Ujian dimulai dengan pembacaan tata tertib dari pembimbing setelah sebelumnya pembimbing itu memperkenalkan dirinya. Namanya Baskara. Untuk mekanisme ujiannya sendiri cukup sederhana, sih. Hanya duel antar pemain sampai salah satu dari peserta menyatakan kalau ia menyerah atau sudah tidak mampu bangkit. Boleh memakai pisau, pedang, atau tinju biasa karena ini memang kelas jarak dekat. Subkelas untuk Ksatria ada tiga. Petarung jarak dekat, jarak menengah, dan jarak jauh. Untuk jarak dekat, senjata utamanya adalah pedang, pisau, atau tangan kosong. Tapi jarang sekali ada ksatria yang bertarung hanya dengan tinju. Untuk jarak menengah biasanya memakai tombak atau tongkat. Sementara jarak jauh biasanya memakai busur dan anak panah.
Kebanyakan Ksatria hanya mengikuti satu subkelas. Walaupun begitu, ada beberapa yang mengikuti dua, bahkan sampai tiga subkelas untuk ujian ini. Tapi, untuk mereka yang mengikuti dua atau tiga subkelas biasanya memiliki keterampilan tidak sebaik mereka yang hanya memiliki satu subkelas dalam setiap subkelasnya. Pengecualian untukku yang memiliki akurasi luar biasa untuk panahan. Maka dari itu, perbedaan penilaian juga dilakukan agar semuanya dihitung adil.
Aku sebagai salah satu peserta ujian dengan dual subkelas. Ujian pertamaku tentu jarak pendek, karena aku sedikit kurang ahli untuk jarak pendek. Tepat setelah pembimbing menyelesaikan pembacaan tata tertib, beliau mulai membaca barisan nama kami satu persatu. Dipilihnya secara acak dua nama yang akan maju ke lapangan tanding.
“Kalian tidak perlu sungkan atau menahan diri. Cukup keluarkan saja semua yang kalian bisa. Tidak perlu khawatir akan terluka atau melukai orang lain karena kami memiliki seorang penyihir penyembuh yang hebat. Tapi, jika lawan kalian sudah kehilangan pedang ataupun tekadnya, kalian dilarang menyerang.”
“Baik, Pak.”
“Bagus. Untuk peserta pertama, Ayu Wandira dan Galuh Ajeng segera maju ke depan.”
Kedua gadis itu maju ke depan dengan memegang senjatanya masing-masing. Keduanya sama-sama memakai pedang sebagai senjata utamanya. Pertarungan dimulai setelah aba-aba dari Baskara. Kilatan dari bilah pedang yang beradu diiringi kelincahan gerak membuatku yakin kalau bagi keduanya, pedang sudah seperti anggota tubuh. Sepertinya panitia mampu memilihkan pasangan duel yang imbang. Sudah hampir lima menit keduanya beradu. Kini hanya tersisa adu stamina antara keduanya. Aku bisa melihat kalau Ayu mulai melakukan beberapa kesalahan dalam mempertahankan gerakannya. Galuh yang sepertinya menyadari adanya kelelahan pada Ayu akhirnya melancarkan serangan agresif dengan melancarkan sabetan vertikal ke arah leher. Ayu menangkis dengan pedangnya begitu saja. Meskipun begitu, pertahanan Ayu terhadap tebasan Galuh sedikit goyah. Galuh mengangkat pedangnya dan menggunakan jegalan ke kuda-kuda Ayu, gadis itu kehilangan keseimbangan dan tersungkur. Galuh melancarkan serangan terakhir dengan mengarahkan pedangnya ke arah leher Ayu, pertandingan dimenangkan oleh Galuh. Baskara mengangkat tangannya tanda pertarungan telah berakhir. Kedua gadis itu bersalaman sekaligus membantu Ayu untuk berdiri. Keduanya melakukan hormat pada Baskara kemudian keluar lapangan.
Masuk atau tidaknya menjadi pasukan Laskar tidak serta merta karena menang pertandingan. Yang kalah juga masih ada kesempatan untuk menjadi anggota pasukan. Penilaian utama dilihat dari teknik bertarung dan potensi yang dimiliki calon peserta. Paman Hayam sendiri yang membocorkan perkara ini pada kami. Tapi kurasa sudah banyak yang tahu, dilihat dari ekspresi kekecewaan yang tidak terlalu jelas dari peserta yang kalah.
“Arakata Ratnaduhika Paramesti dan Chandra Sena. Kalian berdua diharap segera maju ke depan.”
