Memasuki minggu keempat syuting, tubuh Acha mulai terbiasa dengan jadwal panjang. Ia dapat merangkai bunga tanpa menusuk jari dan tidak lagi melihat kamera setiap kali sutradara memberi aba-aba. Namun satu hal belum berubah: tim pemasaran masih mencari cara menjual kedekatannya dengan Kevin.
Sebuah video latihan tersebar di media sosial. Dalam video itu, Kevin memegang bahu Acha ketika perempuan tersebut hampir jatuh. Potongannya berhenti sebelum terlihat bahwa lantai licin akibat air dari properti.
Judul berita menyebut hubungan Acha dan Ryo retak karena orang ketiga.
Acha langsung menghubungi Ryo sebelum membaca artikel lengkap.
“Ada video aku sama Kevin,” katanya.
“Saya sudah lihat.”
“Terus?”
“Kamu hampir jatuh.”
“Ryo gak marah?”
“Saya marah karena lokasi kerjamu membiarkan lantai licin.”
Jawaban itu menenangkan, tetapi Acha mendengar ketegangan dalam suaranya. Setelah ditanya, Ryo mengakui tidak suka melihat ribuan komentar menjodohkan mereka.
“Saya tahu videonya gak berarti apa-apa,” katanya. “Tapi perasaan cemburu tetap muncul.”
“Aku bisa minta videonya dihapus.”
“Kalau itu bocoran ilegal, minta dihapus demi pekerjaan. Jangan lakukan cuma untuk mengatur perasaan saya.”
Acha melaporkan video kepada produser. Penyelidikan internal menunjukkan rekaman berasal dari ponsel salah seorang staf pemasaran. Ia mengaku sengaja mengunggahnya karena jumlah pembicaraan tentang film mulai turun.
Produser hanya ingin memberi teguran. Acha dan Kevin menolak. Tindakan itu melanggar kesepakatan dan menyeret pasangan mereka tanpa izin.
Kevin mengungkapkan bahwa tunangannya mendapat pesan hinaan setelah identitasnya ditemukan penggemar. “Dia bukan bagian film ini,” katanya. “Kenapa dia harus menanggung promosi kita?”
Dariel datang mewakili Acha dalam pertemuan. Ia menunjukkan klausul yang melarang penggunaan hubungan pribadi. Jika produser tidak mengambil tindakan, Panggung Baru dapat menghentikan sementara keterlibatan Acha.
Sutradara mendukung mereka. Staf yang menyebarkan video dicopot dari proyek, sedangkan perusahaan produksi menerbitkan klarifikasi lengkap mengenai kejadian tersebut.
Keputusan itu memicu masalah baru. Beberapa kru menuduh Acha memakai kekuasaan untuk memecat pegawai kecil. Acha meminta diadakan pertemuan terbuka agar semua orang mengetahui prosesnya.
“Saya tidak meminta dia dipecat dari perusahaan,” jelas Acha. “Saya meminta dia tidak lagi mengelola materi pribadi pemain setelah melanggar aturan.”
Staf tersebut tetap menerima gaji selama penyelidikan perusahaan. Acha juga menolak namanya diumumkan kepada publik agar ia tidak menjadi sasaran.
Suasana lokasi sempat dingin. Beberapa orang berhenti bercanda di dekat Acha karena takut ucapannya dilaporkan. Ia tidak mencoba memaksa mereka kembali ramah. Acha tetap bekerja, datang tepat waktu, dan membantu membereskan properti ketika jadwal selesai.
Pada sebuah adegan penting, tokoh Acha harus bertengkar dengan adiknya. Ia kesulitan karena dialognya mengingatkan pada pertengkaran bersama Firza mengenai rahasia Bram. Setiap kali mencapai kalimat terakhir, emosinya berubah menjadi kemarahan pribadi.
Sutradara menghentikan pengambilan gambar.
“Kamu sedang bicara kepada siapa?” tanyanya.
Acha mengakui pikirannya tertuju kepada Firza. Sutradara menyuruhnya menelepon sang ayah dan menyelesaikan hal yang belum terucap sebelum memakai perasaan itu untuk adegan.
Firza menjawab panggilan di tengah rapat. Acha mengatakan dirinya masih marah karena ayahnya menyembunyikan informasi dengan alasan melindungi.
“Ayah sudah minta maaf,” kata Firza.
“Aku tahu. Tapi aku masih marah.”
Firza terdiam, lalu mengakui permintaan maaf tidak mewajibkan Acha langsung berhenti terluka. Ia berjanji menunjukkan seluruh dokumen masa lalu yang mungkin berkaitan dengan keselamatan mereka.
“Ayah takut kamu menjauh kalau tahu Ayah juga pernah membuat keputusan buruk,” katanya.
“Aku mungkin marah, tapi itu beda sama pergi.”
