Hujan telah berhenti ketika Yoora dan Jonathan sampai di sebuah bangunan mirip kuil kumuh tak terurus yang ada di dalam Hutan Nug. Ini pertama kalinya Yoora menginjakkan kaki ke sini, dan baru kali ini dia tahu ada kehidupan di dalam hutan super berkabut ini.
Yang Yoora tahu, hutan ini menjadi salah satu tempat yang dihindari penduduk. Menurut rumor yang beredar, setiap orang yang pergi ke sana tidak akan kembali, namun Jonathan justru dengan mudahnya melangkah masuk, menjentikkan jemari dan membuat kendi yang sebelumnya terisi asap berubah menjadi cahaya, menyebar mengelilingi mereka untuk memberikan penerangan tambahan ketika masuk menyusuri hutan.
Entah mana yang lebih mengagumkan, sihir Jonathan atau Hutan Nug yang ternyata tidak seburuk yang terlihat dari luar. Jika sebelumnya yang Yoora lihat hanyalah hutan yang ditutupi asap-asap tebal juga suara-suara sunyi sekaligus mencekam, kesan yang ditimbulkan ketika cahaya yang Jonathan buat memberi penglihatan yang lebih jelas justru berbeda jauh.
Pohon-pohonnya menjulang tinggi, namun gesekan daun juga angin yang berhembus seakan bernyanyi menyambut kedatangan mereka. Tidak ada kabut di sini, namun kunang-kunang terlihat menyebar, menjadi kilauan yang senada dengan alam.
Harus Yoora akui, jalan setapak yang ada di sini lebih bagus daripada aspal jalanan di kota yang seringkali berlubang tanpa adanya niat untuk melakukan perbaikan.
Kaki Yoora memijak lempengan batu bulat dengan berbagai ukuran, dan tak lama, batu-batu itu pun menghilang, berganti dengan deretan kayu yang berjajar, tersusun rapi dan berakhir di sebuah rumah kayu dengan lampu minyak yang tergantung di empat tiang yang ada di depan.
Banyak rumah kayu yang ada di Merveil, dan kebanyakan dihuni oleh kaum jelata yang masih punya usaha—setidaknya, bukan seperti Yoora—namun tidak ada yang seperti ini. Rumah ini kelihatan terawat, terurus. Alih-alih rumah yang terpencil, rasanya pepohonan di sini justru menjadi aksesoris yang pas untuk menyampaikan kesan alam bagi rumah ini.
Sesaat, Yoora menemukan dirinya terpukau hanya dengan sebuah kesederhaan ini.
Batinnya bertanya apa ada kehidupan di rumah itu, tetapi sebelum sempat mengajukan pertanyaan, jawaban yang dicarinya sudah hadir tatkala pintu rumah terbuka, memunculkan satu sosok yang keluar dengan lentera kecil yang menggantung di lengan kanannya.
Seorang wanita paruh baya terlihat mendekat. Tubuhnya ringkih, bungkuk, namun suaranya terdengar begitu tegas ketika berkata, “Oh, kau rupanya, Jeon Jonathan.”
Yoora agak terkejut, sementara satu pertanyaan melayang. Apa wanita ini penyihir juga? Apa dia punya sihir yang sama seperti Jonathan? Atau mungkin dia semacam… penyihir senior?
Jonathan kemudian mendekat ke arah wanita ringkih itu, dengan tak acuh menyodorkan dua gulung perkamen dari dalam jubahnya. Padahal jubah itu selalu pas dengan Jonathan, sekalipun selalu ada barang yang Jonathan keluarkan dari dalam sana.
Apa jubah penyihir begitu? Mungkin aku butuh satu.
“Kau mengambilnya,” komentar si wanita paruh baya.
“Tentu. Sudah kubilang kalau aku akan benar-benar mengambilnya.” Suara Jonathan terdengar angkuh. “Kuharap yang ini bermanfaat.”
Percakapan tersebut kemudian berhenti. Senyap. Wanita paruh baya itu menjepit dua gulungan yang Jonathan berikan dengan lengan juga pinggangnya, kemudian menoleh ke arah Yoora.
Meski pencahayaan di sekitar sini minim, Yoora tahu ada sesuatu—yang sayangnya tak dia mengerti apa—dari sorot mata wanita paruh baya tersebut. Yoora merasa ditelanjangi, diselidiki dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Sekarang kau bawa apa lagi? Rekan kerja?” tanya wanita paruh baya itu. Sekalipun pertanyaan itu tak tertuju padanya, Yoora tahu betul bahwa pertanyaan itu mengenai dirinya.
