Adzan subuh sudah berkumandang, Arabella pun bergegas bangun untuk melaksanakan sholat subuh.
“Hari ini aku ngapain dulu ya?” Tanyanya sambil tangannya melipat mukena yang habis dia pakai.
“Ruko yang di lantai dua kan udah bersih tinggal sapu aja, udah bisa di tempatin juga, kayaknya aku packing barang terus pindah kesana cari tukang buang renovasi lantai bawah,” ucapnya lagi.
“Oke, baiklah Arabella semangat menyongsong masa depan yang lebih baik dari sekarang.”
Dengan cekatan Arabella mulai menyusun barang-barang apa saja yang akan dia bawa, tidak banyak karena sebenarnya hanya sebuah kasur dan lemari karena di larang oleh bibinya untuk banyak membawa barang dari rumah itu.
Ketika sedang menyusun barang tiba-tiba ada ketukan di pintu,
Tok.. tok.. tok..
Arabella pun menghentikan aktivitasnya dan berjalan ke arah pintu, ketika pintu di buka wajah sang bibi lah yang ada di depannya.
“Lama banget sih kamu bukain pintunya,” ketus sang bibi.
“Maaf bi, tadi Bella sedang packing barang,”
“Oh, sudah mau pindah, baguslah.” Ucap bibi sambil nyelonong masuk ke dalam rumah.
Arabella mengikuti arah kemana bibinya berjalan, “Mana coba saya liat, apa saja yang kamu bawa dari sini?” Tanyanya sambil tangannya membuka-buka kardus yang sudah di rapikan Arabella tadi.
“Nggak banyak bi, cuma bawa kasur, lemari, buku-buku dan baju saja,”
“Iyalah jangan banyak-banyak, semua barang disini kan di beli oleh kakak saya.”
Aku hanya bisa menunduk, bukannya aku tak bisa melawan bibi, tapi aku nggak mau ada keributan apalagi meributkan hal-hal duniawi begini, sudah di kasih uang saja sudah Alhamdulillah.
“Oh iya, kamu boleh bawa peralatan dapur tapi jangan semua, sini saya pilihkan saja,” ucap bibi dan kemudian dia pun berjalan menuju dapur dan di ikuti oleh Arabella.
“Nih, piring nggak usah banyak-banyak. Toh, kamu cuma sendiri, gelas.” Bibi pun memilihkan perkakas dapur apa saja yang boleh aku ambil.
“Alhamdulillah setidaknya tidak banyak barang dapur yang aku beli, mungkin hanya menambahkan saja apa yang kurang,” ucapku dalam hati.
“Kapan kamu akan pindah Bella?” Tanya bibi.
“Kalau hari ini selesai packing mungkin hari ini sudah pindah bi,”
“Baguslah lebih cepat lebih baik, soalnya rumah ini akan saya sewakan,” ucap bibi lagi.
“Saya usahakan hari ini selesai bi,”
“Ya sudah bagus, nanti kuncinya kamu simpan di tempat biasa saja, bibi pulang dulu,”
Bibi pun pergi meninggalkan rumah ayah, dan aku pun harus cepat bergegas packing supaya hari ini bisa langsung pindah.
“Alhamdulillah selesai juga,” ucap Arabella.
Jam masih menunjukkan pukul 20.00 wib, untuk ukuran tempat tinggal Arabella belumlah terlalu malam soalnya masih banyak orang-orang yang masih berlalu lalang di jalanan.
“Kalau aku pesan jasa angkut barang masih ada nggak ya, coba aja kali ya.”
Arabella pun mengotak Atik HPnya untuk mencari mobil jasa angkut barang, setelah sekian lama menunggu akhirnya di mendapatkan mobilnya, tinggal menunggu mobil itu datang.
Setelah mobil pickup itu datang, barang-barang Arabella pun segera di naikkan ke atas pickup.
“Bang, kalau saya ikut di mobilnya masih bisa, kan?” Tanyaku pada abang supir.
“Bisa neng, biar nanti teman saya di belakang sambil jagain barangnya takut ada yang nyangkut kabel nanti,” jawab si Abang supir sambil mengikat barang yang sudah tersusun di atas pickup.
“Oke bang, terima kasih,”
“Iya neng, sama-sama.” Jawabnya lagi.
Semua barang sudah selesai di ikat. “Ayo neng, masuk,” ajak si abang supir.
