dengan adanya mereka sekarang di sisi Anna, membuat Anna sedikit merasa lega dan bisa menormalkan pikirannya untuk tidak bergelut dengan segala masalah yang ia punya. Kedua adik kelasnya ini memang sangat baik. Keduanya juga memiliki nilai plus di mata guru. Apalagi, Ayana, gadis yang selalu saja memenangkan berbagai lomba puisi dan itu menjadi suatu kebanggaan bagi sekolah dan untuk dirinya sendiri.
"Kak, lo sadar nggak sih belakangan ini lo tuh kayak jarang banget berekspresi dengan baik. Lo seperti jarang banget untuk paham kalau lo juga butuh orang lain untuk memberikan obat di hati lo. Gue selalu berpikir terlalu kuat. But, That's also what makes me feel like I can't believe it if you don't want to believe in other people too. It's like looking down on other people who can help you."
"No, Maraka! Really, I'm not. Aku kadang selalu merasa kalau misalnya aku cerita masalah aku sama orang lain, apa orang lain itu bakal membantu aku atau enggak."
"Dan di antara semua orang, apa nggak ada yang bisa membantu lho dari segala kegundahan yang lo rasakan?" tanya Maraka lagi.
"Ya-ya ada sih. Cuman, ya lo taulah kalau gue nggak semudah itu ngasih tau sama orang lain apa masalah yang gue punya. Kadang ya gue mau cerita, tapi, disisi lain gue seperti enggak menerima kalau misalnya orang itu nggak bisa membela apa yang gue omongin. Maksudnya, setiap gue punya masalah sama orang lain, gue mah orang yang gue ajak cerita itu membela gue padahal gue tahu gue salah. Hal yang kayak gitu egois. Gue malah nggak bisa percaya sama sekali sama orang lain dan orang lain juga kalau diajak cerita sama gue bingung harus gimana. Dan, nggak semua orang bisa menerima semua masalah yang kita punya. Pasti mereka punya cara pandang mereka sendiri dan gue enggak siap jika cara pandang mereka ke gue itu jelek," ungkap Anna.
Ayana menghela nafasnya kemudian tersenyum lembut. Gadis bersurai panjang sepinggang itu memegang tangan Anna dengan erat.
"Kak, semua hal itu bakalan ada baik buruknya. Kalau misalnya lawan cerita yang kakak ajak itu nggak bisa memberikan hal yang positif untuk kakak, ya Kakak bisa menjauh dari dia dan cari teman yang lebih baik. Atau, misalnya dalam berkomunikasi si kakak yang nggak bisa menerima baik nasehat dari orang yang kakak ajak bicara, hentikan ceritanya dan cari temen yang buat kakak nyaman. Tapi, saran aku adalah emang gak semua orang tahu bakalan gimana perasaan kita ataupun dalam bentuk emosi apa yang kita punya. Tapi, ada baiknya kalau kita menerima omongan dia kan kita jaga baik-baik tanpa memikirkan egois yang kita punya. Tanpa kita sadari Kita jadi orang sombong yang gak mau menerima apapun yang orang lain nasehatkan sama kita. So, Kakak sekarang bisa baik-baik aja kalau kakak bisa membuka hati kakak."
"Ayana, it's not easy for me."
"Nggak semua hal memang terlihat mudah. Tapi, Kakak juga harus tahu kalau yang muda itu bisa membuat hidup Kakak lebih baik. Dan, kalau emang Kakak bener-bener enggak ada temen untuk cerita Kakak bisa temuin aku atau Maraka. Kami bisa membantu Kakak atau enggaknya bisa membuat Kakak merasa lebih baik. Jadi, ya nggak menangis kayak gini lagi," ucap Ayana hingga membuat air mata Anna jatuh dengan perlahan. Gadis itu menenangkan dirinya kemudian mengambil nafas dengan kuat dan menghembuskannya seakan membuang seluruh energi negatif yang ia emban di bahunya.
"Memang kalau jadi manusia itu mah susah. Adaaa aja masalah yang kita punya. Ada aja hal yang enggak Kita tahu cara penyelesaiannya itu gimana. Tapi, di satu sisi kita bisa tahu bahwa hidup itu ya nggak dengan masalah yang membuat kita down aja. Everything has its own value in our lives and we ourselves also have to know how to solve the problems we have. I hope that you will be fine after this." ucap Maraka dengan tulus. Ia kembali menangis membuat kedua di kelasnya menjadi bingung. Namun, mereka hanya mau diam dan memeluk kakak kelas yang sudah berusaha keras menjalani kehidupannya. Mungkin, mereka nggak tahu masalah yang cukup kompleks yang dialami oleh Anna. Namun, menjadi tempat bersandar untuk orang yang sedang merasakan banyak beban hidup sepertinya itu sudah sedikit meringankan beban yang ada di bahunya.