"Makasih ya, Pak. Saya juga ngucapin makasih Bapak sudah mau nganter jemput saya dua tahun ini. Saya sudah cerai sama Bian jadi Bapak cuma perlu nganter jemput Bian mulai sekarang."
Anye tersenyum manis seolah semua baik-baik saja. Tangannya dilambaikannya saat mobil yang tadi mengantarnya melaju kembali ke kediaman Jingga.
Mengambil kopernya, Anye berbalik dan berjalan memasuki gerbang setinggi kepalanya yang terbuka. Matanya melihat-lihat ke sekelilingnya, kontrakan yang ditinggalkannya dua tahun lalu, masih tampak sama dan tak banyak yang berubah.
Anye berhenti didepan satu pintu. tersenyum saat matanya melihat angka dua disana. Tangannya terangkat, mengetuk perlahan.
"Permisi. Assalamualaikum."
"Iya? Waalaikumussalam."
Anye makin tersenyum lebar. Padahal mereka baru satu bulan tak bertemu karena kesibukkan masing-masing, tapi rasanya benar rindu sudah menumpuk.
Cklek...
"Ya Allah Anye?! Huaaa gue kangennn!"
Cuma begitu. Dan Anye sudah terombang-ambing kesana-kemari dalam pelukan erat yang hampir membuatnya sesak.
"Hahaha. Astaga Kiya, sesak ini. Lepas, lepas Hiskiya Agatha!"
"Iya-iya maaf."
Ucapan itu diikuti oleh tubuh Anye yang mulai bisa rileks saat pelukan mereka perlahan terlepas.
"Lo mau nginep? Tumben dibolehin sama Pak Bian?"
Kiya bertanya kala matanya tak sengaja melihat dua koper berbeda ukuran yang berada didekat Anye.
Anye terdiam. Tak tau harus memulai dari mana.
"Ehh tapi gue belum makan siang. Lo ada makanan apa?"
Pengalihan pembicaraan khas dari Anye. Jika tadi pagi agar mengulur waktu karena dia sudah akan menangis, kali ini mengulur waktu karena dia juga sudah akan menangis dan bingung harus memulai pembicaraan dari mana.
"Gue cuma goreng ayam sama buat sambel terasi. Mau?"
"Kok gue nggak mau? Kan dari dulu makanan favorit gue itu."
Kiya terkekeh. "Gue kira selera lo udah beda."
"Beda apaan. Gue walaupun di dapur rumah tuh ya sungkan masak terasi, tapi kalo Bian udah berangkat kerja mah gas aja."
Anye ikut terkekeh setelahnya. Lalu pembicaraan mereka terputus karena Anye dan Kiya yang memilih masuk dan makan tanpa satupun yang membuka pembicaraan.
"Gue nggak tau lo punya masalah apa, tapi, lo nggak mau cerita?"
Kiya membuka suaranya saat Anye sedang mencuci piring bekas makan mereka di wastafel.
Anye menoleh, lalu membilas gelas terakhir sebelum berbalik dan berjalan lebih dulu ke ruang tamu diiringi Kiya.
"Gue udah cerai."
"Hah? Cerai dari Bian?"
Anye mendengus. Lah emang suami dia siapa?
Kiya langsung menutup mulutnya spontan.
"Maaf-maaf. Nye, lo serius?"
"Gue nggak pernah bercanda masalah ini, Kiy."
"Enggak-enggak. Maksud gue, kalian cerai, kenapa?"
Pertanyaan Kiya dibarengi dengan nada lembut penuh pengertian, membuat Anye kembali mengingat kejadian pagi tadi.
"Aduh kok lo nangis? Bian apain lo?!"
Kiya bertanya panik sambil menarik kepala Anye ke pelukannya saat Anye meneteskan air matanya sambil sesegukan, seolah sesak yang dirasakannya harus di lepaskannya secepatnya.
"Gue, hiks. Aduh Mama! Hiks, sesak banget, Kiy."
Akhirnya Kiya memilih diam. Membiarkan Anye menangis terlebih dahulu dengan tangan yang setia mengusap punggung bergetar Anye.
Setelah setengah jam, tangis Anye berangsur membaik. Dia tidak lagi sesegukan dengan air mata yang membanjiri pipinya. Jadi Kiya melepaskan pelukannya dan beralih menangkup kedua sisi wajah Anye kehadapannya.
"Sekarang bisa cerita?"
Anye mengangguk lucu. Membiarkan Kiya menghapus jejak air mata di wajahnya.
