2 Minggu Sebelumnya…
Konon katanya, Merveil merupakan kerajaan paling terang yang ada di muka bumi. Berbagai bentuk pencahayaan yang dibuat secara manual maupun bertenaga sihir muncul di berbagai sudut. Gelap bukanlah hal yang perlu ditakutkan, karena penduduk Merveil tak pernah mengenalnya, bahkan meski matahari tertutup kabut atau bulan menghilang dari hitamnya langit pada malam hari.
Namun konon tetaplah konon. Kenyataannya, Merveil bukan lagi gambaran sempurna dari negeri dongeng idaman. Cahaya hilang, matahari menolak hadir, dan bulan menarik diri untuk muncul sesering biasanya.
Choi Yoora tidak tahu bagaimana keadaan Merveil sebelumnya, karena dia hanya mengenal satu Merveil selama hidupnya—gelap, sunyi, berkabut, juga rumah baginya untuk beraksi.
Selama 20 tahun menginjakkan kaki di bumi, Yoora hanya berpegang pada satu prinsip untuk tetap bertahan hidup. Jadilah lebih jahat dari dunia untuk bisa mempertahankan napas dan detak jantung,
Artinya bisa dibuat lebih luas; jangan berempati pada siapapun, kejar apa yang dilihat mata, tetap makan meskipun mayat berada di bawah kakimu.
Di dunia yang brutal, menjadi baik bukanlah opsi yang tepat.
Sembari bersandar di tiang jalan yang sepi, Yoora merogoh saku, memeriksa tiga keping Mer—mata uang Merveil—yang baru saja dia dapatkan dari seorang wanita yang melewati gang sambil memegang putranya. Yoora tak begitu suka merampok wanita, tapi setidaknya dia tahu bahwa wanita itu cukup punya banyak uang melihat bagaimana beberapa bekas kecupan di leher yang tak sanggup ditutupi tuniknya. Tiga Mer ini setidaknya bisa membuatnya makan malam ini.
Hanya saja, Yoora tidak hanya mau makan malam ini. Tujuannya bukan hanya untuk hidup malam ini. Masih ada tujuan jangka panjang yang dia simpan, dan pendapatan tiga Mer tiap malam tidak akan pernah cukup untuk mencapainya.
Artinya, Yoora butuh target lain. Yoora butuh saku-saku lain untuk dicecak.
Dan kelihatannya, doanya disambut oleh dewa—meski harus Yoora akui dia sudah lupa caranya berdoa sejak umur 5 tahun, atau mungkin dia tidak pernah diajari berdoa sejak kecil, entahlah—begitu terdengar derap langkah dari arah gang di depannya.
Beralih ke posisi siaga, Yoora meluruskan punggung, dengan langkah cepat tanpa suara masuk ke dalam gang, bersandar di dinding dengan santai. Cara bermain Yoora selalu begini; santai, sederhana, tapi lihai. Waktulah yang melatih Yoora untuk semakin menggesitkan langkah, menyelipkan tangan ke saku maupun tas tanpa disadari orang-orang, hingga membuat para pengawal Merveil hanya bisa memasang poster “WANTED” dengan menggambarkan seseorang dengan kepala yang sepenuhnya ditutupi tudung alih-alih menggambarkan rambut pendek yang hanya menyentuh rahang milik Yoora.
Sesaat gadis itu memejamkan mata, mencoba mendengar tala yang bisa ditangkap telinganya.
Gemerincing dari dalam saku, suara gesekan berat dari sesuatu yang banyak. Bibirnya lantas tersenyum puas bak singa yang baru saja menemukan mangsanya.
Oh, nampaknya yang lewat ini saudagar kaya, atau mungkin kaum bangsawan yang mabuk.
Di balik tudung hitam yang selalu digunakannya, Yoora menjilat bibir, merasakan ledakan euforia hanya dengan membayangkan bagaimana sakunya akan penuh hari ini. Dan jika dia beruntung, mungkin dia bisa langsung membeli tiket dan menghadiahi dirinya sendiri sebuah perjalanan juga ucapan perpisahan dari Merveil ke kerajaan tetangga.
Tap. Tap. Tap.
Langkah kaki semakin besar terdengar, dan Yoora sudah siap. dengan satu tangan yang berlabuh pada paha, memegang sarung pisau yang menempel di sana, Yoora memperhatikan sosok yang lewat dengan cermat.
Nampaknya orang itu tidak menyadari keberadaannya, mungkin terlalu mabuk—atau mungkin tidak. Langkah kakinya seperti orang biasa, aroma citrus justru menyapa penghidunya alih-alih campuran alkohol yang biasanya dia cium di rumah-rumah minum sekitar sini.
