"Mas--ehh, Bapak pemilik Samudera Corp?"
Anye bertanya pelan. Ngeri juga kalo sudah berhadapan langsung seperti ini. Sesekali Anye bahkan harus mengelus punggung tangannya sendiri, gugup, tapi kali ini berpuluh kali lipat lebih gugup karena sebelumnya dia sudah--sedikit-- kurang ajar pada Vano yang notabenenya bosnya sekarang.
Vano menoleh sebentar lalu kembali menatap ke depan.
"Panggil saya Mas."
Anye memutar bola mata, sekarang malah merasa menyesal sudah takut. Orang Vano-nya saja masih sama menyebalkan nya.
"Iya iya, jadi Mas yang punya semua ini?"
Anye mengulangi pertanyaanya.
Vano terdiam sebentar lalu menjawab pendek.
"Iya."
Satu kata yang keluar dari mulut Vano malah berhasil membuat Anye gelagapan sendiri. Rupanya Vano sungguh bos besarnya.
"Maaf ya Mas, tapi nama Mas itu sebenernya siapa?"
"Devano, bukankah seharusnya kamu sudah mengetahui nama atasan kamu?"
Anye hanya menunduk dalam, dia benar-benar tidak mengetahui nama Devano Devano disebelahnya ini.
Lalu dia salah?
"Ehmm, anu pak--ehh Mas. Mas bisa pertimbangin lagi loh, saya beneran gak ada minat dan bakat untuk jadi sekretaris. Mungkin saya bisa gantian lagi posisinya sama sekretaris lama Mas, ya?"
Vano menatap Anye, agak tajam meski tak membuat Anye takut.
"Keputusan saya sudah bulat. Siapa kamu berani ngatur saya?"
Jederr....
Lah Vano benar.
Oke baiklah, Anye kalah kali ini. Mungkin dari tidak ada minat dan bakat maka akan tumbuh rasa makin tidak ingin menjadi sekretaris dari bos pemaksa macam Vano ini.
"Baik-baik."
Vano kembali menatap ke depan. Dia menekan beberapa kali layar benda pipih ditangannya sebelum benda pipih itu ditempelkannya ketelinganya.
"Berkas dan laporan yang belum kamu selesaikan langsung taruh ke meja saya. Kamu bisa langsung pindah dari meja itu."
Anye tebak bahwa yang ditelepon Vano adalah lelaki yang tadi berada didalam lift yang sama dengan mereka. Sekretaris lamanya.
Setelah merasa kalau Vano telah memutuskan sambungan telponnya, Anye berucap pelan.
"Saya.."
Vano menoleh kepada Anye, menunggu kelanjutan dari kalimat Anye.
"Panggil Bapak boleh, ya? Saya gak sopan banget manggil Mas."
Vano menggeleng. Kekeuh tak mengizinkan.
"Panggil saya Mas."
Astaga, Anye benar-benar baru menemukan lelaki pemaksa macam Vano ini. Ngomong-ngomong dimana Anye bisa mendaur ulang bos barunya ini? Agar supaya bisa diproduksi menjadi orang yang lebih baik lagi, dan bisa lebih berguna bagi kesehatan mentalnya.
"Baiklah, Mas Vano."
Anye memberikan senyum kepada Vano. Tentu saja senyum yang dipaksakan, lebih tepatnya sangat dipaksakan.
Setelahnya Anye kembali menatap pantulan dirinya pada cermin di dinding lift. Anye tidak menyadari bahwa senyum paksanya tadi berhasil membuat Vano tersenyum untuk kali kedua pagi ini.
Vano benar-benar tidak menyangka dirinya bisa jatuh sangat cepat pada wanita berjilbab disebelahnya. Vano akan memiliki wanita ini apapun konsekuensinya. Kalau dia istri orang, maka Vano tidak akan segan-segan merebutnya dan jika Vano beruntung berarti wanita disebelahnya ini masih berstatus single sehingga dirinya mudah untuk mendapatkannya.
---
"Jadi, kebetulan sekali saya belum tau nama kamu, bisa mengenalkan diri terlebih dahulu?"
Vano dan Anye sekarang sudah duduk berhadapan di ruangan Vano dengan dibatasi meja kerja. Anye menganggukkan kepalanya, dia benar-benar lupa mengenalkan dirinya karena terlalu sibuk terkejut dari tadi.
"Perkenalkan nama saya Anye, Anyelir Gilsha Hizbya. Saya hampir berusia 26 tahun dan saya janda tanpa anak."
Pada kalimat terakhir Anye mengecilkan suaranya. Kenapa dirinya malah memberitahu statusnya kepada Vano?
Kepalanya menggeleng pelan. Memang sejak awal dia sudah slengekan sepertinya.
