Pintu mobil baru saja tertutup ketika Naura menarik ujung lengan baju Audya. Gadis kecil itu menunjuk boneka kelinci di pangkuannya, lalu menyodorkannya pada Audya dengan wajah serius.
"Kakak pegang. Nanti jatuh."
Audya menerima boneka hasil perjuangan mereka di mesin capit tadi. Berkali mencoba, hanya satu yang berhasil dibawa pulang. Itu pun setelah Argantara ikut turun tangan. Kalau dihitung dari koin yang dihabiskan, mungkin lebih murah membeli langsung di toko. Tapi melihat Naura memeluk kelincinya sepanjang jalan menuju parkiran, Audya memilih menyimpan hitungan itu sendiri.
"Naura duduk yang benar dulu, ya. Sabuknya jangan dilepas."
Naura menurut dengan mulut menguap lebar. Tidak sampai lima menit setelah mobil berjalan, kepalanya sudah miring pada sandaran. Audya merendahkan suara ketika memberi tahu belokan menuju rumahnya.
"Masih lurus, Pak. Nanti setelah lampu merah belok kiri."
Argantara mengangguk. Melalui kaca di depannya, Audya bisa melihat sebagian wajah pria itu. Hanya sebagian, tetapi sudah cukup membuat dirinya buru-buru menunduk dan merapikan telinga boneka yang sebenarnya tidak berantakan.
Ternyata selama ini dia mengajar anak bosnya sendiri. Dunia memang sempit. Atau hanya Audya yang terlalu lambat menghubungkan semuanya? Nama perusahaan, rumah besar itu, juga Liam yang mengenal mereka. Petunjuknya sudah banyak. Kepalanya saja yang tidak pernah sampai ke sana.
"Sudah berapa lama mengajar Naura?"
Audya mendongak. "Belum terlalu lama, Pak. Masih beberapa pertemuan."
"Ibu saya yang menghubungi kamu?"
"Awalnya Liam yang kasih tahu. Setelah itu saya datang menemui ibu Larasati. Saya juga baru tahu hari ini kalau Naura anak bapak."
Argantara melirik putrinya melalui kaca. "Saya juga baru tahu guru yang sering dia ceritakan ternyata kamu. Di rumah dia memanggilnya kak Audy."
Audya tersenyum tanpa sadar. Ternyata Naura membicarakannya juga di rumah.
"Biasanya dia cerita apa, Pak?"
"Katanya kamu bisa menyembuhkan luka dengan ditiup."
Wajah Audya menghangat. Ya Tuhan, kejadian di taman itu ternyata masih diingat. Padahal saat itu dirinya hanya kebingungan menghadapi anak menangis. Tidak terpikir penjelasan lain yang lebih masuk akal.
"Itu waktu Naura jatuh di taman, Pak. Saya cuma berusaha menenangkan. Bukan benar-benar sembuh karena saya tiup."
"Saya tahu."
Ada senyum kecil pada wajah Argantara. Audya semakin sibuk dengan boneka di tangannya. Kenapa sih pria itu harus tersenyum? Sudah cukup sulit mengatur tatapan kalau wajahnya datar. Apalagi kalau seperti ini.
Suara ponsel memecah keheningan. Argantara menjawab setelah menekan tombol pada layar mobil. Suara Larasati terdengar menanyakan keberadaan Naura. Audya langsung duduk lebih tegak, seolah wanita itu bisa melihatnya dari seberang sana.
"Sudah tidur, Bu. Ini antar Audya pulang dulu."
"Audya ikut? Tadi ketemu di mana?"
"Di mal. Sama Liam."
"Oh, pantas Naura betah. Ya sudah, hati-hati. Jangan bangunkan Naura kalau sudah tidur."
Percakapan singkat itu selesai. Audya menatap Naura yang tetap lelap. Dia jadi teringat informasi dari penjaga rumah saat pertama kali datang. Putri ibu Larasati sudah meninggal. Saat itu Audya tidak bertanya lebih jauh karena merasa bukan urusannya.
Lalu siapa ibu Naura?
Pertanyaan itu singgah, tetapi Audya menahannya di dalam kepala. Tidak semua rasa penasaran harus dituruti. Apalagi menyangkut keluarga orang lain.
"Di depan gang saja juga tidak apa-apa, Pak. Saya bisa jalan."
"Sekalian sampai rumah. Naura masih tidur."
Tidak ada alasan untuk menolak lagi. Audya menurut dan memberikan petunjuk terakhir. Mobil berhenti di depan rumah beberapa menit kemudian. Dina yang tengah merapikan barang di toko menoleh, lalu mendekat setelah mengenali kendaraan yang sebelumnya pernah membawa suaminya pulang.