Ayo beraksi, Yoora. Begitu dia berbisik pada dirinya sendiri.
Satu kaki melangkah mantap dan santai, mengekori sosok pria jangkung yang ada di depannya. Gemerincing di sakunya terdengar, dan tangan Yoora sudah bersiap untuk terjulur ke depan.
Mungkin batu topaz, pikir Yoora. Itu batu yang biasa jadi alat pembayaran selain Mer di sini, dan jelas dengan nilai jual yang lebih mahal dari Mer.
Yoora bisa kaya. Oh, dia pasti kaya.
“Oh, ternyata kau benar-benar ada di sini.”
Bukan Yoora yang bersuara, sungguh. Matanya agak terbelalak begitu sadar bahwa pria di depannya berhenti melangkah, bahkan berbalik ke arahnya.
“Ketemu.”
Kening Yoora kontan mengerut, sama sekali tak mengerti apa yang dimaksud oleh pria itu. Hanya saja di saat Yoora diam, pria itu dengan cepat menggenggam tangannya, begitu kuat sampai Yoora merasa tangan kanannya mati rasa.
“Maaf, Tuan. Bisakah kau lepas tanganmu dariku?” Yoora sengaja memberatkan suaranya, berharap itu cukup untuk membuat si pria menarik diri dan tidak membuat keributan.
Namun ketimbang mendapati pria itu menjauh, cengkeramannya justru sama sekali tak bergerak, dan Yoora mendengar pria itu terkekeh geli.
“Beginikah caramu untuk mencuri orang lain, Nona? Menyamar jadi pria?”
Yoora berusaha untuk tidak terkejut, tetapi itulah yang dia lakukan ketika pria itu melangkah semakin dekat. Ini bukan pertama kalinya Yoora tertangkap. Dia tahu betul bahwa di saat seperti ini seharusnya dia mengerakkan pisaunya, membuat luka di bagian yang memungkinkan lawannya menunduk dan melepasnya agar dia bisa kabur.
Hanya saja, Yoora tidak bisa. Tubuhnya seakan tak mau mendengar, menolak untuk bergerak barang sedikit pun.
“Siapa kau?” tanya Yoora tajam, matanya memicing untuk memperhatikan pria yang ada di depannya.
Sesaat, Yoora tak bisa melihatnya. Ada asap hitam yang menyelubungi wajah pria itu. Namun tak lama, asap itu memudar, menunjukkan wajah dengan garis rahang yang tegas, rambut hitam pekat yang agak berantakan, dua manik secokelat madu, juga hidung mancung mencuat dengan garis panjang yang melintang secara vertikal di tengahnya.
“Sejujurnya aku lebih membutuhkan seorang pria dengan tenaga kuda,” kata pria itu lagi. Entah kenapa, ketika cengkeramannya menguat, Yoora merasa perutnya teraduk. Dia merasa mau muntah.
Yoora berusaha untuk menarik tangannya, namun kekuatannya tak cukup. Dan ketika kepalanya menoleh ke bawah, memperhatikan cengkeraman pria itu, dia melihat ada cahaya yang melingkari lengannya.
Cahaya.
Cahaya.
Cahaya.
Menyadari itu justru membuat Yoora semakin terkejut, bahkan ngeri. Sejurus kemudian kepalanya seakan melintasi laci-laci memori, mengingat sesuatu yang berhubungan dengan cahaya seperti itu.
Di Merveil, keanehan menandakan bahwa wilayan ini hidup. Kejahatan menjadi napas sementara keributan menjadi sambutan kedatangan. Yang Yoora ingat, Merveil bukan hanya terkenal dengan cahaya, tetapi juga dengan kekuatan magis dan ilmu sihir yang membuatnya indah pada masa lampau.
Tapi itu cerita lama. Yoora yakin betul bahwa saat ini, yang memiliki sihir hanyalah keluarga kerajaan beringas yang memerintah—dan itulah yang membuat mereka tak kunjung lengser, karena senjata manapun tak akan bisa menyaingi sihir.
Cahaya sudah lama beranjak dari Merveil.
Seharusnya tidak ada hal seperti ini. Dan jika dugaan Yoora benar, maka kemungkinan terbesarnya adalah dia baru saja salah memilih target, dan yang ada di hadapannya saat ini tak lain dan tak bukan adalah ….
“Kau penyihir—”
Sayangnya sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, Yoora merasa sengatan listrik yang begitu menusuk, dan satu-satunya yang bisa dilakukannya hanyalah menutup mata dengan kesadaran yang hilang dalam sekejap. []
*