Setelah percakapan, Acha kembali ke lokasi. Ia tidak lagi memakai kemarahannya kepada Firza sebagai bahan mentah. Dalam adegan, ia memusatkan perhatian pada tokoh dan hubungan yang tertulis di naskah.
Pengambilan berikutnya berhasil. Sutradara tetap meminta satu kali lagi, tetapi kali ini karena ingin pilihan berbeda, bukan karena Acha gagal.
Malamnya Ryo datang berkunjung tanpa memberi tahu media. Ia membawa makanan untuk seluruh kru agar kehadirannya tidak tampak sebagai pemeriksaan terhadap Acha dan Kevin.
Kevin menyambutnya dengan santai. Tunangannya ikut melalui panggilan video dan bercanda bahwa mereka berempat harus makan bersama setelah produksi selesai.
Acha memperhatikan Ryo berbicara dengan Kevin. Tidak ada persaingan atau ancaman. Kecemburuan Ryo tetap nyata, tetapi tidak mengubah Kevin menjadi musuh.
Setelah syuting, Acha dan Ryo berjalan mengitari lokasi toko bunga buatan. Ryo bertanya apakah Acha merasa bersalah karena staf pemasaran itu dicopot.
“Sedikit,” jawabnya. “Tapi kalau gak ada akibat, aturan cuma hiasan.”
“Kamu sudah memastikan akibatnya sesuai dan tidak mempermalukan dia.”
Acha mengangguk. Dulu ia sering menganggap batas sebagai larangan yang dapat dinegosiasikan jika bayaran cukup tinggi. Sekarang ia memahami batas melindungi semua pihak, termasuk orang yang melakukan kesalahan dari hukuman publik berlebihan.
Ryo menginap di hotel berbeda dan pulang keesokan pagi. Sebelum pergi, ia menyaksikan satu adegan. Acha sempat sadar dirinya ditonton, tetapi tidak memainkan ekspresi untuk membuat Ryo terkesan.
Ketika sutradara mengatakan selesai, Ryo hanya mengangkat jempol dari belakang monitor.
“Bagus?” tanya Acha saat jeda.
“Saya lupa itu kamu.”
Bagi seorang artis, pujian tersebut terasa lebih berarti daripada disebut cantik.
Beberapa hari kemudian, berita mengenai video Kevin mereda. Klarifikasi tidak mendapat pembaca sebanyak rumor, tetapi Acha tidak lagi mengukur kebenaran dari jumlah orang yang mempercayainya.
Ia menyelesaikan minggu keempat dengan satu pelajaran baru. Di depan kamera, sandiwara adalah pekerjaan yang disepakati semua orang. Di luar kamera, perasaan dan kehidupan manusia tidak boleh dipotong, disunting, lalu dijual tanpa izin.
Acha pernah hidup dengan mengaburkan garis tersebut. Kini ia menjaga garis itu tetap terlihat, bukan hanya demi dirinya dan Ryo, tetapi juga setiap orang yang bekerja bersamanya.
Pada akhir minggu, perusahaan produksi mengadakan evaluasi keselamatan dan privasi. Semua kru diwajibkan menyimpan ponsel saat latihan adegan tertutup. Pemain juga dapat melaporkan pelanggaran melalui pihak independen, bukan hanya kepada atasan langsung.
Staf pemasaran yang dicopot mengirim permintaan maaf kepada Acha dan Kevin. Ia mengakui tekanan menaikkan perhatian publik membuatnya mengabaikan akibat bagi orang lain. Acha menerima permintaan maaf tersebut tanpa meminta perusahaan menghapus evaluasinya.
“Kesempatan kedua gak berarti akibat pertama dibatalkan,” tulis Acha. “Semoga setelah pemeriksaan selesai, kamu bisa bekerja dengan aturan yang lebih jelas.”
Kevin membaca balasan itu dan mengatakan Acha terdengar seperti orang yang berbeda dari berita lama.
“Aku masih orang yang sama,” jawab Acha. “Cuma sekarang pilihan berikutnya beda.”
Sore itu ia melakukan panggilan video dengan Ryo. Mereka membahas kunjungan singkat, pekerjaan divisi baru, dan jadwal syuting yang kembali berubah. Tidak ada topik besar, tetapi keduanya tetap menyediakan waktu untuk bertanya apakah ada hal yang belum dikatakan.
Ryo mengaku sempat takut Acha akan menganggap kecemburuannya sebagai kurangnya kepercayaan. Acha pun mengaku hampir menyembunyikan video karena takut memulai pertengkaran.
“Untung kita bicara dulu,” katanya.
“Dan untung Kevin menangkap kamu sebelum jatuh.”
Acha tertawa. Rumor itu memang meninggalkan rasa tidak nyaman, tetapi tidak berhasil mengubah hubungan mereka menjadi panggung bagi penonton. Mereka menyelesaikannya sebagai Acha dan Ryo, bukan karakter yang diciptakan judul berita.