Yoora merasa ada seseorang mau melangkah mendekat ke arahnya ketika merasakan percikan-percikan dingin yang menyentuh wajahnya berulang kali. Matanya mengerjap cepat sebelum cahaya menyilaukan membuatnya menutup mata rapat.
“Mau sampai kapan kau tidur?”
Sosok Jonathan langsung terlihat begitu matanya terbuka lebar. Spontan Yoora meluruskan punggung, menarik diri untuk mundur.
“Kau apa-apaan sih?” geram Yoora. Tangannya bergerak untuk mengambil pisau yang biasanya dia taruh di ikat pinggangnya, namun tak ada apa pun yang dia temukan. Lantas matanya memicing ke arah Jonathan, siap menuduh.
“Jangan salahkan aku. Kau yang lempar pisaumu ke laki-laki sialan itu tadi malam,” Jonathan membela diri sambil mengedik cepat, meletakkan mangkuk berisi air di sampingnya, “aku tidak mungkin mengambil pisau dari kepala mayat.”
Seketika Yoora ingat, bersamaan dengan sensasi menusuk yang menjalar ke lengan kanannya. Dengan cepat memorinya terbongkar, memutar ulang kejadian sebelumnya juga rasa takut dan nyeri yang mencekam.
Belum juga kilas balik malam tadi menghantui Yoora, Jonathan sudah bicara sambil menunjuk bahu kanannya yang ditutupi kain basah. “Asal tahu saja, kau bahkan memakanku.”
Yoora lantas mengernyit. “Memakanmu?”
Jonathan mengangguk, menyentuh sudut bibir sendiri. Yoora awalnya heran, tetapi dia meniru apa yang laki-laki itu lakukan hingga menemukan sesuatu di punggung tangannya. Ada bekas tertinggal: darah.
Matanya membulat ngeri. Tidak, bukan darah yang jadi bagian menyeramkannya, melainkan fakta bahwa Jonathan bilang ….
“Kau bohong, ya?” todong Yoora cepat. “Kau pikir aku apa? Binatang? Untuk apa aku memakanmu?”
“Kalau kau binatang, mungkin itu akan lebih mudah, Yoora,” tutur Jonathan sebelum napas gusar lolos dari bibirnya. Laki-laki itu kemudian bersila, tatapan sepenuhnya tertuju pada Yoora. “Dan itu juga yang persisnya mau kutanyakan padamu.”
“Tanya… apa?”
“Kau itu siapa—atau apa?”
Ada penekanan ganjal dalam ucapan Jonathan, dan untuk cara yang tak bisa dimengerti, pertanyaan itu menohok Yoora. Dia tahu belakangan ini semua terasa aneh. Garis di tangan, bisikan-bisikan yang entah dari mana, ditambah darahnya yang kadang bereaksi dalam cara yang tak dia pahami dalam waktu-waktu tertentu.
Aku ini apa? Kini pertanyaan itu dia lontarkan pada dirinya sendiri. Dia sadar bahwa sejak awal dia tak pernah mencoba untuk mencari tahu tentang dirinya. Yoora selalu berasumsi dia tak diinginkan, itu sebabnya rumah kumuh penyika anak-anak yang menjadi tempat tinggalnya.
Menjawab siapa dan apa dirinya ternyata lebih sulit ketimbang menjawab topik-topik mengherankan lainnya. Ingin mengabaikan, namun benak terus memutar pertanyaan tersebut layaknya lingkaran tak berujung.
Satu-satunya jawaban yang bisa Yoora berikan hanyalah gelengan ragu, yang sebetulnya sama sekali tak menjawab apa pun. Namun Jonathan tak begitu memaksakan. Bibirnya sempat mengerut sebelum sebelum hela napas pasrah lolos. Yoora tidak tahu apakah perasaannya benar atau tidak, tapi setidaknya Jonathan bukan menunjukkan ketidaknyamanan.
“Aku hanya harap kau bukan musuhku,” kata Jonathan sambil mengulurkan tangannya pada Yoora. “Saat ini kita harus bergerak. Orang-orang mungkin akan lewat, sebaiknya kita menjelajahi hutan sekarang. Itu jalan paling aman untuk sampai ke orang yang kucari.”