Vano terlihat menganggukan kepalanya, tenang. Padahal didalam hatinya sudah jingkrak kegirangan karena tau bahwa Anye single. Padahal lagi, kan belum pasti Anye single.
"Baiklah Anye, meja kamu tepat berada diluar pintu ruangan saya."
Anye mengangguk karena tadi dia sudah sempat melihat meja kerjanya.
"Tugas kamu ringan, kamu hanya perlu menyusun jadwal saya, memberikan berkas-berkas dan laporan yang kamu dapat dari karyawan kepada saya, tentu setelah kamu koreksi, dan selalu mengikuti kemanapun saya pergi."
Vano menjelaskan lagi, kali ini dengan sedikit detail. Setidaknya dia mengetahui bahwa sebelumnya jabatan Anye bukan sebagai sekretaris yang berarti ini kali pertama Anye menjabat sebagai sekretaris.
Tapi berbeda dari Anye yang malah terfokus pada kalimat terakhir dari Vano.
Ikut kemanapun saya pergi. Maksudnya kemana?
"Ikut kemanapun Mas pergi? Misalnya?"
Vano menghela napas, agaknya bagian terakhir hanya terkhusus bagi sekretarisnya saja karena memang pekerjaan sekretarisnya juga termasuk mengurus dirinya. Sedikit banyak seperti itulah.
"Begini, misalnya saya ada pertemuan atau meeting kamu harus selalu ikut. Dan misal saya dinas keluar kamu juga harus ikut."
Itu lumrah dan wajar, kan? Sekretaris memang harus selalu mendampingi bos, kan?
"Luar negeri? Kota?"
"Bisa negeri bisa kota. Kamu tau 'kan seberapa banyak cabang Samudera?"
Anye mengangguk. Dia tau. Tapi agaknya Vano sedang membanggakan diri sekarang.
"Intinya kamu harus siap sedia 24 jam jika saya butuh."
"Lah? Terus saya gimana? Masa ngurusin Mas aja. Saya juga hidup Mas, kalo lupa."
Anye berceletuk nyinyir.
Vano tersenyum samar. Wanita didepannya ini benar-benar, luar biasa.
"Dan ya, kamu janda tapi bebas 'kan?"
Anye mendelik. Ambigu sekali pertanyaan Vano ini.
"Maksud Mas apa nanya gitu? Saya bebas kok, seminggu yang lalu baru banget ditalak, ehh?!"
Anye kicep seketika. Kenapa malah keceplosan coba?
Vano takjub seketika, merasa baru menemukan wanita seperti Anye di tiga puluh dua tahun hidupnya ini.
"Baik baik, kamu bisa tinggal di rumah saya jika kamu merasa kerepotan harus pulang pergi 24 jam ngurusin saya."
Vano jelas mengada-ada. Mana mungkin Anye tinggal dengannya?
Hello, Anye janda berkualitas ya!
Karenanya Anye berucap nyinyir sekaligus menunjukan rasa jengkelnya.
"Enak aja, Mas tuh kalo ngomong disaring dulu. Dikira saya apaan tidur di rumah Mas? Dicibir netijen baru tau rasa. Lagian ya Mas, setau saya walaupun jadi sekretaris juga gak harus siap sedia 24 jam, kan? Mas yang bener aja dong, itu peraturan darimana?"
"Dari saya, Anye. Kamu tinggal terima saja susah sekali, ya. Atau nanti saya akan belikan kamu mobil sebagai kendaraan kamu agar kamu tidak kesusahan."
Vano ikut memprotes protesan Anye. Tapi secara tidak langsung menuruti kemauan Anye untuk tetap tinggal terpisah.
Ini...Anye tidak salah dengar kan? Dia bahkan baru setengah jam yang lalu diangkat menjadi sekretaris, dan sekarang dia mau dibelikan mobil?
Sebenarnya Vano kenapa, sih?
"Gak usah Mas, saya bisa naik ojek atau angkot saja."
Anye menolak halus. Meskipun ia tentu tergiur dengan mobil yang ditawarkan tapi ia curiga dengan alasan dibaliknya.
"Saya gak terima..."
"Penolakan."
Anye menyambung. Matanya menatap Vano sinis.
Vano sih stay cool, tapi Anye sudah merasa seperti sedang tes kesabaran. Harus stok banyak-banyak biar langgeng. Good.
"Iya Mas, terserah saja."
"Pulang nanti ikut saya."
Vano kembali berucap lalu mengambil tumpukan berkas didepannya sebelum disodorkannya ke depan Anye.
"Kemana?"
Anye bertanya meskipun tangannya dengan sigap mengambil tumpukan berkas dari Vano.
"Beli mobil."
"Yasudah, kalau gitu saya permisi Mas. Assalamualaikum."
