Kondisi di bawahku sangat kacau. Siluman tingkat rendah mengamuk tak terkendali membuat siluman-siluman tingkat menengah ke atas langsung menyegel mereka. Banyak juga siluman yang langsung memasangkan rajah gaib untuk mengurangi dampak mana hitam pada siluman tingkat rendah.
“Astaga, separah ini,” gumamku. Siapa sangka hanya karena niat jahat dari seorang bisa menyebabkan kekacauan sebegini besarnya.
Kami berniat melewati Lembah Hitam untuk memastikan sesuatu. Kecurigaan kami terbukti saat kami melintasi Lembah Hitam. Kumpulan mana yang ada di sana seolah ikut berbaur dan berpecah memengaruhi siluman tingkat rendah lainnya. Pantas saja efeknya sangat kuat sampai ke Negeri Siluman. Kami melewati sebuah desa yang sudah porak-poranda. Aku melirik Wira yang menatap desa itu penuh arti. Sepertinya memang itu adalah desa tempat Wira tinggal.
Perasaanku sedikit tidak enak untuk kembali ke Majapahit langsung. Rasanya seperti ada seseorang yang memanggilku untuk datang ke suatu tempat.
“Nara! Wira!” panggilku ke arah kedua sahabatku yang berada di sampingku. Nara dan Wira sedikit mendekat.
“Aku mampir ke Sekala Bekhak dulu, ya? Aku khawatir sama Bi Heera,” pamitku pada mereka.
“Tunggu! Aku ikut!” Nara langsung mengekor. Wira tak ingin ketinggalan, ia juga mengikuti Nara di belakangnya.
“Kalo kamu mau ke Majapahit duluan, bisa jalan dulu aja, Wir. Aku gak nyuruh kamu ikut, kok,” beritahuku kepada Wira.
“Nggak papa. Aku ikut kamu. Lagian aku juga pengen tahu desamu kaya gimana,” jawab Wira. Aku membiarkannya mengekor kami menuju Sekala Bekhak. Ketiga Sembrani yang kami tunggangi menuruti saja ke mana kami meminta. Aku memegang tali kendali yang memang di pasang di leher mereka dengan erat. Jujur saja, aku khawatir pada Bi Heera. Sekala Bekhak bukanlah desa yang besar. Sedikit saja penyihir dan ksatria yang bisa diandalkan. Bahkan, desa itu pernah nyaris rata saat Nagagini mengamuk di sana.
Sepertinya kekhawatiranku berdasar. Kumpulan celeng yang pernah kami temui saat kami hendak berangkat ke Majapahit sedang memporak-porandakan desaku. Banyak rumah yang terbakar. Pandangan mataku mendadak mendapati Bi Heera yang sedang terduduk di depan rumahnya saat seekor celeng sedang berlari dengan membabi-buta ke arahnya dan hendak menabrak Bi Heera. Aku yang marah langsung memerintahkan Sembrani untuk turun. Kuda Sembrani itu seolah menjawab amarahku. Buktinya ia dengan kecepatan penuh langsung menukik turun dan mengarah ke celeng yang hanya tinggal beberapa meter lagi dari Bi Heera dan menabrak celeng itu sampai terpental. Beruntung Sembrani bukanlah kuda biasa. Kuda itu langsung mendapatkan kembali keseimbangannya dan berdiri dengan tegak. Aku langsung turun dan mendekati Bo Heera yang nyaris terjatuh karena beberapa luka di tubuhnya yang lumayan parah.
“Bibi senang kamu pulang, Arakata,” ucap Bi Heera lemah. Aku langsung berlari dan menyangga wanita sepuh yang nyaris pingsan itu. Amarahku langsung bergejolak saat kudapati betapa parahnya luka Bi Heera. Wira dan Nara yang sudah turun dari Sembrani menghampiriku yang masih terdiam. Melihat kondisi Bi Heera yang sudah parah, Wira langsung berinisiatif memberikan sihir penyembuhan untuknya. Aku meletakkan Bi Heera pelan ke tanah. Jujur saja, hatiku sesak. Emosiku rasanya meledak begitu saja. Aku nyaris tidak bisa mengendalikan manaku yang tengah bergerak liar seiring dengan emosiku. Terlebih, aku melihat adanya Yaswanta yang ikut memporak-porandakan tanah tempatku tumbuh. Ia terlihat sangat senang saat membunuh seorang manusia yang lemah. Sekilas aku menoleh Bi Heera. Nampaknya wanita itu masih terluka sangat parah. Wira juga terlihat kelelahan saat mengeluarkan sihir untuk menyembuhkan salah satu orang yang sangat kusayangi.
“Kalian sudah keterlaluan!” ucapku dengan nada rendah. Aku memasang aura paling dingin yang pernah kukeluarkan. Bahkan, banyak dari siluman yang tadinya sedang asyik bermain dengan manusia langsung terdiam dan merinding.