Dengan perasaan tak beratur dan pertanyaan membuncah dalam kepala, Yoora menerima uluran tangan Jonathan untuk membantunya berdiri, dengan mulut yang tertutup rapat selagi mengikuti Jonathan menjauh dari gubuk kecil yang mereka tempati, melanjutkan perjalanan.
Untuk pertama kalinya, Yoora benar-benar tidak mengenali dirinya sendiri. Dan entah mengapa, firasatnya berkata bahwa ini bukanlah bagian terburuk dari perjalan mereka.
*
Bohong kalau Jonathan bilang bahunya tak sakit sama sekali. Faktanya, sarafnya berdenyut hebat, dan yang bisa Jonathan lakukan hanyalah mengalihkan fokus daripada memikirkan bahwa Yoora menggigit—harus dia akui “memakan” merupakan kata yang kuat.
Dia bisa merasakan lukanya mengecil sejak gigitan Yoora awalnya, sayangnya rasanya masih sakit. Sialnya lagi, Jonathan jauh dari puas mendengar jawaban gadis itu. Tak satu pun dari mereka tahu apa yang terjadi.
Namun, itu tak boleh menghentikan mereka. Apa pun yang terjadi pada Yoora, Jonathan yakin bahwa berhenti dan berpikir tidak akan membuahkan apa-apa selain waktu yang terbuang, dengan kemungkinan akan lebih banyak masalah menghampiri mereka. Terus bergerak adalah pilihan terbaik.
Keduanya sudah melanjutkan perjalanan sebelum matahari terbit. Tak ada baju ganti yang bisa dibawa sehingga hanya jubah dengan sobekan di berbagai tempat yang bisa mereka andalkan—sebenarnya sihir Jonathan bisa, tapi energinya sudah banyak terbuang.
Setidaknya keadaan masih sepi dan mereka bisa masuk ke dalam hutan. Dari sini, mereka tak perlu terlalu takut untuk menarik perhatian. Merveil memang bukan kota yang bersih, tapi melihat dua orang yang melintas dengan pakaian berdarah-darah tentu tetap menjadi anomali di sini. Itu cara terakhir yang ingin Jonathan lakukan dalam menarik perhatian Jihwan untuk tahu keberadaannya.
Melintasi hutan pun sebenarnya bukan hal mudah, tapi ini opsi terbaik. Yoora kelihatan berpikiran sama, karena di tengah perjalanan, gadis itu dengan cekatan mengisi botol air minum dan mengambil beberapa tanaman untuk dibawa. Jonathan tidak hafal betul apa saja yang diambil, tapi Yoora berkata, “Bukunya berguna.”
Jonathan tak berkomentar dan mereka kembali melanjutkan perjalanan.
“Memangnya orang yang kau cari tinggal di hutan begini?” Suara Yoora terdengar lagi setelah sebelumnya hanya hening yang menemani langkah mereka menaiki tanjakan bukit kecil.
Ah, iya juga. Pikir Jonathan. Dia belum menjelaskan lebih lanjut. Tanpa menghentikan langkah dia pun menjawab, “Kita akan pergi ke rumah walikota bagian Utara. Perkamennya mungkin ada di sana.”
“Mungkin?” Nada Yoora agak melengking. Bukan marah, lebih mirip seperti reaksi terkejut. Jonathan lantas menoleh dan mendapati Yoora yang terbelalak. “Kau mau cari mati dengan Walikota Nord? Dia kan ….”
“Suruhannya Ratu Jihwan, ya,” timpal Jonathan, satu sudut bibirnya terangkat. “Kau cukup tahu banyak soal Merveil. Mengesankan.”
Yoora berdecak, terlihat jelas kekesalannya karena diremehkan. “Aku memang pencuri, tapi aku punya otak untuk bertahan hidup. Aku tahu mana yang harus dihindari.”
“Masa?” Alis Jonathan terangkat, rautnya pongah. “Buktinya kau salah memilih korban.”
Fakta, tentu saja. Yoora bahkan terlihat malu sewaktu Jonathan bilang begitu. “Aku tidak tahu kalau ada Sorceré atau semacamnya itu.”
