“Cepat. Panggilkan dokter!”
“Bawa juga anak ini!”
“Astaga-“
DRAP DRAP DRAP.
Aduh... berisik sekali orang-orang ini. Apakah di surga seramai ini? Ada pawai kah?
Aku membuka mataku perlahan. Mengerjapkannya. Menyesuaikan kondisi cahaya yang Menyilaukan mata.
“Akhirnya kau sudah sadar.” Seseorang berbicara padaku ketika kepalaku menoleh ke samping kanan. “Adakah yang terasa sakit? Kepalamu pusing? Atau perutmu terasa mual? Kalau ada, katakanlah.”
Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Mencerna kalimat yang di lontarkan oleh pria asing di sampingku. Pria itu mengenakan pakaian yang aneh. Pakaian biru muda, lengkap dengan masker dan topinya. Tunggu, apakah itu topi?
BRAK!
“DOKTER AXTON!” Seorang wanita tiba-tiba mendobrak pintu dan memanggil nama seseorang. Sepertinya nama pria di sampingku. Ternyata dia seorang dokter.
“Astaga, Rixa. Sudah ku bilang kan untuk mengetuk pintu dulu sebelum masuk.” Axton memegang kepalanya.
Cewek yang di panggil Rixa nyengir lebar. “Maafkan aku, Axton. Tapi, ada pasien yang membutuhkanmu.”
“Segera laksanakan.” Axton mendadak bergegas. Bergerak dengan cepat keluar dari ruangan bersama Rixa. Meninggalkanku sendirian di ruangan putih ini. “ Oh, iya. Nanti kalau butuh bantuanku, tekan saja tombol di meja itu.” Ucap Anton terakhir kali sebelum benar-benar pergi dari ruangan yang kutempati ini.
Aku bangun dari tidurku dan mencoba duduk. Tubuhku tidak merasakan sakit apa pun. Hanya saja kepalaku terasa sedikit pusing.
Aneh. Padahal aku baru saja terkena beberapa tusukan di bagian perut.
“Sakti sekali aku bisa masih bisa hidup.” Gumamku sembari turun dari ranjang empuk. Berjalan menuju lemari besar yang tak begitu jauh dari ranjang.
Aku ingin ganti baju. Gerah mengenakan baju biru yang couple dengan dokter tadi.
Tanganku mencoba membuka pintu lemari. Eh? Gak bisa? Di kuncikah?
Aku mencobanya lagi dengan sekuat tenaga. Biasanya aku bisa dengan mudah menarik pintu sampai terlepas. Tapi... untuk kali ini entah kenapa rasanya berat sekali. Selemah itukah aku sekarang. Dan entah kenapa rasa-rasanya aku semakin pendek. Dan tanganku semakin kecil.
“Hah... sial.” Aku menatap diriku dalam cermin yang terpampang di dinding dekat lemari. Cerminnya keren sekali. Bisa menirukan gerakanku tapi dengan tubuh seorang anak kecil.
Siapa sih anak kecil di depanku ini? Ganteng, putih, rambut hitam, mata biru, pendek, sayangnya terlihat lemah. Sepertinya dia perlu berguru padaku. Ah! Tidaklah. Nanti dia juga ikutan menghianatiku lagi. Malas sekali.
Aku meninggalkan cermin keren dan berganti menatap sekitar. Tidak ada hal yang menarik kecuali alat medis aneh. Bahkan menurutku paling aneh sedunia.
Aku berjalan mendekati jendela. Membuka tirainya dan menatap keadaan luar yang indah dan terlihat luar biasa di mataku.
Kota ini keren. Tapi juga aneh. Masa iya semua bangunan di sini tinggi-tinggi. biasanya kan hanya bangsawan yang bisa membuat bangunan setinggi ini. Bahkan lebih tinggi ini daripada kerajaan yang pernah kulihat.
Aku diam menatap keadaan kota di bawah. Ramai sekali. Banyak benda-benda yang bisa terbang berlalu-lalang. Sesekali ada yang menyapaku kalau lawat di depan jendela dan mendapatiku yang hanya diam mematung.
Sihirnya unik. Bisa membuat benda-benda di sini terbang bagai burung tanpa sayap. Dan orang-orang disini juga ramah semua. Meskipun pakaian mereka aneh-aneh. Yah... intinya semua yang ada di kota ini aneh. Berbeda sekali dengan kota tempat kutinggal. Orang-orang pada egois. Termasuk aku.