“Lebih mudah menyusup kalau ada orang,” balas Jonathan, ikut menoleh ke arah Yoora. “Lagi pula kau yang menyarankanku untuk tidak beraksi sendirian.”
Kening Yoora mengernyit heran, bingung akan percakapan yang tengah dia dengar itu. Sayangnya Yoora tak bisa berkomentar, mulutnya tertutup rapat.
“Kalau begitu masuklah, kita bahas di dalam,” putus wanita itu, pandangannya beralih pada Jonathan sebelum terarah kembali pada Yoora. Tak hanya wanita itu, Jonathan pun masih menatapnya.
Tunggu. Apa ini? Mereka mau aku buat apa? Yoora keheranan sendiri. Namun tak berselang lama, sebersit pemahaman melintasi kepalanya.
“Aku akan menunggu di sini,” kata Yoora sambil mengangkat kedua tangannya sebelum kedua orang itu sempat bicara padanya. “Mau lihat-lihat sekitar dulu.”
“Jangan berpikir untuk kabur, Yoora. Percuma.”
Yoora hanya mendengus. Tanpa perlu diingatkan, dia juga tahu itu. Lagi pula, tersesat di hutan yang gelap begini tidak akan pernah dia jadikan sebagai pilihan hidup. Yoora tidak sebodoh itu.
Si wanita paruh baya itu tak berkomentar, lanjut berjalan sementara lentera minyak yang menggantung di lengannya berpindah, diletakkan di dekat pot bunga besar yang terbuat dari batu. Entah itu semacam kepedulian untuk membuat sekeliling Yoora sedikit lebih terang, atau memang wanita itu sebelumnya keluar untuk meletakkan lentera di sana.
Ketimbang memikirkan itu, Yoora memilih untuk memandangi sekitar, menikmati kesendiriannya di luar rumah. Kunang-kunang seperti mengintip dari pepohonan, mencoba mendekat tapi malu-malu.
Sesuatu terasa menenangkan di sini. Kalau saja Yoora tahu Hutan Nug tidak seburuk kelihatannya, mungkin Yoora akan bermalam di sini, menjadikannya sebagai markas rahasia ketimbang harus repot-repot berlari dan bersembunyi di seluk-beluk gang atau perumahan kumuh untuk menghindari para tentara yang mengejar buronan sepertinya.
Oh, tidak, Yoora. Kau punya tujuan yang lebih bagus ketimbang hutan ini. Dia mencoba mengingatkan diri selagi menyelipkan tangan ke dalam saku.
Yoora merogoh saku, membiarkan tangannya menggenggam kepingan Mer yang tersebar di sana, memejamkan mata untuk mengingat tujuannya.
Di Merveil, sihir hanya untuk keluarga kerajaan. Melintasi kerajaan lain tak semudah menapaki satu jalan ke jalan lainnya. Dan untuk itu, Yoora membutuhkan sesuatu yang dapat membeli sihir—Mer. Dan itu tidak sedikit. Ada kapal yang bisa membantu Yoora menyeberang, dan untuk masuk, harus ada tiket sihir yang dikantungi, yang hanya bisa dibeli langsung di kerajaan.
Untuk pergi dari sini, Yoora membutuhkan hal itu. Kerajaan di luar sana pasti lebih baik.
Dan mungkin, mungkin saja, sesuatu yang dia cari ada di luar sana. Keluarga kecilnya yang entah siapa.
Keluarga, ya?
Mengingat itu membuat Yoora sedikit sesak. Tiap kali mengingat sobekan kecil foto yang hanya menunjukkan dua orang yang tengah menggendong bayi—yang sayangnya terjatuh saat Yoora melakukan pencurian pertamanya bertahun-tahun yang lalu—darah Yoora seperti berdesir, berusaha berteriak. Dan hal itulah yang persis Yoora rasakan sekarang.
Darahnya seperti memberontak, minta keluar menembus pori-pori kulitnya, membuat kepala Yoora pening sesaat.
“Kau yang di sana.”
Suara itu membuat Yoora kontan berbalik, mendapati wanita paruh baya itu memanggilnya, sudah berdiri di pintu rumah.
Yoora menunjuk diri sendiri, bertanya tanpa kata apakah dia yang dimaksud, dan wanita paruh baya itu mengangguk. Lantas Yoora mendekat ke arah pintu, mengeluarkan tangan dari saku.