“Semangat! Sampe kamu kalah, sungguh memalukan,” ucap Nara dengan nada bercanda sambil menepuk pundakku. Aku membalas dengan meninju perutnya. Jujur saja, ada bisik-bisik yang menjadi musik latar di antara peserta. Mungkinkah karena namaku terdiri dari tiga kata?
“Tenang, aku gak akan dikalahkan semudah itu. Tapi kayanya beda cerita kalau buat kamu.” Aku terkekeh mengejek. Ia dengan kesal menendangku begitu saja sampai masuk ke dalam arena dengan posisi tersungkur.
“Sialan lo, Narasimha!!” umpatku penuh penekanan. Semua yang menonton tertawa begitu saja menyaksikan adegan konyol ini. Bahkan peserta yang akan menjadi lawanku juga turut menahan tawanya di tengah arena.
“Maafkan saya, wahai tuan putri. Anda sudah ditunggu sejak tadi untuk masuk arena, tapi anda terlalu lama. Jadi saya hanya mempercepatnya saja.” Nara sedikit membungkuk seolah pelayan yang baru saja melakukan hormat pada majikannya. Terpaksa aku tak mengacuhkan ledekannya dan maju ke arah Chandra yang sudah bersiap dengan pedangnya.
“Bisa kita mulai, Tuan Putri?” tanya Baskara mengikuti ledekan dari Nara tadi. Pipiku memerah karena malu. Sialan. Di pinggir lapangan, Pak Baskara memelototi kami karena terlalu banyak bercanda. Terutama diriku sebagai objek utama candaan mereka.
“Maaf, Pak.”
“Ya sudah, lanjutkan!”
Sebelum mulai, aku dan Chandra bersalaman terlebih dahulu. Sebelum kami sama-sama mundur beberapa langkah. Aku menarik napasku panjang. Pedang biru yang kusampirkan di pinggang mulai kutarik untuk dikeluarkan dari sarungnya. Busur dan anak panahku sudah kuletakkan di pinggir lapangan dan dijaga oleh Nara sejak tadi.
Kakiku memasang kuda-kuda yang kokoh. Kedua tanganku menggenggam pedang menghadap ke depan. Aku sudah siap untuk menerima atau melancarkan serangan. Chandra sendiri juga melakukan hal yang sama. Tampaknya dia sedikit enggan menyerang seorang gadis. Terpaksa aku menyerang maju terlebih dahulu. Tusukan pedang mengarah ke dadanya segera dipatahkan dengan tangkisan ke arah kanannya. Ia memberikan serangan balasan dengan melakukan sabetan, seketika aku menekuk diriku ke belakang dengan posisi menghadap ke atas seolah sedang kayang. Aku segera berdiri sebelum Chandra melayangkan serangan lain. Pertarungan sengit kami berdua bagaikan saling memberi dan menerima. Dari teknik, aku dapat sedikit berbangga. Tapi dari cara pengeksekusian, lawanku berada di atasku. Terlihat dari betapa mahirnya ia mengayunkan pedangnya.
Aku hampir terpojok oleh tebasan pedangnya yang makin lama makin agresif. Pertahanannya juga lumayan kuat, sehingga untuk saat ini aku masih bertahan tanpa menyerang. Namun aku sadar, terlalu lama bertahan hanya akan merugikanku. Hingga kemudian satu kesempatan hadir saat arah tebasannya mulai melebar dan membuka sisi pertahanannya. Aku mengambil alih p*********n dengan menebas dari tengah dan membenturkan gagang pedangku ke arah tangannya. Pedangnya pun terlempar dan pedangku tepat di depan wajahnya. Aku menang.
Kami berdua berdiri di tengah lapangan dengan saling bersalaman.
“Kamu keren juga.” Remaja yang menjadi lawanku itu tersenyum manis. Sialan, dia tampan. Aku hanya tersenyum salah tingkah mendengar pujiannya, sebelum kemudian mengucapkan terima kasih. Kami berdua sama-sama meninggalkan arena.
“Cie, ada yang lagi kasmaran,” ledek Nara sekembaliku dari arena.
“Sialan kamu. Diem atau aku buat diem?” ancamku dengan pipi yang masih memerah.
“Heleh, bilang aja malu. Cie, ciee.” Nara menoel-noel pipiku tanpa dosa. Aku menginjak kakinya kencang, sementara ia makin terbahak.
“Udahlah. Aku mau ke tempat kedua. Masih ada subkelas jarak jauh. Jangan sampe kamu kalah. Kalau kamu kalah, kamu harus jadi pelayanku seminggu.” Tantangku padanya yang telah berhenti tertawa.
“Licik juga ya, kamu. Tadi aku nggak ngajak taruhan, loh. Kalau aku menang, gimana? Harus saling menguntungkan dua pihak dong.” Nara membuka jalur negosiasi. Aku berpikir sejenak sebelum akhirnya menyetujui usulannya.
