Tin tin....
Tin tin....
"Astaga! Berisik banget, siapa sih?!" Anye berucap marah sambil berjalan keluar dari kontrakannya.
Pagi ini Anye memakai--selalu memakai--kulot yang berbahan dasar levis dengan atasan kemeja putih polos. Sedangkan diatas kepala Anye sudah tertata rapi jilbab instan berwarna navy. Anye siap untuk pergi bertemu bos menyebalkannya.
Tapi Anye melupakan suara klakson didepan kontrakannya yang tak kalah menyebalkannya hingga akhirnya klakson kembali berbunyi dan dia kembali marah.
Tin tin...
"Astagaa!"
Anye berjalan cepat keluar pagar, didepannya sebuah mobil sedan putih terparkir. Itu mobil yang kemarin dibelikan Vano untuknya 'kan? Pagi sekali sudah dateng, mana datengnya membuat keributan pula.
"Permisi, bapak nyari siapa?" Anye menghampiri seorang bapak-bapak yang sedari tadi menekan klakson mobil.
"Maaf mbak sebelumnya saya berisik. Saya disini mengantarkan mobil atas nama Anyelir. Bisa saya bertemu dengannya?" Bapak itu menunduk sopan.
Anye membenarkan letak tas dibahunya lalu berjalan mendekati bapak itu. "Anyelir itu saya pak. Terimakasih sebelumnya karena sudah mengantarkan. Dari pak Vano 'kan?"
Bapak didepannya mengangguk mengiyakan. "Baiklah kalau begitu saya permisi."
----
Anye berjalan perlahan mengelilingi mobil sedan yang terlihat mengkilap dan mahal itu. "Si Masbos beneran gak main-main, gewlaaa! Tersanjung diri ini." Ucapan alay ini hanya ditujukan kepada bos tercintanya pagi ini.
Baru saja Anye hendak kembali masuk untuk memanggil Kiya, ternyata Kiya sudah lebih dulu keluar.
Kening Kiya mengerut bingung. "Mobil siapa, Nye?"
"Mobil gue dong." Anye berucap pongah.
Kiya terkekeh tak percaya. "Bohong lah, mana mungkin kerja sehari langsung beli mobil?"
"Mungkin. Dibeliin bos baruu." Anye tersenyum menggoda.
"Yang bener? Gila bos lo, Nye. Gak nyangka gue."
Anye terkekeh. "Udah ah, yuk, gue anterin lo."
Kiya menggeleng. "Jangan deh, nanti lo telat."
"Jingga sama Samudera searah kali Ki. Santai aja, bos gue mah selow."
"Mentang jadi sekretaris kesayangan." Kiya mencibir keras, sengaja agar Anye merasa tersindir.
Sedangkan Anye, alih-alih merasa tersindir, dirinya malah tertawa, girang sekali dia pagi ini. "Hayuk lah, nanti beneran telat baru tau rasa."
"Hayukk!"
Mereka berkendara selama kurang lebih 15 menit untuk sampai digedung Jingga Corp. Setelah say goodbye dengan Kiya, Anye langsung melajukan kembali mobilnya menuju Samudera. Pagi ini dia akan berbaik hati kepada Masbosnya karena sudah membelikannya mobil semewah ini.
Setelah memberikan kunci mobilnya ke petugas, Anye berjalan santai memasuki gedung. Berjalan menuju lift, Anye berdiri diam menunggu hingga lift didepannya terbuka. Anye dapat mendengar suara sepatu pantofel mendekat kearahnya. Anye membalikkan tubuh lalu segera menunduk sopan saat mengetahui siapa yang ada dibelakangnya.
"Pagi Masbos, gimana pagi ini? Baik?" sapa Anye ceria.
"Pagi." Vano menjawab pendek lalu berdiri tegap disebelah Anye.
Anye sejujurnya ingin mencibir, tapi keinginannya itu diurungkannya karena mengingat ia baru saja dibelikan Vano mobil. Kan bahaya kalau mobilnya langsung disita.
"Liftnya kenapa masih rusak? Seharusnya sudah kamu perbaiki kemarin." Vano kembali bersuara setelah hening selama beberapa saat.
Anye yang semula sudah menghadap kedepan kini menoleh menghadap Vano. "Sedang dibenahi Masbos, sepertinya sore nanti selesai."
Vano terlihat mengangguk, Anye kembali bernapas lega lalu hendak berjalan kebelakang Vano. Memang seharusnya ia berdiri dibelakang Vano 'kan?
"Disebelah saya saja."
Vano menahan lengan Anye. Dan menariknya sedikit agar Anye kembali ke posisi semula.
"Gak sopan Masbos."
"Saya tidak peduli, kamu hanya perlu patuhi perintah saya."
Anye memutar malas bola matanya. "Perintah Allah yang harus dipatuhi. Perintah dari Masbos mah langgar aja gak papa."
Vano menatap Anye tajam. Anye nyengir sembari membarikan tanda peace pada Vano.