“Hasil curianmu banyak, ya?”
Ucapan itu terdengar begitu santai, tapi mengejutkan. Yoora sempat tak berkedip, agak terperenyak untuk beberapa saat.
Kalau dihitung-hitung, mungkin belum ada 15 menit sejak Yoora berdiri sendirian di sini, tapi nampaknya Jonathan sudah banyak cerita. Hanya saja ketika Yoora mengira wanita itu akan melakukan hal yang kurang menyenangkan, dia justru mendapati wanita itu memberikan penawaran kecil, tatapannya datar, namun ada sesuatu di sana yang menyiratkan bahwa Yoora diterima di sini.
“Kurasa pencuri juga butuh teh,” kata wanita paruh baya itu sembari bergeser dari pintu, memberi cela seakan menyambut Yoora untuk melangkah ke dalam, menyusulnya yang sudah lebih dulu berbalik dan masuk.
Tanpa berkomentar, Yoora pun ikut masuk ke dalam, dua langkah diambilnya sebelum kakinya berhenti melangkah. Cahaya seadanya, aroma kayu juga petrikor yang membaur di dalam ruangan menyapa hidungnya, mengisi paru-parunya, membawa satu perasaan ganjil tetapi terasa menyenangkan di saat yang bersamaan.
Bisa Yoora pastikan bahwa baru kali ini dia datang ke sini, masuk ke rumah seperti ini. Namun anehnya, Yoora merasa bahwa dia seperti pulang ke rumah sendiri.
*
“Tidak banyak yang bisa diambil dari sini, Jonathan. Perkamen yang dititipkan pada Shim Shiyoon tak lebih dari cerita legenda mengenai kaummu.”
Jonathan berusaha untuk mengendalikan amarah ketika Kang Seryu bicara padanya selepas membaca perkamen-perkamen hasil curiannya itu tadi subuh. Setelah susah payah mengatur rencana sampai membawa seorang gadis ke dalam operasinya kali ini, tak pernah Jonathan sangka bahwa hasil yang dia dapatkan tak lebih dari sebuah kekecewaan.
“Perkamen ini lebih seperti ringkasan. Ini bukan perkamen aslinya,” ujar wanita tua itu lagi. “Tapi perkamen ini bisa jadi petunjuk untuk menemukan perkamen aslinya.”
Dan itu berarti Jonathan harus kembali mencari. Aksinya menyelinap ke dalam rumah Shiyoon tak lebih dari sebuah batu loncatan kecil.
Setidaknya itu harus disyukuri. Usahanya tidak sesia-sia itu, sekalipun tak menyentuh sejengkal pun dari ekspektasinya.
Masih ada hari esok untuk mencoba, pikir Jonathan, menunduk menatap lengan kanannya. Hari ini dia cukup lama menggunakan sihir manipulasi untuk menyamarkan identitasnya dan Yoora. Sebagai seorang Sorceré, Jonathan tahu betul bahwa sihir memiliki harga yang harus dibayar. Tidak ada yang gratis, pun tidak ada yang namanya keajaiban. Semuanya terjadi bagai transaksi, dengan alat bayar yang lebih dari uang.
Sihir merupakan kekuatan, dan tubuhnya merupakan wadah sekaligus bayarannya. Membakar dan terbakar menjadi prinsip. Bisa Jonathan lihat bagaimana tangannya memerah, seperti terbakar. Jonathan sudah terbiasa dengan sakitnya, tapi kali ini dia membutuhkan air dan perban untuk meredam panas yang lebih menusuk kulit.
Lantas Jonathan menanggalkan kaus, membiarkan dadanya diterpa angin yang masuk melalui jendela kamar. Kaus itu dia basahi dengan air untuk mengompres tangannya sebelum melangkah keluar dari kamar, melihat sekeliling.
Meski masih ada di Merveil, Hutan Nug seakan membuat Jonathan merasa berada di bagian dunia yang lain. Matahari tidak terlihat di sini, tapi langit di atas sudah cukup cerah, menjadi pertanda bahwa hari sudah pagi.
Awalnya, Jonathan berniat untuk kembali menyusuri sekeliling rumah, tetapi langkahnya terhenti begitu melihat Yoora di sana, tengah duduk di pinggiran tangga sementara tangan memutar pisau pemberiannya dengan lihai, seakan benda tajam itu hanyalah sepotong kayu di tangannya.