“Kubilang, kalian sudah keterlaluan!” pekikku dengan melepaskan semua energi yang sudah kukumpulkan sebelumnya. Tiba-tiba semua celeng yang ada di sana membeku. Aku berjalan mendekati Yaswanta dalam wujud silumannya. Entahlah, aku bisa mengenalinya hanya dengan melihatnya. Mungkin karena aku sudah hidup di Negeri siluman dalam waktu yang lumayan lama, berlatih mana langsung di sana, makanya aku bisa dengan mudah berbaur dengan yang namanya siluman tanpa perlu masuk ke alam lelembut.
Yaswanta melihatku dengan gemetaran. Perlahan-lahan, efek dari mana hitam sepertinya menghilang. Aku masih tidak peduli dengan apa pun. Amarahku sudah sampai puncaknya. Saat aku sampai di tempatnya berdiri mematung, aku memegang dahinya sambil mengalirkan mana langsung ke ruhnya. Yaswanta berteriak sambil berguling-guling karena kesakitan. Berhubung dia berada dalam satu frekuensi telepati dengan anggota lainnya, satu kelompok itu berguling karena kesakitan. Tapi, aku tidak peduli.
“Pergi kalian dari sini! Jangan pernah tampakkan muka kalian lagi di hadapanku! Aku mengusir kalian dari negeriku, Negeri Siluman! Kalian tidak kuizinkan masuk ke sana apa pun alasannya! PERGI!” Aku membentak mereka semua. Seolah dunia menjadi hening dan suaraku tersebar ke penjuru Sekala Bekhak. Semua celeng berbondong-bondong berjalan dengan terhuyung keluar dari Sekala Bekhak dengan rasa sakit yang besar. Aku sengaja memberikan sihir yang menyerang gelombang telepati mereka. Jadi, mereka yang berada di satu saluran dengan Yaswanta akan merasakan kesakitan yang sama. Tapi, sebelum sepenuhnya pergi, Yaswanta menatapku dengan tatapan kebencian. Alasannya apa, aku bahkan tidak mengerti. Yang pasti, aku berhasil menyelamatkan tanah tempatku dibesarkan.
“Arakata, Bi Heera masih kritis. Wira masih belum bisa mengobatinya,” ucap Nara panik. Aku mendekati Wira yang terlihat kelelahan untuk mengobati Bi Heera. Padahal tugas kami masih banyak.
“Kamu istirahat aja, Wir. Aku yang lanjutin,” pintaku padanya. Wira menurut saja karena ia tidak membawa perubahan yang berarti untuk Bi Heera. Aku mengambil alih untuk mengobati Bi Heera yang masih kritis. Perlahan, kualirkan manaku dalam sihir pengobatan untuk mengobati Bi Heera. Ibarat disulam, luka Bi Heera perlahan menutup satu persatu. Pendarahannya juga sudah berhenti. Aku meletakkan beliau di dalam kamar setelah menyelesaikan semua pengobatanku.
Karena khawatir adanya serangan lain, aku keluar dan menuju ke tengah desa. Untung saja desa ini bukan desa besar, jadi mudah untukku memberikan rajah gaib untuk mencegah agar siluman tingkat rendah tidak bisa masuk.
“Pak, saya serahkan desa ini ke bapak. Tolong jaga Bi Heera dan penduduk lainnya. Aku sudah memasang pelindung agar mereka tidak bisa masuk ke sini lagi. Saya masih punya banyak hal yang perlu saya lakukan,” ucapku ke kepala desa Sekala Bekhak ini.
“Baik, saya akan menjaganya dengan sekuat yang saya bisa. Terima kasih, Nak Arakata. Kamu sudah menyelamatkan banyak dari warga ini.”
Aku menyerahkan sebuah botol ke arah kepala desa sebelum pergi.
“Ini kewajiban saya untuk mempertahankan tanah di mana saya dibesarkan. Ini adalah ramuan penyembuh. Gunakan untuk korban yang terluka. Kuburkan korban yang meninggal.”
Aku langsung meninggalkan kepala desa yang sepertinya sigap dengan perintahku. Kami bertiga langsung menuju Sembrani dan melanjutkan perjalanan kami.
“Ra, kamu kenapa dingin banget tadi?” tanya Nara penasaran.
“Aku benci dikhianati. Kukira dulu mereka benar-benar tulus dan menganggapku. Tapi, saat aku melihat mereka yang di luar batas, yang tersisa dari respekku cuma amarah.” Aku menjawab datar. Melihat Bibiku yang terluka parah seperti itu masih menyisakan amarah di hatiku. Ditambah pengkhianatan yang mereka lakukan seolah menambahkan minyak ke dalam api.
“Bukannya itu semua karena mana hitam, Ra?” tanya Wira. Aku tersenyum miring.
“Dibandingkan mana hitam, aku malah menemukan fakta kalau ada seseorang yang bukan siluman tergabung dalam saluran telepati mereka. Jejak mana hitam sama sekali tak kutemui.”
“Kamu tahu siapa dibalik ini semua?” tanya Nara.
“Kalo gua tahu nggak mungkin gua bingung, njir. Gua juga pusing sama masalah ini. Masalah sebiji aja kaga kelar-kelar. Entah penulis skenarionya mumet apa kitanya yang nggak becus,” jawabku mulai meracau.
“Bahasa asingnya keluar lagi,” gumam Wira dan Nara yang dapat kudengar. Ya, karena mereka bergumam di dalam telepatiku.