Lama memandang kota baru yang pertama kali kulihat membuatku bosan. Aku kembali ke ranjangku yang lumayan tinggi.
Yang membuat ranjang ini juga gila. Jangan-jangan dia juga aneh kayak ranjangnya.
Kubaringkan badanku dan merilekskan badan. Beberapa kali menghela nafas lalu menghembuskannya. Beberapa kali juga perutku keroncongan minta diisi dan tenggorokanku terasa kering, meminta untuk disiram dengan air yang segar.
Haduh... dipikir-pikir dokter itu juga aneh. Masa iya pasiennya diterlantarkan begitu saja tanpa menyiapkan suguhan apa pun untuk kumakan.
Batinku sambil mengguling-gulingkan tubuh diatas ranjang yang empuk. Terlalu nyaman karena baru pertama kali merasakan.
Aku menatap laci tepat di samping ranjang. Mendapati tombol merah yang terlihat diatas meja. Aku jadi teringat dengan kalimat dokter tadi. Segera aku mencoba menekan tombol merah itu dan... zonk. Tidak terjadi apa pun.
Jangan-jangan aku ditipu.
Karena kesal, aku pun menekannya berkali-kali tanpa peduli dengan apa yang akan terjadi pada tombol ini nanti.
Biarkan saja rusak. Siapa suruh mau menipu seorang Raksa Saja yang seorang master yang ditakuti di medan perang.
Tiba-tiba pintu ruangan yang kutempati terbuka. Pintunya juga aneh karena cara bekerjanya adalah dengan bergeser.
Jangan-jangan pintu lemari tadi cara bekerjanya juga dengan digeser.
“Haha. Sepertinya kau adalah orang yang tidak bisa bersabar sedikit. Masa iya masih dalam perjalanan, kau terus-menerus menekan tombolnya. Bahkan sampai aku masih disini pun kau masih menekan tombolnya.” Axton menunjukkan alat kecil warna merah dari sakunya yang berkedip-kedip dan bergetar. Alat itu juga berhenti ketika aku menghentikan gerakan tanganku yang terus menerus menekan tombol.
“Jadi, kenapa kau memanggilku? Adakah dari tubuhmu yang masih terasa sakit, nak?” Axton bertanya lembut sambil tersenyum.
Aku menatap galak. Bisa-bisanya dia memanggilku ‘nak’. Padahal mau bagaimanapun, akulah yang lebih tua darinya.
“Aku lapar-“ Mendadak aku menghentikan kalimat yang ingin kuucapkan. Bahasa aneh dan suara anak kecillah yang terdengar. Aku meneguk ludahku. Jangan-jangan...
“Oh, jadi kau hanya ingin makan? Sebentar ya. Aku akan panggilkan perawat untuk menyiapkan-“
“Tunggu sebentar!” Aku mencegah Axton yang akan berbalik badan. “Aku juga haus. Dan aku ingin ganti pakaian.”
Axton mengangguk mendengar keluhanku. Dia lalu pergi lagi dari ruangan yang kutempati.
Aku terdiam menatap lurus ke depan. Lalu turun dari ranjang dan berjalan menuju cermin. Menatap lama tubuh anak kecil di dalam cermin, mengusap pelan cermin, dan memukulnya pelan, memegang rambut hitam yang lumayan panjang, mencubit pipi, meraba-raba tubuh. Dan semua yang kulakukan itu terasa nyata.
“Apa... APA-APAAN INIIIII!!!”
》¤《
Usai berteriak tadi, Axton bergegas kembali karena mengkhawatirkanku. Dia kira aku kenapa napa. Dan setelah dicek, tentu saja aku baik-baik saja secara fisik dan mental. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja dia terlalu lebay sampai memindahkanku ke ruangan lain. Takutnya aku tambah kenapa napa karena semakin kesini malah semakin kesana.
“Makan yang banyak ya, nak.” Axton memberikan nampan berisi makanan padaku. Makanan yang tak selezat kelihatannya. Bubur hangat nan hambar yang lembut di mulut.
“Terima kasih, paman.” Aku menyendok bubur kemudian melahapnya. Tidak peduli dengan rasanya yang hambar, yang penting aku Bisa makan sampai kenyang.
