Aliana menelepon pada Minggu siang seperti yang dijanjikan. Kali ini panggilan masuk langsung ke ponsel Dina, dan ibunya berhasil menerima tanpa meminta Audya menekan tombol lebih dahulu.
Audya sedang membersihkan rak ketika mendengar suara Dina meninggi karena terkejut.
"Sabtu ini? Kamu sudah beli tiket?"
Tangannya berhenti pada lap. Dia tahu kabar itu akan disampaikan, tetapi tetap ikut merasakan perubahan suasana rumah ketika ibunya benar-benar mendengarnya.
Dina berjalan mendekati Rudi dan meminta Audya membantu menyalakan pengeras suara. Andira datang dari dapur, membawa gelas yang belum sempat diletakkan.
Aliana menjelaskan jadwalnya. Tiba pada Sabtu pagi, menginap satu malam, lalu kembali pada Minggu sore supaya dapat masuk kerja sesuai kesepakatan.
"Cuma dua hari?" tanya Dina.
Ada kecewa yang tidak sepenuhnya berhasil disembunyikan. Audya menatap ibunya, tetapi tidak menyela. Aliana perlu menjawab sendiri tanpa selalu dibantu.
"Iya, Bu. Untuk sekarang itu yang bisa kakak atur. Nanti kalau jadwal memungkinkan, kakak pulang lagi."
"Ibu kira..."
Dina menghentikan kalimatnya. Rudi menggerakkan tangan di sandaran kursi, dan istrinya otomatis menggenggamnya.
"Dua hari dulu tidak apa-apa," lanjut Dina lebih pelan. "Yang penting kamu benar datang."
Aliana mengatakan bahwa tiket pulang dan kembali sudah dipesan. Dia tidak menjanjikan akan berhenti bekerja atau langsung menetap di rumah. Audya merasa lega sekaligus sedih karena percakapan yang jujur ternyata tetap bisa mengecewakan seseorang.
Mereka membicarakan tempat menjemput. Audya sudah memeriksa urusan kampus dan bisa datang pada pagi hari. Dia meminta kakaknya mengirim kabar saat perjalanan mendekati tujuan, bukan baru menelepon ketika sudah turun dan kebingungan mencari arah.
"Iya. Kakak simpan baterainya supaya bisa menghubungi."
Andira akhirnya ikut bicara. Dia bertanya apakah kakaknya masih menyukai sambal buatan ibu yang dahulu sering membuat mereka berebut makan.
Aliana tertawa kecil. Suara itu terdengar asing dan akrab sekaligus bagi Audya.
"Masih. Tapi jangan repot masak banyak. Kakak makan yang ada saja."
Tentu saja Dina sudah mulai menyebut beberapa hidangan. Audya tidak menghentikannya, hanya mengingatkan agar jumlahnya sesuai orang yang akan makan. Mereka sedang menunggu anggota keluarga pulang, bukan menyiapkan pesta untuk satu lingkungan.
Setelah panggilan selesai, Dina duduk cukup lama dengan ponsel di tangan.
"Ibu memang berharap dia pulang lebih lama," akunya.
Audya duduk di dekatnya. "Aku tahu, Bu. Tapi kalau langsung berhenti kerja, nanti kakak juga bingung. Kita lihat dua hari ini dulu."
Dina mengangguk. Dia tidak meminta Audya menelepon Aliana kembali untuk membujuk. Hanya menatap Rudi dan mengatakan bahwa putri mereka benar-benar akan datang.
Sore itu mereka mulai menyiapkan tempat tidur. Ruang yang dahulu digunakan Aliana kini berisi beberapa kardus toko dan barang yang jarang dipakai. Audya membuka jendelanya, sementara Andira memindahkan tumpukan yang ringan.
Di salah satu sisi dinding masih ada bekas perekat. Dulu Aliana menempelkan potongan gambar rumah dan pakaian yang disukai. Audya ingat pernah menertawakan pilihannya karena kamar mereka sendiri jauh dari gambar itu.
Sekarang dia bertanya-tanya apakah keinginan kakaknya sudah mulai tumbuh dari sana. Bukan salah ingin hidup lebih baik. Yang menyakitkan adalah ketika seluruh orang yang tidak ikut dalam bayangan itu ditinggalkan tanpa penjelasan.
"Kak, ini dibuang?" tanya Andira sambil mengangkat kotak sepatu kosong.
Audya memeriksa isinya sebelum menggeleng. Ada beberapa foto lama dan pita yang warnanya sudah pudar.
"Simpan di sini dulu. Nanti kak Aliana yang lihat."