“Iya bang,”
Arabella pun mengunci pintu dan menyimpan kunci di bawah pot bunga tempat yang biasa buat menyimpan kunci, Arabella pun berjalan ke depan namun dia terhenti dan membalikkan badannya.
“Ayah, Ibu, doakan Bella ya, rumah ini memang banyak kenangan kita tapi mohon maaf Bella tidak bisa mempertahankan rumah ini, semoga ayah mengerti,” lirih Arabella.
Dia pun keluar dan mengunci pagar kemudian masuk ke dalam mobil pickup.
***
Sesampainya di ruko, sang supir dan neneknya dengan sigap memindahkan barang yang di atas mobil ke dalam rukonya, Arabella pun meminta tolong untuk memasukkan kasur dan lemarinya ke lantai dua, setelah semua selesai terangkat dan membayar ongkos jasanya, supir pickup dan keneknya pun segera berpamitan.
“Alhamdulillah, semuanya sudan masuk, kayaknya sekarang aku rapihkan kasur dulu biar istirahat sisanya besok saja.”
Arabella pun menyiapkan tempat tidurnya, memasang sprei, sarung bantal dan sarung guling.
“Di tatanya besok saja, sekarang yang penting bisa istirahat dulu.”
Akhirnya Arabella pun bisa berbaring setelah seharian bekerja membereskan untuk kepindahannya.
***
Alarm subuh pun berbunyi, Arabella pun bergegas bangun. “Untung pasang alarm jadi nggak kesiangan untuk subuhan, sepertinya dari sini agak jauh ke masjid tidak terdengar ada suara Adzan,” gumam Arabella.
Dia pun bergegas ke kamar mandi untuk wudhu dan melaksanakan sholat subuh.
Setelah sholat subuh dia membuka jendela kamarnya dan menatap sekeliling rukonya, “Tapi itu ada bapak-bapak seperti pulang dari masjid, tapi kok tidak kedengaran Adzan ya.”
Cukup lama Arabella berdiri di samping jendela melihat situasi tempat tinggalnya yang baru sambil menghirup udara pagi, setelah bosan dia pun turun ke bawah untuk memulai aktivitasnya, hal apa saja yang akan dia lakukan, “Hmm, aku harus cari tukang nih buat renovasi, tapi di mana ya?”
“Ah iya, aku tanya sama Ibu Murni saja, beliau pasti tau,”
Arabella pun bergegas naik kembali untuk mengambil handphone -nya di kamar.
“Halo, Assalamualaikum,” sapa Ibu Fatimah.
“Walaikumsalam, Bu. Maaf mengganggu pagi-pagi begini,”
“Ah tidak kok neng, kebetulan jam segini Ibu lagi santai sambil nungguin Abang sayur lewat, ngomong-ngomong ada apa ya neng?” Kata Bu Murni.
“Gini bu, mungkin Ibu punya kenalan tukang, soalnya kan saya mau renovasi yang dilantai bawah,” jawab Arabella.
“Oh ada neng, tetangga saya kebetulan dia sedang tidak ada proyek, nanti siang Ibu ajak kesana ya,”
“Alhamdulillah, terimakasih bu maaf merepotkan.”
“Sama-sama neng, tidak merepotkan kok, ya Suan neng nanti Ibu kesana ya, ini tukang sayurnya sudah datang, Assalamualaikum.”
“Baik bu, Walaikumsalam,” telepon pun berakhir.
“Ya sudah, lebih baik aku mandi dulu sekalian cari makanan,” Arabella pun naik kembali ke kamarnya.
***
Siang harinya Ibu Murni dan Pak Bambang pun datang ke rukonya Arabella.
“Assalamualaikum neng” kata Bu Murni.
“Walaikumsalam bu,” jawab Arabella. Dia pun berlari menuruni tangga dan membuka pintu.
“Eh Ibu, mari masuk Bu,” Ibu Fatimah pun tersenyum dan masuk ke dalam ruko.
“Ini neng tukang yang Ibu bilang tadi namanya Pak Bambang.”
“Iya neng, kenalkan nama saya Bambang,”
“Iya Pak Bambang, salam kenal saya Arabella.”
Mereka pun berbincang mengenai desain untuk toko kuenya nanti, dan pekerjaan akan dilakukan dalam waktu yang dekat.
***