Audya turun sambil memeluk kelinci kecil itu. Baru setelah berdiri dia sadar boneka Naura ikut terbawa. Aduh. Untung hanya boneka. Kalau tas milik bosnya yang tidak sengaja dibawa turun bagaimana?
"Bu, tadi ketemu pak Argantara di mal. Sekalian diantar pulang."
Argantara membuka pintunya dan turun untuk menyapa. Dina membalas dengan senyum ramah, lalu menengok Naura melalui pintu belakang yang masih terbuka.
"Putrinya, Pak? Cantik sekali."
"Iya, Bu. Tadi minta jalan-jalan, sekarang sudah kelelahan."
"Mari mampir dulu. Ibunya Naura ikut juga tadi?"
Audya yang sedang meletakkan boneka di samping Naura mendadak diam. Argantara tidak langsung menjawab. Jeda singkat itu membuat Audya menoleh.
"Ibunya Naura sudah meninggal, Bu."
Dina merapatkan kedua tangannya dengan wajah menyesal. "Aduh, maaf. Saya tidak tahu."
"Tidak apa-apa."
Jawabannya tenang. Justru itu yang membuat Audya tidak tahu harus menaruh pandangan di mana. Berbagai dugaan yang tadi memenuhi kepalanya mendadak kehilangan tempat. Pria yang selama ini dia kira memiliki istri ternyata membesarkan putrinya tanpa kehadiran wanita itu.
Audya memandang Naura sekali lagi. Teringat bagaimana gadis kecil itu selalu menahan kepulangannya selesai belajar. Mengajaknya bermain, meminta ditemani lebih lama. Selama ini Audya hanya menganggap Naura mudah bosan.
"Kalau begitu lain kali mampir, ya. Kasihan anaknya kalau harus dibangunkan," ujar Dina, mengakhiri kecanggungan.
Argantara mengangguk. "Saya pamit dulu, Bu."
"Terima kasih sudah mengantar, Pak," ucap Audya.
"Senin jadwal kamu mengajar?"
"Iya, Pak."
"Naura pasti menunggu."
Audya mengangguk sebelum menutup pintu belakang perlahan. Mereka menunggu sampai mobil beranjak pergi. Setelah kendaraan itu berbelok, Dina kembali menuju toko dengan langkah pelan.
"Ibu tadi salah tanya, ya."
"Ibu kan belum tahu. Audya juga baru tahu."
Audya mengambil tumpukan kantong plastik di meja dan membantu merapikannya. Tangannya bekerja, tetapi pikirannya masih tertinggal pada suara Argantara. Pendek, tenang, dan tidak mengundang pertanyaan lanjutan. Audya bersyukur ibunya tidak terus bertanya.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah, Bu. Banyak. Sama Liam tadi."
Dina tidak bertanya lebih jauh tentang Liam. Kali ini, Audya juga tidak menunggu ibunya bertanya. Dia membantu melayani dua pembeli sebelum masuk untuk mengganti pakaian.
Ponselnya menyala ketika tas diletakkan di kasur. Nomor asing yang pernah mengirim pesan kembali muncul. Audya membuka percakapan itu. Pesan terakhir yang belum sempat dibacanya ternyata sebuah perkenalan singkat.
Saya Argantara. Nomor kamu saya minta dari Mayang.
Audya menegakkan punggung. Jadi, bapak-bapak yang dia kira salah kirim itu memang bosnya sendiri? Dia membaca ulang balasannya kemarin. Syukurlah masih sopan. Tidak ada kalimat yang membuatnya harus mengajukan pengunduran diri malam ini juga.
Pesan baru di bawahnya membuat Audya terdiam lebih lama.
Terima kasih sudah menemani Naura hari ini. Kamu juga istirahat.
Audya mengetik jawaban, menghapusnya, lalu mengetik lagi. Setelah beberapa kali mengubah kalimat yang sebenarnya sederhana, akhirnya dia mengirim ucapan terima kasih karena sudah diantar.
Ponsel diletakkan dengan layar menghadap kasur. Baru beberapa detik, dibalik lagi.
Audya mengembuskan napas dan menertawakan dirinya pelan. Tidak ada pesan baru. Tentu saja. Memangnya percakapan mereka belum selesai?
Di luar kamar, Dina memanggilnya untuk membantu memindahkan ayah ke tempat tidur. Audya segera bangkit. Kali ini ponselnya benar-benar ditinggalkan, meski senyum kecil di wajahnya belum ikut hilang.