Payung pinjaman berdiri di sudut kamar, sudah kering sejak semalam. Sebelum berangkat, Audya menempelkan kertas kecil pada gagangnya agar tidak lupa membawa saat mengajar hari Senin. Dia bahkan menuliskan nama Argantara di sana.
Setelah dipandang lagi, nama itu dicoret dan diganti menjadi payung Naura.
"Kenapa juga harus diganti," gumam Audya, kesal pada dirinya sendiri.
Dia meninggalkan kamar sebelum sempat melakukan hal yang lebih bodoh. Di meja makan, Andira sudah duduk dengan seragam. Matanya terlihat kurang tidur karena semalam mengerjakan tugas sampai Dina harus mengingatkan waktu.
"Jangan semua dikerjakan satu malam," ujar Audya sambil mengambil nasi.
"Kemarin katanya harus diselesaikan."
Audya menahan napas. Baru pagi, jangan mulai bertengkar.
"Diselesaikan sesuai waktu dari guru. Kalau kamu sakit, nanti malah ketinggalan lagi."
Andira tidak menyahut. Namun ketika berangkat, dia memberitahukan bahwa akan pulang agak sore untuk menemui Bu Sari. Dina mengangguk dan meminta dikabari kalau waktunya berubah.
Audya memperhatikan tanpa komentar. Memberi kabar seharusnya hal biasa. Di rumah mereka, belakangan hal sesederhana itu terasa seperti kemajuan besar.
Di kantor, hasil revisi laporan magang akhirnya dikembalikan Mayang. Masih ada dua bagian yang perlu dijelaskan, tetapi contoh datanya sudah aman digunakan. Audya membaca catatan di sisi halaman sambil mengangguk-angguk.
"Jangan cuma diangguki," tegur Mayang. "Kalau belum paham, tanya."
Audya meringis. "Yang bagian ini aku mau tanya, Mbak."
Penjelasannya tidak panjang. Setelah mendapat jawaban, Audya menuliskan ulang uraian pekerjaan dengan kalimat sendiri. Ada rasa puas ketika akhirnya bisa membaca laporannya tanpa merasa sedang menyalin sesuatu yang tidak dimengerti.
Dia mengirim perbaikan kepada dosen pembimbing saat istirahat. Setelah itu ponsel disimpan. Sisa hari digunakan untuk menyelesaikan tugas kantor sebelum akhir pekan.
Tidak ada kejadian besar sampai waktu pulang. Andin tetap jarang menyapanya, tetapi tidak lagi meletakkan pekerjaan mendadak di meja Audya. Entah sampai kapan. Untuk sekarang, Audya cukup senang bisa bekerja tanpa harus menahan marah setiap satu jam.
Sesampainya di rumah, dia mendapati beberapa bungkus mi instan tersusun di lantai toko. Dina duduk di bangku kecil sambil memeriksa bagian belakang kemasan.
"Ada yang protes lagi, Bu?"
Dina menggeleng. "Bu Dewi bilang masih ada yang membicarakan kejadian waktu itu. Ibu jadi kepikiran."
Audya meletakkan tas di kursi, mencuci tangan, lalu ikut duduk. Mereka memeriksa tanggal pada setiap kemasan, memisahkan stok menurut waktu kedaluwarsa yang lebih dekat. Tidak ada yang lewat tanggal, tetapi beberapa bungkus terselip di belakang barang lain sehingga sulit dilihat.
"Yang lama kita taruh di depan. Biar gampang diambil," ujar Audya.
"Ibu sebenarnya sudah sering lihat tanggalnya."
"Aku tahu. Ini sekalian dirapikan saja."
Dina mengusap salah satu bungkus dengan kain bersih. "Tapi orang tetap bisa bilang ibu bohong."
Audya terdiam. Menunjukkan stok yang masih baik hari ini memang tidak otomatis menjelaskan dari mana mi yang dibawa Bu Erna berasal. Dia belum punya jawabannya. Menuduh toko lain sengaja menjatuhkan mereka juga tidak akan membantu kalau hanya berdasarkan dugaan.
"Kalau ada yang tanya, kita tunjukkan barangnya. Kalau ada keluhan lagi, kemasannya jangan langsung dibuang. Kita lihat sama-sama."
Dina mengangguk, meski wajahnya belum sepenuhnya lega.
Mereka melanjutkan pada telur, tepung, dan beberapa kebutuhan dapur. Audya mencatat barang yang benar-benar sering dicari. Selama ini ada stok yang lama tidak bergerak, sementara barang sederhana justru kosong saat pembeli datang.