"Bian selingkuh."
"Hah?"
"Sama wanita rumah bordil."
"Hah?!"
"Wanita itu hamil, jadi aku putusin buat cerai supaya Bian bisa nikahin dia."
"Hah?!"
"Tapi kok rasanya sakit banget, ya, Kiy? Lo juga ngapain hah hoh doang sih?!"
Anye akhirnya kesal, meraup gemas wajah Kiya yang nampak masih melongo dihadapannya.
"Aduh. Iya maaf. Gue rada nggak percaya. Pak Bian main perempuan?"
Anye mengangguk.
"Di rumah b****l?"
Anye mengangguk lagi.
"Pak Bian gila? Perempuan itu hamil?!"
"Iya."
Kiya menggeleng takjub.
"Lo, mau nangis lagi?"
"Gue?"
"Iya. Nangis, lagi."
Anye terdiam. Matanya menerawang ke atas langit-langit kontrakan Kiya, sementara bibir bawahnya digigit kuat-kuat sebagai pertahan diri dari dinding penahan air mata yang hampir roboh, lagi.
Tapi akhirnya roboh juga saat melihat Kiya merentangkan tanganya dengan senyum menenangkan diwajahnya. Anye bergerak maju, menubruk Kiya dengan pelukan erat dan tangisan pecah miliknya.
Satu jam, dan tangis Anye baru reda dengan sisa sesegukan dan sisa air mata yang belum sepenuhnya mengering diwajahnya. Kiya bergerak pelan mengendurkan pelukan mereka, tangannya menjangkau gelas air putih yang selalu berada diatas nakas sebelah tempat tidurnya.
"Minum dulu, Nye."
Anye mengangguk dan menerima sodoran air putih dari Kiya, meneguk tiga kali dan mengembalikan gelas ke sang pemilik. Setelah lebih tenang, Anye bergerak menjauh dari pelukan Kiya dan duduk tenang diatas kasur.
"Udah bisa napas?"
"Gue napas dari tadi, Kiya."
Kiya terkekeh. Mencubit gemas pipi Anye yang ikut sembab seperti matanya.
"Kirain."
Anye menjauhkan tangan Kiya dari pipinya dan mencebik sebal.
"Do'a lo jahat!"
"Candaaa. Udah bilang sama ibu kost?"
Anye menggoyangkan kunci bermainan boneka yang baru saja diambilnya dari saku kulotnya kedepan wajah Kiya.
"Udah dooong."
"Beres-beres sekarang?"
"Iyalah. Dah ah, gue minggat dulu."
Melihat Anye yang sudah berdiri dan melangkah menjauh darinya, Kiya mencebik sambil ikut berdiri dan berjalan mengiringi Anye.
"Minggat mulu perasaan."
Anye berbalik cepat. Matanya melotot pada Kiya yang sudah cengengesan ditempatnya.
"Siapa yang minggat?!"
"Aduh tersinggung."
"Bicit!"
Kiya cekikikan masih dengan mengiringi langkah Anye yang sudah menarik kopernya dan membuka pintu kontrakan.
"Ngapain lo ngikutin gue?!"
Kiya melonjak kaget. Kaget saat tiba-tiba Anye sudah kembali berbalik menghadapnya lengkap dengan mata melotot sok seramnya.
"Lo mah baperan."
"Biarin!"
"Yaudah gue balik."
Mendengar gerutuan Kiya barusan, Anye menarik lengan Kiya kuat. Spontan membuat Kiya urung berbalik dan malah tertarik kearah Anye.
"Nggak ada! Ikut gue!"
"Ya Allah, Nye. Drama lo."
Kiya geleng-geleng kepala. Menurut saja saat Anye menariknya hingga mereka tiba didepan pintu kontrakan yang berhadapan langsung dengan kontrakan Kiya.
"Kasurnya diganti baru, ya?"
Anye berucap saat mereka melangkah masuk, kontrakan itu terlihat bersih meski kata Kiya sejak dua tahun lalu tak ada yang menempati.
"Kayanya ibu kost kemarin mungut ditempat sampah deh."
Anye mencebik.
"Gue serius."
"Iya. Padahal lo baru kabarin pagi tadi, tapi ibu kost langsung manggil orang buat bersih-bersih plus ganti kasur dan dikasih bonus kipas angin."
"Nanti gue kasih terimakasih plus-plus."
Kiya tertawa. Pemilihan kata milik Anye sejak dulu memang menakjubkan.
