Setelah acara sarapan bersama. Arjuna kini sedang berdiri di ruangan kerja Presiden. Berdiri tegap menghadap sang presiden yang sedang duduk sambil menulis sesuatu di atas kertas.
"Arjuna." Panggil presiden.
"Ya saya Pak." Jawab Arjuna dengan tegas.
Presiden menatap Arjuna langsung ke dalam mata. Itu cukup membuat punggung Arjuna berkeringat dingin.
"Saya ada tugas untuk kamu bersama tim. Pergilah ke Spanyol. Negara kita ada kerjasama untuk latihan terbuka bersama tentara mereka." Jelas Presiden.
Arjuna diam menyimak.
"Dan...." lanjut Presiden menatap Arjuna ragu. Jarinya mengetuk atas meja beberapa kali seolah sedang berpikir apakah ia harus mengatakannya atau tidak.
"Tolong temukan seorang dokter. Dia lebih terkenal dengan nama Ghost Doctor. Rumor mengatakan kalau Ghost Doctor ini punya hubungan dengan calon raja Spanyol. Putri Leonor." ucap sang Presiden.
"Baik Pak, akan saya cari Ghost Doctor ini." jawab Arjuna.
Presiden mengangguk puas. "Saya selalu percaya dengan mu nak. Bawalah tim kamu dan apapun yang kamu butuhkan. Pesawat sudah saya siapkan untuk berangkat lusa."
"Baik Pak." ucap Arjuna.
"Kamu bisa kembali ke barak."
"Saya permisi pak."
Arjuna memberi hormat sebelum meninggalkan ruangan.
Menuju ke barak untuk menemui anggota tim nya.
Ghost Doctor?
Nama ini bukan sekedar nama. Ini lebih menakutkan dari apapun. Dia seperti hantu yang sulit ditemukan. Uang tidak mampu menariknya keluar sarang. Ghost Doctor tidak seperti dokter pada umumnya yang jika melihat pasien di depan mata makan akan di tolong lebih dulu. Tapi jika kamu bertemu Ghost Doctor, bahkan saat kamu sedang sekarat di depan nya, jika ia tidak berkenan makan ia tidak akan melirikmu. Tawaran uang pun tidak membuatnya menoleh.
Yang paling aneh dari semuanya, tak ada satu pun orang yang pernah melihat wajahnya.
Ini adalah misi yang sangat sulit untuk Arjuna. Karena ia tidak tahu darimana ia harus mencarinya.
-----
Di barak.
Empat pria sedang duduk di bawah pohon rindang di pinggir lapangan. Keringat mengucur di dahi mereka. Kaos yang mereka pakai pun ikutan basah. Mereka baru saja menyelesaikan lari mengitari lapangan.
"Dimana kapten?" tanya Punto, Pria tinggi dengan wajah kaku nya. Dia paling dewasa diantara empat orang yang berkumpul ini.
Empat Bawahan langsung Arjuna.
"Kapten pergi pagi-pagi sekali tadi." ucap Bima, dia memiliki tubuh paling bongsor. Senang sekali Gym. Otot tangan nya adalah yang paling ia banggakan.
"Ya betul, aku melihatnya tadi pagi." ucap Naka. Pria dengan senyum manis ini senang sekali membaca buku. Selalu ada buku di tangan nya. Seperti saat ini, ia sedang memegang buku sambil mendengarkan teman-temannya.
"Aku dengar Kapten pergi ke istana negara. Apakah kapten mau bertemu Mba Melati sang pujaan hati?" ucap Dewa, lelaki paling muda di antara mereka. Dia paling semangat jika bergosip tentang kapten mereka.
Plak.
Kepala Dewa langsung dapat pukulan dengan buku yang sedang Naka baca.
"Diamlah, atau mulutmu ku jahit." ucap Naka kesal.
Dewa mengelus kepalanya sendiri. Bagaimana ia yang selalu teraniaya hanya karena ia paling muda.
"Tidak bisakah pelan sedikit, buku itu sangat tebal." ucap Dewa.
Naka meliriknya sekilas lalu kembali membaca bukunya.
"Kapten datang." ucap Punto, dia yang pertama kali melihat kedatangan Arjuna.
Mereka berdiri dan berbaris ketika Arjuna sampai di depan mereka.
"Punto, Bima, Naka, Dewa." Ucap Arjuna mengabsen mereka.
"Siap kapten." ucap mereka serentak menjawab panggilan Arjuna.
"Lusa kita akan terbang ke Spanyol. Siapkan semua kebutuhan kita." jelas Arjuna.
"Untuk apa kita di sana?" tanya Punto.
"Benar, bukankah enam tahun lalu kapten di sana dan sempat mengalami kecelakaan? apa mereka berani menjamin keselamatan kita kali ini?" ucap Bima.
Arjuna mengerutkan alisnya. Dia ingat pernah menjalani pelatihan di Spanyol. Tapi tidak benar-benar ingat secara detail.
"Kita harus percaya perintah presiden." jelas Arjuna.
Mereka mengangguk setuju.
"Berapa lama kita di sana?" tanya Naka.
"Perjanjian enam bulan atau bisa satu tahun." ucap Arjuna.
"Hanya kita berlima?" tanya Dewa.
Arjuna mengangguk mengiyakan pertanyaan Dewa. Pelatihan kali ini memang ditujukan untuk tim khusus.