Dia hampir menuliskan daftar belanja terlalu panjang sebelum melihat uang di kotak kas. Langsung saja pulpen berhenti. Mengatur toko di dalam kepala ternyata jauh lebih mudah daripada menghadapi uang yang tersedia.
"Jangan semuanya dibeli sekarang," ujar Dina, memahami wajah putrinya. "Sedikit dulu juga tidak apa-apa."
Andira pulang ketika mereka sedang menggeser toples. Dia meletakkan tas, lalu berdiri di ambang pintu toko dengan wajah bingung mencari jalan lewat.
"Bantu pegang ini sebentar," pinta Audya.
Andira menerima toples tanpa membantah. Dia menunggu rak dilap, kemudian mengembalikannya sesuai arahan Dina. Pekerjaan selesai lebih cepat dengan tiga orang, meski percakapan di antara mereka masih sering terputus canggung.
Setelah magrib, Dina mengeluarkan amplop berisi sisa uang Andira. Audya duduk bersama mereka, membawa catatan kebutuhan yang tadi dibuat.
"Aku setuju sebagian dipakai untuk kebutuhan rumah," kata Audya. "Tapi kita catat. Biar semuanya tahu."
Mereka menyisihkan lima ratus ribu untuk keperluan ayah yang tidak terduga, dua ratus lima puluh ribu untuk barang toko yang paling dibutuhkan, dan seratus ribu tetap disimpan. Belanja lain menunggu pemasukan berikutnya.
Andira memandangi amplop yang kini dibagi. "Jadi uangnya enggak balik ke kakak?"
"Sebagian besar memang sudah enggak bisa kembali, kan?" jawab Audya. "Yang tersisa jangan dihabiskan tanpa jelas lagi."
Andira menunduk. Audya tidak melanjutkan sindiran. Mereka masih perlu membicarakan hal lain sebelum malam terlalu larut.
Di halaman baru, Dina menuliskan jadwal menjaga toko. Senin dan Kamis, ketika Audya mengajar, Andira mendapat giliran sore setelah pulang sekolah. Kalau ada tugas atau kegiatan sekolah, dia harus memberi tahu agar waktunya ditukar. Pada hari lain, Audya mengambil giliran setelah sempat mandi dan makan.
"Aku juga perlu waktu buat laporan, Bu. Jadi jangan semua malam aku yang jaga."
"Iya. Kita gantian," jawab Dina.
Kalimat itu membuat Audya berani menambahkan kebutuhan lain. Membantu ayah tidak bisa dilakukan sambil menjaga pembeli terus-menerus. Saat Dina mengurus ayah, salah satu anak harus berada di toko. Mereka menyesuaikan lagi jadwal yang baru ditulis.
Tidak langsung rapi. Ada bagian dicoret karena bertabrakan dengan waktu belajar Andira. Ada pula waktu istirahat Dina yang hampir terlupakan sampai Audya menunjuknya.
"Ibu juga harus istirahat."
"Kalau ibu tidur, nanti kalian bilang tokonya sepi karena ditinggal," gurau Dina.
Audya tertawa kecil. Andira tidak ikut tertawa, tetapi sudut bibirnya bergerak sedikit.
Ketukan dari luar menghentikan pembicaraan. Seorang tetangga hendak membeli dua butir telur dan garam. Andira yang paling dekat pintu bangkit setelah melihat ibunya masih memegang buku.
"Aku ambilkan."
Audya menunggu dari kursinya. Ketika adiknya bertanya harga, dia menjawab tanpa berdiri. Beberapa menit kemudian, uang penjualan masuk ke kotak kas dan Andira kembali duduk.
Toko mereka belum mendadak ramai. Kabar buruk juga belum hilang. Namun untuk sekali ini, Dina tidak perlu meninggalkan pekerjaannya setiap kali ada orang mengetuk pintu.
"Harga garamnya sekarang segitu?" tanya Andira setelah duduk kembali.
Dina mengangguk dan menunjukkan catatan belanja terakhir. Andira membacanya dengan kening berkerut. Selama ini dia mengambil barang dari rak untuk kebutuhan rumah tanpa pernah memikirkan berapa uang yang harus disediakan agar tempat kosongnya terisi lagi.
"Bisa dituliskan dekat rak? Aku takut salah kasih harga."
Audya menyodorkan kertas kecil dan selotip. "Tulis yang sering ditanya dulu."
Mereka membuat beberapa label sebelum menutup toko. Tulisan Andira tidak semuanya lurus, tetapi cukup terbaca. Dina membiarkannya menempelkan sendiri, hanya membetulkan satu harga yang tertukar dengan ukuran kemasan lain.