"Gue keluar cari makan deh. Lo kan tinggal beberes baju tuh. Bentar gue balik."
Anye mengangguk mengiyakan, sementara tangannya mulai membuka kopernya satu persatu untuk kemudian disusun kedalam lemari yang sudah dibukanya lebih dulu.
"Assalamualaikum."
"Waalikumussalam."
---
Selesai dengan lemari pakaiannya, Anye bergerak duduk diatas kasur dengan tangan yang memegang map berisi surat-surat penting miliknya. Bibirnya bersenandung lirih sembari matanya awas membaca lembar demi lembar ditangannya.
Sebenarnya Anye agak ragu. Mengingat dia baru saja dijatuhi talak beberapa jam yang lalu dengan status janda yang masih semu, Anye menjadi agak takut untuk mulai kembali melangkah keluar mencari pekerjaan ditengah masa iddahnya yang bahkan baru dimulai.
Tapi apa boleh dikata. Hidupnya masih harus terus berlanjut. Meski dengan deret angka didalam buku tabungannya, Anye tak mungkin selalu bergantung disana. Terlebih, belum tentu lamarannya akan langsung diterima kan? Anye masih perlu menyiapkan banyak lamaran dibanyak tempat setelahnya nanti.
Anye menyusun kembali berkas dengan rapi keatas nakas saat mendengar suara pintu kontrakan yang dibuka dari luar.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
"Udah?"
Anye tersenyum. Lucu dengan kepala Kiya yang muncul miring begitu saja di pintu kamarnya.
"Udah. Makan dimana?"
Anye berucap sambil berdiri dari duduknya, berjalan menghampiri dan menggandeng tangan Kiya yang membawa seplastik makanan untuk makan siang mereka.
"Gue ambil piring dikontrakan. Di teras aja ya?"
Anye mengangguk setuju. Mengambil alih kantong plastik, dan mendorong Kiya keluar kontrakannya.
"Minumnya?!"
Anye agak berteriak saat bertanya, mengingat dia sudah duduk diteras dengan Kiya yang sudah masuk kedalam kontrakan.
"Gue ambil!"
"Oke!"
Sore ini masih sepi. Karena ini masih hari kerja dan jarum jam masih menunjuk angka empat, jadi beberapa orang yang juga mengontrak dibedeng itu belum pulang dari kegiatan rutinnya dan hanya ada mereka berdua disana.
Kiya ya, Kiya hari ini memang sengaja mengambil cuti bulanannya dan malah tidak sengaja bertepatan dengan datangnya Anye. Dalam hati Anye bersyukur, setidaknya dihari yang rapuh ini dia memiliki Kiya yang bersedia memberinya sedikit ketenangan.
"Heh! Malah melamun. Ambil itu gelasnya, gue nggak kepegang."
Anye mengangguk dan bergerak menjauh dari Kiya yang memandangi punggungnya dengan tatapan tak tentu arti. Terlalu banyak yang tersimpan dibalik mata sendu itu. Entah sama sendunya, atau lebih dalam rasa sakit dan kecewanya. Mengingat bahwa dua tahun lalu dialah yang menjadi saksi bagaimana cinta dan tanggung jawab yang seorang Bian agungkan untuk Anye.
Akhirnya tanpa sadar Kiya melamun, dengan isi pikiran yang carut marut tidak tekeruan. Sampai akhirnya Kiya terkejut dengan kedatangan Anye yang duduk sambil menepuk bahunya keras.
"Melamun! Baru juga ngatain gue."
"Emang melamun tuh menular, Nye."
"Dih? Apaan?"
"Ya menular. Buktinya gue melamun."
"Kalo lo pusing atau nggak nyangka. Artinya kita sama, Kiy. Tapi hari ini ditutup sampai sini aja, ya?"
"Gitu, ya?"
Anye mengangguk, tangannya mulai bergerak membuka bungkusan diatas piring.
"Iya. Udah nih, makan."
"Iyaaa Anye."
Cerita sore itu diakhiri begitu saja. Dengan Kiya yang tertawa dan Anye yang mendengus tak puas atas jawaban Kiya.
Hari ini, cerita Anye diakhiri dengan rutinitas yang sudah menjadi keharusannya. Mandi dan sholat, maghrib dan isya dengan membaca Alquran sebagai penutup. Anye menutup hari dijam sembilan malam, tidur sebagai istirahat dan pengisi tenaga untuk besok membuka buku baru yang halamannya masih kosong tak bertinta.
***