Ini kisah Arabela Pratista dan Arfael Bayu Samudra di Pesantren.
Abel benci segala hal yang berkaitan dengan pesantren, Samudra sejak kecil sudah tinggal di pesantren.
Abel fanatik lagu Korea, Samudra gemar mengoleksi murotal.
Abel mencintai drama-drama Korea kepunyaannya, Samudra benci mendengarnya.
Abel biasa hidup dimanja, Samudra harus mandiri sedari dini.
Abel menyukai Samudra, Samudra benci gadis alay.
Pemuda itu tidak menyukainya, Abel tidak menyerah dan berjanji akan membuat keadaan berbanding terbalik.
Percaya atau tidak?
Ini bukan kisah tentang gadis salihah yang sejak kecil sudah hafal juz amma.
Ini kisah tentang gadis yang hafal seluruh lirik lagu Korea di luar kepala, tetapi tergagap ketika diminta membaca satu ayat di depan orang banyak.
Gadis yang menempel poster tujuh pemuda Korea di dinding kamarnya, lalu suatu hari harus melepasnya satu per satu.
Gadis yang menyebut kata pesantren dengan nada yang sama seperti orang menyebut kata penjara.
Dan di tempat yang paling tidak ia inginkan itu, ada seorang pemuda yang tumbuh besar di antara suara azan dan lantunan murotal. Pemuda yang tidak pernah tahu rasanya dimanja, karena sejak kecil ia sudah belajar mencuci bajunya sendiri.
Dua dunia yang tidak pernah dirancang untuk bertemu.
Tapi takdir memang tidak pernah meminta izin pada siapa pun.
Dan semuanya berawal dari sebuah pengumuman kecil di layar laptop.
~~~~
Namaku Arabela Pratista. Semua orang memanggilku Abel.
Kalau kalian bertanya apa yang paling kubanggakan dari diriku, jawabannya jelas. Aku punya koleksi album lengkap, poster edisi terbatas, dan lightstick yang kubeli dengan cara menabung uang jajan selama berbulan-bulan. Aku bisa menyebutkan tanggal lahir semua member kesayanganku tanpa berpikir. Aku juga sanggup menonton drama Korea dua puluh episode dalam dua hari, lengkap dengan mata bengkak keesokan paginya.
Kalau kalian bertanya apa yang paling tidak kubanggakan, jawabannya juga jelas. Aku baru saja ditolak empat kali.
Empat perguruan tinggi negeri. Empat jalur penerimaan. Empat kali layar yang sama menampilkan kalimat yang sama, yang intinya cuma satu. Aku tidak diterima.
Malam itu, aku duduk di meja makan dengan wajah yang sudah tidak bisa diselamatkan lagi.
"Udah, jangan murung terus. Rezeki enggak ke mana," kata Mama sambil menyendokkan nasi ke piringku.
Aku hanya mengaduk-aduk makananku.
"Ya udah, mondok aja dulu setahun. Sekalian belajar agama," lanjut Mama dengan nada ringan, seringan orang menawarkan camilan.
Sendokku sampai berhenti di udara.
"Apa? Mondok? Pesantren?" Suaraku naik satu oktaf. "Enggak. Enggak, Ma. Sampai kapan pun Abel enggak mau mondok."
"Kenapa memangnya?" Mama menatapku heran.
"Bangunnya subuh-subuh, mandi antre, makan antre, enggak boleh pegang ponsel." Aku menghitungnya dengan jari, satu per satu, seperti sedang membacakan daftar dosa. "Terus Abel enggak bisa nonton drama, enggak bisa dengerin lagu, enggak bisa streaming. Abel bisa mati, Ma."
Kakakku yang duduk di seberang meja langsung terbahak sampai hampir tersedak.
"Lebay banget sih, Dek. Emang ada orang mati gara-gara enggak nonton drama Korea?" katanya.
"Ada. Aku." Aku menjawab dengan yakin.
Papa yang sejak tadi diam akhirnya meletakkan sendoknya. Beliau menatapku dengan tatapan yang selalu berhasil membuatku merasa bersalah tanpa perlu dimarahi.
"Papa punya kenalan," kata Papa pelan. "Teman Papa merekomendasikan satu perguruan tinggi. Jalur masuknya masih dibuka, yang terakhir."
"Perguruan tinggi apa, Pa?" tanyaku.
"Perguruan tinggi Islam."
Aku terdiam. Di kepalaku langsung terbayang macam-macam. Mata pelajaran yang namanya saja belum pernah kudengar, teman-teman yang sudah hafal Al Qur'an sejak kecil, dan aku yang membaca satu surat pendek saja masih terbata-bata.
"Pa, Abel enggak pernah sekolah agama. Dari TK sampai SMA sekolah umum semua," kataku.
"Ya makanya, sekarang saatnya belajar," jawab Papa. "Daripada enggak kuliah, malu sama teman-teman kamu yang sudah diterima."
Kalimat terakhir itu yang membunuhku.