Bukan pengakuan langsung, tapi Yoora tidak menepis kenyataan yang ada, dan itu memberi kesenangan tersendiri pada Jonathan. Percakapan pun berhenti selagi keduanya terus menyusuri jalan setapak hingga lambat laun kota jalan besar dan bangunan-bangunan mulai terlihat dari sela-sela hutan. Alih-alih ke jalanan, Jonathan justru berbelok ke bagian hutan yang lain dengan pohon-pohon yang lebih lebat, membuat area sekitar lebih gelap. Menggunakan cahaya dari tangan kanannya untuk menyinari jalan, keduanya terus masuk lebih dalam.
“Apa sih yang kaulakukan, Jonathan?” tanya Yoora, suaranya terdengar lirih, seakan mencerminkan kecemasannya. “Kau salah ambil jalan? Tadi kan ada—”
“Stt, diam dulu,” potong Jonathan cepat. Ditariknya tangan Yoora untuk lebih dekat selagi bersembunyi di balik pohon. Cahaya di telapak tangan sirna dengan cepat, membuat keduanya dikelilingi kegalapan sekitar, kali ini dibantu dengan cahaya yang menyelinap dari luar hutan. Sebuah bangunan megah terlihat.
“Apa lagi yang kau ketahui soal Kim Seo?” Kini Jonathan menoleh pada Yoora, masih menggenggam pergelangan tangan gadis itu.
Yoora nampaknya tak suka, namun dia juga tak menarik diri. “Aku hanya tahu tiap walikota punya kekuatan masing-masing karena sihir dari Jihwan. Apa kekuatannya?”
“Aku belum pernah berhadapan langsung dengannya, tapi yang kudengar dia bisa terbang.”
“Terbang?” Dahi Yoora mengernyit. “Punya sayap atau semacam itu?”
“Cara kerja sihir bukan begitu,” balas Jonathan. Sebetulnya dia tidak begitu yakin, karena dari beberapa perkamen lama Sorceré, ada sihir-sihir tertentu yang bisa merenggut sisi manusia seseorang, tapi belum ada bukti pasti jika yang dimaksud merupakan perubahan fisik. Jonathan pun tidak berniat mencoba. Dia bukan ingin menemukan Sorceré lain—atau setidaknya menemukan asal muasal kaumnya—dengan menjadi monster. “Mungkin Seo punya kekuatan ekstra. Apa pun itu, intinya kau harus hati-hati.”
Jonathan khawatir, namun di saat seperti inilah dia bersyukur Yoora bukan gadis payah yang akan berteriak maupun menangis. Dia jelas ketakutan, tetapi perasaan itu dia jadikan tameng untuk mengambil sikap awas. Yoora bahkan langsung merogoh tas sandangnya dan mengambil pisau kecil. Sebenarnya itu milik Jonathan, tapi dengan keputusan bersama, Yoora yang manusia—itu cara terbaik menyimpulkannya sekarang, lebih mudah—harus bisa melindungi diri sendiri dengan senjata.
“Kita akan menyelinap dari belakang,” kata Jonathan lagi. “Aku belum bisa menggunakan sihirku sepenuhnya, dan mungkin Jihwan menaruh sihirnya juga pada kediaman Seo. Jika begitu, kau yang akan menyelinap sendiri ke—”
“Keluar saja, Jeon Jonathan. Aku tahu kau sudah di sini.”
Tubuh Jonathan dan Yoora menegang kaku. Itu bukan suara salah satu dari mereka. Rasanya seperti tertangkap basah sebelum sempat beraksi. Yoora lantas menarik tangannya, langsung menyelinap ke batang-batang pohon yang lain. Meski tak begitu paham apa yang gadis itu lakukan, Jonathan berusaha tetap memegang kendali atas situasi yang ada.
Seo tahu soal dirinya, tapi hal tersebut tidak berlaku bagi Yoora—dan semoga begitu.
Menyingkir dari pohon, Jonathan pun melangkah keluar dari persembunyiannya, mendekati arah cahaya hingga betul-betul berada di luar hutan, di dekat salah satu pohon. Seo ternyata sudah ada di sana, menyambut dengan senyuman. Rambut pirangnya bergerak karena tiupan angin, dan dia kelihatan menikmatinya.
“Halo, penyihir kesayangan ratu,” sapa Seo, nadanya ramah, kelewat ramah sampai-sampai Jonathan mau muntah. Dia tidak berharap disapa begini. “Padahal gerbang depan terbuka lebar, tapi kau lebih suka area belakang, ya?”