Anye bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar dari ruangan Vano.
"Waalaikumussalam."
Vano menatap pintu ruangannya yang sudah tertutup, Vano benar-benar gila. Bahkan wanita itu sudah berstatus janda, tapi hatinya tetap saja berbunga-bunga ketika melihatnya.
'Kita lihat saja Anye, secepatnya kamu akan jatuh cinta kepada saya!" Vano membatin penuh ambisi. Khasnya seorang pemimpin haus kekuasaan.
Setelahnya ia kembali lagi fokus kepada tumpukan berkas dihadapannya. Pekerjaannya harus selesai sebelum jam pulang, karena setelahnya ia akan membelikan Anye mobil.
---
"Mas, saya belum selesai kerja!"
Suara Anye menggema di sepanjang koridor lantai dasar. Tapi sepertinya Anye melakukan kesalahan, karena sekarang seluruh mata di lantai dasar malah menatapnya. Demi apapun rasanya Anye ingin tenggelam sekarang juga, bagaimana bisa di hari pertamanya bekerja dia malah langsung disuguhi tatapan sinis seluruh karyawan wanita? Astaga, Anye tak bisa membayangkan hari-harinya setelah ini.
Vano yang sedang memegang pergelangan tangan Anye pun tampak biasa saja berjalan sambil menggeret Anye menuju pintu keluar gedung.
'Bodo amatlah! Udah basah, nyebur aja sekalian!' Anye membatin kesal.
"Woy! Vano!"
Semua orang yang semula menatapnya sinis kini berganti menatapnya terkejut. Seorang karyawan baru seperti dirinya bahkan dengan berani berteriak memanggil pemilik dari perusahaan tempatnya bekerja.
Apa Anye tidak takut dipecat?
Vano berhenti, berbalik lalu menatap Anye garang.
"Kenapa? Alasan apa lagi kamu?"
Tapi Anye tetaplah Anye, dia tidak akan gentar hanya karena tatapan garang Vano.
"Apa? Ini baru jam tiga, bos. Pekerjaan saya belum kelar, main tarik-tarik aja!" Anye menjawab sambil bersungut-sungut.
Vano kembali berjalan sambil menggeret Anye. Menghiraukan segala tatapan karyawannya dan suara cempreng Anye di belakangnya. Anye yang sudah lelah berceloteh dari lantai 50 pun akhirnya memilih diam dan mengikuti kemana bosnya itu menggeretnya.
Anye masih diam bahkan saat Vano sudah membukakan pintu kursi penumpang untuknya pun Anye tetap diam dan menghiraukan kegiatan Vano.
"Masuk!"
Anye akhirnya menggeleng keras saat Vano mendorongnya kearah mobil.
"Mas mau bawa saya kemana?!" Bibirnya dengan sengaja di kerucutkannya untuk memberitahu Vano bahwa dia takut.
Ya mana tau dia mau di culik, kan?
Vano tak tahan lagi untuk tidak tertawa. Sungguh, wajah Anye sangat lucu sekarang.
"Hahahah. Anye kamu itu lupa apa gimana?"
Anye mengernyitkan keningnya, bosnya ini kenapa malah tertawa terbahak seperti itu? Dia kan tidak sedang melawak.
"Bos kenapa?"
Vano menghentikan tawanya hingga hanya bersisa kekehan kecil. Beruntungnya parkiran sekarang sedang sepi, jadi Vano bisa dengan bebas berekspresi tanpa dilihat para karyawannya.
"Gak jadi beli mobil?"
Anye menepuk keningnya. Tapi terlalu keras hingga menimbulkan suara tepukan.
Plakk...
"Aduhh!!"
Tangan Vano refleks mengelus bekas tepukan Anye di keningnya yang sudah memerah.
"Kenapa? Makanya jangan keras-keras."
Anye meringis. "Hehe, maaf Mas. Suka kelewatan."
Vano menghela napasnya.
"Masuk ke mobil. Nanti kamu lama lagi milihnya."
"Biasa aja kali Mas, takut banget saya pilih yang mahal."
Anye mencibir keras, sengaja biar Vano dengar, dan benar saja, Vano yang sedang berjalan memutari mobil pun sampai tertoleh karena mendengar cibiran kelewat keras Anye.
"Uang saya banyak Nye, bila perlu kamu beli semuanya." Balas Vano lalu memasuki mobil mendahului Anye.
"Gak boleh Riya Mas!" Anye berucap lantang sebelum ikut masuk ke dalam mobil.
Vano terkekeh, lagi. Anye memang beda dari yang lain.
"Malu dikit kenapa sih, Nye? Udah tua."
Anye memutar malas bola matanya. "Jadi nggak? Kalo ga jadi saya balik lagi keatas."
"Iya iya jadi."
---