Harus Jonathan akui, Yoora memang lihai. Sebelumnya, Jonathan hanya bekerja sendirian. Seryu yang kemudian menyarankan bahwa Jonathan mungkin butuh orang lain, seorang kriminal yang bisa dimanfaatkan—mengingat Jonathan tidak bisa mengajak Sorceré yang lain, karena hanya dia yang tersisa.
Dugaan Jonathan, dia akan menemukan seorang pemuda licik dan tangguh, seperti yang digambar pada poster buronan. Tetapi yang dia temukan justru seorang gadis, yang pergerakannya memang cepat dan senyap, namun tak cukup untuk melewati kepekaan indera milik Jonathan.
Jonathan sempat berpikir untuk membuat gadis itu lupa ingatan. Atau, sebetulnya dia sudah mencoba, tapi anehnya sihir itu tidak bekerja. Melenyapkan menjadi opsi yang tersisa, tapi ternyata gadis itu lebih berguna dibanding yang Jonathan perkirakan.
Berbeda dengan kebanyakan gadis yang memilih untuk menghuni rumah bordil untuk mengisi kantung dan perut, Yoora memilih jalanan, menjadikan kemampuannya terasah.
Ketika dia sibuk memperhatikan Yoora, ternyata gadis itu sudah berbalik ke belakang dan memandanginya. Kehadiran Jonathan nampaknya cukup mengejutkan, namun Yoora tak mengeluarkan reaksi apapun.
“Kau tidak tidur?” Jonathan memulai percakapan selagi melangkah mendekat, berdiri di belakang Yoora.
Kepala Yoora sempat menengadah sebentar sebelum kembali teralih ke pepohonan. “Sudah tidur, tidak bisa lama-lama. Kau?”
“Sudah tidur.” Atau, setidaknya Jonathan mencoba untuk tidur. Sayangnya rasa sakit yang menjalari lengannya tak memperbolehkannya untuk beristirahat dengan tenang.
Jonathan masih menempelkan kaus basah ke lengannya, dan Yoora nampak memperhatikan, tetapi tak sedikit pun mengomentari apa yang dia lihat.
Alih-alih berkomentar, Yoora justru bertanya, “Setelah ini kita akan ke mana?”
Kelihatannya gadis itu sudah sadar bahwa mereka ke sini bukan untuk menetap. Selama dua minggu bersama, Jonathan memang selalu berpindah. Tidak ada tempat yang bisa dia sebut rumah. Dan itulah tepatnya yang dia cari saat ini, yang membuatnya menyusup ke rumah berbagai bangsawan untuk mengais apapun yang tersisa, petunjuk yang bisa membawanya ke rumah.
Sorceré memang sudah dimusnahkan, tapi Jonathan ingat betul salah satu Sorceré yang dibawa paksa ke kerajaan—orang yang menyelamatkan Jonathan di tengah ketidaktahuannya—berkata bahwa Jonathan harus pergi ke rumah. Ke tempat asal mereka.
“Ada sesuatu yang tidak beres dengan Merveil, tapi rumah kita bisa membantu.”
Bukan sesuatu. Merveil memang tidak beres. Sudah lama begitu. Hanya saja, temannya itu seakan menyiratkan hal lain, sesuatu yang lebih besar. Dan mungkin itu akan membantu Jonathan menemukan titik terang dari semua kebingungannya. Membebaskannya dari kesendirian yang melanda selama bertahun-tahun, juga membawanya pada kepingan diri yang membuatnya kosong.
Menyadari Yoora yang masih menatapnya, menunggu jawaban, Jonathan pun kembali bicara. “Hari ini kita akan—”
“Jeon Jonathan.”
Suara yang menyebut nama Jonathan membuat si pemilik nama dan Yoora kontan menoleh ke belakang, mendapati Seryu yang berada di depan pintu, agak tergesa. Dari cara wanita itu menatapnya, Jonathan tak perlu bertanya. Selalu begini. Nampaknya orang lain sudah mengendus aroma sihir Jonathan sampai ke sini.
“Kali ini siapa yang datang?” tanya Jonathan.
Seryu mendesah gusar sebelum akhirnya menjawab, “Ular.”
Dan itu berarti satu hal. Ratu Jihwan.
“Dia tidak ada bosannya, ya?” Jonathan mendesah, menekan kain basah kembali ke tangannya yang terbakar.
Luka di tangan Jonathan masih belum sembuh, tapi nampaknya, sedikit luka lagi lebih baik daripada membuat rumah Kang Seryu beserta semua yang ada di sini menjadi abu karena ulah ratu gila itu. []