“Oke, kalau kamu menang, kamu aku kasih dua permintaan. Bebas mau minta apa aja, asalkan jangan yang mustahil. Udah dulu, ya. Aku buru-buru.” Aku menyambar busur dan anak panahku yang diberikan Nara karena dibawanya saat aku tanding tadi. Kini aku beralih ke lapangan lain yang menjadi arena memanah.
***
Anak panah yang terapit di antara jari-jariku dan busur kulepaskan ketika kurasa bidikanku sudah tepat. Suara anak panah yang membelah udara lalu menancap tepat di target yang entah kenapa membuatku kecanduan. Aku benar-benar menyukai ketika melihat anak panah yang kubidik dan kulepaskan dari tangan melaju ke arah yang kutuju dan mengenai target dengan tepat. Sudah tiga anak panah yang kutembakkan, dan semuanya tepat sasaran. Bahkan, salah satu anak panahku membelah anak panah yang lain sehingga hanya ada dua anak panah yang tertancap di target. Itu pun jarak mereka sangat dekat. Tiga anak panah terakhir ditembakkan pada target bergerak. Lagi-lagi aku berhasil mengenai target dengan tepat.
Nara menghampiriku dan memberiku handuk kecil untuk mengelap keringatku. Ia juga memberikan air minum yang disimpan di buluh bambu untuk kuminum. Aku memang mendapatkan urutan terakhir untuk panahan. Sehingga, lebih dulu Nara untuk selesai daripada aku.
“Gimana tadi? Menang, nggak?” tanyaku sambil mengembalikan tempat minum itu. Rasa segar dari air yang tahan dingin karena tersimpan di dalam bilah seruas bambu yang dibolongi sedikit dan diberi tutup itu mengalir begitu saja membasahi kerongkonganku. Mengenyahkan gerah dan panas karena daritadi berada di bawah terik dan dehidrasi karena berkeringat.
“Menang, dong. Keren, kan?”
“Nggak juga. Soalnya aku udah yakin kamu bakal menang. Jadi, mau minta apa?”
Nara terdiam sejenak. Lalu ia menggeleng, “Jangan sekarang. Aku masih belum pingin apa pun. Nanti aja, kalau udah waktunya.” Aku mangut-mangut saja.
“Omong-omong Wira udah selesai belum, ya?” tanyaku sambil menyapu sekitar. Sayangnya penyihir berada di sebuah stadion yang dikelilingi oleh mana agar tidak ada cerita serangan sihir yang menyasar. Jadi kami tidak bisa menonton begitu saja.
“Entahlah. Tunggu di depan aja.”
Arena tempat latihan ksatria bentuknya seperti lapangan yang luas, yang dibagi menjadi tiga tempat ujian dan dikelilingi oleh pagar. Sementara arena penyihir berada di sebuah stadion yang berada tepat di sebelah pagar lapangan luas ini. Stadion dan lapangan bersebelahan satu sama lain. Dipisahkan pagar, sebuah pendopo yang menjadi tempat kami berupacara tadi berada di belakang lapangan dengan jarak dua ratus meter. Bagian belakangnya lagi adalah daerah terlarang karena merupakan kediaman raja dan petingginya. Aku dan Nara memutuskan untuk menunggu di depan pintu masuk stadion dan lapangan yang memang bersebelahan. Satu tambahan lagi, pintu masuk untuk menuju pendopo memutar dari arah belakang stadion. Wajar saja, kasta dari pendopo lebih tinggi daripada stadion, apalagi lapangan.
Senyumku mekar ketika Wira dengan wajah tanpa ekspresinya keluar dari stadion. Mata kami beradu pandang, kemudian remaja itu berjalan mendekati kami setelah sebelumnya sempat terlihat seperti orang yang mencari sesuatu.
“Gimana ujiannya?” tanyaku saat ia sudah sampai. Nara menawarkan minum seperti ia menawarkan padaku tadi. Wira menerima begitu saja dan langsung ia minun tanpa banyak kata. Tepat tetes terakhir, ia menutup lubangnya dan diberikan pada Nara kembali.
“Lancar. Tinggal nunggu pengumuman.”
“Mau kemana dulu, nih? Aku lapar.”
“Tadi Paman Arya ke sini bawain makan siang. Nih, ada di dalam tasku. Mau makan di mana?” Nara menunjuk tas yang ia gendong. Aku menyisir keadaan sekitar. Sebuah pohon besar nan rindang berada di samping pagar terlihat teduh dan nyaman.
“Di sana aja,” tunjukku ke arah pohon itu.
“Oke, ayo ke sana.”
***