Nara menoleh untuk melihat siapa gerangan yang menepuk bahunya itu. Seorang laki-laki yang sangat familier tengah terbang di belakangnya bersamaan dengan sebuah karpet terbang. Ada beberapa barang unik yang memiliki kekuatan di dunia ini. Tapi, harganya nyaris tak masuk akal. Mungkin karena dia adalah anak orang kaya, makanya ia punya barang seperti itu.
“Perlu bantuan?” sapa lelaki pendatang baru itu.
“Menurutmu sendiri gimana?” balas Nara sedikit sewot. Ia sebenarnya tidak terlalu menyukai lelaki itu karena hal yang tidak bisa dijelaskan.
“La kok ngamuk. Aku beneran nawarin ini,” candanya. Nara semakin meliriknya tajam.
“Iya, aku butuh bantuan, Chandra Sena yang terhormat.”
Chandra tertawa mendengar nada kesal dari mulut Nara. Baginya, pemandangan ini adalah sebuah hiburan yang menggelikan.
“Berhenti tertawa atau aku jatuhkan kamu sekarang juga!” ancam Nara karena kesal ditertawakan oleh orang yang tidak ia suka.
“Haha ... santai, Nara. Lawan kita ada di depan sana, kan?” tanya Chandra. Mereka menatap kedua penyihir yang masih menatap mereka berdua dengan pandangan aneh.
“Oh, kupikir kalian sudah lupa pada kami,” sarkas penyihir berambut merah muda.
“Oh, iya. Aku hampir lupa kalo Nara nggak sendiri. Kan kalian keroyokan, jadi biar adil aku bantuin yang di sini. Biar adil. Omong-omong, walaupun kalian perempuan, aku dan Nara sama sekali tidak peduli. Karena kalian menghalangi kami untuk menyelamatkan nyawa banyak orang,” ucap Chandra panjang lebar. Penyihir berambut merah muda itu tertawa melengking.
“Kamu mau menyelamatkan dunia? Aku tidak peduli. Aku di sini hanya sedang melakukan tugasku. Menjaga dan mengawal kebangkitan rajaku agar bisa kembali ke dunia ini dan menjadi puncak pemerintahan. Jadi, bukan aku yang menghalangimu, tapi kamulah yang menghalangi kami untuk membangkitkan raja kami!”
Chandra tertawa. Tawa sarkas. Nara sudah gatal ingin menjawab.
“Kami menghalangi katamu? Kalau kami membiarkan rajamu itu lepas, seluruh dunia akan kacau. Hanya ada kekacauan dan kerusakan. Jadi, jangan salahkan kami kalau kami menghalanginya!” jawab Nara kesal. Sebenarnya ia sedikit tidak nyaman. Ada hal aneh di sini. Tapi, ia masih belum tahu di mana hal aneh itu terjadi.
“Tutup mulut kalian. Kamu juga, Ningsih! Kalian berisik. Kalau memang mau menghentikan kami, ayo serang dan hentikan kami. Kalau kamu tidak bisa, kamu hanya terlalu banyak bicara saja!” akhirnya gadis berambut merah itu berbicara. Gadis berambut merah muda yang dipanggil Ningsih tadi melihat gadis itu takut-takut.
“Maaf, Dyah. Aku terbawa suasana.”
“Oke kalau itu maumu. Ayo kita buktikan siapa yang terhebat,” tantang Nara. Chandra mendekat ke Nara dan membisikkan sesuatu. Bertarung di langit sangat tidak menguntungkan mereka. Chandra dan Nara sadar itu. Mereka hanya butuh strategi untuk menarik lawannya agar bisa bertarung di tanah.
Nara segera terbang dengan Sembrani ke arah Dyah. Chandra masih terdiam tempatnya. Sesaat sebelum ia menyerang Dyah, Nara membelokkan arah pedangnya dan membelah sapu terbang Dyah sebelum ia sempat meneleportasi diri. Chandra yang masih terdiam segera meloncat ke arah Ningsih setelah diam-diam mendekati musuhnya dengan memangkas jarak secara perlahan sampai batas terjang yang pas. Ia langsung menabrak Ningsih dan membuat wanita itu terjatuh dari sapu terbangnya. Chandra langsung memanggil karpet terbangnya dan mendarat dengan selamat, sementara Ningsih terjatuh ke bawah. Sebelum ia menyentuh tanah, penyihir itu langsung membuat mantra agar tidak terpelanting. Sapu terbang yang mulai terjatuh karena tidak adanya pemberi mana langsung ditebas Chandra tanpa pikir panjang. Dengan begini, kedua penyihir itu tidak akan kabur atau terbang lagi.
Bunyi gedebuk terdengar saat Dyah menyentuh tanah. Berbanding terbalik dengan Ningsih yang jatuh dengan estetik. Nara langsung turun dari Sembrani diikuti Chandra yang melompat dari ketinggian tertentu. Mereka berdua mengeluarkan pedang saat kedua penyihir itu sudah bangun dari posisi jatuhnya.
“Ayo, kita selesaikan di sini!” ajak Nara seraya mengacungkan pedangnya. Dengan jelas bisa terlihat kalau kedua penyihir itu kebingungan.
“Kenapa kalian tega menjatuhkan dan merusak sapu kami?” tanya Dyah dengan air mata yang berurai. Nara kebingungan dengan situasi ini. Tadi, perempuan itu berlagak seperti sangat berkuasa dan hebat, mengapa sekarang menangis hanya karena jatuh? Toh dirinya penyihir yang jelas-jelas bisa membuat bantalan sendiri dari sihirnya.
“Ya kalau kami membiarkan Anda seenaknya, kami yang susah. Secara kami ini spesialis jarak dekat dan darat, sementara kalian berada di wilayah kalian, jarak jauh dan langit. Jelas saja kami menjatuhkanmu,” jawab Nara santai.
Dyah yang tadinya sedang mengeluarkan air mata buayanya langsung kembali ke wajahnya yang semula.
“Berisik! Aku tidak peduli mau di darat atau di langit. Selama aku menang, berarti aku yang lebih hebat dari kalian,” ucap Dyah sombong. Ningsih malah terdiam mendengar ocehan Dyah.
“Oke kalau itu yang kamu pikirkan. Tapi kupikir, sepertinya kamu yang harus diam.”
Satu fakta menarik dari Chandra adalah kemampuannya melompat dan kecepatannya bergerak. Hanya Arakata yang sanggup mengantisipasi setiap gerakan remaja itu. Dari loncatan itu, Chandra berhasil melukai bahu Dyah. Perempuan itu kesal dan langsung ikutan menyerang membabi buta. Saat ia berhasil membaca serangan Chandra, Dyah menukar dirinya dengan batu yang tak jauh dari tempatnya. Chandra yang terkejut langsung memahami satu hal. Dyah memiliki kemampuan berteleportasi dan menukar tempat.
Di sebelahnya, Nara menyerang Ningsih yang memiliki berbagai sihir. Serangan Ningsih jauh lebih bervariasi daripada Dyah. Saat Nara menyerang, gadis itu selalu berhasil menjaga jarak dan membuat Nara akhirnya mundur. Tapi, pemakaian mananya lama-lama menjadi tidak efektif karena mana hitam yang dipakai dalam jangka waktu panjang dapat berakibat buruk untuk tubuh. Lagi pula mana hitam tidak bisa diisi ulang dari alam. Karena dengan menambahkan mana hitam ke dalam tubuh tanpa ritual tertentu akan membuat pemakainya menjadi gila.