Jonathan menggeram, mengepalkan tangan. “Dasar manusia hina. Sebegitu inginnya mempertahankan kekuasaan sampai menjual diri pada ratu kejam begitu?”
Seo bersiul, memanggut-manggut seakan yang dia dengar sama sekali bukan hinaan. “Aduh, coba kau bilang begitu langsung pada Ratu Jihwan. Dia pasti akan senang.”
Ratu dan pengikutnya ternyata sama sintingnya, rutuk Jonathan. Dia semakin ingin cepat-cepat menyelesaikan tugasnya.
Beberapa skenario muncul dalam kepalanya, dan dia harap Yoora memikirkan hal yang sama. Jonathan bisa di sini dan mengulur waktu, membiarkan Yoora menyelinap tanpa sihir. Berisiko, tapi mungkin berhasil.
Mungkin. Itu yang Jonathan pikirkan.
Namun ketika Seo mengambil sesuatu dari saku belakangnya, rencana Jonathan pupus. Tak akan ada gunanya jika Yoora menyelinap ke sana, karena perkamen yang dia cari justru muncul di hadapannya, di tangan pria dengan senyum pongah.
“Kau mau ambil ini, kan—ARGH!”
Semua terjadi begitu cepat, Jonathan bahkan tak bisa menangkap betul-betul apa yang terjadi. Tanpa diduga Yoora muncul dari balik pohon di dekat Seo, menusuk pundak laki-laki itu, membuat perkamen di tangannya jatuh. Yoora mau mengambilnya, tapi Seo langsung bergerak, membuat tanah di dekatnya retak. Buru-buru Yoora berlari mendekati Jonathan.
“Astaga, kalian tidak perlu begini,” kata Seo lirih. Dia kembali memungut perkamen tersebut. Hanya saja tanpa disangka, Seo justru melempar perkamen tersebut ke tengah-tengah mereka. Entah memang dia sengaja, atau tusukan di pundak yang Yoora buat sebegitu berpengaruhnya pada kekuatan Seo.
“Apa-apaan?” Yoora menggeram, menggerakkan pisau dan membuat darah yang menempel terpercik ke tanah.
“Itu kan yang kalian inginkan?” Ada desisan penanda sakit yang dia tahan. Tanpa perlu ditanya, Jonathan yakin tusukan pisau Yoora memang bukan candaan belaka.
Tak ingin langsung mendekat, Jonathan mengeluarkan asap hitam dari tangannya untuk mengangkat gulungan perkamen yang Seo lempar. Dia tak ingin mendekat sendiri dan membiarkan Seo melakukan pergerakan tak terduga. Begitu perkamen tersebut ada di tangannya, Jonathan langsung membukanya, membaca dengan saksama. Perhatiannya terfokus pada lingkaran kecil yang ada di pinggir, membiarkan ujung jempolnya mengelus permukaan, merasakan adanya tenaga sihir di sana.
Ini perkamen yang asli. Ya, Jonathan yakin. Namun sekarang pertanyaan muncul dalam benaknya. Dari awal Jonathan menduga bahwa kedatangannya ke sini tidak akan disambut baik, atau paling tidak dia dan Yoora tak akan pulang dalam keadaan yang baik-baik saja. Jelas sekali tindakan Seo ini mengejutkan. Apa yang direncanakannya?
“Apa sebaiknya kita pergi?” bisik Yoora, sorot cemas dan ragu dia lemparkan pada Jonathan sebelum kepalanya beralih pada Seo.
“Kau sudah menusukku, Nona. Tolong jangan buat hal yang lebih mengerikan.” Ada nada jenaka sekaligus pasrah dalam suara Seo selagi tangannya terangkat. “Aku punya penawaran yang lebih bagus, jadi daripada kita saling membunuh, lebih baik kita mengobrol saja.”
“Mengobrol?” Kening Yoora berkerut, sama sekali tak yakin.
“Kau mau bicara apa?” Kali ini Jonathan yang bersuara, satu langkah dia ambil untuk berdiri di dekat Yoora. “Jangan harap bisa menipu.”
“Sebaiknya kalian masuk dulu,” ucap Seo lagi. “Ada sesuatu yang harus kalian ketahui soal Merveil dan ratu kita ini. Aku punya hal yang lebih baik daripada sekadar tipuan untuk kalian.” []
*
[10: A