Ting...
Mereka berdua masuk, Vano menekan angka 50 lalu kembali menunggu hingga lift berjalan naik.
"Masbos?"
"Mas saja."
"Masbos aja!" Anye ngotot.
Vano menghela napas, mengalah. "Kenapa?"
"Mobilnya udah dateng." Anye menunjukkan kunci mobil ditangannya. "Kece badas!"
Vano terkekeh. "Kece badas, apa?"
"Mobilnya, suka gitu loh saya makenya. Mahal ya?"
"Nggak tau saya, lupa. Kalo gak salah 800." Vano menjawab.
"800 apa? Ribu?" Anye mengernyitkan keningnya.
Vano menggetuk kening Anye pelan. "800 ribu bannya saja, Nye."
"Iyayah." Anye mengelus bekas getukan tangan Vano dikeningnya. "Jadi, 800 jeti?"
Vano terkekeh, lagi. Istilah yang dipakai Anye benar-benar 'wahh'
"Juta, Nye."
Anye mencebik, "iya tau Masbos. Ahh, Masbos gak gaul banget "
"Hm."
"Itu Masbos ikhlas 'kan?" Anye masih tidak puas mendengar jawaban Vano.
"Iya, Astaga. Anye, kalau saya kesel saya bisa lempar kamu keluar sekarang juga, ya!" Vano mengusap wajahnya gemas.
Anye nyengir, "hehe, maaf Masbos." Anye menatap Vano dalam. "Masbos, soal semalem makasih, ya. Saya gak tau apa yang bakal terjadi kalo Masbos gak ada."
Vano tersenyum, "Iya, surat cerai kalian sudah dikirim ke rumah Bian, seribu lembar"
Anye melotot, "Seribu? Beneran Masbos? Saya kira bercanda."
"Saya gak pernah main-main, Nye. Pokoknya serahkan masalah perceraian kalian kepada saya."
"Ini kenapa Masbos jadi kayak pengacara gini?"
"Iyain." Vano menjawab pendek.
Anye mengangguk saja, "Masbos?"
"Hm?"
"Saya boleh liat suratnya?"
Vano mengangguk. "Jam sembilan nanti dikasih ke meja kamu."
"Siap Masbos."
------
"MASBOSSS!!!"
Anye berteriak nyaring sambil memasuki ruangan Vano.
Vano yang sedang menghadap ke laptopnya langsung terkejut sambil mengelus d**a. "Kenapa sih Nye? Ngagetin aja."
Anye berjalan cepat menuju meja Vano. "Ini apa?"
Vano mengangkat alisnya. "Surat cerai kamu, kan?"
"Iya saya tau, tapi masalahnya Masbos ini kenapa saya minta harta 100 milyar?! Masbos gila?!" Anye syok.
"Why? Kenapa nggak? Itu setimpal dengan apa yang kamu rasakan."
Anye duduk didepan Vano sambil membanting tangannya diatas meja. "Mas Vano, saya cuma mau bebas dari Bian. Saya bener-bener gak mau punya masalah apa-apa lagi. Saya udah bener-bener capek berhadapan sama Bian dan semua yang berkaitan sama Bian."
Vano menghela napas. "Nye, kamu ada saya. Saya nggak akan biarin kamu melepas gitu aja orang yang udah nyakitin kamu."
"Tapi saya gak mau! Mas Vano tau kan saya gimana kalau berhadapan sama Bian?" Anye menghela napasnya. "Makasih sebelumnya Mas, tapi saya bisa mengurusnya sendiri."
"Anye!" Vano berucap cepat saat melihat Anye hendak bangkit.
Anye kembali duduk menghadap Vano. "Kenapa Mas?"
Vano mengangguk. "Fine, saya akan buat kamu lepas dari si b******k itu secepatnya." kepala Vano terangkat menatap Anye. "Sebagai gantinya, kamu tinggal di rumah saya."
"Hah?!"
___
"Serius lo? Pak Vano ngajak lo tinggal di rumahnya?!" Kiya bertanya dengan nada syok.
Anye mengangguk saja. Tangannya kembali menyuil ayam goreng dari piring, dicolekkannya ke saus sambal lalu kembali dimasukkannya ke dalam mulutnya menyusul nasi yang sudah masuk lebih dulu.
"Terus lo jawab apa?"
"Hah?!"
"Hah?"
"Hah?!"
"Anyeeee!!" Kiya langsung kesal seketika.
"Astaga Kiyaaa! Maksud gue, gue jawab 'Hah?!'." Anye menjelaskan dengan nada kesal.
"Makanya ngomong tuh yang jelas!" Kiya bersungut-sungut sambil menyuapkan lagi kepalan nasi ditangannya kemulutnya.
"Salah mulu." bibir Anye mengerucut.
"Terus terus, dia ngomong apa lagi?" Kiya masih terus melanjutkan aksi interogasinya meskipun Anye sendiri sudah malas bercerita.