Andira meletakkan kotak itu di atas lemari, lalu bertanya apakah mereka akan membicarakan semuanya ketika Aliana datang.
"Semuanya apa?" Audya balik bertanya.
"Yang bikin ibu sedih. Yang bikin kakak marah."
Audya merapikan ujung seprai sebelum menjawab. "Aku belum tahu. Kita lihat keadaannya. Ayah juga tidak bisa diajak bicara lama-lama kalau sudah lelah."
"Kalau ibu langsung memaafkan?"
Pertanyaan itu membuat Audya berhenti. Dia hampir mengatakan bahwa ibunya memang selalu begitu. Namun dia teringat percakapan Senin malam, ketika Dina tidak memaksanya segera bersikap hangat.
"Itu hak ibu. Aku tidak bisa menentukan kapan ibu boleh memaafkan. Sama seperti ibu tidak bisa menyuruh aku langsung lupa."
Andira mengangguk, tampaknya sedang memikirkan sesuatu yang bukan hanya tentang Aliana. Audya tidak menanyakannya. Mereka melanjutkan merapikan kamar sampai Dina datang membawa sarung bantal bersih.
Wanita itu menunjukkan satu bantal yang dulu biasa dipakai Aliana. Sarungnya sudah beberapa kali berganti, tetapi dia masih ingat. Audya menerima bantal tersebut dan meletakkannya di kepala tempat tidur. Ada bentuk kerinduan yang tidak membutuhkan penjelasan panjang, dan sore itu dia membiarkan ibunya memilikinya tanpa komentar.
Dia tidak tahu apakah kakaknya akan mengenali semuanya. Ada barang yang mungkin lebih lama menunggu daripada orang yang memilikinya.
Menjelang malam, ruang itu sudah cukup rapi untuk dipakai. Tidak berubah menjadi kamar baru. Masih ada sudut dinding yang kusam dan lemari yang pintunya harus diangkat sedikit agar bisa tertutup. Namun tempat tidur bersih sudah disiapkan.
Audya berdiri di ambang pintu, lalu mematikan lampu. Ada tempat untuk Aliana pulang. Itu tidak berarti semua orang di rumah sudah siap melupakan alasan tempat tersebut kosong begitu lama.
Di rumah lain, Argantara sedang membantu Naura menyimpan mainan. Putrinya mengangkat sebuah cangkir kecil dan mengatakan besok akan membuat teh pura-pura untuk Audya setelah belajar.
"Kakak datang besok, kan?"
"Sesuai jadwalnya, iya."
Naura mengangguk, lalu memasukkan cangkir itu ke kotak terpisah agar tidak lupa. Larasati yang duduk tidak jauh dari mereka tersenyum melihat persiapan cucunya.
Setelah Naura dibawa untuk bersiap tidur, Larasati menoleh kepada Argantara.
"Kamu belakangan juga kelihatan menunggu hari Senin dan Kamis."
Argantara meletakkan mainan terakhir sebelum menjawab. "Kelihatan sekali?"
"Ibu tidak tahu orang lain melihat atau tidak. Ibu mengenal kamu."
Pria itu duduk. Dia menceritakan ajakan yang sudah disampaikan dan kesepakatan menunggu sampai magang Audya selesai. Tidak ada bagian yang dibuat terdengar lebih pasti daripada kenyataannya.
Larasati mendengarkan, lalu bertanya apakah Audya menerima.
"Menerima. Tapi kami baru akan mengenal lebih dekat."
"Bagus kalau sudah dibicarakan. Jangan biarkan Naura yang terus menjadi alasan kalian bertemu tanpa tahu sebenarnya ingin apa."
Argantara mengangguk. Kalimat itu tepat mengenai hal yang selama ini dipikirkannya. Dia menyayangi hubungan Naura dengan Audya, tetapi keinginannya sendiri tidak bisa terus disembunyikan di belakang kebutuhan putrinya.
"Saya masih kadang merasa aneh," akunya. "Senang membayangkan sesuatu yang baru, lalu teringat yang dulu."
Larasati memandangnya dengan lebih lembut. "Kamu tidak harus berhenti mengingat untuk bisa melanjutkan hidup."
Argantara tidak segera menjawab. Dari kamar terdengar Naura meminta dibacakan cerita. Dia berdiri dan mengambil buku yang terletak di meja.
Malam itu, saat membacakan cerita untuk putrinya, pikirannya tidak lagi hanya menghitung hari menuju akhir magang Audya. Dia juga memikirkan bagaimana kelak memberi ruang kepada seseorang sebagai dirinya sendiri, bukan sekadar orang yang membuat rumah mereka terasa lebih ramai.