Sore tadi grup obrolan angkatan SMA-ku ramai sekali. Satu per satu mereka mengunggah foto layar bertuliskan selamat, lengkap dengan nama kampus dan jurusannya. Ada yang sudah menghitung biaya kos, ada yang sudah membicarakan ospek. Aku hanya membaca semuanya tanpa berani mengetik satu huruf pun, lalu keluar dari aplikasi dan menaruh ponselku terbalik di atas meja.
"Ya udah, Abel daftar," kataku akhirnya. "Tapi Abel boleh bawa ponsel, kan?"
Papa dan Mama saling pandang.
"Kenapa jawabnya pakai lihat-lihatan gitu sih?" tanyaku curiga.
"Enggak apa-apa. Nanti juga tahu sendiri," jawab Mama sambil tersenyum manis.
Kakakku menyeringai di seberang meja. "Nah, itu senyum berbahaya, Dek. Hati-hati."
"Ish, apa sih." Aku mengerucutkan bibir.
Mama meraih tanganku, lalu mengelusnya pelan. "Kamu kan udah pakai jilbab dari SMP, Sayang. Cuma tinggal diteguhkan sedikit lagi."
Aku menunduk. Mama benar, aku memang berjilbab. Sayangnya jilbabku itu masih suka lepas sendiri kalau aku sedang buru-buru beli sesuatu ke warung depan komplek.
Aku pernah membayangkan diriku kuliah dengan almamater kebanggaan, foto di gerbang kampus, lalu mengunggahnya dengan caption yang sudah kususun jauh-jauh hari. Bukan ini. Sama sekali bukan ini.
Tapi aku tidak punya pilihan lain. Malam itu juga aku mengangguk, dan Papa langsung mendaftarkanku.
Setelah makan malam, aku kembali ke kamar dan menutup pintu.
Kamarku adalah duniaku. Dinding sebelah kanan penuh poster. Dinding sebelah kiri ada rak kecil berisi album-album yang kususun berdasarkan tanggal rilis. Di atas meja belajarku, lightstick-ku berdiri anggun seperti piala.
Aku menjatuhkan diri ke kasur, memeluk bantal, lalu menatap poster di depanku.
"Oppa," kataku lirih. "Doain aku ya. Aku enggak yakin bisa masuk, tapi aku juga enggak mau nganggur."
Poster itu jelas tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dengan wajah yang sempurna, seperti biasa.
Aku memutar lagu pelan-pelan dari ponselku, membiarkannya menemaniku sampai mata terasa berat. Dalam hati, sesuatu yang aneh terjadi. Aku, gadis yang tadi menolak segala hal berbau agama, malam itu justru bangun sebentar untuk salat, lalu berdoa dengan sungguh-sungguh.
"Ya Allah, kalau memang itu yang terbaik, tolong terima aku."
Aku bahkan tidak sadar bahwa doa itu adalah doa paling serius yang pernah kupanjatkan seumur hidupku.
Setelah salam, aku masih duduk di atas sajadah cukup lama. Aneh rasanya. Biasanya aku buru-buru melipat mukena dan kembali ke ponselku, tapi malam itu aku diam saja, menatap dinding kamarku yang penuh wajah orang-orang yang bahkan tidak tahu aku ada di dunia ini.
"Kalau aku diterima, aku janji bakal belajar," bisikku. "Tapi jangan suruh aku pisah sama Oppa, ya."
Dasar Abel. Berdoa saja masih pakai syarat.
Beberapa hari berikutnya berjalan sangat lambat. Aku menghitung mundur seperti orang menunggu comeback. Kakakku terus menggodaku setiap kali kami berpapasan di ruang tengah.
"Semangat ya, Dek. Doain aja diterima. Kalau enggak, ya nikah aja," katanya sambil tertawa.
Aku melemparinya dengan bantal sofa.
Untuk mengalihkan pikiran, aku menghabiskan waktu dengan merapikan rak albumku. Kuelap satu per satu sampulnya, kususun ulang, lalu kufoto dari berbagai sudut. Aku juga sempat menonton ulang satu drama yang sudah kutamatkan tiga kali, hanya karena aku tidak tahu harus melakukan apa lagi.
"Kalau enggak diterima, aku mau ngapain ya?" gumamku pada langit-langit kamar.
Tidak ada yang menjawab. Hanya suara kipas angin dan lagu yang masih berputar pelan dari ponselku.
Aku memejamkan mata, lalu berbisik sekali lagi pada diriku sendiri.
"Hwaiting, Abel."
Lalu tibalah hari itu. Pagi-pagi sekali aku sudah duduk di depan meja belajarku dengan laptop yang menyala. Jantungku berdegup tidak karuan, telapak tanganku dingin, dan aku bahkan lupa cara bernapas dengan benar.
Aku belum tahu apa-apa saat itu. Aku belum tahu bahwa satu klik kecil akan mengantarku ke tempat yang paling kutolak seumur hidupku. Aku belum tahu bahwa aku akan bertemu seorang pemuda yang wajahnya mirip idolaku, tetapi hatinya sekeras batu.
Yang kutahu hanya satu. Hari itu adalah kesempatan terakhirku.