"Gak ada, habis gue bilang 'Hah?!' Dia malah langsung kerja lagi. Yaudah gue keluar dari ruangannya." Anye menutup ceritanya dengan suara sendawa yang keras.
Eerrgghhh.....
"Iyuh, Anye jorok!" Kiya mengibaskan tangannya didepan wajah Anye.
Anye tertawa senang melihat Kiya. "Gue baru kali ini loh sendawa kayak tadi. Kalo di rumah Jingga mana pernah."
Kiya langsung menatap Anye saat mendengar nama Jingga kembali disuarakan. "Nye?"
Anye meminum air di gelasnya hingga tandas. Lalu menoleh kepada Kiya. "Apa?"
"Ekhem, maaf ya gue nanya gini." Setelah melihat Anye mengangguk, Kiya melanjutkan. "Orang tua dia, tau?"
'Dia' yang dimaksud Kiya adalah Bian. Jadi, mereka berdua memutuskan untuk tidak lagi menyebut nama 'Bian' dimanapun dan kapanpun. Anye memilih menggantinya dengan 'Jingga' sedangkan Kiya memilih hanya menyebut sebagai 'dia'.
"Kayaknya sih enggak." Anye menjawab santai.
"Orang tua dia kan sayang banget sama lo. Nggak mungkin mereka biarin aja dia ceraiin lo, kan?"
Anye mengangguk, Kiya ada benarnya juga. "Gue juga lupa, kebiasaan kalo udah benci satu orang yang lain ikutan dilupain."
Kiya mendekatkan kepalanya kepada Anye. "Kalau kasih tau mereka, kira-kira dia bakal diapain ya, Nye?"
Anye tampak berpikir sebentar lalu tertawa. "Alamat dikebiri!"
Kiya tertawa spontan, ada-ada saja pikiran mereka ini. "Aduh otak kita, hahaha. Tapi Nye, kenapa lo gak ngasih tau mereka? Setidaknya mereka harus tau ulah anaknya?"
Anye menggeleng. "Nggak ahh, biarin aja Jingga yang selesein sendiri. Besok pas surat cerainya udah ditanda tangani Jingga gue udah gak mau ada sangkut paut apapun lagi sama Jingga dan keluarganya, kalau bisa. Gue mau sepenuhnya lepas dari keluarga Jingga."
Kiya menghela napas. "Yasudah terserah lo aja. Ehh, udah jam delapan, gue balik ke kontrakan dulu ya. Belum sholat isya'."
Anye mengangguk mengiyakan karena dia juga belum melaksanakan sholat. Setelah Kiya keluar dari kontrakannya, Anye bergegas membereskan peralatan makannya dan Kiya lalu bersiap sholat isya.
"Assalamualaikum warrahmatullah..... Assalamualaikum warrahmatullah..."
Drtt..drtt...
Baru saja Anye hendak melipat sajadahnya, getaran ponsel diatas kasurnya membuat Anye bergegas melihat siapa yang menelponnya.
Mama Asi is calling...
'Mama Asi? Kenapa nelpon?' Anye membatin.
Sekedar informasi, Asi adalah mama dari Bian. Jempolnya dengan cepat menggeser ikon jawab pada layar ponselnya.
"Assalamualaikum, Mah?" Anye berucap pelan.
Terdengar suara grasak-grusuk dari seberang telpon sebelum suara wanita dewasa terdengar.
"Wa'alaikumussalam sayang. Kamu kenapa gak ada di rumah?"
Astaga! Anye harus jawab apa? Apakah Mama sekarang ada dirumah Jingga?
Belum sempat Anye menjawab tapi suara lelaki sudah lebih dulu terdengar dari seberang telpon.
"Mama! Aku udah bilang Anye lagi diluar!"
Itu suara Bian.
"Ohh, Jingga belum kasih tau Mama. Dasar anak durhaka!" Anye berucap lirih.
"Ahh iya Mah, Anye--"
"Jangan bohong Anye! Mama tau kalau Bian usir kamu, kan?!"Suara Asi terdengar marah.
Anye menghela napas, kalau begini ceritanya, jelas ini tak akan selesai begitu saja malam ini. "Nggak, Mah. Mama bisa tanya sama Mas Bian."
Setelahnya Anye mempraktekkan gerakan muntah, lidahnya terkontaminasi karena menyebut Bian dengan panggilan Mas, lagi.
"Kalau begitu Anye pulang sekarang, ya? Mama mau kamu disini malam ini."
Anye panik seketika. Aduhai, gimana ini?
"Anu Mah, Anye--"
"Mama!"
Bolehkah Anye kesal? Dua kali sudah kalimatnya dipotong oleh lelaki b******k itu.
"Kenapa? Kamu apakan Anye?!" Suara Asi kembali terdengar marah.
Anye hanya menempelkan ponsel ke telinganya dengan malas. Dia dikacangin.
"Mama akan suruh supir jemput kamu. Kirim alamat kamu sekarang juga."
Tut..tut...
____