Bersyukur dengan apa yang diberikan. Daripada mati kelaparan.
“Aduh. Kok panggil paman sih. Aku loh masih muda. Panggil kakak dong. Abang juga gapapa.” Axton nyengir sambil menggaruk kepalanya.
Mendengar kalimatnya membuat rasa hambar bubur yang kumakan tiba-tiba menjadi pahit.
Muda darimananya coba. Jelas-jelas dia sudah dewasa dan sudah waktunya untuk menikah.
Aku tidak menggubris ucapan Axton lebih jauh. Hanya menoleh sekilas lalu lanjut makan.
“Ngomong-ngomong, siapa namamu?” Axton tiba-tiba duduk di sebelahku dan tangannya mencoba untuk mengusap kepalaku.
GREP!
Aku mencengkeram tangannya lumayan kuat. Membuatnya berhenti dan batal untuk mengusap ubun-ubunku. Kebiasaanku jika ada orang asing yang ingin menyentuh salah satu tubuhku sembarangan membuatku waswas sampai sekarang.
“Ow.” Axton menurunkan tangannya. “Maaf. Aku tak bermaksud jahat padamu, nak.” Lanjutnya.
Aku menatap mata Axton yang tampak sedikit terkejut. “Tak apa. Aku juga minta maaf karena bersikap waswas padamu. Aku... tidak suka disentuh oleh orang asing.” Kataku sambil menunduk dan memainkan sendok.
“Ah. Begitu ya. Aku paham sekarang. Kau pasti memiliki rahasia yang harus di sembunyikan.” Axton mencoba tetap tersenyum dan mulai menjauh sedikit. Dia langsung paham apa itu kurang nyaman.
Rahasia yang harus di sembunyikan...
Aku menatap bubur itu lekat-lekat. Mencerna kalimatnya secara perlahan.
Ya jelas lah. Apaan sih nih orang gak jelas. Dipikir-pikir nih otak si bocah makin lemot aja.
“Hei, nak. Kau belum menjawab pertanyaanku tadi.”
“Emang tadi paman bertanya apa?”
“Namamu.”
Aku terdiam sejenak. “Nama?”
Axton mengangguk.
Iya, ya. Dipikir-pikir aku tidak tahu nama si pemilik tubuh ini. Masa iya aku harus pakai nama Raksa. Kan gak aesthetic. Lagian kalau kehidupanku baru, namaku juga harus baru kan? Tapi nama pemilik ini siapa? Sudah masuk tubuh si bocil, ganteng lagi. Tapi malah gak ninggalin pesan sama sekali. Minimal ninggalin apa kek. Surat, ingatan, atau apalah itu terserah. Ini mah meninggal tanpa wasiat namanya.
“Halo~” Axton melambaikan tangannya di depan wajahku. Membuat lamunanku buyar. “Apa yang sedang kau pikirkan sampai segitunya?”
“Ya nama lah. Apalagi.” Jawabku dengan gamblang.
“Hah? Kau lupa namamu?” Axton membenahi kacamatanya. Menatapku serius.
Aku mengangguk ragu.
“Astaga. Ternyata aku terlalu lalai dalam memeriksa pasien khususku.” Kata Axton sambil mengusap wajahnya. “PERAWAT! KEMARI!” Teriak Axton keras sekali.
Waduh. Gambaran suara masa laluku.
Dalam sekejap, dua orang berseragam hijau lengkap dengan masker dan topinya datang dan masuk ke dalam ruangan.
Apa yang terjadi?
“Tolong siapkan alat MindScope (teropong pikiran).” Axton memberi perintah pada perawat berbaju hijau. Salah satu dari mereka bergegas keluar dari ruangan. Axton lalu bercakap-cakap pada perawat yang tersisa.
Tak lama kemudian, perawat yang keluar tadi telah kembali sembari membawa sebuah alat berbentuk setengah lingkaran berwarna transparan. Di dalam nya terdapat benang yang saling menyatu seperti otot. Itulah MindScope.
Apa yang akan mereka lakukan?
Axton dan kedua perawatnya mendekatiku. Atmosfernya mendadak berubah menjadi serius.
“Tolong tenak ya, nak.” Axton mengulang senyum tipis. Dia lalu mengambil MindScope dari tangan perawatnya dan mendekatkannya padaku.
“Apa yang...”
BRAK!
“KAKAK!”
》¤《